Sang Ketua Osis

Sang Ketua Osis
Amarah Memuncak


__ADS_3

Hampir satu jam, mereka berada di rumah Kevin tapi sekarang mereka semua pun memutuskan pulang ke rumah karena sudah ada panggilan masing-masing.


Begitu pula dengan ketiga gadis cantik itu yang tidak jadi pergi mall, karna memang hari mulai petang dan mereka pun semuanya, ikut pulang. Sarah dan Sonya yang hanya menumpangi mobil Dias akhirnya diantar terlebih dahulu pulang, ke sekolah sama Dias. Setiba mereka di sekolah Sarah Sonya bergegas turun.


"Eh.. gue cabut dulu ya?" ujar Sonya Sarah barengan.


"Oke,, lo hati-hati" jawab Dias dan Syifa barengan.


"Ciee.. yang udah akur" ledek Sonya tertawa.


"Apa sih cepetan pulang noh ntar mama Clara marah besar karena incesnya belum pulang" kata Dias lagi.


"Ye bilang aja mau cepet-cepet berduaan sama Syifa hahhaha" balas Sonya segera turun dari mobil Dias.


Begitu pun dengan Sarah segera ikut turun mengikuti Sonya pergi parkiran mobil mengambil mobilnya.


"Lets go.. " ujar Syifa tersenyum seketika Dias melaju meninggalkan gerbang sekolahnya.


Setiba mereka di halaman rumah Syifa, Dias pun lalu turun dari mobilnya bergegas membuka pintu Syifa.


"Silahkan tuan puteri" ujar Dias tersenyum manis.


"Aduh.. senyuman Dias kok terlihat tambah manis ya kalo diginiin terus gue nggak bakal nolak du --"


"Eh.. tuan puteri malah bengong kenapa? masih mau tinggal disitu?" tutur Dias membuat Syifa sadar.


"Apa sih.. gue nggak bengong juga" elak Syifa segera keluar dari mobil Syifa.

__ADS_1


Jletak


Dias yang gemes akan tingkah gadis yang ia suka itu seketika menjitak kepalanya hingga Syifa menjerit.


"Aww.. sakit tahu" lirik Syifa mengelus keningnya.


"Hahha,, lo sih, dari dulu gini-gini mulu nggak pandai" ledek Dias tapi masih dengan tawanya.


"Au ah nggak mood" balas Syifa kesal.


"Ciee.. ngambek niyyehhh" sahut Dias, namun kali ini mengelus puncuk kepala dengan lembut.


"Aww,, sakitnya disini kali bukannya disitu" kata Syifa dengan nada yang dibuat-buat seolah begitu sakit.


Cuppp


"Ehhemm.. masih sakit?" tanya Dias menggelengkan kepala menahan tawanya melihat Syifa terlihat malu.


Syifa tersenyum, "Udah nggak kok" jawab Syifa pergi karena kejadian tadi yang membuatnya salting :V


Dengan tatapan lurus menatap kepergian Syifa, Dias masih tersenyum menggelengkan kepalanya.


"Tetap seperti ini jangan pergi lagi" gumam Dias lalu masuk dalam mobilnya meninggalkan rumah Syifa.


******


Diruang keluarga sudah ada Sinta Surya Sanjaya kini menatap kedatangan Syifa yang cukup ganjil.

__ADS_1


"Tumbenan banget,, anak mami langsung masuk tak teriak-teriak lagi" sahut Sinta tertawa.


"Mungkin sariawan mi" jawab Sanjaya ikut tertawa.


"Ato kagak abis itu" balas Surya menutup mulutnya.


"Enak aja, lo tuh bang yang sudah gituan" balas Syifa kecoplosan tdak sadar akan perkataannya tapi Surya melototkan mata kearah Syifa.


Sanjaya dan Sinta yang terkejut akan perkataan Syifa ikut menatap tajam kearah Surya penuh tanda tanya.


"Surya.. maksud adikmu apa" tegas Sanjaya marah.


"Iya jelasin mami papi sekarang" balas Sinta kesal.


Syifa yang merasa salah akan pembicaranya tadi itu segera duduk, di samping Surya yang dihadapannya sudah ada Sanjaya dan Sinta menatapnya tajam.


"Maaf mi pi.. sebenarnya kemarin Surya sudah lakuin itu sama Sonya.." jelas Surya yang membuat Sanjaya dan Sinta ikut tercengang mendengarnya.


"Apa,, apa perkataan abangmu benar Syif?" ujar Sinta masih belum percaya akan omongan Surya.


"I-iya mi kemarin Syifa liat abang lagi buka-bukaan di kamar Syifa sama Sonya,, pas mami menyuruh Syifa manggil abang" tutur Syifa menundukkan kepalanya.


Plakkk


Tanpa memikir panjang lagi seketika tangan Sanjaya telah mendarat begitu kasar diwajah tampan Surya.


"Papi nggak nyangkan.. anak lelaki papi ini,, ternyata sebejat ini" ujar Sanjaya dengan kemarahannya.

__ADS_1


__ADS_2