Sang Ketua Osis

Sang Ketua Osis
Dias Minta Izin


__ADS_3

Di kamar Syifa sudah selesai mandi, ia pun bergegas keluar dari kamarnya menuju meja makan, Ia melihat disana sudah ada Sinta dan Sanjaya.


"Pagi papi mami" ujar Syifa tersenyum segera duduk di tempat biasa.


"Pagi sayang" jawab Sinta juga Sanjaya barengan.


"Abangmu dan Sonya mana?" tanya Sinta mengingat Sonya dan Surya belum terlihat.


"Nggak tahu mi,, biasalah,, pasutri emang gitu" sahut Syifa melirik keatas tapi belum melihat pasutri itu.


Ting Tong


Suara bel rumah di kediaman Sanjaya berbunyi, Syifa mengingat akan janjinya bersama Dias segera berdri, namun dihalangi oleh Sinta.


"Biar bi Surti sayang" pintah Sinta. Syifa mengiyakan.


"Selamat pagi, mami Sinta, Papi Jaya" sapa lelaki itu dengan senyuman menawannya.


"Iya sayang pagi" balas Sanjaya dan Sinta semangat.


Sinta menunjuk kursi kosong disamping Syifa, "Sini nak, kamu duduknya disampingnya Syifa aja" sahut Sinta, Surya pun mendudukkan dirinya ditempat itu.


"Lo kenapa dateng sepagi ini?" gumam Syifa merasa heran yang hanya didengar sama Dias.


"Mau numpang makan sekalian" gumam Dias cuek.


"Wah dasar lo yah nggak punya sopan santun" imbuh Syifa kesal masih dengan gumamnya bersama Dias.


"Biarin,, memang iya" balas Dias senyum licik, masih dengan gumamnya.


Setelah berdebat lumayan lama, Surya Sonya datang mendudukkan dirinya. Sonya duduk, disamping Dias. Sedangkan Surya, duduk dihadapan istrinya tepatnya disamping Sinta.

__ADS_1


"Pagi papi,, mami,, Syifa,," sapa Surya Sonya bareng.


"Wah, ada tamu ternyata" ledek Sonya saat lihat Dias ada. Dias melototkan matanya kearah Sonya.


Sinta mengambil makanan untuk suaminya, Sanjaya. Disusul Sonya mengambil makanan untuk suaminya, Surya. Syifa hanya menatap kemesraan keluarganya.


"Kamu nggak minat,, ambilkan aku gitu?" imbuh Dias mengangkat piringnya kearah Syifa. Syifa termenung menatap piring Dias.


"Enak aja belum sah" seru Syifa menolak piring Dias.


"Memang belum tapi kan bisa belajar sekarang" seru Dias tersenyum lebar.


"Sekarang?" tanya Syifa lagi.


"Iyalah, masa iya tahun depan, kelamaan dong" ucap Dias menekankan perkataannya. Semua keluarganya melihat itu hanya ikut tersenyum bahagia.


"Iya udah deh,, sini" Syifa mengambil piring makanan Dias memberikan lauk pauk dengan porsi banyak.


"Ye.. ikhlas dong, masa iya kagak ikhlas" balas Syifa.


Semua memulai makannya namun di tengah mereka makan Dias segera mengangkat bicaranya.


"Papi,, mami, Dias boleh nggak ajak jalan Syifa?" ujar Dias dibalas anggukan Sinta dan Sanjaya.


"Boleh tapi pulangnya jangan kemalaman ya?" pintah Sanjaya serius menatap Dias.


Dias tersenyum, "Siap pi" jawab Dias antusias.


Seusai sarapan, semua langsung menuju ruang tamu kecuali Syifa menuju kamar untuk bersiap-siap untuk pergi jalan bersama Dias, Sonya pun membantunya.


"Gimana jago kan gue?" tanya Sonya ketika selesai.

__ADS_1


"Wah,, bang Surya bener-bener,, nggak salah memilih ipar buat gue" kata Syifa melihat wajahnya di cermin yang terlihat tambah cantik.


"Iya dong, Sonya" bangga Sonya akan dirinya.


Syifa saat ini, menggunakan style biasa, namun gaun mini yang di pakainya sekarang lebih feminim begitu menambah keanggunannya sebagai seorang wanita.


"Okey, kita turun yuk" ucap Syifa menarik tas mininya yang berwarna navy persis gaunnya.


"Ye.. bilang aja lo mau cepet-cepet pergi jalan" balas Sonya menatap Syifa dengan tangan dipinggangnya.


"Hahha lo tahu gue banget" sahut Syifa tersenyum.


Syifa, Sonya, akhirnya turun bersama, menuruni anak tangga menuju ruang tamu dimana semua berada.


"Anak mami cantik banget" ujar Sinta melihat Syifa.


"Jelas dong mi" sombong Syifa.


Dari sisi lainnya, Dias terlihat begitu panling menatap Syifa yang kini berada tepat di depannya. Ia menatap Syifa dari ujung kaki sampai ujung kepala.


"Cantik" ucap Dias terpesona menatap Syifa, sedang Syifa menunduk malu tak merespon penuturan Dias.


"Ye.. malah malu,, tadi muji diri giliran Dias yang muji malah diem gini" sahut Sonya menyenggol Syifa.


"Apa sih Nya, sakit kali" balas Syifa tidak terima.


"Udahlah sayang,, nggak usah digituin Syifa entar dia ngambek lagi" ledek Surya memeluk istrinya.


Begitu pula dengan Sinta dan Sanjaya hanya terdiam melihat anak-anaknya.


"Oh iya,, mami,, papi,, Syifa sama Dias berangkat ya,? ntar kalo disini terus makin gerah" tutur Syifa melihat kearah Surya dan Sonya, sedang Sinta Sanjaya hanya mengiyakan membalas salaman Syifa dan Dias.

__ADS_1


"Dahh,, sayang" ujar Sinta juga Sanjaya melambaikan tangannya menatap kepergian anak-anaknya.


__ADS_2