Sang Ketua Osis

Sang Ketua Osis
Dias Salah Paham


__ADS_3

Setelah perdebatan terselesaikan sama perkenalan mereka, akhirnya pertandingan basket pun di mulai, team sekolah Bintang terlihat begitu sengit dalam mengoper bola sesama teamnya terutama Dimas dan Dias terlihat begitu kompaknya hingga sudah beberapa kali memasukkan bola ke dalam ring.


"Diasssss" teriak Syifa memanggil nama Dias yang disambung senyuman manis si pemain tampan itu.


Dias mendengar ucapan Syifa barusan membuatnya semakin semangat memasukkan bola kedalam ring. Hingga membuat sekolah Dias menjadi menang.


Perlombaan basket berhenti, tampak pemain basket begitu lelah dengan bercucuran keringat yang terus mengalir diwajah mereka membuat wajah tampan mereka terlihat begitu cool akibat rambut basahnya.


Dias menghampiri keberadaan Syifa dkk.


"Minuman untuk gue?" tanya Dias menatap Syifa.


"Lo haus?" tanya Syifa lagi.


"Iyalah.. memang main basket nggak butuh tenaga?" ujar Dias lagi.


"Iye iye, dulu gue beliin" balas Syifa hendak pergi tapi ia malah digenggam sama Dias, "Ayo barengan" kata Dias tersenyum menarik tangan Syifa pergi.


Namun disisi lain terlihat raut wajah seorang laki-laki tampan yang telah menatap tajam kepergian Syifa ia siapa lagi kalau bukan Dimas, benar ia mulai dibekali oleh api-api kecemburuannya, melihat Dias dan Syifa sekarang telah menjadi begitu dekatnya.


******


"Lo kesambet setan apaan?" tanya Syifa penasaran melihat Dias yang sudah meminum 2 botol mineral.


Dias berhenti minum, "Yee,, seorang atlet profesional emang gini kali" jawab Dias nyengir,, namun Syifa tak mempedulikan omongan Dias ia malah menggeleng kepalanya menatap lurus kearah lelaki itu.

__ADS_1


"Nanti lo harus lebih mensupport gue ya?" balas Dias penuh harap membalas tatapan Syifa.


Bukannya menjawab gadis itu malah terkejut dengan ucapan Dias membuat matanya terbelalak.


"Apa? bukannya lo udah menang ya?" tanya Syifa.


"Belum.. nanti baru final jadi lo harus ngedukung gue lagi kek tadi" ujar Dias sambil tersenyum.


"Kenapa harus?" tanya Syifa bingung.


Jleb


Suara jantung kedua siswa ini membuat mereka sama-sama dibuatnya bingung, detakan jantung yang tadi stabil berubah bagaikan seorang pelari.


"Ada apa ini kok jantung gue jadi gini?" batin Syifa.


Gadis cantik itu mulai sadar akan lamunannya.


"Eh.. malah begong kenapa?" tanya Syifa lagi.


"Karena lo adalah sumber semangat gue" balas Dias kecoplosan, membuatnya begitu gugup, gadis cantik itu ikutan gugup setelah mendengar ucapan Dias.


"Gu-gue?" tanya Syifa memastikan.


"Iyalah lo mau siapa lagi" kata Dias mencoba stabil akan perkataannya.

__ADS_1


"Kenapa gue?" balas Syifa lagi.


Seketika tatapan mereka berdua menjadi serius dan saling bertatapan, Dias menatap Syifa dan Syifa pun menatap mata coklat lelaki tampan itu.


"Iya karena gue su --"


Dias yang belum menyelesaikan ucapannya, ia telah dipanggil oleh seorang lelaki yang sedari tadi berada dibelakang bangkunya.


"Dias ayo kita ke lapangan keburu di panggil" sahut lelaki yang tak kalah tampan sama Dias.


"Jadi pengganggu aje lo" ujar batin Dias menatap ke arah Dimas.


"Eh malah bengong, ayo" kata Dimas menarik tangan Dias pergi menuju lapangan.


Syifa termangun memikirkan ucapan Dias barusan.


"Iya karena gue su --" kata Dias itu terngiang dikepala Syifa namun belum beberapa menit setelah itu gadis itu telah melupakan ucap Dias.


Syifa, Sonya juga Sarah bergantian meneriaki teman sekelasnya, iya siapa lagi kalo bukan Dias dan Ronal yang terlihat begitu berjuang dalam pertandingan.


"Diassssss" teriak Syifa memberi semangat Dias.


"Ronalllllll" seru Sonya dan Sarah kegirangan.


"Dimassss" sahut para fans Dimas.

__ADS_1


Pertandingan yang awalnya begitu sengit akhirnya di menangkan oleh SMA Bintang dan yang berhasil jadi pemain idaman kali ini adalah Dias, pemain andalan.


__ADS_2