Sang Ketua Osis

Sang Ketua Osis
Kepergok Dalam UKS


__ADS_3

Syifa dibawa menjauh hingga menuju ke tempat yang begitu sepi diujung kelas sedangkan tangan kanannya masih digenggam erat sama cowok tampan yang berada dihadapannya.


Syifa menatap tangannya, "Kita.. mau kemana kak?" ujar Syifa bingung masih mengikuti langkah lelaki tampan yang belum diketahuinya itu.


Dimas menoleh kebelakang, "Lo ikut aja.. nanti lo juga bakal tahu" jawab Dimas berjalan cepat membawa Syifa pergi kesuatu tempat sedang gadis cantik itu terlihat kebingungan karena belum mengenal akan lingkungan sekolah barunya.


Dimas melepas tangan Syifa setelah masuk ke dalam ruangan berwarna putih biru, iya tentu saja ruangan itu adalah ruang UKS.


Syifa menatap ruangan tersebut, "Kak.. kita kok kesini? apa hukuman saya ada disini?" kata Syifa melongok menatap wajah lelaki tampan tersebut.


Lagi-lagi Dimas mengabaikan pertanyaan Syifa dengan tatapan sulit yang diartikan, gadis itu pun memilih diam hanya menatap lelaki tampan itu .


Dimas menggeleng kepalanya, "Apa.. lo nggak ngerasa kesakitan?" tanya Dimas menatap serius gadis cantik yang ada didepannya saat ini.


Syifa tersenyum, "Saya nggak apa-apa kok kak" balas Syifa bingung masih menatap lelaki tampan tersebut.


Dimas menghelah napasnya, "Enggak apa-apa apanya? jelas-jelas lo luka gini juga" balas Dimas, "Sini.. biar gue bantu obatin" sambung Dimas lagi sembari menunjuk luka Syifa sedangkan gadis itu melototkan kedua matanya saking terkejutnya ia melihat lukanya yang cukup parah itu namun sama sekali tidak merasakan sedikit pun rasa sakitnya.


Ekhm.. mungkin fix, faktor ketemu cogant sih ini.. jadi gitu deh!! wkwkwk ambil positifnya :V (next..)


Lelaki tampan itu pun melangkah mengambil kotak P3K yang berisikan obat-obatan sambil meneteskan betadine keatas kapas. Setelah mereka mendudukkan dirinya di sofa dengan begitu pelan Dimas membasuhkan kapas tersebut keatas luka Syifa.


Syifa menatap Dimas, "Makasih ya kak" kata Syifa blushing karena baru kali ini dia diperlakukan kek gini sama seorang lelaki.


Dimas tersenyum, "Santai aja.. nggak usah panggil kakak.. panggil Dimas aja" ujar Dimas masih fokus mengobati luka Syifa yang terlihat masih berdarah.

__ADS_1


Syifa lagi-lagi dibuat tersenyum, "I-iya kak.. uppsst Dimas.. ekm.. aku Syifa" balas Syifa gagap sembari tersenyum masih dengan tatapan yang sama.


Dimas pun tersenyum, "Oh.. nama lo Syifa.. kelas berapa?" tanya Dimas lagi yang segera dibalas Syifa dengan gelengan kepalanya karena tidak tahu akan informasi penting tersebut.


Syifa melototkan kedua matanya, "Nggak tahu kak.. memangnya sudah pembagian kelas ya? kok.. aku nggak tahu sih?" tanya Syifa serius menatap lagi-lagi menatap kearah lelaki tampan itu.


Dimas mengaggukkan kepalanya, "Iya.. gue ketua Osis disini" balas Dimas singkat, "jadi.. semua hal tentang sekolah ini gue tahu" sambungnya lagi.


Dag Dig Dug Serrrr


Mereka bertemu dengan satu tatapan, Syifa menatap mata Dimas begitu pula Dimas membalas menatap mata Syifa hingga membuat jantung mereka bergetak tidak karuan.


"Jantung gue.. kenapa jadi gini sih? apa.. karena gue sudah jatuh cinta sama kak Dimas pada pandangan pertama tadi? adduh.. please damai dong" ujar batin Syifa masih tak karuan sembari menatap mata lelaki yang ada disampingnya.


Dimas tersenyum, "Sudah selesai" ucap Dimas setelah menempelkan plester luka pada siku tangan Syifa yang terluka.


Dag Dig Dug Serrrr


Lagi-lagi jantung Dimas dibuat tidak karuan, entah apa yang terjadi kepada diri lelaki tampan itu? ia pun tidak tahu karena menurutnya itu hanyalah efek samping dari rutinitas keseharinya yang sering berolahraga pagi (jogging) sebelum berangkat ke sekolah.


"Jantung gue maraton lagi udah ah gininya,, tadi pagi kan udah jadi gue mohon dimengerti dong" batin Dimas kesal ikut berdetak begitu cepatnya.


Syifa segera berdiri, "Ma-maaf kak" kata Syifa blushing membuat wajahnya sudah merasa gerah.


Dias mengagguk, "Iya.. nggak apa-apa santai aja" balas Dimas berusaha tenang namun jantungnya masih dibuat seperti berlari maraton.

__ADS_1


Dimas dan Syifa sontak menoleh kearah pintu tampak ibu Susi, penjaga UKS berdiri dari ambang pintu sembari membelakkan dan mengucek matanya berulang-ulang kali.


Ibu Susi berjalan mendekati Dimas dan Syifa, "Astaga Dimas.. apa yang kalian lakukan disini?" kata ibu Susi masih membelalakkan kedua matanya sedang keduanya terkejut membulatkan kedua matanya.


Dimas menggaruk kepalanya yang tak gatal, "I-itu bu.. itu nggak seperti yang ibu pikirkan.. suwer deh bu" balas Dimas serius berusaha menjelaskannya sama ibu Susi namun ibu Susi tampak tidak mempan akan pengakuannya.


Ibu Susi berdecak kesal, "Sudahlah.. kalian berdua.. ikut ibu sekarang" ujar ibu Susi tegas berjalan keluar UKS disulul Syifa dan Dimas mengikuti ibu Susi dari belakang.


Syifa, Dimas dan ibu Susi akhirnya tiba di ruang BK tanpa membuang waktu begitu lama ibu Susi segera membuka pintu ruangan ibu Helmi, guru BK.


Ibu Helmi melototkan kedua matanya, "Dimas.. ada apa ini? kenapa kamu bisa masuk kedalam ruangan saya? bukannya kamu ketua Osis?" ucap ibu Helmi memberi pertanyaan beruntun kepada Dimas.


Ibu Susi menunjuk Dimas dan Syifa, "Begini bu.. saya menemukan Dimas juga murid satu ini berduaan di ruang UKS dan ketika saya membuka pintu saya melihat mereka lagi bermesraan" tambah ibu Susi membuat keduanya kembali melototkan kedua matanya setelah mendengar penuturan dari ibu Susi.


Syifa menggeleng kepalanya, "Ti-tidak bu, itu semua salah paham.. kenyataanya nggak seperti bu" ucap Syifa serius menatap semua gurunya bergantian.


Dimas mengagguk, "Iya bu.. saya dan Syifa pergi ke UKS hanya untuk ini dan cuman ini" balas Dimas dengan nada menekan setiap katanya sembari menunjuk siku tangan kanan Syifa. Ibu Helmi dan ibu Susi saling menatap satu sama lainnya seraya percaya akan omongan dari kedua siswanya tersebut.


Ibu Helmi tersenyum, "Oh begitu.. jadi maksud kalian ini hanyalah salah paham kan?" ujar ibu Helmi yang diangguki bersamaan sama kedua siswa siswi itu.


Dimas tersenyum, "Iya bu.. apa yang kami katakan itu semua bener kok.. nggak pake boong ato apa pun itu" sahut Dimas santai menatap ibu Helmi dan ibu Susi


Ibu Susi mengagguk, "Okey.. lain kali ibu nggak mau melihat kamu disini lagi.. Dimas ingat itu" jawab ibu Helmi tegas yang diangguki Dimas juga Syifa.


Dimas lagi-lagi hanya tersenyum, "Iyalah ibu.. itu pasti.. kalo Dimas terus ketemu sama ibu Helmi jadinya bosen dong bu" balas Dimas tanpa dosa sedang Syifa dan ibu Susi mendenger itu hanya menahan tawanya.

__ADS_1


Ibu Helmi menggelengkan kepalanya, "Aduh.. ngomong sama kamu buat ibu pusing saja" jawab ibu Helmi menatap keduanya itu dengan tatapan kesal sedang Ibu Susi hanya menyimak.


Lelaki tampan itu berdecak kesal, "Lebih-lebih saya bu.. saya juga pusing bicara mulu sama ibu" ucap Dimas seketika berlari menarik tangan Syifa meninggalkan ibu Helmi dan ibu Susi yang terlihat sudah begitu kesal akan perkataannya barusan.


__ADS_2