Sang Ketua Osis

Sang Ketua Osis
Lo Suka Sama Syifa??


__ADS_3

Dias tersenyum mengacak-acak rambut gadis itu.


"Iya masama" kata Dimas, "kita teman ya?" ujar Dias lagi memberi pingky promise dihadapan Syifa.


Syifa tersenyum, "Okey teman" balas Syifa.


******


"Assalamu'alaikum, anak mami paling cantik pulang" teriak Syifa memasuki ruang tamu.


Sinta yang ada di dapur lalu ikut terkejut mendengar suara cempreng milik anak bungsunya.


"Iya wa'alaikumsalam" jawab Sinta kini menghampiri Syifa.


"Mi.. papi sama bangsur belum dateng?" kata Syifa.


"Papimu belum dateng sayang tapi bangsur?" jawab Sinta kebingungan, seketika tawa Syifa pecah.


"Aduh mami.. bangsur itu abang Surya" celutuk Syifa.


Sinta hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Iya udah terserah anak mami aja mau bangsur, kang Sule, atau apalah itu terserah Syifa saja" balas Sinta.


Syifa tersenyum, "Ohiya mi, mami lagi masak apaan? kok baunya enak buanget" kata Syifa mendengus.


"Biasalah makanan kesukaan anak mami dong" kata Sinta mengacak-acak rambut Syifa.


"Wah.. pantas aja mi, perut Syifa langsung laper nih" ujar Syifa mengelus-elus perutnya.

__ADS_1


"Iya sudah Syifa pergi ganti baju sekarang baru turun kesini untuk makan bareng mami" balas Sinta lagi.


"Siap mi" kata Syifa hormat beranjak pergi kamar.


******


Disisi lain anak lelaki tampan yang sedari tadi terlhat tersenyum-senyum diatas ranjang menutup matanya menbuat tangan kanannya sebagai bantalan.


"Sepertinya gue udah jatuh cinta deh sama lo" sahut anak lelaki itu tersenyum, "Tapi gue kok bisa suka ya sama si cewek rese dan manja kek lo?" ujar Dias.


Toktok


Suara pintu kamar milik Dias berbunyi pertanda ada seseorang dibalik pintu itu yang mengetuk pintunya.


Dias teriak, "Iya langsung masuk aja" balas Dias.


Orang yang mendengar teriakan Dias pun segera ikut masuk ke dalam kamar Dias, yang cukup berantakan karena ulah lelaki yang sangat-sangat brutal itu.


"Ya udah ngomong aje" jawab Dias cuek.


"Besok pagi sekolah kita mengadakan basket antar sekolah" jelas Dimas menatap kearah Dias.


"Lalu?" balas Dias singkat.


"Gue mau lo masuk dalam team sekolah kita supaya team kita bisa menang" ujar Dimas lagi.


Dias, anaknya memang seperti anak-anak brutal lain tapi ia sangat berbeda dengan yang lainnya ia malah mempunyai bakat multitalenta yang sangat wauw.


"Gimana? lo mau join?" ujar Dimas lagi.

__ADS_1


"Sepertinya boleh tuh biar Syifa makin bisa kepincut sama gue secara kan gue jago basktet" batin Dias.


Dimas mengacak-acak wajah Dias.


"Aduh.. apaan sih woy" teriak Dias segera bangun.


"Jadi gimana mau join ato kagak lo?" balas Dimas.


"Iya udah gue mau ntar kalo gue nggak ikut lo bilang ke ayah lagi" ledek Dias menatap sinis Dimas.


"Ye salah lo sendiri, lo yang udah pinter malah dibuat bege. Dasar, gimana ayah nggak marah" kata Dimas.


Dias menghembuskan napas kasarnya.


"Biar gue pinter, bodoh, itu hak gue dan bukan urusan lo" ujar Dias lagi.


Seketika keheningan tiba-tiba muncul.


"Apa bener Dias suka sama Syifa? terus di sekolah? apa gue bilang ke Dias aja ya?" ucap batin Dimas.


"Ye malah begong" kata Dias, "Kalo mau bengong itu sana lo pergi kamar lo aje" ujar Dias lagi.


Dimas mulai sadar akan lamunannya.


"Oh iya.. masih ada yang mau gue omongin sama lo" kata Dimas mendadak serius.


"Apaan muka lo santai woy" kata Dias wajah datar.


"Lo suka sama Syifa ya?" ucap Dimas to the point.

__ADS_1


"Apasih sana lo pergi kamar lo usst usst" balas Dias.


"Ye santai aja kali, gue cuma mau tahu iya ato tidak" tanya Dimas lagi.


__ADS_2