
Setelah selesai akan panggilan alam tersebut, Syifa segera keluar dalam kamar mandi dan melihat Arah yang tampak tersenyum melihatnya.
"Nak, kamu pasti wanita yang sangat baik" tutur Arah melangkahkan dirinya kearah Syifa, sedang gadis itu hanya terdiam tidak paham perkataan dari Arah.
"Maksud nenek apa?" tanya Syifa bingung.
Arah mengangguk, "Nenek tahu persis, semua watak para cucu nenek, tapi baru kali ini nenek melihat Dias membawa wanita ke rumah nenek. Sepertinya ia pun sangat-sangat menyukaimu nak" jelas Arah.
"Ekm,, gitu ya nek? memang Dias orangnya gimana?" tanya Syifa, semakin penasaran, tentang kepribadian lelaki yang awal mulanya ia benci tersebut.
"Kamu mau denger lebih lanjutnya?" tanya Arah balik menatap Syifa, sedang Syifa mengangguk pertanda, setuju dengan perkataan Arah.
"Ekm, kalian sudah makan? kalo belum? nenek bakal ceritanya sambil masak" ujar Arah dengan senyuman membawa Syifa beranjak menuju dapur.
Arah, seorang wanita tua berusia kurang lebih 60 thn, sedangkan Darwis, suami Arah berusia sama hal-nya Arah. Dulu sewaktu muda mereka berdua menikah di usia muda, di umur 20 tahun dan usia pernikahannya sekarang sudah memasuki usia 40-an tahun.
Dias dan Darwis masih berada di ruang tamu mereka berdua saling berbincang masalah keluarga, sekolah dan percintaan.
"Nak,, kamu suka kan sama Syifa?" tanya Darwis dan Dias yang sedang meneguk air seketika tersendak.
__ADS_1
Dias tersenyum, "Apa-apaan sih kek,, orang Dias baru temenan juga" bantah Dias sedikit malu.
"Iya sekarang temen, besok-besok jadi ..." ujar Darwis dengan penuh penekanan dipotong sama Dias.
"Kakek,, kakek,, nggak boleh gitu dong kek,, kan Dias, bilang cuma temen" elak Dias berwajah datar.
Darwis menggeleng kepala, "Wah,, kamu ini dari dulu sampai sekarang, masih nggak pandai membohongi kakekmu" tutur Darwis.
Pemandangan yang begitu unik, Syifa sebetulnya tak pandai dalam hal dalam dapur, namun karena hari ini gadis itu berada di tempat lain yang bukan rumahnya dengan sigap ia mengerjakan segala perintah Arah.
"Nak,, tolong kecilkan kompornya" ujar Arah, seketika Syifa mengecilkan apinya. Mereka sedang memasak tumisan sayur kangkung dan Arah sedang mengupas titisan bawang merah.
"Hati-hati ya nak awas keciprat mata ntar bisa nangis lo" jelas Arah. Syifa pun mengangguk tanda paham.
"Nek,,, ceritakan sekarang soal Dias dong" ucap Syifa tersenyum masih fokus mengupas bawang. Arah kini termangut dan memulai membahas tentang Dias.
"Sebenarnya diantara cucu nenek Dimas, Dias, Sonya cucu yang paling nenek sayang adalah Dias. Anak itu tumbuh sangat baik. Tapi karena Dimas terus berada diposisi paling atas darinya, akhirnya keluarga nenek terus menyepelehkan Dias juga terus memuji Dimas, akhirnya Dias merasa irih hati, hingga merubah sikap nya menjadi anak nakal dan juga bodoh, yang sangat berbeda watak dari dirinya yang dulu" jelas Arah.
Syifa mendengar penuturan Arah. Mulai mengerti hal besar tentang sikap Dias yang sebenarnya. Dias awal pertama ia mengenalnya, memang sosok lelaki yang sangat jahil juga nakal tapi saat ini Syifa memaklumi hal tersebut karena emang menurutnya itu hal wajar.
__ADS_1
"Ekm,, gitu,, ternyata benar.. dia memang anak pinter, rajin dan baik tapi karena terus-terusan dibandingkan sama Dimas jadi dia berubah sikap sebaliknya, Ohh." ujar Syifa dalam hati, buliran air matanya pun keluar.
Arah yang akan memakai bawang merah mendekati tempat Syifa dan alangkah terkejutnya Arah, setelah ia melihat gadis itu menangis dihadapannya.
"Nak,, kamu menangis?" tanya Arah menatap Syifa.
Syifa menggeleng kepala, "Kasihan Dias nenek" elak Syifa masih menagis.
Di sisi lainnya, Dias baru saja masuk, dalam bersama Darwis tiba-tiba tawanya pecah setelah melihat Syifa menangis saat mengupas bawang merah.
"Huhhh,, masa gitu aja nangis" ledek Dias tertawa.
"Enak aja siapa juga yang nangis, orang gue kelilipan juga. Iya kan nek?" bantah Syifa menatap ke Arah.
"Masa sih,, sepertinya nggak tuh" goda Dias lagi.
"Kakek, nenek tuh Dias lagi jelekin Syifa" imbuh Syifa menunjuk Dias masih tak terima.
Darwis juga Arah menggelengkan kepalanya, melihat cucunya yang telah kembali berubah seperti dulunya sembari tersenyum bahagia menatap Dias.
__ADS_1