
Setelah pertandingan usai, dan sekolah SMA Bintang sudah diumumkan sebagai pemenang dan Dias juga dinobatkan sebagai pemain andalan. Dias yang telah memikirkannya dari semalam akhirnya bertekad.
"Aqila Assyifa lo mau nggak jadi pacar gue?" teriak Dias di tengah-tengah lapangan membuat teriakan para siswa ikut bersorak.
"Terima.. terima.." sahut para siswa berteriak.
Disisi lain, fans Dias ikut bergejolak, mendengar Dias lagi mencurahkan isi hatinya, kepada gadis itu, tetapi disisi lain gadis itu sangat terkejut hingga Sonya dan Sarah menarik tangannya menuju kehadapan Dias.
"Gimana? lo mau jadi pacar gue?" tanya Dias lagi.
"Apa lo udah gila?" gumam Syifa namun terdengar di telinga Dias.
"Iya gue emang gila, gila akan cinta lo" jawab Dias.
"Terima aja Syif, lo kan belum pernah pacaran. Orang yang dulu aja nggak mau sama lo" sahut Dino.
"Apa sih lo nggak usah ungkit-ungkit dia" balas Syifa malu.
"Gimana Syif, lo terima ato kagak nih?" tanya Sonya.
Syifa menggelengkan kepalanya.
"Maaf Dias, gue nggak bisa sama lo" ujar Syifa.
Terlihat dari raut wajah Dias berubah seketika sedih mendengar penolakan dari mulut orang yang ia suka.
"Kenapa?" lirih Dias penararan.
Syifa Spontan, "Maaf, gue nggak mau pacaran sama orang kek lo, yang tidak mementingkan sekolah juga bobrok" jelas Syifa kemudian berlari menuju kelas.
__ADS_1
Dias menatap lurus melihat kepergian Syifa hingga gadis itu sudah tidak terlihat di pandangan matanya.
"Oke.. demi lo gue akan merubah hidup gue" gumam Dias singkat, "Dan pada saat itu lo nggak akan nolak gue lagi" bisik batin Dias lagi.
******
Syifa tiba di kelas langsung mendudukkan dirinya ke bangku dimana ia biasa duduk, ia kini mengingatnya kejadian-kejadian yang pernah ia lalui bersama Dias.
Pas perjumpaan awal mereka di loteng waktu itu.
Saat chat awal Syifa namun ia memblokirnya.
Pada saat ia pingsan namun yang menemani dirinya adalah orang yang ia benci si cowok resek.
Sewaktu ia terlambat dan ke kunci di lab angker.
Saat mereka pergi mall dan Dias menyuapinya.
Dan terakhir saat gadis itu tertidur di bahu Dias.
Semua bayangan-bayangan itu kembali muncul dan menyadari tindakan bodohnya akan semua kejadian.
"Betapa bodohnya gue, mengapa tidak lelaki itu jadi baper akan tingkah konyol gue ini sudah seperti itu" gumam Syifa menyalahkan dirinya.
Syifa mulai menangis mengingat tindakannya.
"Maafkan gue Dias, gue nggak bermaksud mengatai kejelekan lo di depan semua siswa tapi --"
Kini seorang lelaki masuk berjalan mendekati Syifa.
__ADS_1
"Ini buat lo" ujar lelaki itu memberi sapu tangannya.
"Dimas?" kata Syifa melihat kearah Dimas.
"Ini" balas Dimas lagi masih mengulurkan benda itu.
Syifa pun segera menerimanya dan menghapus air mata yang sempat terjatuh di pipi mulusnya namun lelaki itu masih saja menatap tulus kearah Syifa.
"Alasannya?" tanya Dimas lagi.
Syifa tercengang, "Maksudnya?" ujar Syifa heran.
"Iya gue tahu kalo lo tadi itu boong" kata Dimas.
"Oh itu, gue sudah suka sama orang lain" balas Syifa.
Dimas mengangguk.
"Apa.. orang lo suka itu, gue?" kata Dimas mencoba menebak namun dibuat begitu terkejut ketika gadis itu membalasnya dengan anggukan.
Spontan Syifa sadar lalu menggelengkan kepalanya, "Eh.. nggak kak bukan begitu" elak Syifa.
Dimas tersenyum, "Nggak Syifa, gue juga mulai suka sama lo" balas Dias mengacak-acak rambut Syifa.
"Tapi kak, gue nggak ma --"
Cuppp
Betapa dibuat tambah terkejutnya Syifa setelah bibir lelaki itu mendarat sekilas dibibir mungil miliknya, ia tak bisa mengelak, ataupun marah akan tindakan itu karena sejatinya Syifa memang menyukai Dimas.
__ADS_1