Sang Ketua Osis

Sang Ketua Osis
Masalah Lagi


__ADS_3

Jam pulang pun berbunyi, seluruh siswa-siswi keluar kelas bergegas menuju rumah masing-masing. Dias berlari menghampiri Syifa dkk di koridor sekolah.


"Ifa" panggil Dias. Syifa tak mengubris sama sekali.


"Ifa.. please dengerin penjelasan gue dulu" ujar Dias lagi namun lagi-lagi Syifa tak mengubrisnya.


"Gue.. sama Sasha itu hanya temenan doang" imbuh Dias tapi Syifa malah mempercepat langkahnya.


"Syifa" sahut Dias setengah teriak. Syifa pun berhenti bersamaan teman-temannya.


"Kalian.. dengar suara nggak sih? sepertinya sekolah kita sudah angker deh, ihh ngeri" ucap Syifa seketika berlari pergi disusul Sonya dan Sarah yang menahan tawanya melihat tingkah Syifa mengindari Dias.


"Sob.. lo, yang sabar ya. Syifa emang gitu kalo marah jadi tetep usaha dibarengi doa aja, tenang, gue bantu lo kok tapi pake doa" tutur Doni tertawa lalu berlalu.


Dias menghembuskan napas kasarnya, "Sabar Dias.." kata Dias sembari mengelus-eluskan dada kekarnya.


******


Di dalam mobil Syifa hanya fokus menyetir mobilnya Sonya melihat itu pun membuka pembicaraan.


"Syif.. lo nggak boleh gitu amat sama bang Dias" ujar Sonya menatap lurus jalanan yang dilaluinya.


"Biarin aja Nya, sekali-kali kita harus tegas biar orang itu tidak mengulanginya lagi" kata Syifa fokus nyetir.


"Tapi sepertinya lo sudah kelewatan batas deh Syifa" balas Sonya namun kali ini menatap serius Syifa.

__ADS_1


"Aduh Nya.. lo nggak perluh menasehatin gue deh, ini urusan gue sama Dias. Gue ngak mau kalo orang lain ikut campur akan hal ini" ujar Syifa. Sonya bungkam.


Mereka pun sampai di rumah tanpa mengubris, Syifa langsung keluar dari mobilnya menuju masuk kamar. Sinta juga Surya kebetulan sudah ada di ruang tamu, bingung melihat kedatangan Syifa seperti itu.


"Sayang.. adek kenapa?" tanya Surya melihat Sonya.


"Bertengkar lagi" imbuh Sonya lesuh mendudukkan dirinya disamping Surya.


"Kamu?" tanya Surya lagi. Sonya menggeleng kepala memberi tanda kalo bukan dia.


"Terus.. adek kenapa sayang?" tanya Sinta khawatir.


"Biasa mi.. gara-gara bang Dias" balas Sonya.


"Kok bisa.. bukannya kemarin adek dan Dias bahagia sehabis jalan-jalan ya?" kata Surya mulai bingung.


"Jadi gitu mi" jelas Sonya panjang lebar.


"Oh jadi ini cuma salah paham ya?" tanya Sinta yang segera diangguki Sonya dengan senyum manisnya.


"Iya mi.. lagian Sonya.. tahu persis bagaimana abang Dias, cuma Sonya penasaran sama gadis ganjeng itu kenapa tiba-tiba pindah sekolah" jelas Sonya heran.


Sinta mengangguk, kalo soal itu biar menjadi urusan mami nak memangnya nama gadis itu siapa?" tanya Sinta lagi.


"Namanya Sasha Purnama mi.. kalo nggak salah dia itu anak dari pak Bambang" sambung Sonya.

__ADS_1


"Oh anaknya Bambang Widanto ya?" imbuh Sinta lagi dan Sonya pun mengiyakan.


******


Dikamar berwarna serbakserbik biru tersebut terlihat gadis cantik itu, sedang berdiri, termenung di balkon kamarnya.


"Sepertinya.. gue salah milih deh, harusnya, dari awal gue pilihnya Dimas bukan Dias karena Dias brengs*k dari pada Dimas yang sudah jelas baik dari awalnya" bisik batin Syifa menyesali pilihannya dulu.


"Apakah, mendingan gue kembali deket sama Dimas saja? atokah gue cari laki-laki lain saja biar Dias bisa cemburu melihat gue deket sama laki-laki lain lagi?" gumam Syifa menyilangkan tangannya dipinggang.


Setelah mengurung diri di dalam kamar begitu lama, akhirnya Syifa pun, memutuskan untuk turun keruang keluarga untuk berkumpul semuanya. Terlihat disana sudah ada orang tua, kakak dan iparnya bercanda.


"Papi.. Mami.. " sapa Syifa menyapa orang tuanya.


"Eh anak bunda sudah dateng.. kata Sonya badannya adek lagi nggak enakan ya? gimana sayang, apa dah mendingan?" tanya Sinta serius menatap Syifa.


"Ekm.. sudah mendingan kok mi" imbuh Syifa namun menatap kearah Sonya. Sonya mengangkat bahunya.


"Sini.. sayang.." panggil Sanjaya, memukul kursi yang ada disebelahnya masih kosong. Syifa pun bergegas pergi disebelah Sanjaya.


******


Di,kamar hitam putih bernuansa minimalis itu terlihat begitu berantakan, si pemilik kamar itu ikutan hancur layaknya kamarnya, lelaki itu berbaring dengan mata tertutup oleh tangannya kanannya dan tangan kirinya menjadi bantalan untuk kepalanya.


Pikiran lelaki itu melayang-layang bagaikan layangan yang sedang diterbangkan oleh angin hingga terlihat begitu lesuh memikirkan gadis cantk pujaan hatinya.

__ADS_1


"Apa yang harus gue lakukan agar Syifa bisa percaya sama gue lagi? rasanya kepala gue sangat sakit lagi" gumam Dias memijat kepalanya yang sakit.


"Ekm.. apa gue, harus berbicara sama Dimas supaya dia tolongin gue supaya bisa baikan sama Syifa lagi" ujar batin Dias semakin bingung.


__ADS_2