Sang Ketua Osis

Sang Ketua Osis
Masuk BK


__ADS_3

Disudut jendelah lainnya rupanya sudah ada sesosok lelaki yang mengepal kedua tangannya, wajah gagah nya berubah memerah seketika, melihat semua yang ada di depan matanya, hatinya terasa sesak, tak bisa berkata-kata lagi, iya sosok itu yang tak lain Dias.


"Syifa kamu kok tega? bisa-bisanya kamu membuat aku seperti ini?" ujar Dias tidak percaya akan semua itu namun mencoba kuat.


Syifa blushing, segera membuang wajahnya ke arah jendelah itu dan alangkah terkejutnya setelah ia lihat ada Dias disana terlihat begitu kecewa, Dias melihat Syifa namun ia hanya ikut membuang mukanya, lalu segera pergi meninggalkan Syifa dan Dimas.


Byarrrrr


Tidak ada hujan.. tidak ada badai.. dan tidak ada apa pun tiba-tiba hati Syifa menjadi sesak, melihat wajah kekecewaan di wajah Dias, hatinya rasanya tercabikk oleh hewan ganas hingga membuat butiran matanya terjatuh seketika di pipi mulusnya.


"Syifa.. kamu kenapa?" ujar Dimas menatap Syifa.


Gadis itu segera menggelengkan kepalanya, "Nggak, aku nggak apa-apa kok" balas Syifa smile fake.


******


Sebulan berlalu begitu cepatnya, Dias kembali jadi anak brutal yang setiap harinya keluar-masuk dalam BK, Dias yang awalnya ingin merubah kehidupannya untuk Syifa namun dibuat gagal akan kejadian itu.


Sedangkan Syifa dibuat semakin bersalah akan Dias yang melihatnya pada saat itu bersama Dimas, yang terciduk sedang berciuman di dalam kelasnya.


"Dias, Syifa, lo dipanggil ibu Helmi di ruang BK?" ujar siswa A memberitahu.

__ADS_1


"Gue?" jawab Syifa heran menunjuk dirinya.


"Iya lo berdua" balas siswa A B bersamaan.


Dias mendengar itu segera berjalan keluar kelas, ke arah ruang BK disusul Syifa yang berjalan pelan ada di belakang Dias.


"Sudah sebulan Dias berubah sikap sama gue" bisik batin Syifa melihat punggung lelaki di hadapannya.


"Kenapa dia harus ikut ke BK sih?" sahut Dias dalam hati melangkah masuk dalam ruang BK.


Mereka berdua pun masuk BK disambut hangat ibu Helmi yang sedari tadi menatapnya dengan tajam.


"DIAS" teriak ibu Helmi menatap tajam Dias.


"Kamu ini kenapa lagi sih?" kata ibu Helmi heran.


"Apa sih bu gaje bener deh" balas Dias masih santai.


Ibu Helmi menggelengkan kepalanya.


"Kamu walaupun anak dari pemilik sekolah ini nggak boleh berbuat seperti ini terus" ujar ibu Helmi kesal.

__ADS_1


Syifa melototkan matanya menatap kearah Dias tak percaya akan kenyataan bahwa Dias adalah pemilik sekolah SMA Bintang yang paling terkenal ini.


"Apa? pemilik sekolah ini?" ujar batin Syifa.


Dias tertawa pecah hingga disambut hangat dengan cubitan dari ibu Helmi hingga membuat Dias segera terdiam akibat cubitan mendarat di pinggangnya itu.


"Iya bu.. Dias berhenti sekarang" kata Dias menutup mulutnya.


"Janji..?" ucap ibu Helmi lagi, yang dibalas anggukan sama Dias,, yang masih menjerit kesakitan, "Iya ibu.." jawab Dias lagi dan akhirnya cubitan ibu Helmi lepas dari pinggang lelaki tersebut.


Syifa menyaksikan itu hanya ikut tertawa.


"Apa lo ketawa mulu?" ujar Dias menatap datar pada Syifa, tapi Syifa memutuskan hanya berhenti tertawa dan segera menutup mulutnya.


Ibu Helmi bergantian menatap tajam kearah Syifa.


"Apa bu? apa saya juga ada kesalahan?" jawab Syifa menatap kearah ibu Helmi penuh tanda tanya.


Ibu Helmi, menggelengkan kepalanya, "Nggak Syifa.. kamu nggak ada kesalahan cuma ibu mau menyuruh sesuatu kepada Syifa" ucap ibu Helmi tersenyum.


"Iya bu, in sya Allah kalo Syifa bisa pasti Syifa bantu" balas Syifa ikutvtersenyum melihat ibu Helmi.

__ADS_1


"Ibu mau Syifa membantu Dias dalam meningkatkan pembelajarannya, karena ibu melihat Syifa ini adalah siswa terpintar di kelas Dias" ujar ibu Helmi menatap Syifa penuh harap.


__ADS_2