
Surya tersenyum, "Sepertinya.. Sonya sudah sangat merindukan mama sama papa deh.. entar yah.. kalo kamu udah baikan kita pulang ke rumah kok" ucap Surya merapikan rambut yang ada dimata istrinya hingga menghalangi wajah cantiknya.
Usia penikahan pasutri tersebut memang masih terbilang sangat muda karena masih dua minggu menjelang tiga minggu namun wajar saja apabila Sonya sudah sangat merindukan keluarganya terlebih lagi dia hanya anak semata wayang dari keluarga Brayen dan Clara yang selalu dimanja.
******
Suara merduh yang dinanti-nanti para siswa-siswi kembali terdengar hingga dikupingnya membuat semuanya bersorak yang berarti saat ini mereka akan pulang ke tempat asalnya.
"Syifa.. gue mau pulang bareng lo aja deh.. sekalian gue mau besukin Sonya yang lagi sakit" kata Sarah tersenyum mencoba membujuk Syifa agar Syifa mau pulang bareng dengannya memakai mobil mewah milik Syifa.
"Kok jadi gitu sih Sar? lo kan.. punya mobil?" tanya Syifa bingung.
Sarah tersenyum, "Iya gue mau aja gitu.. lagian gue sekalian mau menginap" sambung Sarah lagi yang membuat Syifa tambah bingung.
"Ada apa sih sebenarnya? to the point aja deh" sahut Syifa dibuat semakin penasaran oleh gadis imut itu.
Sarah tersenyum, "Biasalah Syif.. ayah.. sama bunda lagi-lagi keluar kota memangnya lo tega apa melihat gue ada tinggal di rumah berdiam diri kek orang gila" imbuh Sarah menekuk kedua tangannya memohon.
Syifa tertawa, "Oh gitu.. iya udah deh.. terus mobil lo gimana? masa iya lo tinggal di parkiran?" tanya Syifa lagi menatap sahabatnya tersebut.
"Biarin ajalah.. lagian besok kan gue bisa ambil lagi" imbuh Sarah menggandeng tangan Syifa. Keduanya berjalan menuju parkiran dimana mobil Syifa berada.
******
Mereka menempuh perjalanan pulang cukup lama karena di jalan beberapa kali mereka terjebak macet hingga mereka sampai di rumah pun agak sorean.
__ADS_1
"Mami.. papi.. " teriak Syifa dan Sarah barengan yang telah berada di depan ruang tamu. Sinta mendengar ada suara yang memanggilnya segera menyusul ke tempat sumber itu.
"Eh.. ada anak-anak mami" jawab Sinta tersenyum. Syifa dan Sarah segera menyalami tangan Sinta.
"Mami Sinta.. Sarah mau minta izin ya mi.. Sarah hari ini mau nginep lagi soalnya ayah sama bunda keluar kota lagi" jelas Sarah dengan nada manjanya. Sinta mendengar itu hanya tersenyum mengiyakan.
"Oh iya mi.. gimana kondisi Sonya sekarang? udah baikan?" tanya Syifa yang merasa rumahnya begitu berbeda sangat tenang tanpa adanya suara Sonya yang menggelegar.
Sinta tersenyum, "Mereka.. ada di kamar sayang kata abangmu Sonya udah mulai baikan kok" balas Sinta.
"Oh gitu.. Syukur deh mi" ujar Syifa tersenyum legah.
"Ayo.. gue mau besukin Sonya" tutur Sarah merengek ingin melihat sahabatnya sedang Sinta menggeleng melihat tingkah kedua gadis cantik tersebut seperti anak ayam dan induknya.
Syifa dan Sarah tersenyum, "Siap mi" balas mereka barengan segera naik menuju kearah kamar Surya.
Setelah tiba di depan kamar Surya dan Sonya, kedua gadis cantik itu pun menyelonong masuk begitu saja tanpa berniat untuk mengetuk pintu kamar terlebih dahulu. Dengan langkah kaki dibuat begitu pelannya, mereka pun berniat untuk mengusili pasutri yang di dalam kamar hingga mereka mengendap-endap layaknya maling jemuran yang siap beraksi.
Alangkah dibuat terkejutnya mereka setelah melihat pasutri tersebut rupanya sudah tertidur begitu pulas sembari saling berpelukan dengan tatapan wajahnya yang saling berhadapan hingga membuat siapa pun melihatnya ikutan irih termasuk Sarah.
"OMG balabili.. pemandangannya indah buangettttt" ujar Sarah setengah berteriak. Syifa mendengar itu seketika menginjak kaki Sarah dengan pelan.
"Diem lo nggak boleh berisik" ucap Syifa berbisik.
"Uppst.. iya maaf Syif,, gue lupa" kata Sarah menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
__ADS_1
Syifa menahan tawanya, "Udahlah.. yuk cabut" imbuh Syifa lagi yang diangguki Sarah lalu kembali keluar.
Mereka berjalan menuju kamarnya Syifa yang berada persis disebelah kamar Surya sama Sonya sesampai di kamar, Sarah masih membahas masalah Sonya.
"Aduh, lihat Sonya dan bang Surya barusan.. gue juga pengen deh nikah muda" ujar Sarah senyum-senyum.
Syifa menggeleng kepala, "Emangnya, lo udah punya calonnya?" tanya Syifa, menahan tawanya. Sarah pun ikut menggeleng pelankan kepalanya.
"Ekm.. belum ada sih Syif.. tapi pasti seru kalo kita bertiga kumpul bereng para suami kita" ujar Sarah ikut menghayal wajah suaminya namun alangkah dibuat terkejutnya setelah membayangkan suaminya tapi yang dia lihat itu adalah Dino.
"Aduh.. nggak.. nggak.. kok bisa dia sih!!" ucap Sarah memukul-mukul wajahnya masih menutup matanya.
"Woyyy.. lo lagi mikirin siapa sih?" sahut Syifa yang melihat sahabatnya berubah menjadi aneh. Sarah pun segera tersadar sembari membuka matanya.
"Huffft.. untung cuma hayalan.. tadi gue lihat ada gudurowo Syif.. ihh.. serem banget deh pokoknya" elak Sarah menyumbunyikan kebenaran itu bahwa sebenarnya ia melihat Dino bukannya gunduruwo.
Syifa tersenyum, "Beneran gudurowo, bukannya Dino atau Kevin?" goda Syifa menatap serius Sarah.
"Ihh.. apasih Syif.. orang gue.. lihat gunduruwo serem juga" balasnya menyenggol lengan Syifa. Syifa hanya tertawa melihat tingkah Sarah yang terlihat gugup.
"Oh gitu.. kali gue.. Dino? Kevin? kacian deh mereka punya saingan gunduruwo" ujar Syifa menahan tawa dengan menutup mulutnya.
Sarah tersenyum kikuk, "Auah males" elak Syifa jalan menuju kamar mandi untuk mengganti bajunya. Syifa melihat itu hanya menggelengkan kepalanya.
"Gue yakin kalo orang yang dibayin Sarah itu Dino ato kalo bukan Kevin deh, tapi guenya berharep orang itu adalah Dino" gumam Syifa tersenyum lebar.
__ADS_1