Sang Ketua Osis

Sang Ketua Osis
Dimas Kesal


__ADS_3

Setelah menempuh beberapa menit akhirnya mereka tiba di kediaman keluarga Sanjaya, di depan pintu itu rupanya sudah ada Sinta menunggu kedua anaknya.


"Mami" sapa Sonya berlari memeluk erat mertuanya.


"Anak mami ini udah sarapan?" kata Sinta membalas erat pelukan menantuanya dan itu di balas anggukan oleh Sonya.


"Mami,, sudah punya anak baru lagi,, lupa sama anak sendiri" sindir Surya setelah memarkirkan mobilnya.


Sinta menggelengkan kepalanya, "Abang,, abang kok belum berubah juga sih masih aja manja, inget kamu itu udah menikah dan punya istri" tutur Sinta seketika Surya terdiam tidak mengubris, sedang Sonya ikutan menahan tawanya melihat suaminya terdiam.


"Iya sudah sayang, ayo" sambung Sinta lagi yang kini di balas pasutri itu dengan anggukan dan melangkah masuk menuju rumah kediaman Sanjaya.


******


Setelah menjelang sore, keluarga Sanjaya pun sudah berkumpul di ruang keluarga begitu pun Sonya Surya tengah berada tertawa dengan kedua orang tuanya.


"Assalamualaikum" ujar Syifa pulang sekolah setelah masuk menuju ruang keluarga.


"Waaalaikumsalam" balas mereka barengan.


"Syifa" teriak Sonya berlari memeluk adik iparnya.


"Sonya,, gue rindu lo, tanpa lo sekolah kita sunyi" ujar Syifa membalas pelukan Sonya.


"Iyalah kek lo nggak tahu mulut pedes gue aja" sahut Sonya tertawa melepas pelukan Syifa.


Semua melihat Syifa juga Sonya, hanya menggeleng kepalanya sembari tertawa lepas.

__ADS_1


******


Sejak hari itu, setelah Dias berniat merubah hidupnya menjadi anak pintar, rajin, tidak brutal semua melihat itu terheran-heran terutama Rosie, bunda Dias.


Rosie berjalan masuk ke kamar Dias, mendekati Dias yang terlihat sangat serius dalam belajar.


"Sayang kamu sedang apa?" tanya Rosie heran.


"Iya belajarlah bunda masa lagi masak" balas Dias.


"Aduh,, kamu ini masih cuek aja" jawab Rosie kesal.


"Bukannya cuek bunda, memang iya itu kenyataanya" sahut Dias lagi namun masih fokus dalam belajar.


"Ohiya,, bunda kesini buat apa?" tanya Dias.


"Ckckc,, bunda Dias bertanya itu eh kok malah bunda yang tanya balik lagi" imbuh Dias melihat Rosie.


"Anak bunda jahad,, masa iya, bunda cuma mau lihat anak bunda harus punya alasan" tutur Rosie kesal.


"Bukannya gitu bund, ini Dias lagi belajar, kan jadinya malah ngeganggin Dias" balas Dias menatap Rosie.


Rosie seketika membulatkan kedua matanya setelah Dias mengatakan dia lagi belajar.


Rosie menggelengkan kepalanya, "Iya udah kalo gitu anak bunda yang gagah ini,, belajar yang baik-baik ya ntar kalo sudah belajar turun ke bawah" pintah Rosie.


"Siap bunda" balas Dias mengangguk mengiyakan.

__ADS_1


Di kediaman Pratama semua keluarga terlihat sudah berkumpul di ruang keluarga tidak terkecuali Dimas.


"Dimas panggil adikmu" ujar Sanjaya setelah melihat Dias belum juga datang.


"Iya bilang ke Dias kalo bunda sama ayah sudah ada disini menunggu lama" imbuh Rosie menekankan.


Dimas hormat, "Siap bunda" jawab Dimas antusias.


Rosie dan Sanjaya menggelengkan kedua kepalanya melihat tingkah kedua putera kembaranya itu.


"Anak bunda" ujar Sanjaya menatap kepergian Dimas setelah itu beralih menatap istri tercintanya.


"Anak ayah itu" balas Rosie tidak terima.


Di sisi lain, Dimas sudah menyelonong masuk dalam kamar Dias tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Dias,, lo di panggil bunda sama ayah sekarang" tutur Dimas, yang melihat Dias yang masih belajar di meja belajarnya.


"Ada apa sih, ganggu banget deh lo. Bilang ke bunda Dias masih mau belajar dulu" ucap Dias masih fokus dalam belajarnya.


Dimas berdecak kesal, "Lo di panggil sekarang" tutur Dimas dengan suara setengah berteriak.


"Apa-apaan sih lo, sono,, pergi dari kamar gue. Orang Dias masih mau belajar juga" bentak Dias ikut kesal.


"Lo di panggil sekarang Dias budek, lo tuli nggak sih? ato,, lo, lagi nguji kesabarang gue?" tanya Dimas tapi Dias masih kekeh dengan keputusannya.


"Gue males bicara sama orang bege kek lo, iya udah gue pergi sekarang" ujar Dimas berlalu begitu kesal.

__ADS_1


__ADS_2