
Dimas melangkah pergi dari UKS sembari menggenggam erat tangan kanan Syifa, gadis cantik itu hanya terdiam mengikuti langkah kaki Dimas hingga akhirnya mereka kembali ke lapangan.
Dimas melepas tangannya, "Itu coba lo cek" kata lelaki tampan tersebut sembari menunjuk ke papan pengumuman yang berwarna army yang berada di tepi ujung lapangan.
Syifa menggaruk kepalanya yang tak gatal itu, "Disitu.. disitu ada apa ya kak?" tanya Syifa apa adanya lalu mendongakkan kepalanya mengikuti arah tangan lelaki tampan itu karena belum tahu akan maksud perkataannya.
Dimas menaikkan kedua bahuya, "Cek aja dulu.. entar lo juga bakal tahu" balas Dimas tersenyum. Syifa pun kembali mendongakkan kepalanya dan sudah mengerti maksud dari perkataan lelaki tampan tersebut. Gadis cantik itu terus mencari-cari namanya sampai di kertas paling terakhir.
Syifa tersenyum, "Oh.. ini nama saya" ujar Syifa menunjuk namanya yang berada di kertas paling terakhir. Dimas melihat itu melototkan kedua matanya hingga membulat begitu lebarnya.
Dimas pun melototkan kedua matanya, "Apa? nama lo ada disitu?" kata Dimas menunjuk kertas yang masih ditatap gadis cantik tersebut dengan hati yang sedikit kecewa.
Syifa mengangguk, "I-iya kak, emang kenapa ya?" tanya Syifa yang seakan-akan tidak tahu maksud Dimas yang secara tidak langsung mengiranya gadis bodoh.
Dimas berdecak kesal, "Syifa.. itu tandanya.. lo ada di kelas pembuangan tempatnya para pemalas" ujar Dimas menjelaskan dengan nada sedikit menekan hingga membuat gadis cantik itu melototkan kedua matanya hingga sempurna.
Syifa ikut melototkan kedua matanya, "A-apa kak, kelas pembuangan?" tanya Syifa beralih menatap wajah lelaki yang ada dihadapannya itu masih dengan tatapan yang sama.
Dimas dan Syifa pun bersamaan menghembuskan nafas kasarnya karena masih belum percaya dengan apa yang telah terjadi.
Dimas mengelus lembut puncak kepala gadis cantik itu, "Biarlah.. itu.. nggak masalah kok lagian lo juga masih siswa baru" balas Dimas santai mencoba memberi support kepada Syifa agar hatinya sedikit tenang.
Syifa tersenyum sembari blushing, "I-iya kak.. walau di kelas X.8 itu nggak masalah kok buat saya" jawab Syifa mencoba menerima kenyataan pahit pertama kalinya didalam hidupnya karena baru kali ini gadis cantik itu berada di kelas pembuangan.
Syifa sebenarnya anak yang cerdas, tapi sewaktu gadis cantik tersebut dites untuk penempat kelas siswa-siswi baru dulu ia tidak sempat hadir 3 hari terakhir karena dirawat di rumah sakit akibat gejala tipesnya.
Dimas tersenyum, "Sini.. ikut gue sekarang.. biar lo nggak kesasar mencari kelas lo lagi" ujar Dimas melangkah pergi disusul Syifa yang berada dibelakangnya.
Syifa tersenyum, "Ba-baik kak" balas Syifa mengikuti langkah lelaki itu dari belakang sembari menatap bahu bidang lelaki tampan yang ada di depannya.
__ADS_1
Dimas membalikkan badannya, "Ini kelas lo" kata lelaki tampan itu tersenyum sembari menunjuk kelas yang ada di depannya.
Syifa mengagguk, "Oh iya kak.. makasih" balas Syifa menatap Dimas dengan tatapan yang begitu penuh arti namun belum sempat Syifa mendengar balasan ucapannya lelaki tampan itu sudah pergi menjauh meninggalkannya.
Syifa tersenyum, "Ekm.. ketua Osis itu baik sekali dan juga sangat tampan" gumam Syifa sembari menatap kepergian Dimas yang terlihat sudah menghilang dari pandangan matanya.
Darrrk
Teriak seorang siswi yang berhasil membuyarkan lamunannya seketika membuat gadis cantik itu membulatkan kedua matanya akibat mendengar suara yang hampir membuatnya jantungan.
Syifa menoleh kearah sumber suara itu, "Astajim.. kamu itu jahad banget" kata Syifa spontan menatap tajam gadis cantik yang sudah ada disampingnya sedangkan gadis cantik itu cengegesan tanpa dosa.
Gadis itu tersenyum, "Btw.. lo di kelas ini juga?" tanya siswi itu menunjuk kelas yang ada dihadapannya sekarang sementara Syifa mengagguk mengiyakannya.
Gadis itu terlihat begitu senangnya, "Kalo gitu.. ayo masuk.. kita sebangku ya? please!!" seru siswa itu lagi sembari menarik tangan kanan Syifa masuk ke dalam kelas sedang gadis cantik itu membalasnya dengan anggukan.
Syifa dan siswi itu pun masuk kedalam kelas lalu mendudukkan dirinya dibangku barisan depan tepatnya dibangku pertama bagian pinggir hingga mejanya berdampingan dengan tembok.
Syifa lalu menyunggingkan senyum manisnya, "Hai.. aku Aqila Assyifa panggilan Syifa" balas gadis cantik itu membalas uluran tangan Sarah.
Syifa dan Sarah saling bersalaman namun terusikkan oleh kehadiran seorang siswi lainnya yang tiba-tiba datang ikut mengulurkan tangan kanannya.
Gadis tersebut tersenyum, "Hai.. gue Sonya Aulia panggil gue Sonya" sapa Sonya dengan tatapan begitu manisnya hingga membuat keduanya menahan tawa akan tingkah lucu gadis yang ada dihadapannya saat ini.
Sarah pun ikut tersenyum, "Hai Sonya.. gue Sarah dan ini Syifa" imbuh Sarah membalas uluran tangan Sonya bergantian dengan Syifa.
Sonya bingung, "Btw.. gue duduk dimana ya?" balas Sonya lagi yang berhasil membuat keduanya ikutan bingung.
Sarah mengagguk pelan, "Lo.. duduk disini aja.. dibelakang kita ya?" ujar Sarah menunjuk bangku persis dibelakangnya yang kebetulan masih kosong.
__ADS_1
Sonya tersenyum manis, "Oh ini.. it's okay" kata Sonya segera duduk sembari meletakkan tasnya diatas meja tersebut.
Beberapa saat setelahnya suara bel sekolah berbunyi yang pertanda jam pelajaran akan segera dimulai, semua siswa-siswi pun masuk ke dalam kelasnya masing-masing.
*****
Di tempat lainnya, tepatnya di kelas XI.1 lelaki tampan tadi baru masuk kedalam kelas setelah mengecek kondisi seluruh sekolahnya.
David tersenyum, "Lo.. kemana aja?" ujar David menatap Dimas yang baru saja masuk kelas.
Dimas menghelah napasnya, "Biasalah.. ngecekin keadaan sekolah" jawab Dimas santai sembari duduk dibangku bagian depan yang berhadapan depan meja guru.
Siswa sebangku Dimas tersenyum, "Cewek yang tadi siapa? cantik juga" ujar teman sebangku Dimas yang sedang menyenggol lelaki tampan itu.
Dimas tampak berpikir, "Cewek? cewek yang mana sih?" tanya Dimas menggaruk kepalanya yang tak gatal itu karena tidak tahu apa yang dimaksud teman sebangkunya.
Teman sebangku Dimas lagi-lagi tersenyum, "Itu.. cewek yang di lapangan tadi.. yang sangat lo bela-bela sampe-sampe lo berurusan sama si Sandra si cewek nggak ada urat malaunya" jawab teman sebangkunya lagi dengan tatapan penuh tanda tanya akan gadis cantik tersebut.
Dimas menggeleng pelankan kepalanya, "Apa sih lo.. oh maksud lo Syifa.. orang gue belain dia itu karena gue kasihan aja lihat cewek itu disiksa lagi-lagi sama si Sandra" jelas Dimas kesal menatap tajam teman sebangkunya.
Teman sebangku Dimas mengangguk, "Oh ternyata namanya Syifa.. iya tapi sama aja bege.. itu tandanya.. lo khawatirin dia" ucap balik teman sebangkunya sembari menepuk bahu Dimas.
Dimas mendengus kesal, "Bege.. bege.. lo tuh yang bege" balas Dimas penuh penekan yang tak terima dikatai bodoh sama teman sebangkunya itu.
Teman sebangkunya berdiri, "Sorry.. gue nggak bege ya.. tapi gue Kevin Anugerah orang yang paling pinter, terkece dan terkenal di sekolah ini!!" seru Kevin tegas, orang yang dikenal playboy oleh para siswa-siswi di SMA Bintang.
David tertawa, "Iya.. iya.. gue tahu itu.. tapi lo masih ketinggalan satu kata lagi Vin" balas David mengingatkan Kevin akan kesalahannya.
Kevin terkejut sembari melototkan kedua matanya, "Hah.. lupa? satu kata? mananya?" tanya Kevin bingung sembari mengingat-ingat semua perkataan yang tadi sempat ia lontarkan.
__ADS_1
David tersenyum licik, "Iya lupa.. lo lupa kata playboy lo" balas David setengah berteriak membuat seisi kelas ikutan tertawa kecuali Kevin yang menatap David dengan tatapan penuh amarah.