
Mo Xian jatuh ke dalam pelukan Wu Jiao Xing. Masih dengan perasaan terkejut, Mo Xian melihat dari mana anak panah itu berasal.
Di sebuah atap bangunan, seorang pria bertopeng dengan rambut dikuncir ekor kuda menatap mereka sambil memegang busur.
Anak panah ditembakkan, Wu Jiao Xing dengan sigap melompat dan menghindarinya.
Teriakan para gadis segera terdengar. Orang-orang mulai berbisik dan berhamburan.
Wu Jiao Xing menyembunyikan Mo Xian di punggungnya. Menatap tajam pada pria yang masih belum menyerah dengan busurnya.
"Gege, siapa orang itu?" tanya Mo Xian sambil menggenggam pakaian Wu Jiao Xing dan mengintip dari balik tubuhya.
Wu Jiao Xing mendecakan lidah, merasa kesal dengan keadaan. Dia tidak membawa pedangnya karena Mo Xian tiba-tiba kabur dan dia juga lupa bahwa hari ini para pendongeng datang ke kota. Musuh mereka bersenjatakan panah, itu artinya ini adalah serangan jarak jauh dan Wu Jiao Xing tidak bisa menghadapinya jika Mo Xian masih ada di sini.
"Apa yang kau inginkan? Kenapa kau tiba-tiba menyerang kami?" Wu Jiao Xing mencoba mengulur waktu. Namun, sepertinya pria itu hanya ingin mengambil darah mereka, tanpa menjawab, pria itu segera menembakan panah yang lain.
Wu Jiao Xing menggendong Mo Xian dan melompat ke arah pepohonan, pria itu kembali mencoba kembali dengan tembakan yang lain. Wu Jiao Xing mencoba menghindar dan melarikan diri, mencari tempat yang aman untuk Mo Xian agar dia bisa menghadapi pria itu.
Wu Jiao Xing menurunkan Mo Xian di sela-sela bangunan yang hanya cukup untuk satu orang. Wu Jiao Xing, memastikan tempat itu aman saat melihat ke atas, sela-sela bangunan itu juga tertutupi atap dari bangunan yang lain.
"Duduk di sini dan jangan ke mana-mana," ucap Wu Jiao Xing sebelum pergi.
Mo Xian hendak meraih lengan Wu Jiao Xing, tapi yang diraih tangannya hanya udara.
"Gege ...,"
Wu Jiao Xing menghadang pria dengan busur. Tanpa Mo Xian, gerakan Wu Jiao Xing menjadi lebih cepat dan bebas hingga dengan mudah menghindari anak panah yang terbang ke arahnya sebelum berhasil melayangkan pukulan tepat di wajah pria itu.
Pria itu jatuh bebas ke tanah dan Wu Jiao Xing segera mengunci pergerakannya.
"Apa yang kau inginkan? Kenapa kau menyerang kami dengan tiba-tiba?" tanya Wu Jiao Xing sambil menekan kepala pria itu ke tanah.
Namun, pria itu hanya diam tidak bergerak. Wu Jiao Xing sudah merasa ada yang aneh sejak melihat pria itu, pergerakannya sedikit kaku tapi panah yang ditembakan selalu tepat sasaran. Sekarang, saat dia memegang dengan tangannya sendiri kepala orang itu, Wu Jiao Xing menarik topeng yang menutupi wajah orang itu.
Wu Jiao Xing terkejut hingga tubuhnya membatu untuk sesaat, matanya membola tidak percaya dengan apa yang dilihat. Orang itu bukan manusia, melainkan mayat hidup.
Wajah orang itu sudah setengah membusuk dengan bola mata yang hampir keluar. Tulang rahang sebelah kanan mulai terlihat seiring dengan banyaknya belatung yang memakan daging busuk orang itu.
Saat Wu Jiao Xing melepaskan topeng yang digunakan mayat hidup itu, bau busuk segera menguar dari tubuh yang kini terbaring mati.
Wu Jiao Xing menatap bagian dalam topeng yang digunakan mayat hidup itu terdapat mantra yang ditulis dengan darah.
Orang-orang yang berkerumun menonton pertarungan Wu Jiao Xing dengan mayat hidup mulai merasa perut mereka mual karena bau busuk yang keluar dari mayat itu. Namun, Wu Jiao Xing tidak mempedulikannya, dia meninggalkan mayat itu, hanya membawa topeng bermantra dan pergi menjemput Mo Xian.
Di sisi lain, Mo Xian menunggu dengan patuh di sela-sela bangunan yang sempit dan gelap.
Langit mulai mendung, awan hitam bergulung-gulung dan bergemuruh. Hujan turun, tapi Mo Xian tidak berani beranjak dari tempatnya karena Wu Jiao Xing menyuruhnya untuk menunggunya. Mo Xian tahu sesuatu yang buruk telah terjadi.
Namun, satu hal yang disesalkan Mo Xian adalah perilaku Wu Jiao Xing yang meninggalkannya di tempat sepi, gelap dan menakutkan. Mo Xian berpikir kenapa Wu Jiao Xing tidak menitipkannya di toko atau penginapan?
Hujan yang turun membuat tubuhnya mulai menggigil kedinginan, Mo Xian berjongkok sambil memeluk lututnya sendiri, menatap aliran air yang turun dari langit.
Saat dirinya mulai kesepian, tidak ada satu orang pun yang melewati daerah itu dan Wu Jiao Xing tidak kunjung datang, tiba-tiba seorang anak pengemis yang dilihat tadi di jalan utama menghampirinya.
"Adik kecil, apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Mo Xian sambil melambaikan tangannya agar anak itu datang ke sisinya dan berlindung dari hujan.
Anak itu menurut, tubuhnya yang kecil basah kuyup dan rambut panjangnya yang lepek menutupi sebagian wajahnya.
Mo Xian yang bercita-cita menjadi guru di masa lalu memang sangat menyukai anak-anak. Dengan perhatian dia mengelap wajah anak itu dengan sapu tangan miliknya.
__ADS_1
Wajah anak itu terlihat lebih baik, pipinya yang putih sedikit berisi, matanya yang tajam sekarang terlihat lebih baik dari tadi siang.
"Kenapa kamu di sini? Di mana ibumu?"
Anak itu diam saja dan hanya melihat ke arah selatan.
"Apa kau tinggal di sana?"
Anak itu mengangguk.
Mo Xian menatap anak itu dengan sedikit heran. Dia berpikir anak itu tidak bisa berbicara.
"Apa kamu dalam perjalanan pulang dan menunggu hujan reda?"
Anak itu mengangguk lagi.
Mo Xian tersenyum. "Kalau begitu bagus, aku juga sedang menunggu seseorang," ucapnya sambil melepas jubah luarnya dan memberikannya pada anak itu agar dia tidak kedinginan.
Mo Xian tidak khawatir dengan identitasnya, karena Mo Xian memakai tiga lapis baju. Saat dia dengan perhatian membungkus anak itu dengan jubah luarnya, Wu Jiao Xing datang.
"Gege ...,"
Belum sempat Mo Xian mengatakan apa yang ingin dikatakan, Wu Jiao Xing menariknya.
Wu Jiao Xing menatap dingin pada anak kecil yang sekarang memakai jubah luar Mo Xian.
"Siapa anak itu?" tanya Wu Jiao Xing menyelidik.
Mo Xian merasa Wu Jiao Xing sedikit aneh, dan segera menjawab. "Dia hanya anak pengemis yang ikut berteduh denganku. Ada apa?"
Setelah mendapatkan jawaban, tanpa mengatakan apa-apa Wu Jiao Xing menggendongnya dan pergi meninggalkan anak itu sendirian di sela-sela bangunan.
Wu Jiao Xing berhasil kembali ke kediaman Li saat hari telah benar-benar gelap.
Di depan rumah, Li Zhou Ran sudah menunggu dengan khawatir dan hendak pergi menyusul Mo Xian.
Saat melihat Mo Xian kembali dengan basah kuyup kehujanan dan digendong Wu Jiao Xing, wanita itu segera menjadi semakin khawatir.
"Putraku ...," Li Zhou Ran segera memeriksa keadaan Mo Xian.
Li Huan yang sedari tadi menunggu juga memperhatikan keadaan Mo Xian sebelum melihat ke arah pemuda yang dia tugaskan untuk menjaga putranya.
"Apa yang terjadi?" tanya Li Huan.
Wu Jiao Xing segera menarik tangan dan memberi hormat.
"Seseorang berusaha menyerang tuan muda hari ini."
Jawaban itu membuat seluruh orang yang hadir kecuali Mo Xian terkejut.
"Ah Tong, Ah Ding bawa tuan muda ke dalam dan siapkan air hangat, pakaian dan sup herbal," ucap Li Zhou Ran pada dua pelayannya.
Dua pelayan yang di-perintahkan segera membawa Mo Xian ke dalam. Namun, sebelum masuk Mo Xian sempat berkata. "Jangan salahkan gege, aku yang mengajaknya pergi."
Setelah melihat ayah dan ibunya mengangguk, Mo Xian masuk ke dalam bersama pelayan.
Sementara itu, Li Zhou Ran yang memastikan Mo Xian masuk ke dalam segera menatap tajam Wu Jiao Xing.
"Apa yang terjadi?" tanyanya dingin.
__ADS_1
Wu Jiao Xing menyerahkan topeng yang dia ambil dari mayat hidup kepada Li Zhou Ran. Li Zhou Ran mengamatinya untuk sementara waktu sebelum menyerahkannya pada Li Huan.
"Laogong, apa ini? Mantra ini, aku belum pernah melihatnya sama sekali."
Li Huan memperhatikan dengan seksama, gambaran mantra yang ditulis di bagian dalam topeng kayu itu.
"Aku juga belum mengenal mantra ini," ucapnya kemudian sebelum mengalihkan pandangan pada Wu Jiao Xing.
"Ceritakan padaku dari awal."
Wu Jiao Xing menuruti perkataannya dan menceritakannya dari awal hingga akhir dan bagaimana cara mayat hidup itu menyerang.
"Aku bisa mengambil kesimpulan bahwa orang yang menggunakan mantra ini belum terlalu mahir. Maka aku juga bisa memastikan kalau ini adalah sesuatu yang baru," ucap Li Huan sambil melihat topeng itu.
"Tapi, kenapa putraku yang menjadi sasaran? Anak yang sangat menggemaskan itu tidak pernah berbuat buruk pada orang lain," tanya Li Zhou Ran khawatir.
"Kita masih belum bisa mengambil kesimpulan tentang ini. Sejak guru mendirikan Aliansi Merak, mereka yang tahu apa itu Aliansi Merak tidak akan berani mengganggu Aliansi Merak. Aku khawatir, ini ada hubungannya dengan masa lalu Xian'er."
Wajah Li Zhou Ran segera menjadi pucat. "Apa maksudmu, Laogong?"
Li Huan mengusap wajah istrinya yang khawatir. "Jangan khawatir, ini hanya sebuah pemikiranku saja setelah sekian tahun. Sejak aku membawa Xian'er dari hutan terlarang, aku tidak pernah berhenti berpikir bagaimana anak itu bisa bertahan hidup di hutan terlarang dengan begitu baik. Untuk orang biasa, hutan terlarang tidak bisa dimasuki dan untuk kultivator, hanya mereka yang dipilih oleh Dewi Danau yang bisa memasukinya. Sisanya, hanya bisa masuk satu tahun sekali.
Hutan terlarang memiliki sumber energi spiritual yang melimpah, tanahnya ajaib, semua tumbuhan yang ada di sana hidup seolah memiliki nyawa dan bisa menyerang kultivator, binatang ajaib yang buas tersebar di seluruh penjuru hutan, angin yang bertiup di sana bisa membawa orang yang lemah ke dalam kegelapan dan membuatnya gila.
Laopo, sejak awal Mo Xian'er bukan anak biasa. Tidak hanya tumbuhan di sana tidak menyerangnya, aku juga tidak melihat satu binatang ajaib pun. Dan jika biasanya aku butuh waktu dua bulan untuk keluar dari hutan itu, saat bersama Mo Xian, aku hanya butuh waktu sebelas hari.
Aku juga berpikir ini ada hubungannya dengan pria yang bernama Mo Shan. Pria ini, bagaimanapun aku memikirkannya, aku merasa hilangnya pria ini terlalu misterius."
Li Zhou Ran menatap dengan tidak percaya pada penjelasan Li Huan. Memang benar, saat Li Huan mengatakan bahwa Mo Xian ditemukan di hutan terlarang, Li Zhou Ran merasa ada yang aneh. Namun, mereka menganggap bahwa pria yang bernama Mo Shan adalah seorang kultivator yang sedang mencari sesuatu di dalam hutan terlarang bersama Mo Xian. Mereka kemudian tenggelam dalam kebahagiaan dengan kehadiran Mo Xian, dan tidak terlalu memikirkan itu lagi.
"Lalu, bagaimana ...,"
"Seperti kataku, ini hanya pikiranku saja. Apapun masa lalu Mo Xian'er, dia tetap putra kita. Dan mereka yang berusaha menyerang putra kita, mereka juga sedang mencoba mencari masalah dengan Aliansi Merak. Aku akan menyelidikinya."
Li Huan kembali mengusap pipi Li Zhou Ran.
"Sekarang lebih baik kau masuk dan membantu Xian'er. Aku takut dia terkena flu."
Li Zhou Ran mengangguk. Dia khawatir, tapi dia percaya pada suaminya. Jadi dia masuk ke dalam.
Li Huan kembali menatap Wu Jiao Xing.
"Di mana mayat itu sekarang?"
Wu Jiao Xing menjawab. "Aku meninggalkannya di jalan utama."
Li Huan mengangguk dan menyuruh Wu Jiao Xing untuk memimpin jalan. Mereka berdua pergi menembus hujan di kegelapan malam menuju tempat mayat itu berada. Namun, saat mereka sampai, mereka hanya menemukan tulang belulang.
Wu Jiao Xing menatap dengan tidak percaya, dia jelas melihat mayat itu masih memiliki daging busuk di tubuhnya, lalu bagaimana mayat itu berubah menjadi tulang belulang hanya dalam waktu beberapa jam?
1770 Kata.
26 Agustus 2020.
02 September 2020.
Terima kasih sudah membaca. Jika kamu suka cerita ini, mari dukung Author dengan Like, Komen, Vote dan Rate 5 bintang🌟
Terima kasih sekali lagi, sampai jumpa lagi
__ADS_1
(๑・ω-)~🌟”