Sang Penjaga : Pendekar Bulan

Sang Penjaga : Pendekar Bulan
Seorang kenalan.


__ADS_3

"Aku tidak sengaja memukul mingmen milikmu dan kau masih bisa bergerak, jelas kau bukan manusia melainkan hantu yang memakai tubuh Tuan Kong."


Bai Yue menatap heran pada Mo Xian. "Apa maksudmu?"


Mo Xian menoleh, dia kembali mengusap wajahnya yang basah, hujan masih mengguyur dan tidak tahu kapan akan berhenti.


"Seperti yang aku katakan, aku telah menyerang mingmen Tuan Kong, tapi dia masih bisa bergerak." Mo Xian kemudian menatap Tuan Kong. "Jika Tuan Kong benar adalah manusia sejak awal, dia tidak mungkin selamat, dan lagi perubahan Tuan Kong benar-benar luar biasa. Selain berubah dari pria kurus menjadi pria berotot dan pandai bertarung, bagaimana lagi kita bisa mengambil kesimpulan?"


Bai Yue nampak berpikir sejenak. Mengusap wajahnya yang dialiri air langit. "Hantu itu sejak awal telah menggunakan tubuh Tuan Kong, pantas saja saat itu tangannya terasa sangat dingin."


Mo Xian mengangguk, dia kembali menatap Tuan Kong yang menatap keduanya dengan marah.


"Sepertinya dia sudah merencanakan untuk mengambil darah dua Nona Chen untuk mempertahankan kualitas hidup dan tubuhnya. Namun, dia tidak menduga kalau Tuan Chen akan menyewa kita, jadi dia menyerap kehidupan ketiga anak buahnya untuk bertahan hidup sementara waktu."


Bai Yue menatap Mo Xian dengan penasaran. "Dari mana kau tahu?"


Mo Xian menoleh dan tersenyum. "Aku mendapatkan bukti."


————————————


Mo Xian memutuskan untuk menyegel Hantu yang menggunakan tubuh Tuan Kong di dalam botol. Setelah Hantu itu berhasil disegel, tubuh Tuan Kong tidak ubahnya menjadi tubuh yang telah mati dan kaku, bau busuk segera menyeruak bersama air hujan dan perlahan-lahan tubuh Tuan Kong mulai kehilangan daging dan lemaknya hingga menjadi layaknya daun yang telah layu dan kering.


"Kenapa kau menyegelnya? Kita seharusnya membinasakan hantu itu."


Bai Yue bertanya saat mereka selesai mengubur jasad Tuan Kong tidak jauh dari rumah.


"Hantu ini sangat keras kepala dan menolak memberi jawaban saat kita bertanya. Ada sesuatu yang ingin aku pastikan, mungkin guru memiliki cara untuk mengatasinya."


Bai Yue ingin bertanya tentang masalah apa yang ingin Mo Xian ketahui dari hantu itu, tapi Mo Xian keburu pergi kembali ke dalam rumah dan Bai Yue juga tidak ingin memaksa, jadi dia hanya mengikutinya.


Mo Xian dan Bai Yue kemudian berjalan masuk ke dalam rumah dan menuju ruangan dimana Nyonya Chen dan yang lainnya berada. Namun, mereka kembali dikejutkan dengan orang yang tidak terduga, dan lebih mengejutkan lagi adalah mantra pelindung yang mereka buat sebenarnya tidak mengirim tanda untuk keberadaan orang itu sejak tadi.


Mo Xian tertegun melihat sosok wanita rubah dengan ekor sembilan berwarna putih. Wanita itu cantik, rambutnya hitam seperti sungai yang mengalir di tubuhnya, matanya besar dan bibirnya merah, tersenyum. Ekor sembilan miliknya lemah gemulai bergerak ke setiap arah dan tangannya yang putih lentik mengelus Xiao Hei di pangkuannya.


Sementara itu, Nyonya Chen dan yang lainnya duduk di lantai ketakutan.


Saat melihat Mo Xian dan Bai Yue, wanita itu tersenyum, melepaskan Xiao Hei dari pelukannya. Kucing hitam manis itu segera berlari menuju Mo Xian dan melompat ke pundaknya. Namun, saat mendapati pundak dan rambut Mo Xian basah kuyup, kucing itu segera melompat turun dan mengeong seolah berkata: "Kenapa kamu begitu basah!"

__ADS_1


Mo Xian menatap wanita itu dan melirik mantra pelindung yang dia buat bersama Bai Yue sudah mati, benang spiritual terputus, mantra yang terukir di tiang telah menghilang!


Melihat kecemasan di wajah Mo Xian, wanita itu tersenyum senang.


"Maafkan ketidak sopananku," ucap wanita itu. "Aku menghapus mantra yang kalian buat, cukup menarik dan sangat berbakat untuk umur kalian yang masih muda, juga cukup tidak sopan dengan masuk ke dalam rumah orang dan membuat keributan."


Ekor wanita itu melambai-lambai, Bai Yue sudah memegang pedangnya. Namun, Mo Xian yang melihat Xiao Hei sebenarnya tidak terlalu peduli dengan keberadaan wanita itu bisa sedikit tenang dan memahami ucapannya.


Mo Xian segera menarik tangan dan membungkuk memberi hormat.


"Maafkan kami, kami tidak tahu bahwa ini adalah kediaman Anda."


Wanita itu kembali tersenyum, mengelus salah satu ekornya saat telinga miliknya bergerak.


"Aku pikir permintaan maaf saja tidak cukup untuk hal ini."


"Apa maksudmu?" tanya Bai Yue waspada.


Wanita itu memiringkan kepalanya, menatap Nyonya Chen dan dua gadis mudanya.


"Jangan berpikir untuk menyentuh mereka selagi kami berada di sini!" Bai Yue berkata kasar, dia kemudian bersiap menyerang, tapi lagi-lagi Mo Xian menghalanginya.


"Wanita lemah yang hanya bisa mengandalkan penampilan untuk menarik laki-laki. Mereka terlalu muda sepuluh ribu tahun jika dibandingkan denganku."


Wanita itu kemudian berbalik pada Mo Xian, sembilan ekor rubahnya mengembang dan beberapa binatang rubah mulai bermunculan hampir dari segala penjuru, bahkan di tiang penyangga langit-langit pun terlihat beberapa rubah putih yang mengawasi mereka.


Nyonya Chen ketakutan, dua putrinya bersembunyi di dalam pelukannya. Dia kemudian menatap dua Pembudidaya Abadi yang disewa suaminya.


"Apa yang kalian lakukan, kenapa kalian diam saja. Lakukan sesuatu! Lakukan sesuatu! Atau kalian tidak akan mendapatkan bayaran!"


Wajah Bai Yue menggelap, dia merasa dalam posisi yang sulit, musuhnya adalah binatang iblis yang cukup kuat dan anak buahnya sudah mengepung mereka. Namun, disisi lain dia sangat tidak suka dengan mulut Nyonya Chen, bahkan di saat seperti ini dia masih mengancam tidak akan memberi bayaran.


Jika kau mati mungkin kami juga tidak akan selamat!


Sebaliknya Mo Xian terlihat lebih tenang, dia melihat wanita itu mulai berjalan mendekatinya, tersenyum, tangannya yang putih dengan kuku panjang dicat merah, wanita itu menyentuh pipi Mo Xian.


"Anak yang sangat menarik. Apa kau tidak takut jika aku memakanmu di sini?"

__ADS_1


Mo Xian tersenyum ramah, perlahan dia menyingkirkan tangan wanita itu dari wajahnya.


"Maafkan aku, aku terlalu lambat dalam mengingat. Salam Nyonya Hu, bagaimana kabarmu?"


Jawaban itu membuat semua orang tercengang. Mo Xian, sebenarnya mengenal wanita ini. Bahkan Bai Yu sampai menjatuhkan rahangnya.


Tentu saja Mo Xian mengenalnya, saat pertama kali melihatnya, Mo Xian pikir dia pernah melihat wajah itu sebelumnya, tapi tidak ingat di mana. Setelah mengingatnya kembali, ternyata itu adalah wanita yang menggunakan Hanfu warna hijau muda bersulam emas saat ulang tahunnya yang ke sepuluh. Mo Xian bahkan masih ingat hadiah yang diberikan wanita itu adalah sekotak buah berry yang berasal dari hutan terlarang. Namun, saat itu Nyonya Hu tidak memperlihatkan telinga dan ekornya, itu membuatnya terlihat seperti orang biasa, tapi Mo Xian masih ingat bagaimana Li Zhou Ran memarahi wanita itu dengan sebutan wanita rubah.


Wanita itu bahkan berdebat dengan Li Zhou Ran karena dia ingin memeluk Mo Xian lebih lama. Namun, Li Zhou Ran mengatakan dia tidak ingin putranya dipenuhi oleh bulu rontoknya.


Mo Xian sama sekali tidak mengerti apa yang mereka bicarakan saat itu. Namun Li Huan menjelaskan kalau wujud yang sebenarnya dari wanita itu adalah rubah berekor sembilan, Li Huan mengatakan wanita itu berada di Level sembilan binatang ajaib. Pantas saja Mo Xian tidak bisa mengenali Nyonya Hu dalam sekali lihat.


Melihat Mo Xian telah mengingatnya, ekor wanita itu kembali mengembang, beberapa bulunya rontok dan membuat semua orang kecuali Mo Xian tidak sadarkan diri.


"Apa yang Nyonya Hu lakukan?"


"Jangan khawatirkan mereka, aku hanya membuat mereka tidur dan membawa mereka ke alam mimpi," jawabnya, tangannya kembali mengelus pipi putih Mo Xian dan memeluknya erat.


"Sekarang kau harus bertanggung jawab atas kekacauan yang terjadi."


"Tapi, apa yang harus aku lakukan untuk bertanggung jawab."


"Jadilah putraku!"


"..."


Melihat Mo Xian terkejut, Nyonya Hu tertawa sambil menutupi bibirnya. Kemudian mencubit kedua pipi Mo Xian.


"Aiya, bagaimana kau bisa begitu menggemaskan, andai aku bisa membuatmu menjadi milikku, aku akan melakukannya."


Mo Xian tertawa kering, dia baru saja digoda.


"Karena kau tidak bisa menjadi anakku, bagaimana jika menemaniku minum teh sekarang?"


"Minum teh, ditengah malam?"


Nyonya Hu kembali tertawa. "Aiya, Tuan Muda Mo masih belum mengenal dunia."

__ADS_1


05 Oktober 2020.


__ADS_2