Sang Penjaga : Pendekar Bulan

Sang Penjaga : Pendekar Bulan
Jendela Dunia


__ADS_3

Mo Xian mengikuti rombongan berjalan di tepian sungai, jalan yang mereka lewati seperti baru dibersihkan oleh seseorang, terlihat dari banyaknya tumpukan semak belukar dan bebatuan besar di tepian sungai, bahkan ada batang pohon yang sepertinya baru dipotong, tapi hanya ditinggalkan di tepian.


Melihatnya, Mo Xian tidak bisa untuk tidak percaya pada Tuan Kong yang mengatakan kalau dia telah memakai jalan ini sebelumnya, sedikit menghapus kekhawatirannya karena pekerja yang Mo Xian tanyai mengatakan kalau jalan ini sudah tidak digunakan selama empat puluh tahun.


Mo Xian sempat bertanya kenapa mereka meninggalkan jalan ini, wajah sang pekerja nampak cemas tapi si pekerja hanya menjelaskan bahwa dia tidak terlalu tahu kenapa jalan ini bisa ditinggalkan. Sekarang, mengawasi sekitar, Mo Xian tidak merasakan adanya bahaya jadi dia cukup tenang.


Matahari telah bergeser, Mo Xian menghitung, jarak yang mereka tempuh untuk menemukan jembatan itu ternyata cukup jauh dan harus masuk ke dalam hutan. Burung-burung berkicau berpadu dengan gemersik rimbunnya daun yang tertiup angin. Mo Xian melihat Xiao Hei masih tidur di atas kereta dengan tenang.


Kemudian, Mo Xian melihat jendela kereta bagian belakang terbuka. Wajah dua gadis manis segera terlihat.


Chen Meiyin dan Chen Xiaomei tersenyum kepadanya.


"Tuan Pembudidaya Abadi," panggil Chen Meiyin.


Merasa dirinya dipanggil, Mo Xian mengendarai kudanya agar lebih mendekati kereta.


Tersenyum sopan, Mo Xian bertanya. "Ada apa, Nona? Apa ada sesuatu yang Nona butuhkan?"


Chen Meiyin tersenyum senang. "Tuan Pembudidaya Abadi, aku dimakan kebosanan di dalam sini. Apa Tuan Pembudidaya Abadi bisa melakukan sesuatu untuk mengusirnya?"


Mo Xian tersenyum lembut, mengerti kondisi dua gadis muda itu. Tentu saja, bahkan bagi Mo Xian, perjalanan panjang tanpa adanya internet adalah hal yang mematikan. Dia sudah hidup di abad dua puluh satu dan menjadi salah satu orang yang tidak bisa lepas dengan internet, dengan internet, perjalanan panjang tidak akan terlalu membosankan jika kita bisa membaca atau menonton sesuatu. Namun, di dunia ini tidak ada hal seperti itu, bahkan Mo Xian harus beradaptasi dan mengatasinya dengan melihat pemandangan saat dia bersama Li Huan kala itu dan bertanya tentang banyak hal untuk mengusir rasa bosan.


Namun, Mo Xian juga menemukan alternatif lain selain melihat pemandangan. Jadi saat Mo Xian mengetahui bahwa ada dua gadis muda yang harus dijaga, Mo Xian telah menyiapkannya. Mo Xian segera menyelipkan tangannya ke lipatan bajunya dan mengeluarkan sebuah buku.


"Aku punya sebuah buku cerita? Apa Nona ingin membacanya?"


Chen Xiaomei berkata dengan wajah penasaran, bahkan alisnya sampai bertaut. "Tuan Pembudidaya Abadi suka membaca?"


Mo Xian tersenyum, mengangguk. "Tentu saja aku suka membaca, ada banyak hal menarik yang bisa aku temukan di dalam buku."


Alis Chen Meiyin juga bertaut. "Apa yang menarik dari sebuah buku, di dalamnya bahkan hanya berisi tulisan."


Wajah Mo Xian menggelap dengan senyum kaku. 'Anak muda, kau harus menggunakan imajinasimu saat membaca buku. Bagaimana bisa kau bertanya apa yang menarik dari sebuah buku, lalu apa hiburanmu selama ini? Katakan padaku.'


Namun, Mo Xian tentu saja tidak bisa mengatakan itu. Sebaliknya Mo Xian tersenyum dan mencoba mengedukasi dua gadis muda itu. "Tentu saja buku menarik, Nona muda tahu, saat membaca buku pikiran kita akan menjadi lebih terbuka dan dengan membaca buku pengetahuan yang kita miliki semakin bertambah."


Mendengar penjelasan Mo Xian dua gadis itu hanya diam, nampak memikirkan sesuatu, tapi tidak mengutarakannya.


Melihatnya Mo Xian kembali tersenyum. "Dan apa Nona pernah mendengar pepatah, dengan buku kau bisa membuka jendela dunia."


Mendengarnya, Chen Meiyin dan Chen Xiaomei terkesiap dan menjadi tertarik. "Membuka jendela dunia?" tanya Chen Meiyin penasaran.


"Memang dunia memiliki jendela, dimana?" Chen Xiaomei bertanya dengan wajah polos sambil menatap Mo Xian dan saudarinya secara bergantian.


Mo Xian ingin tertawa, tapi sebaik mungkin mencoba untuk menutupinya dengan tangan dan memalingkan wajah. Namun, dia merasa prihatin jika melihat bagaimana dua gadis ini sepertinya tidak pernah belajar dan diajari betapa pentingnya ilmu pengetahuan. Di dunia ini, dari mana lagi kau bisa mendapatkan pengetahuan tanpa membayar seorang guru, tentu saja buku jawabannya.

__ADS_1


Bahkan Mo Xian sudah melihat beberapa buku bekas yang dijual di toko buku terselip di antara buku-buku tua dan barang-barang usang yang lapuk, berdebu seolah tidak pernah di sentuh, mungkin bukan buku sepenting buku pengetahuan tentang dunia kultivasi, jurus-jurus rahasia, atau buku tentang ilmu pengobatan. Namun, Mo Xian pernah melihat selain buku biodata orang-orang penting, di sana juga ada buku pengetahuan tentang benua, sejarah dan silsilah kerajaan. Bahkan ada buku tentang tanaman obat jika kamu jeli saat melihat.


"Itu hanya sebuah pepatah, Nona." Mo Xian menjawab dengan penuh perhatian. "Orang-orang tua biasanya akan mengatakan itu agar anak-anaknya rajin membaca agar mereka menjadi berpengetahuan luas. Membaca buku membuat kita hidup ribuan kali lebih lama dari yang lain, kalian tahu kenapa?"


Chen Meiyin dan Chen Xiaomei sama-sama menggeleng.


Mo Xian tersenyum. "Nona, karena yang membaca buku bisa ikut menyelam ke dalam dunia buku. Nona harus menggunakan imajinasi Nona untuk memahaminya. Misalnya, jika Nona membaca buku tentang sebuah kisah perjuanga seorang Pembudidaya Abadi untuk menjadi yang terhebat di dunia. Nona, tidak perlu melihatnya, cukup membacanya, Nona akan tahu bagaimana perjuangan seorang Pebudidaya Abadi dan perjalanan hidupnya yang harus menghabiskan waktu berpuluh-puluh tahun bahkan hingga ratusan tahun hanya dengan membaca buku. Bukankah itu sesuatu yang menarik?"


Chen Meiyin dan Chen Xiaomei saling memandang, menoleh ke dalam kereta sebelum kembali menatap Mo Xian.


"Apa Nyonya Chen sedang tidur?" tanya Mo Xian, karena dia tidak mendengar suara Nyonya Chen sejak tadi.


Chen Xiaomei mengangguk.


Rombongan mereka mulai menemui jalan berliku dan Tuan Kong terdengar meneriakan sesuatu di depan, menyarankan untuk berhenti sejenak karena ada pohon yang tumbang. Mo Xian juga menghentikan kudanya, tapi tidak pergi ke depan karena Mo Xian bertugas menjaga bagian belakang.


Sebaliknya dia kembali menatap Chen Xiaomei dan Chen Meiyin.


"Mendengarkan penjelasan Tuan Pembudidaya Abadi, sepertinya membaca buku bukan hal yang buruk." Chen Meiyin berkata sambil memainkan tirai jendela.


Mo Xian yang mendengarnya tersenyum. Sepertinya dua gadis ini sudah tidak lagi meremehkan buku.


"Tapi," ucap Meiyin. "Ibu bilang wanita tidak perlu terlalu pintar dalam hal-hal seperti itu."


Wajah Mo Xian menggelap saat mendengar perkataan itu. Dia bahkan tidak tahu harus tertawa atau menangis saat mendengar itu.


Chen Meiyin menambahkan. "Hal-hal diluar itu akan menjadi tanggung jawab laki-laki"


Mo Xian tertawa getir, pemikiran seperti inilah yang membuat status wanita sering kali direndahkan karena tidak memiliki kelebihan apapun selain pintar berdandan, memasak dan mengurus suami. Bahkan di kehidupannya dimasa lalu, di abad dua puluh satu yang mewajibkan pendidikan untuk semua orang, kaum wanita masih direndahkan. Padahal, wanita masih pandai berdandan, memasak, mengurus suami, mengurus anak dan pandai dalam menghasilkan uang dengan berbagai profesi yang hampir sama dengan kaum laki-laki.


Ada banyak hal yang perlu diurus wanita, tapi apresiasi yang mereka dapatkan sebenarnya tidak sebanding dengan apa yang mereka kerjakan. Tapi, di sini Mo Xian sebenarnya sedang berhadapan dengan dua gadis yang terancam masa depannya karena terkena doktrin asal pandai berdandan, memasak dan mengurus suami, hidupmu akan bahagia.


'Itu jika kalian mendapatkan suami yang benar, bagaimana jika kalian mendapatkan suami yang salah dan bertindak tidak adil pada kalian? Kalian tidak bisa membela diri karena tidak memiliki kemampuan!'


Mo Xian menggelengkan kepalanya sambil memegangi dahinya. Menghela napas panjang.


Mo Xian kemudian memaksakan senyum dan mencoba memberi pengertian pada Chen Meiyin dan Chen Xiaomei.


"Dua Nona ini masih muda dan masa depan kalian masih panjang. Benar, wanita harus pandai berdandan, memasak,dan mengurus suami. Tapi, wanita juga harus pandai mengurus rumah, mengelola keuangan dan bijak dalam mengambil keputusan. Bukankah dua Nona ini pernah melihat gadis-gadis pembudidaya Abadi sebelumnya?"


Chen Meiyin mengangguk, dia sudah melihatnya dalam perjalanan, atau saat di kedai teh, gadis-gadis yang terlihat luar biasa dengan pedang di pinggang mereka.


"Bukankah mereka juga belajar untuk menjadi pintar dan berpengetahuan luas, tidak hanya pandai berdandan dan mengurus rumah, karena pengetahuan yang dimilikinya, orang lain akan lebih menghormatinya dan mempercayainya."


Chen Meiyin dan Chen Xiaomei kembali saling menatap.

__ADS_1


Rombongan kembali berjalanan dan Mo Xian mengikuti mereka dari belakang. Melihat, Chen Meiyin dan Chen Xiaomei diam, Mo Xian tersenyum melihat kebimbangan mereka. Dia kemudian mengeluarkan kembali buku yang sebelumnya dimasukan kembali.


"Bagaimana jika kalian mulai membaca buku ini." Mo Xian mengulurkan buku itu. "Ini buku tentang seratus Pendekar paling hebat di benua Xin Yue, lima diantaranya adalah wanita hebat dan tangguh yang sangat mengagumkan. Aku pikir kalian akan menyukainya."


Chen Meiyin menerima buku itu dan membolak-balik halaman buku itu. Dia kemudian kembali menatap Mo Xian, sementara Chen Xiaomei masih terlihat tidak tertarik dengan buku.


"Saat ini, aku tidak bisa membaca." Chen Mei Yin berkata dengan malu.


Mo Xian terkejut mendengarnya, ini benar-benar kemunduran! Namun, setelah itu Mo Xian kembali tersenyum.


"Tidak apa jika Nona belum bisa membaca, tidak ada kata terlambat untuk memulai. Nona bisa menyimpannya sampai Nona bisa membaca."


Chen Meiyin mengangguk. "Mm, terima kasih."


"Sama-sama."


Chen Meiyin masih memperhatikan Mo Xian yang mengikutinya dengan kuda.


"Apa masih ada sesuatu yang Nona inginkan?"


Chen Meiyin mengangguk pelan, pipinya bersemu merah, tangannya mendekap erat buku pemberian Mo Xian.


"Apa itu? Aku akan berusaha memberinya jika itu bukan hal yang sukar untuk dilakukan."


Mata Chen Meiyin melebar dan semu merah di pipinya semakin jelas.


"Benarkah?" tanyanya.


Mo Xian tersenyum mengangguk.


Chen Meiyin menundukan kepalanya, dia meremas buku pemberian Mo Xian, mendekapnya erat.


"Tuan Pembudidaya Abadi sepertinya sangat menyukai gadis-gadis yang hebat dan pintar, aku akan berusaha menjadi pintar dan hebat, bisakah Tuan Pembudidaya Abadi menyukaiku juga di masa depan?"


Mo Xian tersenyum senang, sepertinya dia telah berhasil mencerahkan pikiran seseorang. Jadi dia mengangguk tanpa beban sama sekali. Namun, anggukan kepala Mo Xian membuat wajah Chen Meiyin semerah udang rebus.


"I-itu artinya, Tuan Pembudidaya Abadi akan menerima perasaanku kelak?"


"Huh?" Mo Xian tersentak.


Chen Meiyin dengan malu-malu menutupi wajahnya dengan buku. "Pokoknya Tuan Pembudidaya Abadi harus menungguku sampai aku menjadi pintar dan hebat seperti gadis-gadis yang ada di buku ini. Tuan Pembudidaya Abadi telah berjanji padaku."


Chen Meiyin berkata secepat kilat sebelum memaksa Chen Xiaomei untuk duduk dan segera menutup jendela. Meninggalkan Mo Xian yang terkejut bukan main.


'Nona muda, kapan aku berjanji padamu? Aku menasehatimu agar kau rajin belajar bukan untuk mencintaiku! Aku seorang gadis, selamanya aku tidak bisa menerimamu!'

__ADS_1


__ADS_2