
Mo Xian menghela napas dan mengusir rasa khawatir dan merinding di tubuhnya. Dia segera membersihkan pikirannya setelah tiga kali mengirup dan menghela napas panjang.
Anak muda memang penuh dengan perasaan yang mengembara. Di kemudian hari Nona muda yang sedang kasmaran itu mungkin akan menemukan sesuatu yang menarik hatinya dan Mo Xian berharap Chen Meiyin dapat menemukan pria idamannya. Lagipula umur Chen Meiyin baru berumur sebelas tahun, akan ada banyak waktu untuk mengubah perasaannya pada Mo Xian. Jadi Mo Xian sudah tidak terlalu memikirkannya.
"Setelah misi ini, aku juga tidak mungkin bertemu dengannya lagi, jadi untuk apa aku khawatir?"
Rombongan kemudian sampai di sebuah jembatan yang disebut setelah berjalan hampir setengah hari dan hari mulai gelap dengan awan mendung di sore hari.
Mo Xian menatap langit yang sudah bergulung-gulung hitam keabuan, terdengar suara gemuruh dan angin kencang mulai bertiup. Perlahan, rombongan mulai menyeberangi jembatan yang terbuat dari susunan batu.
Tuan Kong sepertinya tidak berbohong, tapi Bai Yue yang sedari tadi menjaga bagian depan di belakang Tuan Kong, dapat melihat Tuan Kong sedang gelisah. Saat Bai Yue bertanya apa ada masalah dengan perjalanan ini. Tuan Kong menjawab dengan memaksakan senyum, kalau dia khawatir dengan cuaca yang akan datang.
Namun, Tuan Kong juga mengatakan kalau ada desa yang telah ditinggalkan tidak jauh dari jembatan dan mengusulkan untuk beristirahat di sana.
Bai Yue segera mundur dan mengetuk kereta, Nyonya Chen yang sedari tadi tidur dibangunkan oleh Chen Xiaomei yang pertama kali membukakan jendela.
"Hari akan segera hujan dan malam akan tiba, Tuan Kong menyarankan untuk menginap di sebuah desa."
Nyonya Chen mengiyakan dengan anggukan dan lambaian tangan, dan segera menyuruh Chen Xiaomei untuk menutup jendela.
Bai Yue kemudian meneruskan persetujuan Nyonya Chen pada Tuan Kong, dan Tuan Kong tersenyum secerah mentari sebelum mengumumkan bahwa rombongan akan menginap dan membawa rombongan menyusuri jalan kecil.
Di belakang, Mo Xian mendengar pengumuman yang diteriakan Tuan Kong, gemuruh semakin sering terdengar dan angin yang kencang cukup membuat Mo Xian terganggu karena rambutnya menjadi berantakan.
Mo Xian kemudian melihat ke atas atap kereta, Xiao Hei terlihat tidak tenang dan gelisah, kucing hitam itu mendesis dan menatap sekeliling dengan waspada. Mo Xian memanggilnya dan kucing hitam itu melompat turun ke pelukannya.
Mo Xian mengelus bulu hitam manisnya. "Ada apa, apa sesuatu yang buruk akan terjadi?"
Kucing hitam itu menatapnya dan mengeong sebelum melihat ke sekeliling dengan gelisah.
Mo Xian, meletakan Xiao Hei di pundaknya dan memegang tali kuda, dia kemudian memberi tanda pada Bai Yue dengan melempar batu kecil padanya. Sekarang Bai Yue dan Mo Xian dalam posisi siaga mengawasi sekitar.
__ADS_1
"Tuan Pembudidaya Abadi, ada apa? Anda terlihat gelisah."
Bai Yue menatap Tuan Kong sekilas dan memainkan batu yang dilemparkan Mo Xian.
"Tidak ada apa-apa," jawab Bai Yue. "Kapan kita sampai di desa yang Tuan sebutkan, apa kita bisa sampai sebelum hujan turun?" tanyanya berpura-pura melihat langit yang mendung.
Tuan Kong tersenyum, menganggukkan kepalanya. "Tuan Pembudidaya Abadi tidak perlu khawatir, sebentar lagi kita akan sampai, lihat!"
Tuan Kong menunjuk sebuah tugu batu yang sudah dirambati tananaman.
"Kita sudah sampai di pintu desa, kita hanya perlu mencari sebuah tempat untuk menginap. Aku dan anak buahku akan pergi lebih dulu, Tuan Pembudidaya Abadi bisa menunggu di sini."
"Tidak perlu, kita akan mencarinya bersama." Bai Yue menjawab dingin.
Tuan Kong tersenyum masam mendengar jawaban Bai Yue dan tidak bisa melakukan apapun. Setelah itu, Tuan Kong memperlambat jalan kudanya agar bisa berkumpul dengan ketiga anak buahnya.
"Apa yang terjadi, kenapa tidak ada pergerakan dari yang lain?" Tuan Kong berbisik dengan wajah tidak suka.
Tiga pria berotot itu menatapnya. "Dari mana kami bisa tahu jika kami berada di sisimu sepanjang waktu." Salah satu dari mereka menjawab.
Tuan Kong merasa tidak puas dengan jawaban itu.
"Kita harus bisa mengambil harta mereka di desa itu, jika rencana kita gagal dan mereka berhasil keluar dari hutan, kita tidak akan memiliki kesempatan kedua."
Salah satu pria berotot besar segera menjawab. "Kau tenang saja dan urus saja bagianmu. Menyerang dan merampok menjadi urusan kami dan kau seharusnya tidak perlu berkomentar."
"Dia benar, pria kurus sepertimu seharusnya diam saja dan jangan ikut campur dengan urusan kami."
Pria itu mendengus kesal. "Tetap saja aku menginginkan bagianku."
Pria berotot itu tersenyum sinis. "Kita akan menghitungnya nanti."
__ADS_1
Dengan begitu, Tuan Kong menjadi diam dan meninggalkan tiga pria berotot itu, mempercepat kudanya agar kembali berjalan di depan, memimpin rombongan.
Setelah melewati tugu batu yang bahkan sudah tidak terlihat lagi tulisan apa yang diukir di atas batu itu, Rombongan mulai memasuk desa. Rumah-rumah penduduk terlihat sudah banyak yang rusak dan ditumbuhi tanaman rambat, hampir tidak ada yang bisa mereka gunakan untuk menginap malam ini. Namun, mereka berhasil menemukan satu rumah yang paling besar dengan kondisi yang masih utuh, bahkan tidak ada bocor di atapnya, sehingga saat hujan turun mereka tidak merasa khawatir akan kedinginan.
Melihat kondisi bangunan yang masih bagus, Mo Xian menebak bahwa rumah itu pasti milik orang paling kaya di desa itu.
Mo Xian dan Bai Yue segera memeriksa rumah itu dari satu ruangan ke ruangan lain. Mo Xian merasa sedikit aneh dengan keadaan rumah itu, rumah itu seolah ditinggal begitu saja oleh pemiliknya. Seluruh perabotan di rumah itu masih lengkap, Mo Xian menemukan beberapa koin emas, perhiasan dan surat-surat berharga seperti tanda kepemilikan lahan dan surat izin bisnis. Bahkan Mo Xian juga melihat ada piring yang belum di bersihkan dari meja makan.
"Tempat ini aneh, kenapa mereka tidak membawa barang-barang mereka jika mereka meninggalkan tempat ini?"
Bai Yue mengangguk. "Mm, sebaiknya kita memasang penghalang dan berjaga-jaga."
Mo Xian mengangguk, dia kemudian menyentuh tiang rumah dengan telapak tangannya, gambar mantra segera muncul di tiang itu setelah Mo Xian melepaskan tangannya.
Mo Xian dan Bai Yue melakukan itu di setiap tiang di rumah, bahkan dinding dan pintu juga tidak dilewatkan. Gambar mantra yang mereka buat terbuat dari energi spiritual, kemudian benang spiritual yang tidak terlihat terhubung dari mantra satu ke mantra lain, benang itu akan membuat Mo Xian dan Bai Yue tahu siapa saja yang telah melaluinya, dengan begitu Mo Xian dan Bai Yue juga akan tahu jika ada orang lain dari kelompok mereka.
Setelah memasang mantra, Mo Xian dan Bai Yue kembali ke teras, menemui Nyonya Chen yang telah menunggu saat pemeriksaan.
"Semuanya aman, Nyonya bisa masuk sekarang," ucap Bai Yue datar sebelum menyentuh tiang yang ada di luar, membuat kagum mereka yang melihat saat gambar mantra muncul di sana.
Mo Xian juga melakukan hal yang sama, karena setidaknya ada empat tiang di teras.
"Tuan Pembudidaya Abadi, apa yang sedang kalian lakukan?" Chen Meiyin bertanya pada Mo Xian.
Mo Xian yang melihat Chen Meiyin tiba-tiba ingat kejadian tadi siang, tapi dia tidak terlalu memikirkannya dan tersenyum.
"Kami membuat mantra pelindung."
Chen Meiyin mengangguk, gadis itu ingin bertanya kembali, tapi Nyonya Chen memanghilnya dan menyuruhnya untuk tidak terlalu dekat dengan para pembudidaya abadi. Nyonya Chen kemudian membawa kedua putrinya masuk, menyuruh pelayan untuk membersihkan dan menyiapkan tempat untuk beristirahat.
Di teras, Mo Xian melihat Tuan Kong sepertinya sedang mendiskusikan sesuatu dengan tiga anak buahnya. Namun, Mo Xian tidak ingin tahu dan menatap hujan yang mulai deras, menyebarkan aroma tanah.
__ADS_1
Sementara itu Tuan Kong mendecakan lidahnya, menahan kesal. Pembudidaya Abadi yang disewa Tuan Chen memang anak yang masih muda, tapi mereka melebihi harapannya. Pria kurus itu berpikir keras untuk mencari jalan lain.
04 Oktober 2020.