
Mo Xian terbangun saat hari sudah sore, mengusap matanya Mo Xian perlahan melihat sisa cahaya matahari mulai membaur dengan kegelapan malam yang akan datang, membuat langit yang cerah memiliki warna jingga yang menyenangkan untuk dilihat.
Setelah mengumpulkan kesadarannya, Mo Xian dan Wu Jiao Xing kembali ke kediaman kepala desa dan bertemu dengannya saat beliau sedang mencuci kaki.
Fang Zhaoumu tersenyum ramah saat melihat Mo Xian dan Wu Jiao Xing. Mo Xian membalas senyumnya dan Fang Zhaoumu bertanya bagaimana harinya di desa mereka.
Mo Xian tersenyum dan menjawab kalau desa mereka sangat nyaman sebelum keduanya berpisah saat Mo Xian dan Wu Jiao Xing masuk ke dalam rumah, sementara Fang Zhaomu masuk lewat pintu samping yang langsung menuju dapur.
Saat malam tiba, Fang Zhaomu mengajak semua tamunya untuk makan malam bersama keluarga kecilnya. Dan Mo Xian tidak bisa untuk tidak memikirkan kembali percakapannya dengan Wu Jiao Xing siang tadi.
'Desa ini aneh, mereka memiliki hasil panen yang melimpah. Namun, mereka terlihat sangat miskin.'
Awalnya, Mo Xian mengira kepala desa adalah pria yang pelit karena melihat bagaimana desa ini sangat kaya dengan hasil bumi yang melimpah, tapi pria itu bahkan tidak rela memberikan satu apel untuk mereka dan hanya menjamu mereka dengan ubi yang telah dimakan ulat.
Namun, saat mereka makan bersama keluarga kepala desa, Mo Xian dapat melihat bagaimana keluarga kecil yang hanya terdiri dari satu kepala keluarga, satu istri dan satu anak yang masih kecil hidup dengan sangat sederhana.
Walaupun hasil panen desa ini sangat melimpah, kepala desa dan keluarganya, bahkan penduduk yang sudah Mo Xian lihat hanya mengenakan pakaian sederhana, hampir tidak layak disebut pakaian karena banyaknya tambalan di pakaian mereka.
Gadis-gadis dan wanita di sini juga tidak berdandan dan menggunakan perhiasan seperti layaknya kaum wanita pada umumnya. Mereka tampak sangat polos dan pekerja keras saat mereka bekerja di ladang, memanen padi dan hasil bumi di bawah terik matahari bersama kaum pria.
Melihat bagaimana desa ini sangat diberkahi oleh dewa dengan tanah yang subur, seharusnya desa ini dapat mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Namun, saat ini Mo Xian melihat bagaimana kepala desa dengan sangat sederhana menjamu mereka dengan makanan yang sebenarnya sangat menyedihkan.
Ubi rebus yang telah dimakan ulat kembali dihidangkan malam ini, disandingkan dengan ikan kering yang dibakar dan beberapa buah-buahan yang hampir membusuk. Tidak ada nasi dan tidak ada daging, hanya tumisan sayur kubis yang daunnya sudah hijau dan keras. Namun, Mo Xian melihat istri Fang Zhaomu dan putranya sangat menikmati makanan itu.
Anak bertubuh kurus itu bahkan sesekali merengek di dalam pangkuan ibunya saat sang ibu terlambat memberikannya ubi yang terasa sedikit pahit.
__ADS_1
Melihatnya, Mo Xian tidak tahu harus tertawa atau menangis. Anak itu sangat lucu dan mengemaskan. Dia sangat suka makan, tapi ibunya hanya memberi putranya sedikit demi sedikit, Mo Xian dapat melihat kehawatiran di wajah wanita itu dan ketidak puasan putra kecilnya setiap kali wanita itu memberi putranya potongan kecil ubi.
Sebaliknya, Fang Zhaomu terlihat tidak nyaman dengan senyumnya.
"Maafkan aku, aku benar-benar tidak bisa menjamu Tuan Pembudidaya Abadi lebih baik dari ini. Aku harap Tuan Pembudidaya Abadi tidak keberatan dengan ini."
Bao Yu mengangguk dan tersenyum lembut. "Tidak apa, kami menerima kebaikan Tuan. Kami sudah sangat berterima kasih karena Tuan mau memberi kami tempat untuk beristirahat, bahkan kami dijamu di rumah Tuan. Ini benar-benar sebuah berkah dari dewa."
—————————
"Kenapa Guru tidak pertanya pada tuan Fang Zhaomu tentang keadaan desa?" tanya Zhang Rouruan saat mereka berkumpul di dalam satu ruangan dan mengadakan pembicaraan rahasia.
Bao Yu bahkan memasang penghalang agar orang luar tidak mendengar apa yang sedang mereka bicarakan.
Pada akhirnya, tidak hanya Mo Xian dan Wu Jiao Xing yang menganggap desa ini aneh, yang lain juga sudah menyadari bahwa desa ini kaya tapi desa ini juga miskin.
"Anak-anak bahkan tidak berani mengambil buah yang bagus untuk dimakan sendiri. Sebaliknya mereka memungut buah yang sudah jatuh di tanah dan hampir membusuk untuk mereka makan."
Bai Ruo mengiyakan perktaan kata-kata Bai Yue. "Bahkan saat mereka mengumpulkan buah yang jatuh dari pohon, mereka masih memilihnya lagi dan hanya menyisakan buah-buahan dengan kualitas terburuk untuk mereka, sementara yang lain dikirim ke kota untuk dijual."
"Aku juga sempat bertanya pada salah satu penduduk yang tengah mengumpulkan sayuran yang telah tua dan keras, hampir tidak bisa dimakan dan cocok untuk makanan ternak, tapi mereka bilang itu adalah konsumsi mereka, memasaknya sedikit lebih lama dengan sedikit bumbu maka itu akan menjadi makanan yang layak."
Bai Ruo menjelaskan dengan wajah heran, tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Karena itu, saat di perjamuan makan malam tadi, dia makan dengan porsi paling sedikit, makanan itu adalah makanan paling buruk yang pernah masuk ke dalam mulutnya. Tidak hanya ubi itu terasa pahit dan keras, tumis sayur itu bahkan masih terasa kasar di mulutnya. Jika dia bisa menolak, Bai Ruo akan menolak, tapi melihat bagamana yang lainnya menikmati makanan itu untuk menghormati kepala desa, dia mau tidak mau juga melakukannya dengan usaha keras mengunyah dan menelannya susah payah, hingga hatinya menangis.
Zhang Rouruan mengangguk. "Mm, saat aku meminta beberapa biji teratai, mereka juga dengan sopan menolak permintaanku, tapi pada akhirnya mereka memberikanku beberapa biji teratai yang jelek. Aku pikir mereka sangat pelit dan tidak berperasaan jadi aku bilang aku akan membelinya, tapi mereka meminta maaf padaku dan menolak dengan sopan."
__ADS_1
Mo Xian mulai mendengarkan Zhang Rouruan bercerita.
"Aku sedikit kesal, tapi melihat bagaimana mereka begitu sopan padaku aku tidak bisa marah dan pada akhirnya aku hanya bertanya untuk apa mereka memanen biji dan akar teratai. Mereka bilang akan akan mengirimkannya ke kota. Dan mereka kembali meminta maaf karena mereka tidak bisa memberiku beberapa."
"Kemana mereka dikirim?" tanya Mo Xian.
Zhang Rouruan menggeleng. "Mereka juga menolak memberi tahu."
Mo Xian menghela napas dan melihat gurunya. "Bukankah ini terlihat seperti mereka sedang bekerja pada seseorang, Guru. Atau lebih tepatnya mereka sedang dijajah, desa mereka begitu kaya dengan hasil buminya, tapi warganya begitu miskin dan bahkan tidak bisa menikmati apa yang mereka kerjakan."
Yang lain menyetujui pendapat Mo Xian dengan anggukan dan menunggu jawaban Bao Yu setelah Zhang Rouruan bertanya kenapa Bao Yu tidak bertanya kepada kepala desa.
Bao Yu mengelus jenggotnya yang putih. "Kepala desa tidak ingin memberi tahu kita, jadi aku tidak berani bertanya," jawabnya membuat murid-murinya heran.
Namun, Bao Yu meneruskan. "Kita harus menghormati pikiran orang lain. Jika mereka tidak ingin kita tahu tentang sesuatu yang terjadi di desa ini, maka kita sebaiknya tidak bertanya." Bao Yu menatap kelima muridnya sebelum menghela napas.
"Namun, Orang-orang di desa ini takut akan sesuatu, bahkan saat beberapa kultivator mengunjungi desa mereka, mereka masih enggan menceritakan kesulitan mereka dan meminta pertolongan."
Mo Xian dan yang lainnya saling lempar pandang.
"Mereka tidak bisa menceritakannya seolah bahkan jika mereka menceritakannya tidak ada perubahan yang akan terjadi. Jadi mereka memilih diam dan bersikap seolah tidak ada yang terjadi. Atau ...."
Bao Yu menggantung ucapannya, membuat muridnya penasaran.
"Atau apa, Guru?" tanya mereka hampir serentak.
__ADS_1
"Atau mereka telah dikendalikan oleh seseorang untuk tidak berbicara," jawab Bao Yu yang membuat semua orang terkejut.