
Keesokan paginya, sesuai dengan apa yang dikatakan oleh petugas sebelumnya, semua orang kembali dibagi menjadi beberapa kelas. Mo Xian dan Wu Jiao Xing masuk ke kelas gabungan dan mendapatkan kamar di gedung asrama lain.
Asrama murid kali ini berbeda dengan yang sebelumnya karena di asrama yang sekarang satu murid mendapatkan satu kamar lengkap dengan tempat tidur, lemari dan bak mandi. Namun, untuk bisa mandi di dalam kamar, murid harus mengambil sendiri air di mata air yang letaknya cukup jauh dari asrama murid. Sebaliknya, tidak jauh dari asrama murid ada kolam pemandian umum.
Namun, Mo Xian tentu saja dia tidak bisa mandi di pemandian umum, jadi dia harus membawa satu ember untuk membawa air dari mata air.
"Kenapa kau tidak mandi di tempat pemandian umum, itu akan lebih mudah dari pada mengambil air dari mata air," keluh Wu Jiao Xing saat membantu Mo Xian mengambil air.
Mo Xian tertawa kering, dia tidak mungkin mengatakan kalau dirinya adalah seorang gadis. "Aku tidak terbiasa mandi bersama orang banyak," jawab Mo Xian sedikit kesusahan saat membawa seember air dengan kedua tangannya, bahkan air di dalam ember bergoyang dan keluar dari ember sedikit demi sedikit. Seumur hidup Mo Xian tidak pernah mengambil air dengan ember bahkan harus menuruni beberapa anak tangga dan berjalan cukup jauh untuk mencapai mata air. Di kehidupan sebelumnya, di dunia modern dia hanya perlu memutar keran dan air akan menjadi miliknya, saat tinggal bersama Li Huan, pelayan selalu menyediakan air untuknya, hidupnya benar-benar dimudahkan.
"Ck! Kau harus beradaptasi dengan tempat baru, untuk apa malu jika semua orang yang ada di dalam pemandian adalah laki-laki, mereka tidak akan memakanmu."
Mo Xian hanya tertawa untuk menanggapi ucapan Wu Jiao Xing. Tentu saja itu masalahnya, karena isi pemandian umum semuanya adalah laki-laki!
Setidaknya butuh waktu tiga kali bolak-baik untuk memenuhi bak mandi Mo Xian. Wu Jiao Xing setidaknya membawakan enam ember sementara Mo Xian membawa tiga ember.
Mo Xian menghela napas lega setelah masuk ke dalam bak mandi dan mengunci kamarnya, mimijit tangannya yang pegal dan membayangkan aktivitas ini akan berlangsung selama dia tinggal di sekte Bai Lian.
Selesai mandi, itu sudah sore hari dan sudah waktunya untuk makan malam. Mo Xian keluar dari kamar dan membuang air bekas mandinya tidak jauh dari halaman asrama, menggunakannya untuk menyirami tanaman. Setelah selesai membuang air, Wu Jiao Xing mengjampirinya dan mengajaknya ke kantin sebelum tempat itu menjadi sesak, dia ingin memastikan kalau hari ini dia tidak akan duduk satu meja bersama Bai bersaudara.
Mo Xian menurut, seperti hari kemarin Mo Xian bertugas untuk mencari tempat dan mendapatkan meja bersama Zhang Rouruan.
"Di mana makananmu?" tanya Zhang Rouruan saat melihat Mo Xian duduk tanpa membawa nampan makanan.
Mo Xian tersenyum. "Kakak laki-lakiku sedang mengambilnya, aku bertugas mencari tempat."
Zhang Rouruan tersenyum manis dan mengaduk sup akar teratai miliknya. "Kalian benar-benar kompak."
Mo Xian mengangguk menyetujui dan melihat makanan yang ada di depan Zhang Rouruan terdiri dari semangkuk nasi, satu mangkuk kecil tumis daging, satu piring sayur rebus, satu buah tahu, satu mangkuk sup akar teratai dan satu piring kecil berisi potongan buah, jumlah makanan yang cukup banyak bagi Mo Xian.
"Bagaimana hari keduamu di sini?" tanya Zhang Rouruan.
"Baik, cukup baik."
"Mm, bagus. Ngomong-ngomong aku masuk kelas gabungan, bagaimana denganmu?"
Mo Xian berkedip dan melihat ke sekitar, takut Wu Jiao Xing sedang mencarinya.
"Aku juga masuk kelas gabungan."
Wajah Zhang Rouruan seketika menjadi cerah. "Itu bagus, kita bisa menjadi teman dan kau juga bisa mengajariku cara berkultivasi yang benar."
"Mm," Mo Xian menjawab asal karena dia melihat Wu Jiao Xing berdiri di antara hiruk pikuk orang sambil membawa nampan. Mo Xian melambaikan tangannya dan Wu Jiao Xing yang sedari tadi melihat sekeliling akhirnya bisa melihat Mo Xian.
Wu Jiao Xing meletakan dua mangkuk sup pangsit isi daging, satu piring yang berisi dua potong tahu, serta satu mangkuk kecil yang berisi irisan cabai. Mo Xian mengambil mangkuk sup pangsit miliknya dan segera memegang sumpit dan sendok, dia kemudian memindahkan daun bawang miliknya ke mangkuk Wu Jiao Xing sementara Wu Jiao Xing memindahkan pokcoi miliknya ke dalam mangkuk Mo Xian.
Zhang Rouruan memperhatikan interaksi keduanya dan tidak bisa menahan senyum, dua orang di depannya benar-benar kakak adik yang sangat serasi.
"Kalian makan sedikit itu?" tanya Zhang Rouruan.
Mo Xian tersenyum sementara Wu Jiao Xing sudah bersiap untuk makan. "Mm, aku tidak terbiasa makan banyak."
Zhang Rouran mengangguk, baru kali ini dia melihat anak laki-laki makan dengan porsi sedikit, bahkan dia makan lebih banyak dan itu membuatnya sedikit malu.
Mo Xian kemudian mulai makan setelah mengucapkan selamat makan. Dia hanya makan satu mangkuk sup pangsit dan setengah potong tahu sebelum memberikan semua sisanya pada Wu Jiao Xing.
__ADS_1
Selesai makan, Mo Xian berpisah dengan Zhang Rouruan di depan kantin karena asrama pria dan wanita dipisah. Mo Xian juga segera kembali ke kamar karena tidak ada hal lain yang bisa dilakukan murid baru. Berbeda dengan murid senior yang terlihat masih berlatih di halaman dan diawasi oleh seorang penatua sekte saat Mo Xian melewati lorong untuk kembali ke kamar.
Mo Xian memeperhatikan sekilas bagaimana para murid senior berlatih menggunakan pedang dengan kompak dan berirama, Mo Xian juga mendengarkan bagaimana para murid senior berteriak keras, memberi semangat pada diri sendiri.
Mo Xian tersenyum melihatnya dan tidak sabar untuk berlatih besok. Namun, saat dia sedang memperhatikan murid senior berlatih, seseorang menabarkanya dari belakang hingga Mo Xian terjatuh.
Mo Xian mengaduh kesakitan, membersihkan tangannya sebelum melihat siapa yang telah menabraknya dari belakang.
Mata Mo Xian melebar, itu adalah seorang gadis yang bersimbah darah, terpuruk tepat di depan matanya. Mo Xian sempat terpaku sejenak sebelum menyadarkan diri sendiri dan segera bangkit untuk membantu gadis yang tengah merintih kesakitan.
"Ooh, astaga! Apa yang terjadi padamu?" Mo Xian buru-buru mendekati gadis itu dan mencoba untuk memeriksa keadaan gadis itu, tapi tangannya tidak bisa mencapai apapun, layaknya asap tangannya hanya melewati tubuh gadis itu tanpa bisa menyentuhnya.
Mo Xian menatap tidak percaya pada kedua tangannya dan berulang kali mencoba untuk memeriksa gadis itu, tapi hal yang sama terus terjadi, Mo Xian tidak bisa menyentuhnya.
Mo Xian hanya bisa memperhatikan bagaimana gadis itu meringkuk kesakitan, memegangi perutnya yang terus mengeluarkan darah.
"Hei, ada apa denganmu? Apa yang terjadi, katakan sesuatu!" Mo Xian mendesak gadis itu untuk berbicara, tapi gadis itu seolah tidak bisa mendengarnya.
Mo Xian mencoba kembali untuk menyentuh gadis itu setelah mengalirkan energi spiritual di tangannya, tapi tetap tidak bisa. Dia kemudian menatap sekitar, hendak meminta pertolongan pada yang lain. Namun, tidak ada siapa-siapa di sana.
Para murid senior yang sedang berlatih di halaman bersama seorang penatua menghilang bagaikan ditelan bumi. Bahkan saat Mo Xian melihat ke lorong, Wu Jiao Xing yang berjalan bersamanya juga hilang.
"Kemana semua orang pergi?"
Mo Xian menatap dengan bingung ke sekitar tempat itu, dia benar-benar sendirian di lorong yang gelap bersama seorang gadis yang sedang terluka parah.
Mo Xian mencoba bertanya lagi pada gadis itu dan mencoba menyentuhnya kembali, tapi hal yang sama terus terjadi. Mo Xian tidak bisa menolong gadis itu selain memperhatikan.
Gadis yang awalnya meringkuk memegangi perutnya yang terluka, merintih kesakitan berusaha untuk bergerak dengan menyeret tubuhnya perlahan-lahan.
"Aaagh!" gadis itu kembali merintih kesakitan, menekan perutnya yang terus mengeluarkan darah.
Mo Xian mendengar gadis itu berbicara sendiri dan melihatnya berjuang menyeret tubuhnya meninggalkan tempatnya sekarang.
Mo Xian tidak mengerti situasi apa yang sedang terjadi sekarang, dia masih tidak tahu kemana hilangnya semua orang, tapi Mo Xian justru lebih ingin memastikan ke mana gadis itu akan pergi, jadi dia mengikutinya dan memperhatikan gerak-gerik gadis itu yang harus bersusah payah menahan rasa sakit dan berusaha untuk pergi.
Sampai tidak lama setelah itu, Mo Xian melihat wajah yang cukup familiar di dalam ingatannya, itu adalah wanita yang pertama kali dia lihat saat dia dilahirkan kembali dalam bentuk seorang bayi mungil dan mati karena mencoba untuk melindunginya.
Mo Xian menutup mulutnya, menatap tidak percaya pada wanita berpakaian hanfu warna merah yang seolah tidak melihat keberadaannya dan segera membantu gadis yang tengah terluka. Namun, gadis itu dengan kasar menampar tangan wanita itu, menolak bantuannya.
"Orang-orang tersesat seperti kalian tidak diizinkan menyentuhku!" Gadis itu menatap dengan mata merah pada wanita itu.
Wanita itu terlihat tenang, diam sejenak sebelum berkata, "Aku tahu kesalahanku tidak mungkin untuk dimaafkan, biarkan aku mati malam ini demi membayar kesalahanku."
Gadis itu menatap marah pada wanita itu. "Bahkan kematianmu tidak akan cukup untuk membayar kesalahanmu! Tidak akan ada yang berubah!"
Wanita itu berlutut dan bersujud di depan gadis itu. "Kesalahan yang telah aku perbuat sebesar gunung dan seluas lautan, bahkan setelah kematian pun dosa itu masih melekat pada tubuh kotorku. Namun, Nona ...." Wanita itu tiba-tiba mengangkat kepalanya dan mengeluarkan sebuah jimat dari lengan bajunya.
Mo Xian memperhatikan wajah kaget gadis itu. "Kau melanggar hukum alam!" teriaknya.
Namun, wanita itu tetap bungkam. Dengan tenang, dia menggerakan tangannya dan melempar jimat yang berbentuk sebuah bola kristal biru seukuran kepalan tangannya. Jimat itu melayang dan energi spiritual dengan warna emas keluar dari tangannya membentuk sebuah pola bintang di dalam pola oktagon mengurung bola kristal itu.
Mo Xian menatap dengan serius bagaimana proses wanita itu melakuan ritualnya dan memperhatikan bagaimana gadis itu berteriak marah pada wanita itu.
"Kau pikir ini akan membuat perbedaan, dia telah tidur utuk selamanya karena ulah kalian, aku hanya ...."
__ADS_1
Gadis itu tiba-tiba muntah darah dan berhenti berbicara. Wanita itu melihat dengan khawatir tapi dia tetap fokus dengan apa yang sedang dia lakukan, energi spiritual yang keluar dari tubuhnya semakin banyak hingga bentuk bintang di dalam oktagon yang mengurung bola kristal itu terlihat sangat terang dan hampir membutakan mata.
"Kau tidak bisa melakukan ini, aku tidak ingin kembali. Ini yang kalian inginkan, aku ucapkan selamat, selamanya aku tidak akan pernah melawan hukum takdir!"
Wajah wanita itu kian pucat dan keringat dingin memenuhi wajahnya, tapi Mo Xian bisa menangkap senyum tipis di bibirnya yang merah.
"Apa Nona pernah mendengar bahwa kebohongan terkadang lebih baik dari kejujuran?" tanyanya, tanpa menghentikan aktivitasnya membuat pola bintang dalam oktagon dengan energi spiritualnya.
Gadis yang mendengar itu tersentak, tapi dia kemudian tersenyum. "Pada akhirnya, kebohongan selamanya akan menjadi jalan kehancuran seseorang."
"Apa salahnya jika itu untuk kebaikan sebagian orang."
Wanita itu menatap serius pada gadis itu.
"Harus ada seseorang yang berbuat salah agar ada orang yang dianggap benar di dunia ini. Nona, maafkan aku, hukum aku saat tugasmu telah selesai," ucap wanita itu sebelum menyentakan jari dan pola bintang dalam pagoda mulai berputar bersama kristal biru.
Mata gadis itu membola, dia berteriak. "Tidak! Kau tidak bisa melakukannya! Aku tidak ingin melakukannya!"
Namun, suaranya perlahan teredam saat tubuh gadis itu tertelan oleh pola bintang dalam oktagon, cahaya emas energi spiritual wanita itu melinyelimuti gadis itu hingga tidak terlihat. Namun Mo Xian masih bisa mendengar suara samar yang datang dari cahaya keemasan di depannya.
"Kau akan menjadi manusia yang mati dalam keadaan hina. Aku menyesal membiarkan dia menyelamatkanmu saat itu."
Mo Xian menatap tanpa bisa bergerak, matanya fokus dengan apa yang sedang terjadi pada gadis itu dan perlahan-lahan cahaya keemasan itu lenyap memperlihatkan sosok bayi mungil yang memegang kristal berwarna merah delima dengan kedua tangannya.
Mo Xian terkesiap dengan apa yang baru saja terjadi dan menutupi mulutnya dengan tangannya. Wanita itu meraih bayi itu dan meletakannya dalam dekapannya.
"Maafkan aku, Nona."
"Mo Xian!"
"Mo Xian!"
"Mo Xian!"
Mo Xian tersentak dan tersadar dari tidurnya, sempat linglung sebentar sebelum menyadari bahwa ia berada di dalam kamarnya, di dalam bak mandi miliknya.
Mo Xian mendengar suara ketukan pintu dan suara Wu Jiao Xing yang memanggilnya dari luar. Mengabaikan perasaan aneh yang menerpa dirinya karena mimpi itu, Mo Xian menjawab dengan suara lantang dan keluar dari bak mandi.
Setelah berganti pakaian Mo Xian membuka pintu.
"Apa yang kau lakukan? Aku memanggilmu berkali-kali dan mengira kau mungkin saja mati di dalam kamar. Kenapa mandi begitu lama, aku hampir mendobrak pintu milikmu dan meminta koin emas padamu untuk membayar ganti rugi!" Wu Jiao Xing mengomel dengan wajah masam.
Mo Xian tersenyum bodoh sambil menggaruk tengkuknya. "Maafkan aku, Gege. Aku ketiduran di dalam."
Wu Jiao Xing memutar bola matanya dan menghela napas. "Kau ini benar-benar!"
Mo Xian tersenyum lebar. "Benar-benar menggemaskan!"
Wu Jiao Xing melotot. "Sampai aku ingin menguburmu hidup-hidup."
Mo Xian tertawa mendengar jawabannya. Sementara itu Wu Jiao Xing melihat rambut Mo Xian masih basah dan mendecakan lidah, mendorong Mo Xian ke dalam kamar dan membantunya mengeringkan rambut sambil mengomel tentang tuan mudanya.
Hari itu, Mo Xian mendapatkan mimpi yang aneh. Namun, hari itu Mo Xian juga merasa dia tidak jauh dari rumah yang dia rindukan. Kehadiran Wu Jiao Xing benar-benar membawa suasana rumah untuknya, pemuda itu sebenarnya sangat mirip dengan Li Zhou Ran jika sedang mengomel.
2099 Kata.
__ADS_1
22 September 2020.
Terima kasih sudah membaca.