Sang Penjaga : Pendekar Bulan

Sang Penjaga : Pendekar Bulan
Minum teh di Kota Hantu 2


__ADS_3

Nyonya Hu membawa Mo Xian untuk duduk di lantai atas agar bisa melihat suasana kota Hantu dengan lebih jelas, dan Mo Xian tidak bisa untuk tidak terkagum-kagum dengan tempat ini. Tempat ini benar-benar luar biasa!


Aroma anggur bercampur dengan aroma wewangian dan makeup penghuni Rumah Keindahan Dunia, suara musik terdengar, para penari melakukan pertujukan dan para pengunjung berseru miminta lebih.


Mo Xian memperhatikan bagaimana pengunjung rumah Keindahan Dunia di kota Hantu begitu bersemangat saat seorang gadis cantik yang berbeda dengan yang lain, dia tidak mengumbar tubuhnya, tubuhnya yang semampai dibalut dengan hanfu merah muda dan selendang berwarna merah, gadis itu kemudian duduk di tengah panggung memegang sebuah alat musik Pipa.



🌱 Ilustrasi buat alat musik pipa.


Mo Xian memperhatikan para penonton yang duduk di depan meja masing-masing mulai diam saat gadis itu mulai bersiap-siap untuk memainkan sebuah lagu.


Terasa hening sesaat, Nyonya Hu memperhatikan bagaimana cara Mo Xian melihat gadis itu terlihat seperti sedang mengagumi seseorang.


Tersenyum, Nyonya Hu berkata, "Namanya Yu Yan, gadis paling cantik di Rumah Keindahan Dunia, apa Tuan Muda Mo juga tertarik padanya, aku bisa mengenalkannya jika kau mau."


Mo Xian tersentak. Dia kemudian menggelengkan kepalanya saat melihat senyum menggoda Nyonya Hu. "Tidak, tidak perlu."


"Hmmm, kenapa? Apa kau jenis orang yang pemalu? Bahkan ayah dan ibumu hampir tidak memiliki urat malu, kenapa putra mereka bisa seperti ini?" Nyonya Hu bertanya dengan heran. Dia tentu masih ingat dengan kisah Li Huan yang selalu mendengarkan saran peramal bahkan dengan suka rela menggunakan gaun pengantin di sepanjang tahun. Atau tentang Li Zhou Ran yang memiliki mulut sepedas cabai.


Garis-garis hitam segera terbentuk di wajah Mo Xian. "Tolong jangan berkata seperti itu."


"Lalu kenapa, itu normal jika kau menyukai seorang gadis, kau hampir tiga belas tahun sudah saatnya kau mencari pengalaman dengan dunia romansa."


Wajah Mo Xian kian menggelap. Dirinya hampir 13 tahun di dunia ini, dia masih terlalu muda untuk memikirkan cinta atau sejenisnya, dia masih memiliki banyak hal untuk dipikirkan dan diselesaikan, dia juga masih berfokus pada mencari ilmu. Namun, tentu saja Mo Xian mengagumi bagaimana gadis bernama Yu Yan memang pantas disebut sebagai gadis cantik dan anggun memesona, tapi dia memosisikan diri sebagai seorang gadis yang iri melihat penampilan gadis lain lebih baik darinya. Tentu saja, dia tidak bisa membohongi hatinya sendiri karena dia tidak bisa menggunakan hanfu, berdandan layaknya seorang gadis dan harus menyamar sebagai anak laki-laki entah sampai kapan.


Melihat Mo Xian tidak menjawab Nyonya Hu semakin ingin menggoda pemuda yang ada di depannya.

__ADS_1


"Tuan Muda Mo, apa kau benar-benar tidak ingin mengenalnya, aku benar-benar bisa mengenalkanmu padanya."


Mo Xian menatap Nyonya Hu dan menggelengkan kepalanya. "Makhluk apa dia?" tanya Mo Xian.


Nyonya Hu tersenyum dan mengangguk. "Jadi, apa Tuan Muda Mo khawatir dengan jenisnya? Dia seekor Domba, Domba yang manis dan baik hati, Tuan Muda Mo akan menyukainya."


Mo Xian pada akhirnya tersenyum. "Tidak terima kasih, ada hal lain yang ingin aku lakukan di usia muda. Nyonya Hu, apa Nyonya Hu sudah lama tinggal di rumah itu?"


Nyonya Hu mengangkat alis, Melihat perubahan ekspersi di wajah Mo Xian dari pemalu menjadi setenang air dan tidak bisa lagi digoyahkan. Menghela napas, Nyonya Hu melihat Yu Yan mulai memetik dawai dan memainkan lagu "Terang Bulan Di Atas Musim Semi" musik yang cukup membuat orang bersemangat dan tenang di waktu yang sama. Musik ini menggambarkan pemandangan cahaya terang bulan di malam hari, dentuman genderang, sungai mengalir perlahan, serta perahu kecil yang mengapung di sungai.


Nyonya Hu menikmati musiknya, ini mengingatkannya pada kampung halamannya. Menuang teh di atas cangkir, Nyonya Hu menawarkan teh untuk Mo Xian.


Mo Xian menerimanya dengan sopan, tapi cukup ragu untuk meminumnya.


"Tuan Muda Mo bisa meminumnya, jangan khawatir."


"Bagaimana desa itu menjadi desa yang mati, apa yang membuat penduduknya pergi meninggalkan desa itu?" tanya Mo Xian.


Nyonya Hu menopang dagunya dengan kedua tangan yang bersadar di atas meja. Menatap Mo Xian sejenak. "Tuan Muda Mo, kau masih begitu muda. Jangan terlalu membosankan dengan memikirkan hal-hal yang seharusnya dipikirkan oleh orang dewasa."


Mo Xian tersenyum, kali ini dia menuangkan teh untuk Nyonya Hu. "Guruku bilang ada banyak hal di dunia ini yang belum aku ketahui, bahkan Mo Shan-Xiansheng mengatakan jika otakku tidak akan cukup untuk menyimpan semua pengetahuan yang ada di dunia ini. Tidak ingin serakah, tapi juga tidak boleh berpuas diri, bukankah begitu, Nyonya Hu?"


Nyonya Hu tersenyum, memainkan rambutnya dia mengambil teh pemberian Mo Xian dan meminumnya.


"Putra orang-orang berbakat memang berbeda dari orang lain. Mm, baiklah karena kau sudah menemaniku minum teh. Sebagai balasan aku akan menjawab semua pertanyaanmu termasuk kertas mantra yang kau temukan di bawah tanah."


Suara Pipa yang dimainkan Yu Yan berada di nada yang sangat semangat, seolah genderang ditabuh berkali-kali, jemarinya yang lentik memetik dawai dengan berani. Mo Xian begitu terkejut mendengar jawaban Nyonya Hu.

__ADS_1


"Nyonya Hu tahu tentang mantra itu?" tanya Mo Xian.


Nyonya Hu tersenyum, kukunya yang panjang dicat merah memanikan cangkir yang telah kosong.


"Tuan Muda Mo, kau benar-benar seperti orang yang sudah dewasa. Sebelum menjawab pertanyaanmu aku juga ingin menyampaikan sebuah nasehat penting untukmu."


"Berpengetahuan itu penting, tapi jangan menjadi orang yang membosankan karena kamu terlalu sibuk belajar dan melupakan dunia."


Mo Xian tersenyum, menganggukan kepalanya. "Terima kasih untuk nasehatnya, aku pasti akan mengingatnya."


Nyonya Hu mengangguk puas. "Aku sudah mendengar tentang Aliansi Merak yang sedang mencari tahu tentang mantra itu. Mantra yang cukup aneh dan sulit untuk ditemukan, tapi mantra ini sudah tersebar di kalangan hantu."


"Tersebar di kalangan hantu?"


"Mn, ada rumor yang mengatakan mantra ini dibuat oleh orang asing yang ingin membuat sebuah pasukan hantu. Ayahmu sudah tahu tentang hal ini, sekarang Aliansi Merak sedang sibuk mencari tahu siapa pembuat mantra dan apa tujuannya."


"Apa hantu-hantu di sini tidak ada yang tahu tentang hal itu?"


Nyonya Hu mengangkat bahu. "Siapa yang tahu, cerita dari mulut satu ke mulut yang lain sering kali berbeda. Ada yang mengatakan itu dari seorang kultivator iblis yang ingin membalas dendam, ada juga yang mengatakan itu dari Roh jahat yang telah berubah menjadi tingkat tiga, berkeliaran di dunia ini dengan menggunakan tubuh manusia yang dia curi, bahkan ada yang bilang itu adalah jiwa iblis Tao Hua yang ingin menyerang istana langit untuk kedua kalinya agar raganya bisa dibebaskan."


Mo Xian hanya bisa menatap dan mendengar jawaban yang diberikan Nyonya Hu tanpa berkomentar karena semuanya masih belum jelas.


"Dan tentang desa itu, aku sendiri tidak tahu bagaimana desa itu tiba-tiba menjadi desa mati dan meninggalkan misteri, tidak ada jiwa yang berasal dari desa itu dan juga tidak ada orang lain yang tahu bagaimana atau kemana penduduk desa itu pergi."


"Lalu, bagaimana dengan mantra yang aku temukan di ruang bawah tanah rumah itu?"


Nyonya Hu menatap Mo Xian bersama dengan Yu Yan yang telah menyelesaikan permainannya. Riuh penonton berteriak agar bisa menghabiskan malam bersama Yu Yan memenuhi seluruh tempat dan menulikan telinga.

__ADS_1


07 Oktober 2020.


__ADS_2