
Setelah menginap untuk satu malam, mereka kembali melanjutkan perjalanan dan menginap di alam bebas untuk malam ke dua sebelum kembali melanjutkan perjalanan. Sampai di sebuah lembah kereta di-berhentikan saat menemui sungai yang membelah dua daratan.
Mo Xian yang sejak setengah jam yang lalu tertidur, terbangun karena udara dingin yang masuk dari jendela.
Mo Xian membuka matanya, menggigil dia mencoba memeluk Xiao Hei dan menatap Li Huan telah keluar dari kereta sementa Li Zhou Ran tersenyum padanya.
"Putraku Xian'er kita sudah sampai di perbatasan pintu masuk kota Embun Salju. Apa kau mau keluar dan melihatnya?" tanya Li Zhou Ran sambil memasangkan mantel bulu pada Mo Xian.
Saat menggunakan mantel berbulu, tubuhnya menjadi lebih baik. Dia kemudian mengangguk sebelum keluar dari kereta.
Di luar, Mo Xian melihat dataran yang diselimuti salju sementara di sisi yang lain masih berupa dataran hijau yang subur.
Selain dataran bersalju, Mo Xian juga melihat ada banyak orang menghentikan kereta mereka di sisi sungai dan beberapa orang berpenampilan pendekar dengan pedang di pinggang mereka.
"Apa yang kita lakukan di sini?" tanya Mo Xian saat menarik lengan baju Li Huan yang sedang melihat sekitar.
Li Huan menunduk dan menatap wajah Mo Xian yang memerah karena dingin, dari mulutnya keluar asap putih setiap kali berbicara.
Li Huan tersenyum dan menangkup kedua pipi putranya dan mengalirkan ebergi spiritual untuk menghangatkan tubuh putranya.
"Kita sedang menunggu pintu masuk dibuka, orang-orang Embun Salju terkenal sangat berhati-hati dengan orang luar. Kita mungkin harus menunggu untuk pemeriksaan," jawab Li Huan.
Mo Xian menghela napas, antriannya begitu panjang.
"Jika kau merasa dingin, kau bisa masuk kembali ke dalam kereta dan menunggu bersama ibu."
Mo Xian menggeleng, dia sudah terlalu banyak duduk hingga pantatnya menjadi sakit.
"Kalau begitu apa kau ingin melihat-lihat sekitar?" tanya Li Huan.
Mo Xian mengangguk.
Dengan begitu Mo Xian pergi bersama Li Huan untuk melihat-lihat setelah berpamitan pada Li Zhou Ran dan Wu Jiao Xing serta Zhao Jin.
Mo Xian menatap dataran di sebrang dengan penuh takjub. Bagaimana bisa daratan itu diselimuti salju sementara sisi lain sungai tidak.
Melihat Mo Xian tidak ada hentinya melihat ke arah dataran putih itu, Li Huan mengelus pucuk kepala Mo Xian.
"Dataran itu diselimuti salju abadi. Salju itu tidak pernah mencair bahkan jika di luar sedang musim kemarau, karena itu dataran itu disebut Embun Salju Abadi."
"Ah, apa orang-orang bisa bertahan hidup di sana?"
__ADS_1
Li Huan mengangguk. "Mm, orang-orang Embun Salju Abadi memiliki kemampuan untuk hidup di udara dingin, Xian'er akan melihat bagaimana orang-orang Embun Salju Abadi memiliki kulit putih pucat dengan rambut mereka yang seputih salju."
Mo Xian mengeratkan mantel yang digunakan dan melihat kembali ke dataran putih itu. Pohon-pohon di sana bahkan juga ditutupi salju.
"Apa tumbuhan dan hewan ternak juga bisa hidup di sana?" tanya Mo Xian, saat memikirkannya kembali, dia hanya sedikit tahu tentang binatang yang hidup di kutub, itu adalah beruang salju, pinguin dan anjing laut.
Li Huan tersenyum.
"Mm, ada banyak tubuhan dan binatan khas di dataran Embun Salju Abadi. Xian'er akan melihat sendiri nanti."
Mo Xian mengangguk, kemudian pandangannya beralih pada pendekar yang berdiri di bawah pohon, melipat tanggan di dada. Orang itu memiliki garis wajah yang tegas, hidung mancung dengan rambut hitam dibiarkan terurai seperti aliran sungai di pakaiannya yang berwarna putih.
Li Huan mengikuti mata Mo Xian dan mengenali sosok itu. Li Huan kemudian tersenyum dan menggandeng tangan Mo Xian.
"Apa Xian'er penasaran pada orang itu?" tanya Li Huan.
Mo Xian menatap dengan pandangan serba salah, dia tidak bisa untuk tidak mengatakan bahwa dia tidak penasaran. Bagaimanapun orang itu benar-benar menarik perhatian siapapun orang yang melihatnya dengan wajahnya yang tampan.
"Apa Ayah kenal orang itu?" tanya Mo Xian kemudian.
"Mm, orang itu bernama Wang Xueshi. Dan sekalipun ayah mengenalnya, ayah tidak akan mengenalkanmu padanya," ucapnya sambil menarik tangan Mo Xian untuk berjalan menjauh dari orang itu.
Mo Xian ingin bertanya kenapa, tapi Li Huan mempercepat langkahnya dan dari belakang segera terdengar suara panggilan.
Pria itu adalah Wang Xueshi yang tadi bersandar di bawah pohon. Setelah tersenyum pada Li Huan, pandangan Wang Xueshi beralih pada Mo Xian yang menatapnya dengan mata bulatnya.
"Hohoho. Lihat siapa anak ini?" Wang Xueshi berusaha untuk meraih Mo Xian, tapi Li Huan dengan cepat menepisnya.
"Jangan sentuh putraku," ucap Li Huan.
Wang Xueshi tertawa. "Hahaha, ah jadi ini putra kesayangan keluarga Li," ucap Wang Xueshi dengan mata tidak lepas dari Mo Xian. Menatapnya dalam.
Mo Xian yang ditatap, merasa dia telah melihat kilatan merah di mata Wang Xueshi.
"Kau menemukan anak yang sangat berbakat," ucap Wang Xueshi, memainkan kipasanya di sekitar dagu sambil menatap Li Huan. "Katakan, berapa aku harus membayar untuk anak ini?"
Mo Xian yang mendengar kata-kata itu seperti baru saja tersambar petir di siang hari. Dengan tidak percaya, Mo Xian melihat Li Huan yang masih bersikap tenang dengan senyum yang tidak pernah lepas dari wajahnya.
"Katakan, siapa yang berani membeli putraku?"
Suara mencekam tiba-tiba datang dari arah belakang. Udara dingin yang dikirim dari dataran seberang berubah menjadi udara yang mencekik dengan hembusan angin.
__ADS_1
Li Zhou Ran muncul dari belakang dan segera menarik Mo Xian ke dalam pelukannya.
"Bahkan jika kau menjual dirimu kau tidak akan mampu membeli putraku, putraku bukan barang dagangan!" ucap Li Zhou Ran sambil melempar kipasnya pada Wang Xueshi.
Wang Xueshi menghindar dan kipas itu terbang melewatinya.
Tersenyum, Wang Xueshi berkata, "Ah, salam Nyonya Li. Lama tidak bertemu, bagaimana kabarmu?"
Li Zhou Ran menunjukan wajah tidak senangnya dan melambaikan tangannya, seketika kipas yang tadi melayang jauh entah kemana, kembali terbang dan memukul tepat di kepala Wang Xueshi sebelum kembali ke tangannya.
"Hmph, tidak usah berbasa-basi dasar laki-laki murahan, tidak berguna, tidak bertanggung jawab, pengecut, pencuri, mesum!"
Wang Xueshi mengusap kepalanya sebelum mengusap dadanya, dari mulutnya keluar darah. "Nyonya Li, perkataanmu lebih menyakitkan dari pada kipasmu," ucapnya memelas.
Li Zhou Ran mengabaikannya dan menarik Mo Xian pergi.
"Xian'er, pastikan kau menghafal wajahnya. Jangan dekat-dekat dengannya. Dia penjahat anak yang sudah gila. Kau harus berhati-hati dengannya! Mengerti!"
Meskipun Mo Xian tidak mengerti, dia tetap menganggukan kepalanya.
Di sisi lain Wang Xueshi menangis pada Li Huan.
"Kakak perempuan benar-benar tidak berperasaan, sejak kapan aku menjadi penjahat anak? Huhuhu."
Li Huan hanya tersenyum. "Karena itu berhentilah menculik anak untuk dijadikan murid seperti orang gila."
Wang Xueshi mengusap dadanya. "Aku, Wang Xueshi yang hebat ini. Apa salahnya jika aku menculik anak dan menjadikan mereka sebagai muridku? Katakan, apa salahnya. Anak-anak yang berbakat harus diajari oleh orang yang berbakat agar kelak mereka menjadi orang yang berguna. Katakan padaku dimana salahku? Kenapa kakak perempuan begitu membenciku?"
Li Huan diam saja, tidak ingin menanggapi.
Melihat Li Huan tidak menanggapi, Wang Xueshi berhenti menangis dan merapikan pakaiannya sebelum menghapus darah di sudut bibirnya.
"Tapi, harus aku katakan putramu benar-benar memiliki bakat. Aku akan menginap di depan rumahmu mulai hari ini," ucap Wang Xueshi dengan mata tajam.
Li Huan terkekeh. "Aku akan menendangmu setiap hari."
Wang Xueshi tersenyum sinis. "Kau pikir sudah berapa banyak pantatku ditendang orang? Aku tidak akan menyerah pada anak-anak berbakat sampai mereka menjadi muridku, tendangan orang tua mereka sama sekali tidak berarti. Akan kubuat putramu menjadi muridku apapun yang terjadi."
1234 Kata.
28/29 08 20
__ADS_1
04 September 2020.
Terima kasih sudah membaca (๑・ω-)~♥”