
Mo Xian duduk dengan lesu di dalam kereta yang sekarang sudah diubah menjadi tempat tidur sejak kemarin malam. Sebenarnya, antrian yang panjang benar-benar membuat mereka harus tidur di kereta dan bahkan setelah dua hari, mereka masih harus mengantri.
Mo Xian menghela napas, melihat ke luar jendela, dataran putih itu masih sama seperti hari kemarin.
Li Huan mengusap punggung Mo Xian. "Jika Xian'er lelah, kau bisa tidur lagi bersama ibu."
Mo Xian melirik Li Zhou Ran yang sedang tidur siang.
Dengan lesu Mo Xian menjadikan paha Li Huan sebagai bantal.
"Kapan kita bisa masuk, ini mulai membosankan," keluhnya.
Li Huan tertawa dan mengelus kepala Mo Xian.
"Xian'er harus lebih bersabar."
Mo Xian menghela napas, meraih Xiao Hei yang sedang sibuk menjilati bulu hitam manisnya dan memeluknya. Dia benar-benar sudah dimakan rasa bosan untuk menunggu agar bisa masuk ke dalam dataran Embun Salju Abadi.
"Kenapa orang-orang Embun Salju Abadi sangat berhati-hati?" tanya Mo Xian, memainkan rambut panjang Li Huan yang saat ini dibiarkan tergerai.
"Orang-orang Embun Salju Abadi sebenarnya tidak suka dengan orang luar."
Mo Xian mengangkat wajahnya untuk menatap wajah Li Huan. "Lalu untuk apa mereka mengadakan pertandingan persahabatan?"
Li Huan menatap ke luar jendela.
"Itu karena mereka perlu menguji kekuatan mereka. Mereka belajar dari kesalahan, saat orang-orang mereka dikalahkan oleh orang luar, maka mereka akan lebih giat lagi berlatih."
Mo Xian mendengarkan dengan seksama.
"Dan bagi orang-orang luar juga tidak jauh berbeda. Mereka melakukannya untuk mengukur kekuatan mereka. Orang-orang dari dataran Embun Salju Abadi memiliki kemampuan elemen air, mereka bisa merubah air menjadi es dan menggunakannya sebagai senjata begitu juga sebaliknya."
Mo Xian mengangguk, dia pernah membaca tentang kemampuan orang yang menguasai elemen air.
"Tentang Jantung Hongbaoshi dan Bai Xin. Apa yang Ayah maksud dengan menagkap pencuri?"
Li Huan tersenyum. "Apa Xian'er juga ingat saat ayah mengatakan kalau jika salah satu dicuri maka yang lain akan memiliki kesadaran untuk merasakan yang lain?"
__ADS_1
Mo Xian mengangguk.
"Bai Xue mencoba memancing pencuri dengan mengeluarkan pil Hongbaoshi sebagai hadiah utama kali ini."
Mo Xian kembali mengangguk mengerti.
"Bagaimana jika pencuri itu tidak muncul, bukankah itu akan menjadi sia-sia?"
Li Huan mengangguk.
"Pencuri itu pasti muncul."
"Bagaimana Ayah bisa tahu? Jika salah satu pil bisa merasakan yang lain, bahkan jika orang itu muncul dia mungkin sudah menyembunyikan pil yang lain di tempat lain dan tidak mungkin membawanya ke sini."
Li Huan tersenyum dan mencubit hidungnya. Mo Xian segera menggerakan tangannya untuk melepaskannya.
"Ayah!"
"Hahaha, kau akan tahu nanti. Pil Hongbaoshi dan Bai Xin tidak sederhana yang bisa kau pikirkan. Xian'er, besok kau akan melihat pertunjukan bagus."
"Apa yang kalian lakukan? Kenapa ribut sekali?" tanya Li Zhou Ran dengan wajah yang masih mengantuk.
Li Huan tertawa. "Lihat, kau membuat Ibu singa bangun lagi."
Mo Xian tertawa dan sebelum Li Zhou Ran mengamuk, Mo Xian segera memeluknya hingga jatuh tertidur. Begitu juga Li Huan yang memeluk keduanya.
"Hei, apa yang kalian lakukan!" Li Zhou Ran mencoba untuk memberontak dan melepaskan pelukan Li Huan.
Li Huan tidak bergeming, Mo Xian yang berada di tengah mulai merasa dirinya terjepit dan mendorong Li Huan. "Ayah, aku terjepit di sini!"
Sekarang Li Zhou Ran yang tertawa dan mengeratkan pelukannya, membuat Mo Xian berjuang lebih untuk melepaskan diri sebelum Li Huan akhirnya melonggarkan pelukannya dan mengetuk kereta.
Tidak lama setelah itu terdengar suara Zhao Jin dari luar.
"Ya, Tuan. Apa Tuan membutuhkan sesuatu?" tanya Zhao Jin dari luar.
Li Huan menatap putranya yang kini sedang jengkel karena rambutnya berantakan sementara istrinya tertawa ringan sambil menyisir rambut Mo Xian dengan jarinya yang ramping.
__ADS_1
"Apa masih lama?" tanya Li Huan.
"Tidak Tuan, mungkin sore ini kita sudah bisa masuk ke dalam."
Li Huan mengangguk dan kembali mengetuk kereta satu kali, setelah itu dia kembali berbaring bersama Mo Xian dan Li Zhou Ran.
"Sore ini kita bisa masuk ke dalam," ucap Li Huan.
Li Zhou Ran mengangguk pelan, dia masih menyisir rambut Mo Xian dengan jarinya.
"Sebaiknya kita membunuh waktu dengan tidur."
Mo Xian melihat Li Huan sudah memejamkan mata setelah menarik Mo Xian ke dalam pelukannya, menjadikan dadanya sebagai bantal. Tidak lama, Li Zhou Ran mengikuti di sisi yang lain dan tidur di samping Li Huan. Mengelus pipi kemerahan Mo Xian.
"Xian'er tidurlah yang nyenyak," ucap Li Zhou Ran sebelum rasa kantuk yang teramat berat mendatangi Mo Xian hingga tidak lama kemudian tertidur.
"Laopo, kau menggunakan kemampuanmu untuk menidurkan Xian'er?"
"Mm, itu bagus. Dia kurang tidur sejak melakukan perjalanan ke tempat ini. Setidaknya biarkan dia tidur sampai besok. Melihatnya dimakan rasa bosan membuatku sedih." Li Zhou Ran mengadu sambil menggambar lingkaran di dada Li Huan.
Li Huan tertawa bahagia, sekarang di dalam pelukannya, di kedua tangannya ada dua orang yang benar-benar dia cintai dan sayangi.
"Aku juga kurang tidur, apa kau tidak ingin membantuku untuk tidur?"
Li Zhou Ran mengangkat kepalanya, menatap wajah suaminya yang tersenyum lembut padanya sebelum melihat wajah Mo Xian yang tertidur pulas dan kembali menatap suaminya. Tersenyum, Li Zhou Ran mencondongkan kepalanya dan mengecup bibir Li Huan sedikit lebih lama.
"Tidurlah," ucapnya sebelum menyadarkan kepalanya di dada Li Huan dan tertidur.
Sebaliknya, Li Huan tersenyum puas dan menjawab, "Mm, tidurlah yang nyenyak." Namun, Li Huan tidak tidur, sebaliknya dia menjaga dua orang yang paling berharga dalam hidupnya dengan hati-hati agar tidak terganggu dengan kebisingan di luar.
924 Kata
29 Agustus 2020.
05 September 2020.
Terima kasih sudah membaca (ノ*>∀<)ノ♡
__ADS_1