Sang Penjaga : Pendekar Bulan

Sang Penjaga : Pendekar Bulan
Bao Yu.


__ADS_3

"Rendah hati, selalu menyayangi yang muda dan menghormati yang tua ...."


Mo Xian memperhatikan di dalam ruang belajar saat seorang guru sekte menjelaskan tentang sebuah kitab Pengabdian Pada Diri Sendiri.


"Selalu taat pada perkataan sendiri dan dapat dipercaya ...."


Namanya Bao Yu, pria dengan wajah keriput, rambut yang sudah dipenuhi uban dengan kumis dan jenggot panjang yang selalu dia belai hampir setiap saat.


Pria ini, Mo Xian pernah membaca di daftar biografi guru sekte Bai Lian, namanya terpampang di daftar guru terkuat di sekte Bai Lian dengan Level Bulan tingkat enam, lebih rendah tiga tingkat dari Master sekte Bai Lian yang sudah berada di Level Matahari tingkat tiga.


Namun, walaupun Bao Yu memiliki posisi dan Level yang kuat di sekte Bai Lian, pria itu tidak pernah mengajar bela diri ataupun ilmu racun dan pengobatan. Pria itu lebih suka mengajar pendidikan moral pada murid-murid sekte Bai Lian. Walaupun kebanyakan murid tidak suka dengan pendidikan moral, mereka menganggap mereka sudah lebih dari paham bahwa hidup itu harus rendah hati, berbudi luhur dan bijaksana. Karena itu, kelas Bao Yu selalu tenang dan sepi karena hampir semua muridnya akan tertidur di kelas. Mereka seolah mendengar dongeng pengantar tidur dari seorang pria tua.


Namun berbeda dengan Mo Xian yang sedari dulu sudah mendengarkan dongeng. Mo Xian dengan senang hati akan mendengarkan bagaimana Bao Yu itu berbicara seperti kakeknya yang sedang mendongeng di masa lalu.


Bao Yu berhenti berbicara dan meletakan bukunya di atas meja saat melihat kebanyakan murid yang dia ajari justru meletakan kepala mereka di atas meja, sementara sebagian yang lain mencoba untuk menahan kantuk dengan menguap. Lalu perhatiannya mengarah pada Mo Xian, anak muda yang selalu menjaga matanya tetap segar saat dia mengajar.


Bao Yu tidak bisa untuk tidak menyukai anak itu, tidak hanya mahir dalam bela diri, ilmu racun dan pengobatan dengan perkembangannya yang sangat cepat, anak itu juga menghormati gurunya. Karena itu dia selalu ingin berbicara berdua dengannya.


Selesai kelas, Bao Yu benar-benar meminta Mo Xian untuk berkunjung ke kediamannya dan mengajaknya minum teh di tepi kolam teratai.


"Anak muda, aku sudah mendengar dari para master yang lain, kalau kau benar-benar anak yang berbakat. Dan aku sudah melihat bagaimana kamu memang anak yang diberkati surga."


Mo Xian tersenyum, menarik tangan dan membungkukan badan. "Murid ini membalas, terima kasih pada Guru untuk pujiannya."


Bao Yu tersenyum puas pada perilaku sopan Mo Xian. Dia kemudian menuangkan secangkir teh untuk Mo Xian dan untuk dirinya sendiri.


"Tapi aku dengar dari Qiaofeng kalau kau sering melamun saat di perpustakaan, apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?"


Mo Xian terkesiap, tidak menyangka kalau Qiaofeng sebenarnya memperhatikannya. Belakangan ini dia memang sering memikirkan mimpi yang mengganggu tidurnya.


Melihat Mo Xian terdiam, Bao Yu mengelus jenggot panjangnya. "Jika kau tidak bisa memahami sesuatu tentang pelajaran, kau bisa menanyakan itu padaku."


Mo Xian kembali terkesiap, dia tidak mengira bahwa Bao Yu akan salah paham tentangnya. Meskipun dia terkadang merasa kesulitan dengan apa yang dia baca, dia selalu menemukan jawabannya di lembaran yang lain atau di buku yang lain, asal kau berusaha membaca dan memahami apa maksudnya perlahan-lahan kau akan mengerti.


Bao Yu menawarkan secangkir teh pada Mo Xian. "Bertahun-tahun aku hidup di dunia ini dan tidak memiliki murid, maksudku mengundangmu ke kediamanku hari ini adalah ingin menjadikanmu murid. Apa kau bersedia menjadi muridku?"


Terlalu banyak kejutan, Mo Xian hampir tidak bisa mencerna perkataannya. Bao Yu yang menolak untuk mengajari murid-murid Bai Lian tentang teknik Bela Diri, ilmu racun dan obat, hanya menghabiskan sepanjang tahun belakangan ini untuk mengajar pendidikan moral, sekarang sedang memintanya untuk menjadi muridnya.

__ADS_1


Perlu diketahui, Mo Xian membaca lengkap biodata Bao Yu yang sudah mengukir nama di benua Xin Yue sebagai ahli dalam ilmu obat dan racun, dia juga dikenal sebagai ular berbisa yang mampu membunuh seribu orang dalam satu malam. Kisah tentang dirinya tercatat dalam buku-buku tentang seratus kultivator hebat di Xin Yue. Bao Yu bahkan menduduki peringkat ke sepuluh dengan jurus seribu bunga beracun.


Jika menilik kisah hidupnya, Bao Yu termasuk orang yang kejam dan tidak berperasaan, dia benar-benar pernah membunuh seribu prajurit dan kultivator tingkat rendah dalam perang yang terjadi 80 tahun yang lalu, saat itu dia masih terbilang muda dan dikatakan sebagai orang yang haus darah, seluruh tubuhnya sudah bermandinkan darah musuh-musuhnya yang mati di tangannya. Namun, saat perang telah usai, ditulis bahwa keberadaan Bao Yu tiba-tiba menghilang dan muncul kembali saat dia telah menjadi guru di sekte Bai Lian.


Melihat Bao Yu sekarang, tidak ada lagi jejak keganasan seorang pendekar yang haus dari deskripsi buku. Yang Mo Xian lihat sekarang hanyalah orang tua yang sangat senang mengajar pendidikan moral dan suka memberi nasehat layaknya seseorang kakek yang telah mengecap asam manisnya kehidupan.


"Anak muda tidak perlu khawatir dengan biaya. Aku yang ingin menjadikanmu sebagai murid dan ini tidak berhubungan dengan sekte Bai Lian."


Mo Xian berkedip, menerima suguhan teh yang diberikan Bao Yu, menatap teh bunga serunai di cangkirnya. Air kuning keemasan mengepul dengan bunga serunai yang menyebarkan aroma harum menenangkan, memberikan perasaan tenang pada Mo Xian.


"Ini ...." Mo Xian mencoba untuk berbicara, dia tentu saja ingin mendapatkan guru yang hanya berfokus pada dirinya tapi, "Apa ini tidak masalah dengan murid-murid yang lain?"


Bao Yu tersenyum, menyesap tehnya, menyukai cara berpikir Mo Xian yang bijaksana. Dia menawarkan sebuah kebaikan untuknya dan anak muda ini sebenarnya masih mengkhawatirkan teman-temannya.


"Itu tidak masalah untuk siapapun, aku yang ingin menjadikanmu murid. Lagi pula, menjadi pengajar pendidikan moral sepertinya tidak terlalu diminati oleh murid-murid yang lain."


Bao Yu tertawa.


"Kebanyakan dari mereka bahkan tidur saat aku berbicara, apa suaraku semerdu musik pengantar tidur di telinga mereka?" Bao Yu menatap Mo Xian dengan wajah penasaran.


Mo Xian tidak bisa untuk tidak tertawa, tapi sebaik mungkin dia sembunyikan dibalik telapak tangannya.


Mo Xian memperhatikan Bao Yu berbicara dengan wajah sendu.


"Bekerja keras untuk menjadi kuat itu penting, tapi untuk apa tujuan kita menjadi kuat juga penting. Anak muda ..." Bao Yu menoleh menatap Mo Xian. "Apa tujuanmu belajar bela diri di sekte Bai Lian?"


Mo Xian menatap dengan wajah serius, pertanyaan itu jawabannya sudah jelas. Mo Xian ingin menjadi kuat, tentu saja. Namun, ada alasan lain yang membuatnya lebih bersemangat untuk belajar.


"Murid ini menjawab, murid ingin menjadi orang yang kuat dan berguna, Guru."


"Apa kau tidak berguna saat ini?" tanya Bao Yu terlihat seperti tidak tertarik dengan jawaban Mo Xian. Sementara Mo Xian hanya bisa menatap bingung, apa yang salah dengan kata-katanya?


"Sekarang aku tanyakan kembali, apa tujuanmu berlatih bela diri? Untuk menjadi kuat dan tidak direndahkan oleh orang lain? Melindungi diri sendiri dan orang-orang yang dikasihi? Atau menjadi kebanggaan sebuah keluarga dan mencatat namamu sebagai seratus pendekar terhebat abad ini?"


Bao Yu menghela napas. "Banyak orang memulai perjuangan mereka dengan hal-hal seperti itu, mengatakan mereka ingin yang berguna dan bisa diandalkan. Namun, terkadang mereka tersesat di tengah jalan kerena kehilangan tali pegangan mereka yang lemah. Terbuai dengan kekuatan yang dimilikinya, tergoda dengan hal-hal yang lebih menguntungkan hingga menapaki jalan yang salah agar menjadi kuat."


Bao Yu terkesan mendesak, tapi sebenarnya dia berbicara dengan nada halus, seperti seorang kakek yang sedang menasehati cucunya.

__ADS_1


Bao Yu kemudian melihat bibir Mo Xian melengkung lembut sambil memandangi teh miliknya. Bao Yu tersenyum, menambahkan lagi secangkir teh untuk Mo Xian.


"Anak muda ... Hidup ini akan selalu mengalami perubahan, namun kita tidak boleh lupa bagaimana kita memulai, semakin kuat diri kita semakin besar tanggung jawab yang harus kita pikul."


Mo Xian mengangguk.


"Keinginanku untuk mengangkatmu sebagai murid karena guruku pernah mengatakan bahwa ilmu yang aku miliki seharusnya tidak berhenti pada diriku sendiri. Menebar kebaikan selama kita masih bernapas adalah nasehat yang sering dia katakan padaku. Anak muda ...."


Bao Yu kembali menatap Mo Xian.


"Aku pernah melakukan kesalahan sebelumnya, saat itu bagiku menjadi yang terkuat dan terhebat adalah segalanya dan mengabaikan nasehat guruku. Pada akhirnya kekuatan dan rasa tidak puas membutakan pikiranku dan aku menapaki jalan yang salah, aku yakin kau sudah membaca biografi milikku di perpustakaan. Seluruh tubuhku telah kotor dengan darah dari setiap jenis orang. Guruku pernah mengatakan bahwa semua orang memiliki sisi gelap masing-masing. Hanya dengan ilmu pengetahuan dan nasehat seorang guru kita bisa menghadapinya."


" Anak muda ... Apa kau sudah mempelajari mempelajari kitab keutamaan ilmu sebelumnya?"


Mo Xian kembali mengangguk dan menjawab, "Sudah Guru."


"Kalau begitu coba kau bacakan bait pertama kitab Keutamaan Ilmu untukku."


"Ingatlah, tidak akan diperoleh ilmu kecuali dengan 6 perkara. Yaitu cerdas, semangat, sabar, biaya, petunjuk guru dan lama waktunya."


Bao Yu kembali mengelus jenggotnya, mengangguk puas. Kemudian dia kembali bertanya: "Apa kau sudah memahami bait itu?"


Mo Xian menatap Bao Yu. Dia ingin mengatakan sesuatu, tapi entah kenapa kata-kata itu kembali tertelan olehnya. Ada sesuatu yang kurang untuk jawabannya.


Bao Yu tersenyum. "Aku yakin kau sudah memahaminya dengan sangat baik. Dan, kau juga tahu dimana letak kesalahanmu."


Mo Xian menunduk, memperhatikan bunga serunai yang mengambang di cangkirnya, tentu saja dia tahu. Dia berpikir untuk belajar sendiri dengan membaca buku di perpustakaan sudah cukup baginya. Karena sekte Bai Lian memiliki banyak murid, itu artinya terlalu banyak orang yang harus dibimbing oleh guru sekte Bai Lian yang hanya memiliki sebelas guru. Dan Mo Xian pikir guru sekte tidak akan memiliki waktu yang cukup untuk mengajari muridnya satu persatu, jadi dia tidak pernah bertanya pada guru jika dia tidak mengerti dan memilih mencarinya di perpustakaan.


"Kau pikirkan saja dulu jawabanmu dari sekarang, aku akan menunggu. Namun, aku harap kau mau menerima tawaranku karena aku ingin mengajakmu keluar dari sekte Bai Lian."


"Keluar?"


———————


Kitab Keutamaan Ilmu di cerita ini merujuk pada kitab Alala.


————————

__ADS_1


terima kasih sudah membaca :)


__ADS_2