
"Ini karena sumber daya mereka telah kita kurung dalam mantra khusus, roh jahat itu tidak bisa mengirim energi gelap miliknya untuk mempertahankan wujud penduduk desa. Karena itu, mereka seperti ini sekarang."
Semua orang menghela napas frustasi dengan keadaan yang sedang terjadi. Roh jahat itu harus segera diurus agar jiwa penduduk desa bisa dibebaskan. Namun, tiba-tiba sebuah ledakan terjadi di rumah kepala desa.
Bao Yu terlihat sangat terkejut hingga dia tanpa sadar langsung bergerak menuju rumah kepala desa.
Mo Xian dan yang lain melihat bahwa gururunya terlihat sangat buru-buru segera menyusulnya dan mendapati rumah kepala desa telah hancur rata dengan tanah. Seorang pria berpakaian hitam dengan tudung kepala menatap sinis ke arah Bao Yu dan murid-muridnya sambil memainkan rantai besi yang memiliki bola besi di ujungnya.
Saat Mo Xian memperhatikan lagi, rantai itu sebenarnya membelenggu kaki pria itu, tapi pria itu terlihat tidak bermasalah dan justru memainkannya sambil tersenyum memperlihatkan gigi-gigi hitamnya.
Di sebelah pria itu terdapat penjara energi spiritual Mo Xian dan Bao Yu yang digunakan untuk mengurung anak kepala desa yang berisi roh jahat Xiao Ma.
"Banar-benar merepotkan," gerutu pria itu sambil menendang penjara kecil itu beberapa kali, tapi penjara itu tidak bergerak sama sekali.
Pria itu kemudian menatap Bao Yu. "Pria tua, ilmu-mu benar-benar luar biasa. Mari buat tawaran dan bebaskan dia," ucapnya sambil memainkan bola rantainya, memutarnya berkali-kali.
Bao Yu terlihat tenang, tapi Mo Xian tahu gurunya memiliki sikap waspada.
"Tawaran seperti apa yang Anda bicarakan, aku menyegelnya dengan sangat baik, jadi bagaimana bisa aku lepaskan. Kejahatan yang dilakukan olehnya sudah tidak bisa lagi mendapat toleransi. Dia harus segera-"
"Pei!" pria itu meludah ke samping, membuat Bao Yu berhenti berbicara. "Orang tua memang selalu banyak bicara. Akan kubiarkan murid-muridmu hidup, lepaskan dia sekarang."
"Aku tidak bisa melakukannya."
"Maka murid-muridmu harus mati bersamamu."
"Itu tidak akan ter-" Bao Yu berhenti berbicara. Dia tersenyum sebelum memiringkan kepalanya ke samping saat rantai bola itu dengan cepat meluncur ke arahnya dan menabrak pohon hingga tumbang.
Mo Xian dan yang lainnya begitu terkejut, kecepatan pria itu sangat luar biasa, mereka bahkan tidak sempat melihat bagaimana pria itu bergerak dan bagaimana Bao Yu berhasil menghindarinya. Mereka hanya tahu saat tiba-tiba pohon itu tumbang dan laki-laki itu dengan cepat menarik rantainya kembali.
"Kalau begitu bersiap-siaplah untuk mati."
Pria itu menyerang lagi, senjata yang digunakan olehnya adalah rantai panjang dengan bola seukuran kepala yang membelenggu kaki kanannya. Dengan cepat, rantai itu diayunkan dan merusak apapun yang terkena oleh bola besi itu.
__ADS_1
Bao Yu terlihat sangat tenang saat berhadapan dengan pria itu, dengan gesit melompat dan menghindari serangan musuh. Ia bahkan menarik rantainya dan membuat gerakan pria itu terhenti untuk beberapa saat.
Pria itu menyeringai, menunjukkan gigi hitamnya, melihat bagaimana Bao Yu dengan sangat mudah memegang rantai miliknya hanya dengan satu tangan.
"Ternyata kau bukan sembarangan orang tua," ucapnya sebelum menarik dengan kekuatan penuh, mengambil kembali rantai miliknya, dan empat orang dengan pakaian yang sama seperti pria itu tiba-tiba muncul dan turun di samping pria itu. Jubah hitam mereka berkibar dan wajah mereka tertutupi topeng.
Wu Jiao Xing mundur satu langkah saat melihat mereka. Wajahnya sontak pucat pasi dan keringat dingin mengucur di dahinya.
Kejadian di masa lalu saat berada di pegunungan Embun Salju Abadi berulang di kepalanya, ketidak mampuan saat menghadapi lawan membuat hatinya diremas.
Dan hal terburuk yang dia pikirkan selama ini benar-benar terjadi. Orang-orang yang membuat mantra itu benar-benar tidak hanya menyebar mantranya di benua Yuan Xing, tapi juga di benua Xin Yue.
Lalu, apa artinya mereka di sini untuk Mo Xian? Pikiran Wu Jiao Xing benar-benar kacau, seribu pertanyaan berputar di kepalanya, bagaimana caranya untuk keluar dari situasi ini dan bagaimana caranya untuk menyelamatkan tuan mudanya.
Namun, tiba-tiba sebuah tangan menggenggam tangannya, Wu Xiao Xing lalu menoleh untuk melihat wajah Mo Xian yang cerah.
"Jangan khawatir, semuanya akan baik-baik saja," katanya. "Kita sudah lebih berkembang sekarang."
Mo Xian mengelak ke samping saat musuhnya menghunuskan pedang ke wajahnya, pedang itu mengeluarkan aura gelap yang membuat Mo Xian tertekan hingga bulu halus di tubuhnya berdiri.
Mo Xian kemudian melompat mundur hanya untuk memperhatikan musuhnya benar-benar memiliki aura gelap yang sangat mengintimidasi.
Sementara itu, di sisi lain Bai Yue juga menghadapi satu orang yang pergerakannya sangat gesit dan kuat. Pedang miliknya berdenting setiap kali bertemu dan membuat tangan Bai Yue harus mengeluarkan energi lebih agar pedangnya tidak terlepas dari tangannya.
Setelah bertarung beberapa saat dan mengamati pergerakan lawan, Bai Yue kemudian mengalirkan energi spiritualnya ke pedang miliknya. Kali ini, Bai Yue berhasil mengungguli dan membuat musuhnya mundur dan terpukul beberapa kali. Namun, masih tidak memberinya kesempatan untuk mengambil topeng yang terpasang di wajah musuhnya.
Bai Yue mengetahui itu, musuh mereka bukanlah manusia. Bagaimanapun juga, kejadian di dataran Embun Salju Abadi telah membuatnya mengetahui siapa musuh Aliansi Merak, mayat-mayat hidup ini mengincar tuan muda Aliansi Merak Mo Xian. Entah masalah apa yang dimiliki Aliansi Merak dengan orang-orang aneh ini, tapi yang jelas hanya ada dua pertanyaan yang muncul di kepalanya.
Kenapa orang-orang ini mengincar Mo Xian dan bukan Aliansi Merak?
Lalu, kenapa ketua Aliansi Merak, Li Huan justru mengirim putranya turun ke Xin Yue untuk bersembunyi.
Pertanyaan itu benar-benar membuat Bai Yue bingung. Namun, dia harus fokus dengan pertarungannya. Pedang biru miliknya teraliri energi spiritual yang cukup hingga pedang itu bersinar, tapi mengetahui bahwa serangan jarak dekatnya bahkan masih bisa ditangkis, Bai Yue mencoba membuat senjata dengan mengumpulkan energi dan elemen yang ada di alam.
__ADS_1
Memanfaatkan kelembaban udara, Bai Yue membuat sepuluh tombak dari es yang runcing, melayan bdi udara dengan sapuan tangan tombak-tombak itu meluncur pada musuhnya.
Sementara itu di sisi lain, Bai Ruo dan Zhang Rouruan bertarung bersama melawan satu musuh, keduanya tampak serasi saat bertarung bersama seolah mereka tim yang hebat. Saat musuh menyerang Bai Ruo, Zhang Rouruan akan mencegahnya dengan senjatanya, begitu juga sebaliknya, mereka menyerang secara bergantian. Namun, yang terjadi sebenarnya adalah mereka sedang bertengkar dan musuh mereka seakan menajadi bahan pelampiasan.
"Anak perempuan tidak cocok bertarung, pergi dan menonton saja dari bawah pohon," ucap Bai Ruo saat dia menghalangi serangan musuh dengan pedang.
Zhang Rouruan melotot. "Kenapa bukan kau saja yang duduk di bawah pohon dan menonton, satu pukulan saja tidak bisa kau jatuhkan pada musuh!" balas Zhang Rouruan saat memukul perut musuh menggunakan energi spiritualnya dan membuat musuhnya mundur beberapa langkah ke belakang.
Wajah Bai Ruo memerah. "Itu karena sedari tadi aku sibuk memblokir serangan sementara kau selalu mencuri kesempatanku!"
Bai Ruo dan Zhang Rouruan maju bersama dan kembali bertarung. Namun, Zhang Rouruan tertawa sinis. "Sejak kapan aku mengambil kesempatan, itu kamu yang tidak memiliki kesempatan!"
Bai Ruo semakin marah dan seranganya kian agresif, Zhang Rouruan juga tidak ingin kalah dan menambah kemampuannya dalam bertarung. Namun, tiba-tiba musuh mereka berhasil menyerang balik dan memukul Zhang Rouruan hingga gadis muda itu terpental ke belakang, dengan sigap Bai Ruo menangkapnya dan melihat Zhang Rouruan memuntahkan seteguk darah.
"Sudah kubilang duduk dan menonton saja di bawah pohon!" Bai Ruo berkata kasar.
Zhang Rouruan memegangi perutnya dan mengelap mulutnya dengan kasar, dia memelototi Bai Ruo dan ingin membalas perkataannya, tapi Bai Ruo segera berkata, "Bukankah kau bilang wanita lebih berbakat di dapur?" ucapnya sebelum melepaskan Zhang Rouran begitu saja saat musuh mereka menyerang, membuat Zhang Rouruan jatuh ke atas tanah seperti sebongkah kayu setelah dipukul dengan kata-kata tidak berperasaan. Wajahnya berubah menjadi merah, semerah udang rebus, dia melihat bagaimana Bai Ruo bertarung dengan terampil menghadapi musuhnya. Dia kemudian bangkit dan masuk ke dalam pertarungan, membuat Bai Ruo sakit kepala.
"Aku yang akan mengalahkannya!"
"Kau terluka seperti itu bagaimana caramu mengalahkannya?"
"Kita lihat saja!"
"Kembali dan duduk di bawah pohon!"
"Kenapa tidak kau saja!"
"Dasar keras kepala!"
"Aku yang harusnya mengatakan itu."
Pertengkaran mereka bahkan membuat gurunya yang sedang fokus menghadapi pria dengan rantai besi itu mengerutkan alisnya. Dua dari lima muridnya memang masih seperti anak kecil.
__ADS_1