
Perjalanan Mo Xian dan teman-temanya bersama Bao Yu sudah memakan waktu tujuh hari sejak keberangkatan mereka, dan mereka telah sepenuhnya keluar dari wilayah Bai Lian.
Bao Yu mengatakan pada murid-muridnya bahwa mereka akan beristirahat saat mereka menemukan penginapan terdekat setelah keluar dari hutan. Dan mereka menemukan sebuah desa kecil yang tidak memiliki penginapan tapi kepala desa mereka dengan senang hati menawarkan rumahnya sebagai tempat untuk mereka menginap.
"Desa ini tidak memiliki banyak penduduk, jadi kami tidak memiliki penginapan dan rumah makan, tapi kami tidak keberatan memberi tempat untuk beristirahat."
Pria paruh baya dengan pakaian sederhana itu mempersilahkan Bao Yu dan murid-muridnya masuk ke dalam rumah.
Mo Xian memperhatikan rumah kepala desa sangat sederhana, tidak memiliki banyak ruangan dan perabotan. Namun, kepala desa yang memiliki nama Fang Zhoumu itu sangat ramah pada tamunya.
Fang Zhaomu membawa Bao Yu ke sebuah ruangan kosong yang mimiliki jendela tua dan mempersilahkan tamunya untuk duduk. Setelah itu, Fang Zhaomu memanggil istrinya untuk menyediakan teh.
Istri Fang Zhaomu terlihat seperti kebanyakan ibu rumah tangga yang sederhana, membawa nampan berisi satu paket teh, Mo Xian bisa melihat anak kecil yang sedang tertidur di punggung istri Fang Zhaomu yang dijaga dengan gendongan kain lusuh dengan beberapa tambalan.
"Maafkan kami karena telah merepotkanmu, Nyonya Fang. Kami sangat berterima kasih."
Istri Fang Zhaomu tersenyum ramah. "Tidak apa, sudah kewajiban kami untuk membuat tamu kami nyaman. Kami yang seharusnya minta maaf karena tidak bisa menjamu lebih baik dari ini."
Bao Yu menggelengkan kepalanya. "Tidak, ini sudah lebih dari cukup, Nyonya Fang."
Setelah itu Nyonya Fang mengundurkan diri setelah membawakan mereka ubi rebus yang masih mengepul. Fang Zhaomu juga mengatakan dia tidak bisa menemani mereka karena harus memeriksa ladang dan meminta tamunya untuk istirahat, membuat diri mereka senyaman mungkin di rumahnya.
"Guru ... Desa ini sangat sepi," ucap Zhang Rouruan saat melihat keluar jendela dan hanya melihat segelintir orang yang lewat.
"Desa ini sebelumnya tidak ada saat aku melewati tempat ini delapan belas tahun yang lalu. Dari rumah-rumah penduduk yang aku lihat sepertinya mereka masih baru di sini."
"Kenapa mereka memilih tinggal di sini?" tanya Zhang Rouruan.
__ADS_1
"Mereka pasti memiliki alasan sendiri, atau mungkin mereka menemukan tempat ini memiliki tanah yang subur dan bagus untuk bertani."
Mendengar jawaban Bao Yu, Zhang Rouruan berhenti bertanya. Sementara itu Mo Xian beranjak dari duduknya dan meminta izin pada Bao Yu untuk berjalan keluar melihat-lihat desa.
Bao Yu mengizinkan Mo Xian, tapi yang lain mengekori. Pada akhirnya Bao Yu duduk sendirian di tengah ruangan yang sepi bersama Xiao Hei yang entah kenapa tidak mengikuti Mo Xian kali ini.
Bao Yu menatap kucing hitam manis yang duduk di depannya itu tengah menatapnya dengan matanya yang cerah, menggoyangkan ekornya ke kanan dan ke kiri secara perlahan. Menuangkan teh, Bao Yu meletakan secangkir teh di depan Xiao Hei.
"Anak-anak muda tidak pernah bisa diam. Membiarkan orang tua ini duduk sendirian. Xiao Hei, temani aku minum."
Namun, kucing itu segera melompat keluar dari jendela setelah mencium aroma teh hijau di hidungnya. Bao Yu tersenyum kecut, bahkan kucing bisa menilai teh yang disuguhnkan istri Fang Zhaomu adalah teh dengan kualitas terburuk. Namun, Bao Yu tetap menghormati tuan rumah dengan meminum tehnya sebelum memutuskan untuk bermeditasi.
Di Luar, Mo Xian berpisah dengan Zhang Rouruan yang melihat anak-anak gadis tengah bercengkrama di sebuah kolam teratai tidak jauh dari rumah penduduk. Zhang Rouruan bilang dia ingin mengambil beberapa biji teratai untuk Bao Yu. Mo Xian ingin mengikuti Zhang Rouruan, tapi dicegah oleh Wu Jiao Xing.
"Gadis-gadis itu merepotkan, bagaimana jika mereka menyukaimu dan mulai mengikutimu seperti anak ayam?"
Mendengarnya, wajah Mo Xian langsung menggelap dan jelek. Dia ingat bagaimana gadis-gadis di sekte Bai Lian mengikutinya seperti sekelompok anak ayam kemanapun Mo Xian pergi. Itu, benar-benar tidak nyaman.
Jadi sekarang hanya ada Mo Xian dan Wu Jiao Xing yang berjalan di sekitar desa.
Desa itu mungkin memiliki penduduk yang sedikit, tapi desa ini memiliki kolam teratai yang luas, ladang dan sawah yang melimpah dan profesi semua orang di desa ini sudah dapat dikatakan sebagai petani.
Berjalan di sekitar pesawahan, Mo Xian melihat sawah itu seperti lautan emas dengan padi yang telah menguning dan terlihat orang-orang tengah sibuk memanen padi. Di sana Mo Xian melihat Fang Zhaomu juga tengah sibuk memanen padi bersama istrinya.
Menatap luasnya area persawahan di depannya, Mo Xian memilih duduk di atas rumput dan menikmati angin yang menerpa tubuhnya sambil memikirkan pembicaraannya dengan Bao Yu selama di perjalanan.
Selama di perjalanan, Bao Yu menambahkan banyak pengetahuan tentang mantra yang berada di dunia ini dan itu membuat Mo Xian semakin paham dengan matra gabungan. Namun, masih belum membuka jalan untuk mengetahui dari mana mantra yang dia temui di desa mati berasal.
__ADS_1
Menghela napas, Mo Xian menatap keadaan sekitar dan menemukan sedikit kejanggalan.
"Desa ini memiliki lahan pertanian yang begitu melimpah, bahkan tanahnya juga terlihat sangat subur, tapi kenapa penduduk di sini terlihat sangat miskin?"
Perkataan Mo Xian mengacu pada rumah-rumah penduduk yang terlihat sangat sederhana, tembok kayu rumah mereka sudah lapuk, atap yang mereka gunakan bahkan masih menggunakan ikatan jerami kering dan bahkan rumah kepala desa yang seharusnya bisa terlihat lebih baik dari yang lain, tidak memiliki banyak perabotan.
Ladang di desa itu memiliki banyak sayuran buah yang ditanam. Mo Xian sendiri sudah melihat bagaimana hasil ladang mereka sangat melimpah, tidak hanya tomat, lobak serta kubis, Mo Xian juga melihat banyak pohon jeruk dan apel yang berbuah banyak.
Seharusnya, dengan hasil panen mereka yang melimpah dan bagaimana tanah di desa ini benar-benar diberkati, kehidupan penduduk di sini dapat memiliki kehidupan yang lebih baik. Namun, kepala desa hanya menjamu mereka dengan teh pahit dan ubi rebus yang bahkan memiliki lubang di beberapa bagian, menandakan ubi itu juga telah dimakan ulat.
"Apa kepala desa sebenarnya orang yang pelit?" tanya Mo Xian polos pada Wu Jiao Xing yang segera memukul kepalanya.
Mo Xian mengaduh, mengusap kepalanya yang baru saja dipukul.
"Gege, kenapa kau suka sekali memukulku?" keluh Mo Xian.
Wu Jiao Xing menatapnya dengan kesal. "Aku pikir saat kau mengatakan desa ini terlihat miskin, tapi hasil panennya melimpah, kau sudah menduga ada yang aneh di desa ini. Aku sama sekali tidak bisa mengira bahwa otak kecilmu akan berpikir kepala desa itu pelit."
"Meow." Tiba-tiba Xiao Hei bersuara setelah menghamburkan diri pada tuannya.
"Lihat, bahkan Xiao Hei setuju." Wu Jiao Xing menambahkan.
"Xiao Hei baru datang, dan bagaimana kucing bisa tahu apa yang sedang kita bicarakan." Mo Xian menyanggah.
Wu Jiao Xing memutar matanya dan melipat tangannya. "Kucing hitam itu bahkan lebih pintar darimu, saat ada bahaya dia lebih tahu hal apa yang harus dilakukan. Jadi bagaimana dia tidak tahu apa yang sedang kita bicarakan?"
"Meow." Xiao Hei mengeong, menjilati cakar depannya, seolah menikmati pujian Wu Jiao Xing untuknya.
__ADS_1
Bibir Mo Xian berkerut, mencibir di dalam hati tapi dia tidak mengatakan apapun. Mo Xian merasa dirinya terlalu lelah belakangan ini dan tidak ingin berdebat dengan Wu Jiao Xing yang akan memberi seratus kalimat jika dia membantah kata-katanya. Anak laki-laki ini benar-benar sangat cerewet melebihi ibu angkatnya—Li Zhou Ran.
Jadi, pada akhirnya Mo Xian memilih mengabaikannya dan tidur di atas rerumputan. Di sampingnya, Wu Jiao Xing menghela napas dan duduk di sampingnya dan menemaninya.