Sang Penjaga : Pendekar Bulan

Sang Penjaga : Pendekar Bulan
Lima Tahun (Extra Chapter : Sisi Lain.)


__ADS_3

Lima hari berlalu sejak kejadian itu, keadaan Wu Jiao Xing sudah kembali pulih dan Mo Xian tidak ada hentinya berterima kasih pada Dewa dan mulai mengganggu kedamaian Wu Jiao Xing.


Mo Xian, walaupun dia seorang gadis, bahkan di kehidupan sebelumnya dia memang seorang gadis yang suka bergaul dengan semua orang. Sifatnya yang ceria, ramah, dan suka membantu memudahkannya untuk diterima oleh orang lain. Namun, Mo Xian merasa kalau Wu Jiao Xing tidak menyukainya, tapi itu membuat Mo Xian menjadi lebih suka mengganggunya karena bagi Mo Xian, Wu Jiao Xing adalah kakaknya.


Wu Jiao Xing, Mo Xian melihat sosok kakaknya di masa lalu di dalam diri Wu Jiao Xing. Terlihat dingin, tapi perhatian. Suka mengomel dan marah-marah, tapi sebenarnya khawatir. Karena itu Mo Xian langsung menyukai Wu Jiao Xing dalam satu bulan pertama pertemuannya. Karena itulah dia sangat ketakutan saat Wu Jiao Xing terluka.


Namun, sekarang kondisi Wu Jiao Xing baik-baik saja. Wang Xueshi bilang efek pil jantung Hongbaoshi dan Bai Xin bekerja dengan sangat baik dan memulihkan keadaan Wu Jiao Xing, bahkan berhasil meningkatkan energi spiritualnya.


"Ge!" panggil Mo Xian yang melongok dari jendela.


Wu Jiao Xing yang baru bangun tidur mengabaikannya dan menarik selimut, menutupi seluruh tubuhnya.


Mo Xian cemberut, dia kemudian melompati jendela dan masuk ke dalam, menyerang Wu Jiao Xing dengan melemparkan tubuhnya.


"Ge, ini sudah pagi. Kenapa Gege tidak bangun. Jangan menjadi malas!"


Wu Jiao Xing masih mempertahankan diri untuk tidak terpengaruh dengan gangguan yang diberikan oleh Mo Xian.


"Ge ..., kita akan pulang hari ini. Apa Gege sudah tahu?"


Wu Jiao Xing terperanjat hingga membuat Mo Xian terjatuh ke lantai saat dia bangun dengan tiba-tiba.


"Aah!"


"Pulang?" tanya Wu Jiao Xing sambil membantu Mo Xian dengan uluran tangan.


Mo Xian mengangguk, menerima uluran tangan Wu Jiao Xing dan duduk di tempat tidur.


"Siapa yang mengatakan itu? Pertandingan belum selesai. Kita juga belum menyelesaikan pertandingan kita, masih ada dua pertandingan lagi sebelum final."


Mo Xian menggelengkan kepala. "Kondisi Gege masih tidak bagus seperti itu dan sudah memikirkan untuk bertanding."


Wu Jiao Xing menatap kesal pada wajah melon bermata besar itu sebelum membuang muka.


"Ayah bilang ada hal yang harus diurus di kota Empat Batu. Ibu juga mengatakan kalau persediaan ramuan ajaib dari luar akan datang, jadi mereka memutuskan untuk pulang dan membatalkan pertandingan kita."


Wu Jiao Xing menatap Mo Xian yang kini tertunduk, memandang kakinya sendiri yang diayun-ayunkan.


"Lalu, kenapa wajahmu seperti itu? Apa kau tidak ingin kembali ke rumah?"


Mo Xian menoleh. "Siapa yang bilang aku tidak ingin kembali ke rumah?" ucap Mo Xian menyangkal.


"Lalu?"


"Ayah dan Ibu bersikap aneh belakangan ini. Sejak kejadian penyerangan kemarin, mereka bersikap seperti biasa, tapi aku bisa merasakan ada sesuatu yang sedang mereka sembunyikan," Mo Xian berkata sebelum melemparkan wajahnya ke tempat tidur dan menghela napas.


"Itu membuatku khawatir," ucap Mo Xian, berpikir bahwa sikap Li Zhou Ran dan Li Huan berubah sejak hari itu. Saat dia mengatakan keinginannya untuk menjadi kuat, mereka masih terlihat baik-baik saja. Namun, sejak mereka kembali dari pertemuan mereka dengan seseorang, sikap Li Zhou Ran dan Li Huan berubah. Ada jarak diantara mereka, terkadang Mo Xian melihat keduanya dengan wajah sedih dan melamun, tapi mereka berusaha membuatnya seolah tidak terjadi apa-apa di depan Mo Xian.


Namun, bagaimana Mo Xian tidak bisa menyadarinya. Perubahan sikap mereka terlalu jelas, Mo Xian melihat mata Li Huan dan Li Zhou Ran bengkak dan merah menandakan mereka baru menangis.  Mo Xian tidak tahu masalah apa yang sedang mereka hadapi, tapi Mo Xian tidak bisa bertanya karena keduanya terus bersikap seolah tidak terjadi apa-apa, menandakan mereka tidak ingin Mo Xian mengetahui apa yang sedang terjadi.


Sebaliknya Wu Jiao Xing yang melihat Mo Xian bersedih bisa mengerti bagaimana perasaan Tuan Li Huan dan Nyonya Li Zhou Ran. Wu Jiao Xing bisa menebak, kejadian kemarin mungkin telah memukul perasaan mereka dan membuat mereka takut bahwa mereka akan kehilangan Mo Xian. Bagaimanapun, musuh mereka bukanlah orang biasa. 


Sementara itu di ruangan lain, Li Huan melihat Li Zhou Ran tengah melihat keluar jendela, memperhatikan salju yang turun.


Perlahan Li Huan mendekati Li Zhou Ran dan meraih tangannya, tapi Li Zhou Ran segera menariknya, menolak untuk disentuh.


Li Huan terkesiap, tapi dia tidak melanjutkan dan menarik kembali tangannya.


"Laopo, apa kau tahu kenapa aku sangat mempercayai kata-kata peramal?" Li Huan bertanya sambil menatap Li Zhou Ran, tapi wanita itu hanya diam, mengabaikannya bahkan tidak sudi menatap wajahnya.


"Laopo, kau tahu bagaimana orang tuaku meninggal?" Li Huan bertanya lagi dengan nada rendah. Dan Li Huan melihat Li Zhou Ran masih tidak menanggapi.


Li Huan menghela napas dan tersenyum kecut.


"Saat itu, aku baru berusia lima tahun. Orang tuaku adalah kultivator biasa yang memutuskan hidup bersama di tengah-tengah manusia biasa. Berharap bisa membangun sebuah keluarga kecil, sederhana dan bahagia, jauh dari kekerasan dan pertarungan." Li Huan menatap istrinya yang masih mengabaikannya dengan terus menatap ke luar jendela.


Menghela napas panjang, Li Huan menundukkan kepalanya. "Mereka berubah dari seorang kultivator menjadi seorang petani sederhana di sebuah desa kecil dan menjalani kehidupan mereka yang bahagia dengan tiga orang anak."


"Saat itu aku tidak pernah bermimpi bahwa suatu hari aku akan menjadi seorang kultivator yang bahkan berhasil menembus tingkat kaisar. Aku sama sekali tidak pernah memimpikannya, bahkan terlintas di pikiranku pun tidak."


Li Huan tersenyum kecut, bibirnya bergetar.


"Sebelum kematian orang tuaku, aku sedang bermain di pinggiran sungai bersama dua adikku. Laopo, apa kau tahu apa yang aku temui saat itu?" Li Huan bertanya tapi Li Zhou Ran tetap tidak menanggapi, sekalipun ini adalah kali pertama dia menceritakan masa lalunya pada istrinya. Li Huan sadar, istrinya marah untuk keputusan yang telah diambil. Istrinya sangat menyayangi Mo Xian, tapi apa Li Huan tidak. Li Huan, sangat menyayangi Mo Xian lebih dari dia menyayangi dirinya sendiri. Namun, ada satu hal yang mengganjal hatinya.


"Aku bertemu dengan seorang peramal, dia mengatakan padaku 'sesuatu yang buruk akan mendatangimu, pergi dan ajak keluargamu sebelum terlambat'."


Li Huan menghela napas panjang, memijat pelipisnya.

__ADS_1


"Aku hanya anak yang baru berusia lima tahun, aku tidak memahami kata-katanya dan mengabaikannya. Namun, setiap kali aku bertemu dengannya dia selalu mengatakan hal yang sama, dan aku selalu mengabaikannya sampai peristiwa itu terjadi." Li Huan berhenti berbicara, matanya mulai basah dan suaranya sedikit bergetar.


Li Zhou Ran mendengar suara suaminya sedikit berubah dan dia menjadi khawatir, tapi amarahnya menghentikannya untuk khawatir.


"Sekelompok orang datang ke desa kami. Menyerang dan merampok, menculik anak-anak dan memperkosa para wanita."


Li Huan bercerita dengan suara bergetar dan dadanya kian sesak meremas hatinya. Bahkan setelah puluhan tahun, ingatan itu masih membuatnya ketakutan dan sedih.


"Orang tuaku menyembunyikanku dan adikku di dalam lemari, memperingati kami untuk tetap di dalam sampai mereka membuka pintu. Namun, dari celah pintu yang berlubang aku bisa melihat bagaimana mereka bertarung dan berjuang untuk hidup mereka."


"Ayahku tidak terlalu hebat dalam bertarung karena kakinya yang pincang dan tangannya yang cacat terbunuh dengan mudah setelah beberapa pertarungan. Ibuku ...." Li Huan berhenti berbicara, dadanya sesak dan tidak bisa membendung emosinya lagi. Dengan suara bergetar dia berkata. "Ibuku diperkosa, bergilir ...."


Li Zhou Ran yang mendengarnya terkejut, tanpa sadar hatinya diremas hingga menjadi sesak dan menatap Li Huan sekarang telah berlutut di hadapannya, menangis.


"E-entah  oleh berapa banyak pria ... hingga ia berhenti bernapas ... di depan mataku ... di depanku ... ya-yang tidak bisa berbuat apa-apa selain melihat."


"Seandainya aku mendengarkan kata-kata peramal itu, mungkin itu semua tidak akan terjadi dan orang tuaku masih hidup sekarang," ucap Li Huan pada akhirnya, mengangkat wajahnya untuk menatap istrinya yang memandangnya dengan wajah sedih, berlinang air mata.


Li Zhou Ran menatap suaminya yang berlutut di lantai seperti manusia paling lemah dan rapuh di dunia, tidak ada jejak keperkasaan di wajahnya, semuanya seolah terlepas darinya, yang dia lihat sekarang hanya suaminya yang tidak berdaya, menangis di depan wajahnya. Namun, Li Zhou Ran masih tidak mengerti dengan apa yang ingin disampaikan suaminya.


"Apa yang sebenarnya ingin kau katakan padaku, Laogong?" tanya Li Zhou Ran.


"...."


"Apa kau ingin mengatakan kalau kau akan mendengarkan kata-kata kucing besar itu? Dia bukan peramal dan kau sekarang bukan orang biasa! Kau seorang kultivator dengan tingkat Kaisar, apa kau tidak bisa berbuat apa-apa untuk melindungi putramu?"


"...."


Li Zhou Ran semakin menjadi, matanya penuh dengan air mata. Dadanya sesak, napasnya berat dan suaranya bergetar.


"Jika kau tidak cukup, ada aku, ada Aliansi Merak. Apa itu masih tidak cukup?"


"...."


"Laogong, aku hanya ingin hidup bahagia bersamamu, bersama putra kita, apa kau tidak bisa melakukannya?" Li Zhou Ran terpuruk, dia meraih kerah baju suaminya dan mulai memukuli dada Li Huan.


"Laopo, aku mengatakan ini karena aku memiliki firasat bahwa aku tidak mampu."


Li Zhou Ran menatap marah pada suaminya.


"Kau menyerah sebelum mencoba!"


Li Huan memegang kedua bahu istrinya dan menatapnya serius.


"Biarkan Xian'er turun ke benua Xin Yue. Dia akan baik-baik saja di sana."


Mata Li Zhou Ran membola sebelum menampar Li Huan.


"Untuk apa kau menjadi pendekar tingkat Kaisar jika kau masih merasa takut! Dan untuk apa Aliansi Merak, Aliansi Merak tidak berguna jika mereka tidak bisa melindungi putraku!"


"Aliansi Merak memiliki kehidupannya sendiri, Laopo."


"..." Li Zhou Ran tidak bisa berkata-kata. Ia ingat suaminya pernah mengatakan Aliansi Merak adalah milik gurunya, milik anggotanya, tapi bukan miliknya. Mereka memiliki kehidupan mereka sendiri, Li Huan hanya bertugas untuk memimpin dan mengawasinya.


"Aku yang harus bertanggung jawab untuk keluargaku. Laopo, aku mohon biarkan Xian'er turun ke benua Xin Yue. Aku mohon, biarkan dia turun dan tumbuh di sana, aku tidak bisa melihatnya terluka." Li Huan berkata sambil memeluk istrinya. "Aku mohon padamu ... biarkan dia turun ... Aku berjanji aku akan berusaha lebih keras untuk masuk ke tingkat Alam Suci ... sampai saat itu, biarkan dia berada di benua Xin Yue."


Li Zhou Ran terdiam untuk sesaat, pandangannya kosong sementara Li Huan bersandar padanya.


"Lima tahun." Li Zhou Ran membuat Li Huan terkesiap dan melepaskan pelukannya sebelum menatapnya.


"Lima tahun," ucapnya. "Jika kau tidak bisa melakukannya dalam Lima tahun, aku tidak akan peduli dan mengambil kembali Xian'er."


————————————


**SISI LAIN.


~••(LI HUAN DAN PERAMAL**)••~


Ada sebuah kisah tentang Li Huan yang menganggap ucapan seorang peramal adalah harga mati untuknya.


Suatu hari, saat Li Huan berumur lima tahun dan menjadi gelandangan bersama adik-adiknya selama lima bulan, Li Huan hanya mengandalkan para dermawan untuk bertahan hidup, setiap hari Li Huan akan pergi meminta-minta di jalanan agar perutnya dan perut adik-adiknya dapat diisi dengan secuil makanan.


Hari itu, Li Huan sedang mendapatkan keberuntungan, seorang dermawan memberinya beberapa keping perak dan dua potong roti pipih yang sudah mengeras. Dengan perasaan gembira Li Huan pulang ke sebuah gubuk yang hampir roboh, tempat adik-adiknya menunggu. 


Namun, di tengah jalan Li Huan bertemu dengan seorang pria tua dengan rambut gimbal, wajah kotor, gigi ompong, pakaian lusuh dengan bau busuk seolah pria itu tidak pernah mandi.


Pria itu menghentikannya.

__ADS_1


"Adik kecil, aku lihat hari ini adalah hari keberuntunganmu."


Li Huan kecil tidak menjawab, dia memeluk dua roti pipih kering di tangannya.


"Aku adalah seorang ahli nujum, hari ini kau akan sangat beruntung, tapi jika kau membawa pulang apa yang kau dapat hari ini keberuntungamu akan lenyap, dan orang-orang terdekatmu akan sedih."


Mendengarnya Li Huan kecil menjadi takut, wajahnya mulai cemas dan berkeringat.


"Lalu, apa yang harus aku lakukan?"


Pria itu tersenyum.


"Berikan padaku apa yang kamu miliki maka keberuntungan akan datang padamu dan kesialan akan menghilang darimu."


Li Huan ragu-ragu menatap roti pipih di tangannya, tapi pada akhirnya dia memberikan semua yang dia miliki pada pria itu termasuk koin perak miliknya dengan wajah tidak rela.


Pria itu tersenyum saat menerima semua milik Li Huan dan menyuruhnya pergi.


Li Huan kecil menurut, dia pergi dengan berlari kembali ke gubuknya dengan tangan kosong, tapi dengan perasaan gembira saat mengingat perkataan pria tadi. Li Huan kecil berpikir keberuntungan benar-benar akan datang padanya hari itu, tapi saat dia sampai ke gubuknya, Li Huan kecil justru mendapati adiknya sakit kelaparan. 


Dengan sedih Li Huan kembali untuk menemui pria tadi tapi tidak dapat menemukannya, lalu seorang pengemis mengatakan kalau dia sudah ditipu.


Li Huan kecil hanya bisa menangis sambil berlari mencari sesuatu yang bisa dimakan adiknya, ia beralih dari satu tempat sampah ke tempat sampah lainnya, ia juga mencoba mengemis pada setiap orang yang lewat. Namun, hingga hari menjadi gelap Li Huan kecil harus berbesar hati pulang dengan tangan kosong dan hanya bisa memberi adiknya air mentah untuk minum.


Hari itu, tidak ada keberuntungan bagi Li Huan kecil dan keluarganya bersedih.


Di malam hari, adiknya menangis karena lapar, tidak jauh berbeda dengan Li Huan. Melihat adiknya menderita, Li Huan kecil menyelinap di malam hari ke sebuah pasar untuk mencuri sesuatu yang bisa ia makan bersama adiknya, itu adalah kali pertama Li Huan berpikir untuk mencuri, walaupun Li Huan kecil selalu ingat bagaimana orang tuanya mengajari Li Huan untuk tidak mengambil apa yang bukan menjadi miliknya, tapi dia dan adiknya kelaparan. 


Li Huan menyusuri jalan yang gelap dan menendang sesuatu, dia pikir dia telah menendang sebuah bola, tapi saat dia mengambilnya tercium bau harum yang sangat manis, dia lalu menggigitnya dan rasa manis menyebar di mulutnya. 


Mengetahui dia telah menemukan buah dengan rasa yang sangat enak seukuran buah kelapa, Li Huan kembali ke gubuknya dengan gembira dan makan bersama adik-adiknya hingga kenyang.


Beberapa hari berlalu setelah itu, Li Huan mengemis seperti biasa di pasar dan seseorang yang tidak dikenal menghampirinya.


"Adik kecil, apa kau melihat buah ini?"


Yang bertanya adalah gurunya di masa depan. Dia bertanya dengan menunjukan sebuah gambar.


Li Huan dengan polos mengangguk dan menjawab. "Mm, aku menemukannya dan memakan buah itu bersama adik-adikku."


Beberapa tahun kemudian Li Huan mengetahui kalau buah yang dia makan adalah buah spiritual yang dibeli oleh gurunya dengan harga delapan ratus ribu keping emas serta tujuh puluh batu permata di acara lelang. Diketahui buah itu adalah buah ajaib yang dapat meningkatkan energi spiritual seseorang dan menaikan tingkat kultivasi seseorang juga dapat mengobati luka parah seseorang. Namun, saat buah itu dimakan oleh anak kecil, buah itu hanya bisa meningkatkan kemampuan daya tahan tubuh anak. Karena tidak ingin rugi, gurunya akhirnya mengangkat Li Huan dan dua adiknya sebagai murid.


Sejak saat itu, kehidupan Li Huan menjadi lebih baik dan dia tidak lagi mengemis, tidak lagi merasa sakit hati karena telah ditipu, justru Li Huan kecil menganggap pria yang telah menipunya adalah seorang peramal asli yang telah merubah hidupnya dan menganggap perkataan seorang peramal adalah harga mati untuknya. Sekalipun dia berkali-kali ditipu oleh orang yang mengaku sebagai peramal dimasa mudanya, Li Huan akan mempercayai kata-kata peramal.


Sebagai contoh saat dia menyukai seorang gadis dan ingin melamarnya, Li Huan mendatangi peramal. Peramal bilang Li Huan tidak berjodoh dengan gadis itu karena gadis itu memiliki roh-roh penjaga yang tidak menyukainya dan akan mengganggu hidup Li Huan dan gadis itu sehingga hubungan mereka tidak bahagia, jika Li Huan ingin berjodoh dia harus membayar sejumlah uang dan menggunakan pakaian serba merah layaknya pengantin di sepanjang tahun.


Li Huan percaya dengan perkataan peramal dan hampir menghabiskan semua uangnya, tapi gadis yang dia sukai mendadak menghindar karena Li Huan bersikap aneh dengan memakai pakaian merah seperti pengantin di sepanjang tahun dan menganggapnya sudah gila.


Li Huan hampir gila karena patah hati, dia berlari hingga ke hutan gunung Jinshan, menggemparkan gurunya, adik-adiknya dan Aliansi Merak yang takut Li Huan akan gantung diri atau menyerahkan dirinya pada iblis Tao Hua di kaki gunung Jinshan sebagai pengorbanan. Namun, di hutan dia justru bertemu seorang gadis yang sedang bertarung dengan sekelompok kultivator golongan hitam, Li Huan mengabaikan rasa sedihnya dan membantu gadis itu bertarung  mengalahkan musuhnya.


Selesai bertarung, Li Huan memperhatikan gadis itu sebenarnya juga memakai pakaian pengantin warna merah dan keduanya bertukar cerita. Itu adalah Li Zhou Ran yang kabur karena dipaksa menikah dengan seorang pejabat oleh keluarganya, sementara Li Zhou Ran tidak ingin menjadi istri yang harus tinggal di rumah memoles wajah dan bergosip dengan wanita lain serta melihat suaminya membawa istri baru. Li Zhou Ran ingin menjadi pendekar yang namanya dicatat dalam sejarah!


Keduanya tertawa mendengar kisah satu sama lain, dan memutuskan untuk menikah.


Berbulan-bulan kemudian, Li Huan mengatakan bahwa peramal yang telah menipunya ada benarnya, saran yang dia berikan mempertemukannya dengan istri yang sangat dia cintai melebihi cinta pertamanya yang meninggalkannya karena mengira dia telah gila. Dan itu membuat Li Huan menganggap peramal sebagai orang yang maha benar dan dapat dipercaya sekalipun itu adalah penipu.


Li Zhou Ran yang melihat bagaimana suaminya begitu mempercayai peramal, mulai kesal dengan sifat suaminya. Li Zhou Ran sudah beberapa kali mendapati suaminya salah membeli barang pesanan miliknya hanya karena peramal mengatakan sesuatu pada Li Huan.


"Peramal bilang, warna ungu akan membawa nasib buruk, dia bilang warna hijau lebih baik."


Li Zhou Ran tidak suka warna hijau.


"Peramal bilang ...."


"Peramal bilang ...."


"Peramal bilang ...."


Li Zhou Ran kemudian memberi perintah pada anak buahnya untuk menyingkirkan peramal dari Li Huan dimanapun Li Huan berada. 


"Katakan pada para peramal itu, jika mereka mengatakan satu kata pada suamiku aku akan memotong lidah mereka."


Sejak saat itu, tidak ada lagi peramal atau orang yang berpura-pura menjadi peramal mendatangi Li Huan. Bahkan setiap Li Huan mendatangi tempat peramal, mendadak tempat itu tutup dan peramal menghilang entah ke mana. Orang-orang itu lebih menyayangi lidah mereka!


2886 Kata.


14 September 2020.

__ADS_1


Kata yang cukup banyak ya, semoga nggak bikin sakit mata. Terima kasih sudah membaca :)


__ADS_2