
(*Aku ingatkan Mo Xian itu cewek ya)
Selamat membaca*~
Mo Xian dan Bai Yue melarikan cukup jauh hingga keluar dari perbatasan kota Bai Lian.
Mo Xian menggunakan ilmu meringankan diri untuk melompat dari pohon ke pohon yang lain dengan semangat, dia ingin segera kembali ke tempat gurunya berada dan melihat sendiri bahwa orang-orang itu telah dibebaskan. Namun, tiba-tiba tangannya ditarik dan dia harus berhenti.
Mo Xian menatap Bai Yue dengan heran. "Kenapa kau menghentikanku, kita harus segera kembali ke pada guru."
Bai Yue menatap Mo Xian cukup lama, tangan yang dia gunakan untuk menarik Mo Xian enggan untuk dilepaskan. Mo Xian yang dibalut dengan pakaian gadis berwana putih seperti wanita-wanita yang berada di rumah bordil nampak sangat anggun, wajah yang selalu ceria sepanjang waktu terlihat lebih manis sekarang.
Bai Yue sama sekali tidak mengira bahwa dia akan seperti ini, terpesona pada seorang pemuda yang lebih muda dan lebih berbakat darinya hanya karena anak ini menggunakan pakaian perempuan.
Apa ada yang salah dengan dirinya atau otaknya?
Menelan ludahnya sendiri, Bai Yue masih tidak mau melepaskan tangan Mo Xian dari genggamannya, tangannya begitu ramping dan lembut juga hangat.
Tergagap menahan panas di wajahnya Bai Yue berkata, "A-apa kau akan tetap berpakaian seperti ini?"
Mo Xian berkedip sekali sebelum mengangkat roknya untuk melihat dia masih mengenakan penampilan seorang gadis.
Mo Xian tertawa, menunjukan lesung pipinya yang manis. "Aku sampai lupa dengan ini, kalau begitu aku akan segera berganti pakaian, pastikan kau berjaga dan jangan mengintip."
Mo Xian berkata seperti itu sebelum masuk ke dalam semak-semak, mengeluarkan pakaiannya dari cincin dimensinya Mo Xian mulai berganti pakaian tanpa rasa ragu meski dia berada di alam bebas.
Mungkin Mo Xian bisa dianggap ceroboh dan terlalu mempercayai teman-temannya karena sebelumnya Wu Jiao Xing akan mengawasi sekitar saat Mo Xian berganti pakaian. Wu Jiao Xing tidak pernah mengintipnya dan Mo Xian pikir orang-orang di dunia ini memang munjunjung tinggi privasi orang lain. Namun, ini adalah Bai Yue yang dia suruh untuk berjaga dan jangan mengintip.
Bai Yue merasa curiga dengan kata-kata Mo Xian.
Kenapa dia menyuruhku untuk tidak mengintip, apa dia malu saat berganti pakaian?
Rasa penasaran membuatnya tanpa sadar melirik Mo Xian yang tengah berganti pakaian. Pundak putih yang disiram cahaya matahari terlihat sangat sempurna tanpa cacat, dan rambut hitamnya seperti air terjun yang mengalir bebas dari atas kepala sampai punggungnya. Namun, ada hal yang membuatnya khawatir.
"Kenapa dia memakai perban di tubuhnya?"
Karena khawatir, Bai Yue segera mengankat kaki dan menarik tangan Mo Xian, membuatnya terkejut hingga berteriak.
Keduanya bertatapan. Mo Xian sangat malu hingga takut. Dia bertelanjang dada di depan seorang pemuda berusia lima belas tahun, ini kesalahan! Ini kesalahan! Sangat memalukan!
Bai Yue tidak memperhatikan bagaimana wajah Mo Xian sudah seperti kepiting rebus, sangat merah!
__ADS_1
Bai Yue hanya memperhatikan perban putih yang melilit dada Mo Xian terlihat cukup tebal juga cukup ketat. Namun, itu terlihat sangat bersih dan tidak ada tanda-tanda bekas darah yang merembas di kain putih itu.
"A-apa yang kau lakukan!" Mo Xian mendorong Bai Yue dan menutupi dadanya dengan baju yang belum sempat dia pakai.
Bai Yue mundur ke belakang karena dorongan itu, tapi dia maju lagi, tangannya bergerak ke arah dada Mo Xian, membuat Mo Xian waspada.
"Apa yang ingin kau lakukan, kenapa kau ke sini, aku bilang jangan mengintip!"
Bai Yue terhenti dengan serangkaian pertanyaan Mo Xian. Dia kemudian memperhatikan wajah Mo Xian sangat merah dan menjadi semakin khawatir.
"Apa kau demam?"
Mo Xian tidak mengerti maksud dari pertanyaan Bai Yue, tapi dia menjawab dengan tegas. "Tidak!"
"Apa kau terluka sebelumnya, apa yang terjadi di rumah bordil?"
Mo Xian mempertahankan jarak antara dirinya dan Bai Yue, melarang pemuda itu mendekati dirinya.
"Tidak, aku tidak terluka."
Bai Yue menatap tidak percaya. "Lalu kenapa kau diperban, dimana kau terluka, di punggung atau dadamu, apa itu baik-baik saja?"
Mo Xian berkedip dan menelan ludahnya, dia kemudian menundukan kepalanya untuk melihat perban yang melilit di dadanya untuk menyembunyikan miliknya. Namun, dia segera mengerti, tapi tetap merasa malu sebelum menjawab.
Bai Yue melihat sikap tidak nyamannya dan berkata, "Apa itu masih sakit, aku memiliki obat khusus dari dataran Embun Salju Ajaib yang bisa menyembuhkan luka dengan cepat dan tidak akan meninggalkan bekas."
Mo Xian dengan cepat menolak. "Tidak, terima kasih. Ini sudah baik-baik saja, ayahku sudah memberiku obat dan ini benar sudah baik-baik saja, kau tidak perlu khawatir."
Mo Xian bersusah payah memakai bajunya dan mencoba untuk tenang, identitasnya tidak ditemukan dan Bai Yue hanya salah paham.
Setelah selesai memakai pakaiannya dengan canggung, Mo Xian berdeham dan berkata, "Sebaiknya kita cepat kembali kepada guru."
Dengan itu dia melompat pergi, melarikan diri menyembunyikan rasa malunya. Ini akan menjadi pelajaran untuknya agar dia lebih berhati-hati dan tidak boleh terlalu santai.
Sementara itu, Bai Yue yang sempat ditinggal segera menyusul Mo Xian menuju desa.
Sesampainya di desa, Bao Yu tidak memberi mereka kesempatan untuk beristirahat. Pria tua itu terlihat sangat tergesa-gesa saat mengatakan bahwa mereka harus segera sampai di perguruan Hutan Bambu secepatnya. Jadi mereka meneruskan perjalanannya dengan ilmu meringankan tubuh dan meninggalkan kuda mereka di desa, membiarkan kuda-kuda itu bebas mencari kehidupan mereka sendiri.
Bao Yu memimpin perjalanan, di sepanjang jalan pria tua itu tidak mengatakan apapun dan Mo Xian tidak bisa untuk tidak bertanya pada Wu Jiao Xing.
"Apa guru sedang marah?"
__ADS_1
Wu Jiao Xing menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku tidak tahu," jawabnya.
"Guru sepertinya sangat terbebani dengan mantra-mantra itu." Zhang Rouruan ikut berbicara saat mereka melompat di udara.
"Secara pribadi, guru mempelajari kertas mantra yang kita temukan di rumah penduduk desa, membandingkannya dengan mantra yang kau temukan di desa Bunga Malam dan juga mantra yang ada di balik topeng."
Mo Xian mengerutkan alisnya, jadi gurunya telah menemukan mantra di balik topeng, tapi dia tetap bertanya. "Mantra di balik topeng?"
Zhang Rourun mengangguk meski di fokus dengan perjalanannya. "Guru memeriksa topeng dan tulang belulang musuh kita. Aku melihat guru mengerutkan alisnya untuk waktu yang lama sebelum mengumpulkan topeng-topeng itu."
"Lalu, apa yang guru lakukan?"
"Guru hanya membandingkannya dan tidak melakukan apapun. Setelah itu dia memutuskan agar kita sampai di perguruan Hutan Bambu secepatnya."
Mo Xian tidak bertanya lagi, dia menatap punggung dan jubah gurunya berkibar tertiup angin. Entah apa yang dipikirkan Mo Xian.
———————
Bao Yu sepertinya memang sangat ingin cepat-cepat sampai di perguruan Hutan Bambu sehingga dia tidak membiarkan muridnya untuk tidur, dia bahkan hanya memberikan sedikit waktu istirahat untuk minum teh dan makan sebelum kembali melanjutkan perjalanan.
Saat perjalanan mereka semakin jauh, sudah banyak desa telah dilewati dan sampai di desa tempat tinggal Zhang Rouruan. Mo Xian mengira gurunya akan secara pribadi mengantarkan Zhang Rouruan ke depan rumahnya dan bertemu dengan orang tua Zhang Rouruan. Namun, pria tua itu hanya mengantarnya sampai di pintu gerbang desa.
"Xiao Rouruan kau kembalilah, kami akan melanjutkan perjalanan ke perguruan Hutan Bambu tanpamu."
Mata Zhang Rouran yang sejak tadi bercahaya karena senang sekarang melebar. "Guru, guru tidak ingin bartemu dengan orang tua murid ini dan istirahat di sini?"
Bao Yu menggelengkan kepalanya. "Tidak, Xiao Rouruan. Masalah ini harus segera diselesaikan."
"Kalau begitu murid akan pergi bersama Guru."
Bao Yu kembali menggelengkan kepalanya. "Itu juga tidak perlu, Xiao Rouran kau harus tinggal di desa dan melakukan tugas yang akan aku berikan."
Zhang Rouran ingin mendesak gurunya agar dia bisa ikut bersama mereka. Namun, Bao Yu dengan keras menolak permintaannya, pria tua itu kemudian mengeluarkan sebuah kotak dari cincin dimensi dan menyerahkannya pada Zhang Rouran.
"Tunggu di sini sampai aku memberi perintah melalui binatang penjaga. Jaga dirimu baik-baik."
Bao Yu mengusap kepala Zhang Rouruan sebelum pergi bersama empat muridnya.
"Guru, teman-teman berhati-hatilah semoga masalah ini cepat selesai!"
Zhang Rouran berteriak, tapi tidak ada yang membalas perkataannya dan hanya terlihat sosok mereka perlahan-lahan menghilang.
__ADS_1
Zhang Rouran kemudian mengusap kotak pemberian Bao Yu dan mencoba membukanya, tapi tidak bisa.
"Jadi ini disegel, sepertinya aku memang harus menunggu perintah guru."