
Pertandingan telah usai, Mo Xian melihat Bai Yue masih terpuruk di arena yang telah rusak, masih tidak percaya dia telah dikalahkan. Menghela napas Mo Xian ingin memberi beberapa kata untuk Bai Yue, tapi Wu Jiao Xing tiba-tiba muncul dan menarik tangannya.
"Pertandingan telah usai, untuk apa kamu masih berdiri di sini?" tanya Wu Jiao Xing.
Mo Xian melihat Wu Jiao Xing sebelum kembali menoleh pada Bai Yue.
"Tapi, anak itu ...."
"Biarkan orang lain mengurusnya, sesuatu yang seperti ini selalu terjadi di setiap pertarungan. Biarkan dia dan pergi kembali ke kamarmu, tuan dan nyonya Li sudah menunggumu."
Mo Xian masih berat untuk meninggalkan, ia merasa perlu mengucapkan sesuatu, jadi dia berjalan mendekati Bai Yue dan mengulurkan tangan.
Bai Yue yang sedang kacau melihat Mo Xian mengulurkan tangannya, tapi dia menganggap itu sebagai penghinaan atas kekalahannya. Mo Xian yang tidak disambut baik kemudian membungkukkan badannya memberi hormat.
"Terima kasih atas kerja kerasmu," ucapnya sebelum beranjak pergi.
Tidak hanya Bai Yue, orang-orang yang melihat tindakan Mo Xian yang memberi hormat pada lawannya membuat semua orang tercengang. Dalam sepuluh ribu tahun, tidak ada orang yang memberi penghormatan pada pihak yang kalah dalam pertandingan. Rata-rata dari mereka akan menyombongkan diri dan merendahkan pihak yang lain atau bersikap tidak peduli. Ini adalah hal baru yang pertama kali mereka lihat.
Di tempat penonton, Li Huan dan Li Zhou Ran tersenyum pada sikap Mo Xian yang sudah mereka kenal sejak dulu. Mo Xian pernah mengatakan,
"Menang dan kalah, keduanya telah berusaha sebaik mungkin. Kita tetap harus menghormati kerja keras masing-masing. Jika kita menang, kita harus bersyukur, tapi jangan menyombongkan diri karena hidup itu berputar dan tidak selamanya akan menang. Ada saatnya kita kalah, dan saat kalah kita juga harus menerimanya dengan lapang dada, jadikan itu sebagai pelajaran untuk masa depan."
Li Huan dan Li Zhou Ran yang pertama kali mendengar itu bahkan sampai kehilangan kata-kata. Bagaimana bisa anak yang berumur sepuluh tahun memiliki pikiran sebijak itu. Tentu saja, itu karena Mo Xian tidak berumur sepuluh tahun, jika digabungkan dengan umur sebelum dia mati di Bumi, itu artinya dia hampir berumur 30 tahun.
Setelah Mo Xian turun dari panggung, Bai Hua naik ke panggung yang rusak.
"Sungguh pertandingan yang sangat luar biasa di pertandingan terakhir hari ini. Kita sama sekali tidak menyangka akan melihat bahwa bakat dari surga benar-benar ada. Dua pemuda yang telah menyempurnakan inti energi spiritualnya di usia yang masih sangat muda muncul hari ini, di arena ini, di dataran Embun Salju Abadi. Saya sangat senang dapat melihat dua keajaiban berlatih tanding hari ini bersama kalian para penonton yang terhormat. Dengan kemenangan Tuan Muda Mo Xian dari Aliansi Merak," Bai Hua melihat ke arah bangku penonton dan segera terdengar suara keributan dari penonton yang tidak percaya bahwa ternyata pemuda yang telah memenangkan pertandingan berasal dari Aliansi Merak. Itu akan menjadi berita yang sangat besar.
Bai Hua tersenyum. "Pertandingan hari ini akan menjadi akhir pertandingan untuk kategori Junior, selanjutnya kategori Senior akan dilakukan satu minggu lagi karena kondisi arena yang telah hancur. Dengan begitu, aku ucapkan selamat untuk para pemenang dan selamat beristirahat di penginapan kami."
Setelah mendengar ucapan penutup dari Bai Hua, orang-orang mulai membubarkan diri. Mo Xian bersama Wu Jiao Xing kembali menemui Li Huan dan Li Zhou Ran. Dan setelah bertukar beberapa kata dengan Bai Xue, mereka akhirnya kembali ke penginapan.
Mo Xian kembali bersama ayah dan ibunya sementara Wu Jiao Xing kembali bersama Zhao Jin. Saat Mo Xian selesai mandi dan berganti pakaian, dia mendengar suara Li Zhou Ran yang tengah memarahi seseorang. Dengan penasaran Mo Xian mengintip dari balik pintu bersama Li Huan yang lebih dulu berada di sana.
__ADS_1
"Ayah, apa yang terjadi?" tanya Mo Xian.
"Ibumu sedang mencoba mengusir Wang Xueshi."
"Apa Paman itu masih ingin menjadikanku sebagai murid?"
Li Huan mengangguk, mengintip keluar melihat istrinya tengah memukul Wang Xueshi sementara Wang Xueshi terus memohon.
"Wang Xueshi, dia sepertinya menjadi sangat tertarik denganmu saat melihatmu telah memiliki inti energi spiritual yang sempurna. Dia sudah mengikuti kita sejak kita kembali dari arena pertandingan."
Wajah Mo Xian menggelap.
"Bukankah spesialisasi paman itu adalah ilmu pengobatan, bukankah itu sebenarnya tidak cocok dengan elemen dasarku yang berupa api?"
Li Huan kembali mengangguk.
"Mm, elemen api bisa dikatakan lebih baik sebagai praktisi bela diri seperti elemen Tanah, Kayu dan elemen Logam. Namun itu juga tidak mungkin jika Xian'er mau berlatih seni pengobatan."
"Tapi Ibu juga hebat dalam ilmu pengobatan dan racun. Seharusnya paman itu tidak memaksaku menjadi muridnya," ucap Mo Xian. Li Zhou Ran memiliki elemen udara, dikatakan bahwa elemen udara dan air adalah elemen yang cocok untuk seni pengobatan. Namun, itu juga tidak mungkin jika mereka ingin menjadi praktisi bela diri. Jika berusaha keras, semua akan ada jalan keluarnya.
"Mm, tapi sepertinya Wang Xueshi tetap ingin menjadikan Xian'er sebagai murid."
Mo Xian hanya bisa menghela napas.
Sementara itu di luar terdengar Li Zhou Ran mencoba untuk mengusir Wang Xueshi.
"Sudah kukatakan berkali-kali. Putraku tidak akan kuserahkan padamu!"
"Jiejie, aku mohon. Biarkan aku menjadi gurunya. Aku janji Jiejie tidak akan menyesal."
"Aku sudah menyesal sekarang. Jika aku tahu kamu akan ada di sini, aku tidak akan datang ke tempat ini."
Pada akhirnya Wang Xueshi berakhir dengan beberapa lebam di wajahnya setelah mendapat pukulan dari Li Zhou Ran. Dia mengeluh seluruh tubuhnya sakit dan meminta pertanggung jawaban, tapi Li Zhou Ran hanya melempar sekantung penuh obat-obatan dan menyuruhnya pergi.
__ADS_1
Setelah semuanya menjadi tenang. Mo Xian duduk mengelus bulu Xiao Hei sambil menunggu jam tidur.
"Bai Yue, dia orang yang hebat, caranya bertarung mirip dengan binatang buas," ucap Mo Xian membuka obrolan setelah hampir dua jam hening karena kedua orang tuanya sedang melakukan perang dingin. Li Zhou Ran merasa tidak puas dengan sikap Li Huan yang terlalu lembek pada saudara seperguruannya--Wang Xueshi. Namun bagi Li Huan yang sangat mengerti bagaimana sifat keras kepala Wang Xueshi seolah sudah menyerah padanya. Bagi Li Huan, cara kasar tidak akan berhasil untuk Wang Xueshi. Satu-satunya cara yang mungkin adalah mengabaikannya dan cukup menendangnya sekali setiap hari.
Mendengar ucapan Mo Xian, keduanya menoleh.
"Mm, Bai Yue, aku dengar dia berhasil menyempurnakan inti energi spiritualnya belum lama ini," ucap Li Huan.
"Tapi anak ini terlalu percaya diri dan sombong!" ucap Li Zhou Ran tidak senang.
Kemudian ketiganya kembali diam dan hening. Mo Xian tersenyum kecut, sepertinya perang dingin akan berlangsung hingga esok pagi. Jadi Mo Xian memilih untuk pindah ke tempat tidur dan berdoa supaya matanya yang tidak mengantuk cepat menjadi ngantuk.
Namun, saat Mo Xian pura-pura untuk tidur dia mendengar suara pintu diketuk dan Li Huan berbicara sesuatu tentang Hong Baoshi dan Bai Xin. Tidak lama setelah itu pintu ditutup dan ia merasa seseorang naik ke atas tempat tidur, itu Li Zhou Ran.
"Xian'er belum tidur?" tanya Li Zhou Ran.
Mo Xian menggeleng. "Ayah pergi?"
"Mn."
"Kemana?"
"Mengurus sesuatu. Ini sudah malam, Xian'er sebaiknya tidur."
Mo Xian menghirup dan menghela napas panjang sebelum menarik selimut dan mencoba untuk tidur.
1158 Kata.
02-03 September 2020.
09 September 2020.
Terima kasih sudah membaca ~♥~
__ADS_1