Sang Penjaga : Pendekar Bulan

Sang Penjaga : Pendekar Bulan
Kakak laki-laki


__ADS_3

"Xian'er, mulai hari ini dia akan menjadi pengawal dan teman bermainmu." Li Huan berkata sambil menepuk pundak seorang anak laki-laki yang berumur sekitar tujuh atau delapan tahun.


Mo Xian yang saat itu tengah sibuk membaca ditemani Xiao Hei menatap anak laki-laki dengan wajah setenang air, seolah tidak memiliki ekspresi lain di wajahnya yang tenang.


Mo Xian kemudian memperhatikan anak laki-laki itu dari atas kepala hingga ujung kaki, lalu menemukan bahwa anak laki-laki itu mirip dengan kakak laki-lakinya di kehidupan sebelumnya yang dia lihat di dalam foto album kenangan, dia tidak bisa menahan rasa keterkejutannya, tapi dia lebih merasa bahagia, kala itu kakak laki-lakinya juga selalu bersikap tenang seperti itu seolah tidak peduli dengan apapun, tapi pada kenyataannya kakak laki-lakinya sangat menyayanginya, memberikan perhatian secara diam-diam padanya.


Mengingat masa lalu, Mo Xian saat dia masih bernama Li Yixin, Li Yixin kecil yang sangat sulit untuk diatur, bermain kemanapun dia mau tanpa menghawatirkan apapun dan membuat orang-orang di sekitarnya sering memarahinya karena takut Li Yixin kecil mungkin akan terluka karena kenakalannya.


Di masa lalu, kakak laki-lakinya juga sering memarahinya jika Li Yixin mulai melewati batas dan membahayakan dirinya sendiri, Li Yixin bisa merasakan kekhawatiran saudara laki-lakinya itu, tapi semarah apapun kakak laki-lakinya pada Li Yixin, kakaknya selalu ada untuknya.


Menemani dan menjaganya, itu membuat Li Yixin kecil menjadi sedikit tidak terkedali saat melakukan hal-hal yang menurutnya menarik tanpa khawatir, karena di dalam otak dan hatinya sudah tertanam.


"Aku memiliki kakak laki-laki hebat yang selalu bisa kuandalkan, aku tidak perlu khawatir, kakak akan selalu ada untukku dan melindungiku."


Pemikiran seperti itu bahkan berlanjut hingga dia dewasa, dengan manja meminta kakak laki-lakinya untuk mengantarnya ke asrama universitas dan berjanji untuk mengunjunginya setiap bulan. Li Yixin bahkan tidak membiarkan kakak laki-lakinya pulang sebelum kakaknya berjanji padanya.


Namun, Li Yixin sama sekali tidak mengira bahwa hari itu akan menjadi hari terakhir dirinya bertemu dengan kakak laki-lakinya dan mati begitu saja di dalam kobaran api, dan untuk pertama kalinya kakak laki-lakinya tidak melindungi dan menyelamatkannya.


Mengingatnya, pandangan Mo Xian saat itu sedikit kosong dan mulai berkaca-kaca sampa Li Huan menjadi khawatir karenanya.


"Ada apa, Xian'er kau tidak menyukainya?" tanya Li Huan lemah lembut.


Sadar, Mo Xian segera menggelengkan kepalanya dan tertawa memeluk Li Huan dengan bahagia, mengatakan dia baik-baik saja dan tidak bisa menahan perasaan yang lebih bahagia karena sama sekali tidak menyangka di dunia ini dia juga akan memiliki kakak laki-laki.


"A Xian tidak ingin seorang pengawal, dia akan menjadi gege A Xian," ucapnya kala itu dan reaksi Wu Jiao Xing saat itu sangat rumit seolah dia menahan sembelit, sangat lucu hingga Mo Xian tidak akan pernah melupakannya.

__ADS_1


Hari-hari kemudian berlalu, Mo Xian menyadari bahwa kakak laki-lakinya di kehidupan ini ternyata lebih parah dari kakak laki-lakinya di masa lalu.


Wu Jiao Xing terlihat seperti balok kayu yang dipahat menjadi patung manusia, sangat sedikit ekspresi yang bisa ditampilkan di wajahnya dan selalu menuruti perkataan Mo Xian serta selalu menemani Mo Xian kemanapun Mo Xian pergi, layaknya seorang pengawal dan pelayan pribadi.


Itu membuat Mo Xian tidak senang, dia tidak ingin memiliki hubungan seperti itu dengan orang yang sudah ditetapkan dalam hatinya sebagai kakak laki-laki. Jadi, perlahan-lahan Mo Xian mulai membuat masalah untuknya agar Wu Jiao Xing menunjukan lebih banyak ekspresi dan memperhatikannya.


Awalnya, sebanyak apapun masalah yang dibuat oleh Mo Xian untuk Wu Jiao Xing, Wu Jiao Xing selalu dapat menerimanya seolah dia adalah orang paling sabar di dunia dan membuat Mo Xian memikirkan ratusan cara untuk lebih akrab dengan patung kayu itu.


Hingga ia ingat bagaimana kakaknya di masa lalu sangat marah padanya saat Li Yixin tidak sengaja terjatuh dari atas pohon karena ingin memetik buah, atau memarahinya saat dia terjatuh dari sepeda, memarahinya saat dia bermain terlalu jauh darinya, memarahinya saat dia dikejar-kejar oleh induk ayam saat dia menculik anaknya dan berbagai hal lainnya.


Kenangan itu membuatnya sadar, bahwa Mo Xian telah salah, dia tidak seharusnya membuat masalah untuk Wu Jiao Xing, sebaliknya dia harus membuat masalah untuk dirinya sendiri.


Dan tebakannya benar, Wu Jiao Xing mulai memperhatikannya dan menunjukan lebih banyak ekspresi di depannya. Wu Jiao Xing bahkan menjadi lebih cerewet dari kakaknya di masa lalu.


Bahkan, orang pertama yang akan memarahi Mo Xian saat Mo Xian membuat masalah, itu adalah Wu Jiao Xing yang akan menceramahinya hingga satu jam penuh sebelum Mo Xian dan Wu Jiao Xing berlutut di halaman rumah dan mendengarkan omelan Li Zhou Ran untuk dua jam kemudian.


Itu benar-bemar melelahkan, tapi Mo Xian merasa senang karena akhirnya dia bisa lebih dekat dengan Wu Jiao Xing.


Setiap hari dia akan selalu memanggilnya dengan sebutan "Gege!"


"Gege!"


"Gege!"


"Gege!"

__ADS_1


Dan merasa lebih bebas saat dia menggodanya dan meminta beberapa hal pada Wu Jiao Xing seperti memintanya membuat pedang yang sama dengan Wu Jiao Xing, bahkan dengan lantang menolak pedang pemberian Li Huan, saat itu dia dengan keras kepala meminta pedang yang sama dengan Wu Jiao Xing.


Ini karena Mo Xian terlalu mendalami peran sebagai adik perempuan yang manja dan mengagumi kakak laki-lakinya, di matanya kakak laki-lakinya adalah orang terhebat di dunia setelah ayahnya, bahkan sifat asalnya terus terbawa hingga kehidupan ini.


"Gegeku selalu bisa diandalkan dan selalu ada untukku."


Seolah dia tidak sadar bahwa umur aslinya jauh lebih tua dari Wu Jiao Xing. Namun, Mo Xian tidak peduli selama dia bahagia dengan itu. Tidak mengira bahwa pikiran itu akan membuatnya berpisah dengan orang yang sangat dia sayangi sekali lagi dengan cara yang berbeda.


Di kehidupan sebelumnya, Li Yixin yang pergi meninggalkan kakak laki-lakinya.


Di kehidupan sekarang, Mo Xian yang ditinggal pergi oleh kakak laki-lakinya.


Wu Jiao Xing telah pergi meninggalkan Mo Xian dan tidak akan kembali.


Gege yang selalu ada untuknya telah pergi.


"Gege ...."


Mo Xian menangis dengan dada yang sesak saat dia menyentuh pedang hitam miliknya, pedang yang dibuat khusus oleh Wu Jiao Xing untuknya saat dia meminta dengan tidak tahu malu.


"Gege ...."


Di dalam kamar yang sempit itu Mo Xian tinggal sendirian memanggil kakak laki-laki yang tidak akan menjawab panggilannya. Sama seperti saat dia memanggil kakak laki-lakinya di dalam kobaran api, tidak ada yang menjawab panggilannya.


Dalam situasi yang berbeda, Li Yixin dan Mo Xian sama-sama merasakan sakit yang luar biasa.

__ADS_1


__ADS_2