Sang Penjaga : Pendekar Bulan

Sang Penjaga : Pendekar Bulan
Pertandingan Persahabatan.


__ADS_3

Saat Mo Xian bangun keesokan harinya, dia sudah berada di atas ranjang di sebuah ruangan bersama Li Huan dan Li Zhou Ran di kedua sisinya.


Li Huan yang menggunakan lengannya untuk memeluk Mo Xian tersadar saat merasakan gerakan Mo Xian.


"Kenapa kau bangun, Xian'er? Hari masih gelap di luar. Tidurlah lagi," ucap Li Huan.


Mo Xian menatap dengan bingung keadaan sekitar sebelum bertanya pada Li Huan. "Ayah, di mana kita berada?"


Li Huan menjawab dengan suara serak yang masih mengantuk. "Kita berada di dalam penginapan kota Embun Salju."


Mo Xian melihat dengan tidak percaya, sejak kapan mereka masuk ke kota Embun Salju. Ah, benar dia tertidur saat itu, seberapa banyak dia tertidur hingga tidak sadar telah memasuki kota Embun Salju.


"Tidurlah sebentar lagi, ayah akan membangunkanmu nanti."


Mo Xian menurut dan kembali berbaring, tapi dia tidak bisa tidur sampai Li Huan dan Li Zhou Ran bangun.


Mereka kemudian bersiap-siap untuk melakukan upacara penyambutan tamu di aula kota Embun Salju. Li Huan mengatakan semua pendekar telah masuk ke dalam kota Embun Salju dan pintu di perbatasan sudah ditutup. Orang-orang dari luar tidak bisa masuk dan begitu juga sebaliknya.


Saat pertama kali keluar dari penginapan, Mo Xian langsung dipertunjukan dengan hamparan dataran putih bersalju yang dingin. Li Zhou Ran sudah menyiapkan pakaian tebal untuk Mo Xian sejak awal, mereka kemudian berjalan mengikuti seseorang yang akan mengantarkan mereka ke aula utama.


Li Huan benar, orang-orang di Embun Salju Abadi memiliki kulit yang pucat dengan rambut seputih salju. Itu membuat mereka seperti manusia albino dengan mata biru safirnya.


Mereka kemudian sampai di aula perjamuan kota, seorang yang melayani mereka menuntun mereka ke meja masing-masing yang berjejeran. Di atas meja sudah tersedia beberapa makanan ringan dan minuman seperti anggur. Xiao Hei yang sejak kemarin tertidur karena udara dingin mengeluarkan kepalanya dari balik mantel Mo Xian.


Mo Xian melihat Xiao Hei sepertinya lapar, dia kemudian melihat Li Huan sedang berbicara dengan istrinya. Mo Xian menarik lengan baju Li Huan.


"Mm?"


"Apa kita bisa makan sekarang? Xiao Hei sepertinya lapar," tanya Mo Xian dengan suara rendah, khawatir seseorang akan mendengarnya.


Li Huan tersenyum. Dia kemudian meraih sebuah mangkuk kecil miliknya dan menuang segelas susu hangat sebelum meletakannya di lantai, Xiao Hei melompat keluar dari dekapan Mo Xian begitu melihat susu dan minum dengan rakus hingga bulunya yang hitam terciprat susu yang berwarna putih.


Setelah memberikan susu, Li Huan mengelus kepala putranya, Mo Xian anak ini sebenarnya memiliki sopan santun meskipun hidangan sudah dihidangkan di meja miliknya, dia tidak akan berani menyentuh jika sang pemilik tidak mempersilahkannya.

__ADS_1


"Xian'er juga bisa makan jika lapar. Hidangan ini sengaja dihidangkan sembari menunggu tamu yang lain datang. Perjamuan utama akan dilakukan saat semuanya telah berkumpul. Jangan khawatir."


Mendengarnya Mo Xian kemudian melihat sekitar, orang-orang yang duduk di depan meja masing-masing sebenarnya memakan makanan mereka tanpa malu-malu sambil bercengkrama dengan orang lain.


Dengan begitu, Mo Xian menuang segelas susu dan meminumnya sebelum mengambil sebuah roti kukus isi daging dan membelahnya menjadi dua, kemudian mebelahnya lagi menjadi empat, seperempat bagian diberikan pada Xiao Hei, dan untuk yang lainnya untuk dirinya sendiri.


Sejak Mo Xian mulai makan, para pendekar terus berdatangan ke dalam aula perjamuan hingga semua meja terisi. Saat semua meja terisi, seorang pria berjubah putih dengan keliman berwarna emas berjalan masuk dan duduk di atas kursi utama yang berada di ujung tengah meja para tamu.


Pria itu terlihat masih muda, mungkin sekitar dua puluh hingga dua puluh lima tahun, memiliki rambut seputih salju yang dijepit dengan hiasan rambut berwarna emas, pandangan mata phoenixnya tajam dengan warna biru safirnya yang memesona.


Saat dia sampai di mejanya sendiri, pria itu segera menarik tangan dan membungkuk memberi hormat pada tamunya.


"Aku ucapkan selamat datang pada para pendekar yang terhormat," ucapnya dengan suara lantang.


Para tamu juga segera membalas salam penghormatan untuk pria itu, termasuk Mo Xian yang ikut-ikutan.


"Aku merasa sangat terhormat karena kalian datang dari jauh untuk menghadiri acara pertandingan persahabatan yang akan kami adakan untuk menguji kemampuan murid-murid kami."


Mo Xian terkesiap, jadi itu adalah sang penguasa dataran putih ini.


"Aku bahkan tidak menyangka, pertandingan tahun ini akan dihadiri oleh legenda, orang-orang kuat yang telah mencatat diri mereka di dalam sejarah. Aku ucapkan selamat datang pada ketua Aliansi Merak Li Huan sang pendekar seribu pedang beserta istrinya nyonya Li Zhou Ran pendekar delapan kipas abadi untuk bersulang denganku." Bai Xue mengangkat cangkirnya dari mejanya dan mengajak Li Huan beserta Li Zhou Ran untuk bersulang dengannya.


Li Huan dan Li Zhou Ran menerima kehormatan itu dengan meminum segelas anggur.


"Aku juga mengucapkan selamat datang pada tuan Wang Xueshi, pendekar tangan ajaib yang terkenal dengan ilmu pengobatannya yang ajaib." Bai Xue kembali mengangkat cangkir dan Wang Xueshi yang duduk di pojok belakang, Mo Xian hampir tidak menyadari kehadirnnya jika Wang Xueshi tidak berdiri untuk menerima anggur dari Bai Xue.


"Selamat datang pada Guang Yu sang pendekar teratai merah."


Bai Xue hampir menyebutkan semua nama-nama pendekar yang terkenal untuk diajak bersulang sebelum bersulang dengan semua orang. Acara perjamuan akhirnya dimulai dan Mo Xian bisa makan nasi dengan lauk pauk. Mendengar Bai Xue menyapa semua orang benar-benar membuatnya lapar.


Selesai dengan perjamuan pagi dan berbincang-bincang sebentar, Bai Xue mengajak semua orang ke aula pertandingan. Sebuah panggung megah berbentuk lingkaran berada di tengah-tengan bangku penonton.


Li Huan dan beberapa orang yang disebut sebagai pendekar yang telah mencatat namanya di dalam sejarah mendapat kursi istimewa dengan pemandangan tebaik, dekat dengan tempat duduk Bai Xue.

__ADS_1


"Inikah Tuan Muda Mo itu?" tanya Bai Xue saat Li Huan dan keluarganya hendak duduk di tempatnya.


Li Huan tersenyum mengiyakan pertanyaan Bai Xue sementara Mo Xian segera menarik tangan dan memberi hormat.


"Salam Tuan Bai Xue."


Bai Xue tersenyum puas dengan penghormatan yang diberikan Mo Xian. 


"Apakah Tuan Muda Mo akan berpartisipasi dalam pertandingan kali ini?" tanya Bai Xue.


Mo Xian menatap bingung sebelum menatap ayah dan ibunya.


"Bagaimana, Xian'er apakah kau juga ingin ikut bertanding untuk menguji kemampuanmu?" tanya Li Huan.


Wajah Mo Xian menggelap, dia tidak menduga akan mendapat pertanyaan seperti ini, dia mengira Li Huan mengajaknya ke sini untuk menonton, bukannya ikut bertanding.


Li Zhou Ran melihat kekhawatiran Mo Xian segera mengusap punggung Mo Xian.


"Jika Xian'er tidak ingin melakukannya, maka jangan lakukan. Kau bisa menolak."


Li Huan mengangguk. "Tapi Wu Jiao Xing juga ikut pertandingan kali ini untuk mengukur kemampuannya."


Mo Xian menatap dengan jengkel, Li Huan selalu menggunakan Wu Jiao Xing untuk membuatnya terpancing.


Pada akhirnya Mo Xian tidak bisa menolak dan mengikuti pertandingan persahabatan dalam kategori junior bersama Wu Jiao Xing. Pertabdingan dilakukan bedarsarkan umur, delapan hingga empat belas tahun masuk kategori junior sementara lima belas hingga sembilan belas masuk kategori senior.


1139 Kata.


30 Agustus 2020.


06 September 2020.


Terima kasih sudah membaca (๑・ω-)~♥”

__ADS_1


__ADS_2