
Mo Xian sedang merapikan rambut ibu angkatnya saat Li Huan masuk ke dalam.
Li Zhou Ran segera memberinya tatapan tajam.
"Apa mereka sudah pergi?" tanya Li Zhou Ran.
Li Huan mengambil tempat duduk di seberang meja dan menyesap secangkir teh.
"Mm, mereka sudah pergi."
"Kau sudah memberi mereka pelajaran?"
Li Huan mengangguk.
Li Zhou Ran menghela napas dan meraih tangan Mo Xian yang sedang merapikan rambutnya.
"Beraninya sekte rendahan seperti mereka mencela putra kesayangan ibu," ucapnya sambil mengecup punggung tangan Mo Xian.
Mo Xian tersenyum meskipun dia tidak terlalu mengerti dengan apa yang baru saja terjadi. Dia kemudian memeluk ibu angkatnya dari belakang.
"Ibu, berhentilah marah-marah. Itu tidak bagus untuk kesehatan."
Li Zhou Ran mendengus. "Hmph, kau bocah nakal. Kau sama saja seperti ayahmu. Kalian sama saja! Katakan saja kalau kau juga sudah bosan mendengar suara cerewet ibu!"
Li Huan terkekeh mendengarnya. Keluarga Li tidak pernah sepi dari suara Li Zhou Ran yang terus saja mengomel setiap hari untuk alasan apapun. Mengomeli pelayan yang melakukan kesalahan, mengomeli suaminya yang terlalu banyak bekerja, mengomeli ayam yang membuat keributan di kandang, mengomeli Xiao Hei yang mencuri ikan di dapur, mengomeli tetangga yang bergosip di depan rumahnya dan mengomeli Mo Xian untuk segala hal.
"Apa pentingnya bela diri. Ayah dan ibumu sudah cukup kuat untuk melindungimu bahkan sampai kau menikah dan memberikan cucu untukku. Jangan pikirkan surat edaran dari istana, abaikan mereka."
Li Zhou Ran memijat pelipisnya, merasa pusing. Mo Xian bilang dia punya cara untuk membalaskan kemarahan pada seseorang dengan cara yang lebih baik. Namun, Li Zhou Ran tidak menyangka bahwa putranya yang kini baru berusia sepuluh tahun mengatakan kalau dia ingin belajar bela diri.
Li Huan yang mendengar itu menatap Mo Xian yang kini memijat kepala istrinya.
Mo Xian yang mendapat tatapan itu segera mengerti. "Aku ingin belajar bela diri untuk menambah ketrampilan. Lagipula, aku juga ingin melindungi Ayah dan Ibu."
Li Huan mengangguk, dia memahami perkataan Mo Xian dengan baik. Anak-anak seumurnya bahkan yang lebih muda sudah mulai belajar bela diri, Li Huan sendiri mulai belajar bela diri sejak umur lima tahun. Namun, karena kehadiran Mo Xian di keluarga Li benar-benar membawa kebahagiaan, Li Huan sampai lupa untuk mendiskusikan hal ini dengan istrinya.
"Tidak apa jika Xian'er ingin belajar bela diri, ayah akan mengajarimu," ucapnya sebelum menyesap teh dan disambut bahagia oleh Mo Xian dan disambut tidak senang oleh istrinya.
"Laogong!" Li Zhou Ran hendak memprotes.
"Bela diri diperlukan bukan hanya untuk bertarung dan membunuh orang. Itu untuk melindungi diri. Xian'er suatu hari akan dewasa dan melakukan perjalanan, dan petualangan. Kita tidak bisa selalu bersamanya."
Li Zhou Ran menatap dengan marah dan kecewa. "Xian'er tidak akan pergi ke mana-mana."
"Dia harus pergi untuk mendapatkan pengetahuan."
"Apa yang kurang dari pengetahuan Aliansi Merak. Dia bisa membaca semua informasi yang kita punya dan dia tidak akan menjadi orang yang tidak berpengetahuan. Xian'er anak yang pintar."
"Membaca dan melakukannya secara langsung itu hal yang berbeda. Kita tidak bisa mengurungnya seumur hidupnya."
"Aku tidak peduli."
__ADS_1
"Dia juga perlu mencari seorang istri, jika dia dikurung di rumah bagaimana dia bisa menemukan jodohnya?"
Wajah Mo Xian mulai menggelap, pertengkaran mereka sudah terlalu jauh. Apa yang ingin mereka katakan pada anak yang baru berusia sepuluh tahun?
"Mo Xian anak yang tampan, siapa yang tidak tahu tentang putera keluarga Li yang memiliki wajah secantik bunga teratai. Gadis-gadis akan berdatangan ke rumahku untuk melamar. Suruh Xian'er untuk memilih satu!"
Bibir Mo Xian bergetar, kepalanya tiba-tiba pusing hanya untuk memikirkan semua ucapan itu. Dia perempuan, dia tidak mungkin bisa memilih.
"Bagaimana jika tidak ada yang Xian'er sukai?"
Li Zhou Ran menatap dengan jengkel pada suami yang terus melawannya.
"Kota ini begitu besar, gadis cantik dilahirkan setiap hari. Bagaimana mungkin tidak ada satu yang bisa menarik hati putraku?"
Li Huan tersenyum, entah kenapa senyum Li Huan kali ini sedikit berbeda karena wajahnya sedikit memerah. Menuang teh ke dalam cangkir istrinya dan miliknya sendiri.
"Ada ratusan dan ribuan gadis cantik di kotaku, tapi aku menemukanmu di hutan."
Mendengar itu Li Zhou Ran membeku dan kehilangan kata-kata, wajahnya segera berubah menjadi merah.
"Bahkan hutan itu bermil-mil jauhnya dari kampung halamanku."
"Laopo, apa kau masih ingat saat ...,"
"Hentikan!" Li Zhou Ran tiba-tiba bangkit. Menatap marah dengan wajah memerah pada suaminya.
"Memalukan!" ucapnya sebelum melarikan diri. Meninggalkan Li Huan dan Mo Xian yang menatap kepergiannya yang terus mengomel. "Lelaki tidak tahu malu! Bagaimana bisa dia mengatakan itu di depan anakku. Tidak tahu diri! Tidak berguna! Xiao Hei, ambil semua ikan di dapur! Jangan sisakan satu ekor pun, pastikan laki-laki tidak tahu malu itu tidak bisa makan malam ini!"
"Meow?"
Li Huan yang melihat itu tertawa terbahak-bahak sementara Mo Xian mencoba menahan tawanya dengan menutup mulutnya.
*****
Saat matahari sedikit bergeser dari titik tengah, Mo Xian duduk di paviliun teratai. Merenungkan kejadian yang baru saja terjadi.
Mo Xian sedikit banyak mulai mengetahui tentang dunia yang dia tinggali sekarang setelah tinggal bersama Li Huan. Banyak informasi penting yang bisa dia dapatkan, jika dia ingin mengetahui sesuatu, dia hanya perlu bertanya pada ayah angkatnya, jika Li Huan sibuk dia akan bertanya pada Zhou Ran, dan jika keduanya sibuk, masih banyak anggota ayahnya yang siap sedia menjawab semua pertanyaan Mo Xian.
Lima tahun pertama dilewati Mo Xian bersama Mo Shan, selama itu dia tidak mengetahui apa-apa tentang dunia ini, seolah Mo Shan menyembunyikan dunia ini dari matanya.
Setelah kehilangan Mo Shan, Li Huan datang dan memperlihatkan semua hal yang belum pernah dia lihat melalui pengetahuan umum.
Dunia tempatnya tinggal sekarang disebut sebagai benua Yuan Xing. Li Huan mengatakan Yuan Xing sangat luas dan Mo Xian pikir itu seperti Bumi. Banyak sekte-sekte kultivasi tersebar di seluruh Yuan Xing, baik itu sekte dengan jalur kebenaran atau jalur kesesatan dan jalur iblis.
"Gege," ucap Mo Xian pada pria muda yang berdiri di sampingnya.
Seorang pria dengan pakaian hitam berusia sekitar dua belas hingga tiga belas tahun itu memiliki manik berwarna biru gelap, wajahnya memiliki garis yang tajam dengan hidung mancung dan bibir tipis.
Pemuda itu adalah Wu Jiao Xing, salah satu anggota termuda Aliansi Merak yang ditugaskan Li Huan untuk menjaga Mo Xian, seperti seorang pengawal pribadi.
Namun, Mo Xian yang dalam kehidupannya selalu diajari untuk menghormati yang lebih tua dan menyangi yang muda, menganggap Wu Jiao Xing sebagai kakaknya.
__ADS_1
Awalnya, Wu Jiao Xing merasa tidak enak hati dengan sebutan 'gege' dari Mo Xian dan takut Li Huan akan menghukumnya. Namun, Li Huan ternyata sama sekali tidak keberatan.
Sebelum Wu Jiao Xing ditugaskan sebagai pengawal pribadi Mo Xian, dia adalah seorang anak yatim dari salah satu anggota Aliansi Merak dan Li Huan membawanya untuk bergabung dengan Aliansinya.
Sejak saat itu Wu Jiao Xing menjadi salah satu anggota termuda Aliansi Merak, belajar dengan giat hingga akhirnya dia berhasil menguasai beberapa teknik pedang dan meningkatkan kultivasinya.
Saat umurnya sebelas tahun, Li Huan memanggil Wu Jiao Xing untuk sebuah misi. Dia pikir Li Huan akan mengirimnya ke suatu tempat sebagai mata-mata untuk mengumpulkan informasi. Namun, dia tidak menyangka kalau alasan Li Huan memanggilnya adalah untuk menjaga seorang anak laki-laki bertubuh mungil yang kini menjadi tuan muda kesayangan keluarga Li dan seluruh penduduk kota Empat Batu.
Wu Jiao Xing menatap anak laki-laki yang kini berusia sepuluh tahun sedang menatapnya dengan mata bulatnya yang besar.
"Hmm," ucap Wu Jiao Xing kemudian.
Mo Xian tersenyum, lesung pipi muncul di pipi kirinya.
"Gege tahu? Ayah sudah mengijinkanku untuk berlatih bela diri. Itu artinya Gege juga akan punya lebih banyak waktu untuk berlatih."
Wu Jiao Xing terkesiap dengan ucapan Mo Xian. Memang benar, tugas menjaga tuan muda yang dimanjakan telah banyak menguras waktu berlatihnya. Dia harus mengawasi dan mengikuti Mo Xian ke manapun Mo Xian pergi, kecuali saat Mo Xian tidur, Wo Jiao Xing akan berlatih hingga larut malam dan tidur selama dua jam sebelum kembali bertugas.
Wu Jiao Xing bukan tidak menyukai Mo Xian, tuan muda di depannya ini, siapa yang tidak menyukainya? Seluruh kota menyukainya, seluruh anggota Aliansi Merak juga menyukainya, bahkan mereka yang belum pernah melihatnya juga sudah menyukainya hanya dengan mendengar kisahnya.
Hanya saja, jika boleh jujur Wu Jiao Xing sebenarnya tidak ingin menjadi pengawal pribadi Mo Xian. Dia ingin seperti anggota lainnya yang bertugas mencari informasi untuk Li Huan ketimbang berkeliaran dengan anak kecil baik hati tanpa melakukan apa-apa.
Mo Xian menatap wajah datar Wu Jiao Xing yang tidak pernah tersenyum. Bahkan, setelah mendengar kabar baik, wajahnya tetap datar seperti itu.
"Itu bagus."
Mo Xian mendesah, pengawal yang dipilih ayah angkatnya seperti kayu berjalan. Kadang Mo Xian berpikir bahwa Wu Jiao Xing tidak menyukainya, tapi semua orang mengatakan, "Anak itu sudah seperti itu sejak kecil. Dia tidak pernah terlihat sedih, ataupun senang. Wajahnya selalu lurus seperti itu. Tuan Muda tidak perlu khawatir, Wu Jiao Xing anak yang baik."
"Kira-kira kapan aku akan mulai berlatih?"
"...."
Mo Xian menatap Wu Jiao Xing yang tidak menjawab pertanyaannya.
"Apa Gege tidak ingin mengatakan apapun tentang ini?"
Wu Jiao Xing, menggelengkan kepala.
Mo Xian mendecakkan lidah dan bangkit dari duduknya sebelum berlari menaiki bebatuan dan melompati pagar.
"Tuan Muda kabur lagi!"
Terdengar suara pelayan dari balik tembok. Mo Xian tertawa sebelum melihat Wu Jiao Xing juga keluar melompati pagar.
"Mo Xian'er! Kembali ke rumah atau ibu akan memukulmu!"
Sekarang terdengar suara Li Zhuo Ran yang mengamuk dan Mo Xian segera berlari meninggalkan tempat itu bersama Wu Jiao Xing ke pusat kota.
25 Agustus 2020.
01 September 2020.
__ADS_1
1577 Kata.