Sang Penjaga : Pendekar Bulan

Sang Penjaga : Pendekar Bulan
Anak perempuan.


__ADS_3

Zhang Rouruan tidak terlihat baik-baik saja, wajahnya yang pucat mengeluarkan keringat dingin yang berkilauan terpantul cahaya bulan purnama.


Dia terlihat sangat panik bahkan saat dia melihat keadaan Mo Xian yang begitu menyedihkan. Gadis itu segera berlari ke arah mereka bersama dua orang pria.


"Apa yang kau lakukan di sini, bagaimana bisa kau ada sini?"


Zhang Rouran tidak bisa menjelaskan, tapi tindakannya benar-benar mengejutkan Bai Ruo hingga pembuluh darah di dahinya muncul.


Saat Zhang Rouran berlari ke arah mereka, Zhang Rouruan tidak berlari ke arah Mo Xian dan Bai Ruo justru ke arah Bai Yue dan menaburkan bubuk di wajah Bai Yue yang tidak siaga.


Bai Ruo tidak tahu bubuk apa itu, tapi setelah itu Bai Yue kehilangan kesadarannya dan segera ditangkap oleh seorang pria dewasa yang dibawa Zhang Rouran.


"Apa yang kau lakukan!" Bai Ruo berteriak marah.


Tidak menjawab pertanyaannya, sebaliknya dia justru bertanya, "Dimana Wu Jiao Xing?"


Bai Ruo masih marah atas apa yang Zhang Rouran lakukan pada kakak laki-lakinya, tapi melihat bagaimana mereka tidak melukai kakaknya, Bai Ruo sedikit merasa lega dan setelah itu mereka merasa tanah yang mereka pijak berguncang cukup hebat dan diikuti suara ledakan yang cukup keras serta angin kencang yang berhasil menumbangkan beberapa pohon di sekitar mereka.


Ledakan dan guncangan itu membuat semuanya terkejut hingga tidak bisa berkata-kata, melihat bagaimana kekacauan yang telah terjadi di depan mereka. Banyak pepohonan yang tumbang dan patah, binatang penghuni hutan mati berserakan di rumput yang tersapu angin, darah mereka berceceran dimana-mana!


"Seseorang meledakkan inti spiritualnya!" Seorang pria yang terlihat lebih muda berkata dengan suara terkejut, hampir tidak percaya hingga matanya membola.


Mendengarnya Bai Ruo merasa ada yang salah, apa ini maksud Wu Jiao Xing sebelumnya dengan memberikan cukup waktu bagi mereka sebagai anggota Aliansi Merak.


Mata Bai Ruo memerah! Dia semakin marah hingga darahnya mendidih, mengeratkan pegangan pada Mo Xian di punggungnya dia berteriak.


"Dasar bodoh! Aliansi Merak tidak berguna!Tidak Berguna! Jika ini yang kau maksud dengan kemampuan aku bahkan bisa melakukannya lebih baik dari ini dan ledakannya bahkan akan lebih buruk dari yang kau buat, aku akan meratakan bumi ini hingga tidak ada pohon lagi yang tersisa! Dasar bodoh! Dasar bodoh!"


Bai Ruo berteriak cukup keras, terlihat dia sangat marah dan membuat Zhang Rouran serta dua pria yang dia bawa kebingungan dengan sikapnya. Namun, setelah mereka melihat Bai Ruo berhenti berteriak, mereka melihat Bai Ruo terisak dengan putus asa sembari menggumamkan kalimat 'Dasar bodoh!' berkali-kali dan Zhang Rouran tidak bisa untuk tidak merasakan sakit di hatinya.


Dia terlambat!


Dia benar-benar terlambat!


Sangat-sangat terlambat!


Perlahan Zhang Rouran mundur, terhuyung ke belakang sambil menutupi mulutnya. Sulit baginya untuk percaya, tapi itulah yang terjadi!


Wu Jiao Xing mengorbankan dirinya demi mereka agar mereka memiliki cukup waktu untuk melarikan diri dengan cara meledakkan inti energi spiritual miliknya sendiri, dia menjadikan dirinya sebagai bom manusia yang dibayar dengan nyawa!


Zhang Rouruan menangis, menutupi mulutnya dengan tangan yang gemetar. Tidak! Sebenarnya seluruh tubuhnya bergetar hingga kakinya menjadi lemah.


Dia mungkin akan terjatuh, tapi pria muda di sampingnya dengan cepat mendukungnya dan mengatakan kalimat—"Ini bukan salahmu, semuanya akan baik-baik saja."—berkali-kali.


Zhang Rouran, bagaimana dia tidak bisa menyalahkan dirinya sendiri, melalui kotak itu gurunya telah memberi pesan bahwa suatu yang buruk telah terjadi dan gurunya meminta tolong padanya untuk segera pergi ke hutan dan menjemput teman-temannya dan memberi mereka tempat berlindung. Namun, dia terlambat!

__ADS_1


Sangat terlambat!


Wu Jiao Xing pasti mengira gurunya tidak mampu mengurus musuh mereka. Namun, Bao Yu telah menjelaskan bahwa hutan itu telah bertahun-tahun menjadi wilayahnya, bahkan jika Bao Yu mati dan musuh mereka mencoba mengejar mereka, ada banyak jebakan dan racun yang tersebar di hutan itu yang cukup untuk membunuh musuhnya dan mengulur waktu untuk mereka melarikan diri.


Namun, Wu Jiao Xing sepertinya tidak tahu itu dan dengan implusif pergi mengorbankan dirinya demi melindungi adiknya—Mo Xian dan teman-temannya.


Zhang Rouran sangat terpukul, lalu bagaimana dengan Mo Xian?


Mo Xian merasa jiwanya telah hancur berkeping-keping saat mendengar teriakan Bai Ruo dan mengerti apa maksud dari kemarahan Bai Ruo.


Gegenya telah pergi.


Pergi meninggalkannya seperti Mo Shan-Xiansheng yang tidak akan pernah kembali.


Itu semua karenanya.


Karenanya!


Tapi siapa yang akan melihat kesedihan Mo Xian dan menghiburnya. Suaranya tidak bisa keluar, dia tidak bisa berteriak atau menagis sekeras yang dia bisa, mulutnya terkatup kering dengan tenggorokan yang begitu sakit, sementara tubuhnya tidak bisa dia gerakan dan hanya air mata yang lolos dari matanya.


Keadaan sangat kacau, Bai Ruo sangat sedih, tapi tidak melepaskan pegangannya pada Mo Xian, dengan setia menggendongnya di balik punggungnya. Bai Yue, dia bahkan tidak tahu apa yang terjadi dan tidak sadarkan diri. Zhang Rouran, gadis itu masih menangis.


Satu-satunya yang masih memiliki kesadaran adalah pria tua yang menggendong Bai Yue di punggungnya.


Dengan begitu pria itu mendesak semua orang untuk mengikutinya masuk lebih dalam ke dalam hutan.


————————


Dua pria yang pergi bersama Zhang Rouruan sebelumnya adalah ayah dan paman Zhang Rouruan yang bernama Zhang Wei dan Zhang Xuan. Mereka berdua kemudian membawa Zhang Rouruan dan teman-temannya ke kediaman Zhang di desa Air Biru.


Desa Air Biru bukanlah desa biasa, bisa dikatakan desa itu sangat tersembunyi dan hampir tidak diketahui oleh orang luar, keluarga Zhang menyembunyikan desa Air Biru di belakang desa Daotian yang memiliki area pesawahan terluas dari beberapa desa yang ada di sekitar kota Bai Lian.


Akses masuk ke dalam desa Air Biru adalah sebuah gua yang terlihat sangat biasa dan tidak menarik perhatian, bahkan saat memasuki gua, gua itu terlihat seperti gua pada umumnya yang gelap dan lembab. Namun, di salah satu dinding gua terdapat pintu rahasia yang konon hanya bisa dibuka oleh penduduk desa Air Biru.


Saat pintu terbuka Zhang Wei memimpin jalan melewati lorong yang memiliki dinding dan atap batu yang dipahat dengan sangat baik dan saat mereka berjalan masuk, mereka bertemu beberapa orang yang segera menyapa Zhang Wei dan mengikuti mereka dari belakang. Masuk lebih dalam mereka menemukan tempat yang lebih luas dengan sebuah kolam air sebiru lautan di tengahnya.


Tempat itu sangat luas, dinding batu yang mengelilingi tempat itu memiliki beberapa pintu dan sebuah pintu yang terbuat dari batu itu tiba-tiba terbuka dan seorang wanita dengan wajah cemas segera berlari ke arah mereka.


"Aiya, apa yang terjadi, kenapa kalian lama sekali?"


Wanita itu sangat cemas, apalagi saat dia melihat Zhang Rouruan menangis di dalam gendongan Zhang Xuan, wanita itu segera memeluk Zhang Rouruan dan menatap Zhang Wei.


"Apa yang terjadi, kenapa putriku menangis?" tanyanya.


Zhang Wei menghela napas, dia melambaikan tangannya. "Dia baik-baik saja, bawa dia ke dalam kamarnya dan biarkan dia beristirahat."

__ADS_1


Wanita itu sepertinya mengerti keadaan apa yang sedang terjadi, bagaimanapun juga Zhang Rouran telah mengatakannya dan memaksa ayah dan pamannya untuk menjemput teman-temanya, sesuatu yang buruk jelas telah terjadi.


Wanita itu kemudian mengangguk dan membawa Zhang Rouruan masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu batu itu.


Zhang Wei kemudian menatap teman-teman putrinya.


Bai Ruo masih tidak mengeluarkan suara dan terus menggendong Mo Xian di punggungnya yang sudah tidak sadarkan diri, sama halnya dengan Bai Yue.


"Bawa mereka ke kamar tamu dan Ah Bao, panggil tuan Tang untuk segera ke sini."


Anak laki-laki yang dipanggil Ah Bao mengangguk kemudian berlari dan membuka pintu batu yang lain, menghilang dengan cepat.


Mo Xian dibaringkan di ranjang yang terbuat dari batu beralaskan kain tipis, itu akan terasa sangat tidak nyaman jika Mo Xian bisa merasakan betapa kerasnya tempat tidur batu itu. Namun, dia tidak merasakan apa-apa, saat dia sadar dia hanya merasakan kekosongan di dalam hati dan pikirannya.


Gege telah pergi.


Dan mereka yang pergi tidak selamanya bisa kembali.


Air matanya mengalir, tapi suaranya tidak bisa dikeluarkan, dia merasa sangat sesak, tapi dia tidak bisa berteriak. Dia sangat tersiksa dengan keadaannya yang menyedihkan!


Zhang Wei melihat air mata mengalir dari sudut mata Mo Xian dan hanya bisa menghela napas sambil menggelengkan kepala. Nasib buruk, siapa yang bisa menyangka akan datang pada siapa, kapan dan dimana, seseorang tidak bisa memastikannya bahkan seorang peramal sekalipun. Mereka hanya bisa mengira-ngira dan berhati-hati, tapi pemuda di depannya benar-benar telah mengalami hal terburuk di dalam hidupnya, guru dan kakak laki-lakinya pergi meninggalkannya, dia pasti merasa sangat sedih.


Namun, Zhang Wei tidak pandai menghibur dan hanya bisa membantu untuk menyelamatkan hidup anak itu. Sebelumnya Zhang Wei memerintahkan Zhang Xuan untuk mengambil air dari kolam yang memiliki energi spiritual terbaik, air itu bisa digunakan untuk mengobati dan memperbaiki tubuh teman putrinya ini, bagaimanapun juga saat Zhang Wei melihat betapa banyak darah yang berlumuran di bajunya, Zhang Wei mengira Mo Xian pasti memiliki luka yang cukup parah.


Namun, saat dia membuka baju Mo Xian, Zhang Wei melompat ketakutan dan segera keluar membanting pintu membuat orang-orang yang ada di luar menatapnya heran.


"Kenapa, kenapa Ayah terlihat sangat ketakutan dan meninggalkan Mo Xian di dalam. Apa terjadi sesuatu pada Mo Xian."


Zhang Rouran mendesak saat dia melihat ayahnya yang keluar dari kamar setelah dirinya sendiri juga keluar dari kamar karena merasa kesedihannya tidak akan mengubah apapun, yang harus dia khawatirkan sekarang adalah keadaan Mo Xian.


Di sisi lain, Bai Yue yang baru sadar belum sempat bertanya tentang apa yang terjadi dan dimana dia berada saat Zhang Wei mencengkram kedua pundak Zhang Rouran.


"Rouran'er kau bilang semua teman seperguruanmu adalah laki-laki, bukan?"


Zhang Rouran menatap bingung pada ayahnya. "Apa yang Ayah katakan? Kenapa Ayah bertanya tentang hal yang tidak berguna seperti ini? Ayah harus segera mengobati Mo Xian, kenapa Ayah justru meninggalkannya!"


"Jawab lebih dulu pertanyaan Ayah!"


Zhang Rouran merasa sangat kesal, dia ingin ayahnya segera memeriksa keadaan Mo Xian, jadi dia menganggukkan kepalanya.


Zhang Wei menggelengkan kepalanya dia kemudian berkata pada istrinya, "Laopo, kau tangani anak itu, dia perempuan. Maafkan aku!" Dengan itu Zhang Wei melarikan diri dengan sangat cepat, meninggalkan kebingungan untuk semua orang.


"Mo Xian, anak perempuan?"


—————

__ADS_1


__ADS_2