Sang Penjaga : Pendekar Bulan

Sang Penjaga : Pendekar Bulan
Desa kaya desa miskin 7


__ADS_3

Wu Jiao Xing melompat ke belakang, menghidari serangan musuhnya dan bergerak maju untuk memberi serangan balasan. Dentingan pedang yang saling bertabrakan terdengar dan Wu Jiao Xing semakin fokus untuk mencari cara agar dia bisa melepaskan topeng itu dari musuhnya.


Berputar dan menendang, Wu Jiao Xing berhasil menjatuhkan musuhnya. Namun, musuhnya memiliki refleks yang bagus dan pertahanan yang luar biasa, dengan mudah menghindar, menangkis dan bangkit kembali. Musuh mereka benar-benar hebat, tanpa sengaja terlintas bagaimana kemampuan orang yang membuat mantra ini, akan seperti apa jika mereka bertemu dengannya? Seberapa kuat orang itu?


Menggelengkan kepalanya, Wu Jiao Xing kembali fokus pada pertarungannya.


Sementara itu, Mo Xian sudah mengeluarkan energi spiritualnya dan membuat pedang miliknya lebih panas dari besi yang dibakar. Tebasan pedangnya bahkan meninggalkan bekas tanpa cacat saat mengenai pepohan dan menumbangkannya dengan sangat mudah. Namun, musuhnya sangat gesit, pergerakannya sangat cepat dan dengan mudah menghindari serangannya.


Mo Xian melihat musuhnya melompat ke udara dan dapat melihat asap hitam menguar dari tubuhnya. Pedang perak yang dipegang musuhnya perlahan-lahan juga mengeluarkan asap hitam dan meluncur memberikan serangan agresif pada Mo Xian.


Namun, ucapan Mo Xian tentang kita sudah lebih berkembang bukanlah omong kosong. Pergerakan Mo Xian juga telah meningkat, secepat apapun pergerakan musuhnya dalam memberikan serangan, Mo Xian selalu berhasil menangkis dan memberikan serangan balik.


Pedang mereka berdenting, setiap orang fokus pada pertarungan mereka masing-masing.


Wu Jiao Xing sudah berhasil mengendalikan perasaannya dan fokus pada pertarungannya meski masih kesulitan untuk memberikan serangan balik. Namun, pergerakannya sudah berhasil mengimbangi pergerakan lawan.


Sementara Mo Xian berhasil melukai lawannya saat dia mengayunkan pedangnya, menebas dada musuhnya. Pergerakan musuh melambat untuk seperkian detik, tapi itu sudah sangat cukup bagi Mo Xian untuk melakukan serangan kedua yang tepat pada topeng musuhnya hingga terbelah dua.


Musuhnya ambruk ke tanah, asap hitam menguar bersama bau busuk yang menyebar di udara. Membuat pria bergigi hitam itu tersenyum sinis saat melirik satu anak buahnya telah musnah.

__ADS_1


"Anak yang sangat berbakat," ucapnya seraya menggunakan rantainya untuk bertarung, melesat dengan cepat dan mengayunkannya ke sana ke mari mengikuti pergerakan Bao Yu yang gesit.


Bao Yu tidak menjawab, pria tua itu hanya melihat Mo Xian telah berhasil mengalahkan musuhnya dan beralih membantu Wu Jiao Xing.


Alis putihnya bertaut, melihat bagaimana musuh yang telah dikalahkan oleh Mo Xian berubah menjadi setumpuk tulang tak berdaging.


"Kau sepertinya sangat memperhatikan muridmu, tapi kau masih bisa mengelak dari seranganku. Orang tua, kau benar-benar memiliki bakat, tapi aku tidak bisa meladenimu lebih banyak lagi. Matilah!"


Pria itu mengayunkan bola besinya dan melemparnya tepat ke kepala Bao Yu, dia kemudian menariknya kembali saat Bao Yu menangkap bola itu dengan tangannya, tidak membari kesempatan pada Bao Yu untuk melepaskan tangannya dari bola besi miliknya, pria itu dengan cepat menggunakan rantainya untuk melilit tubuh Bao Yu dan menendangnya. Namun, pria tua itu tidak bergeming.


Saat itulah, pria itu sadar bahwa dia tidak memiliki kesempatan untuk menang. Sejak tadi, dia sudah memperhatikan sikap orang tua itu begitu tenang seperti air danau yang dalam. Ia hanya melihat pria itu cemas saat melihat pertarungan murid-muridnya. Namun, saat bertarung dengannya, sikapnya sangat tenang dan membuat tubuhnya merinding seolah jatuh ke dalam gelapnya air danau, tidak memiliki kesempatan untuk melihat dan membuat dadanya sesak, sungguh perasaan yang sudah jarang dia temui.


Pergerakan mereka cepat dan selalu berhasil mengimbangi anak buahnya, terutama pemuda berwajah cantik yang memiliki tubuh mungil itu, dia tidak menyangka akan bertemu dengan pemilik elemen dasar api yang sangat berbakat bahkan berhasil memusnahkan anak buahnya dalam waktu yang cukup singkat.


Bahkan dua diantara mereka memiliki elemen dasar air. Pemuda berambut putih yang sedang bertarung sendirian itu juga sangat berbakat, kemampuannya dalam mengubah kelembaban udara menjadi senjata es pantas diberi sebuah pujian. Namun, yang membuatnya tidak habis pikir adalah bagaimana pemuda itu bisa ada di sini.


Di dalam pengetahuannya, orang-orang berambut putih dengan kulit seputih salju, bermata biru dengan senjata es hanya berasal dari dataran Embun Salju Ajaib yang berada di benua Yuan Xing.


Lalu sedang apa mereka di sini?

__ADS_1


Di Xin Yue?


"Perhatikan pikiranmu."


Pria itu mendengar suara Bao Yu dan menoleh hanya untuk mendapatkan tendangan keras di wajahnya hingga terpental jauh ke belakang. Dengan mudah Bao Yu melepaskan belenggunya dan memotong rantai itu hingga pria itu tidak memiliki senjata lain.


Keduanya kemudian bertarung dengan tangan kosong, terlihat seimbang saat keduanya saling menyerang dan bertahan. Namun, bagi pria itu dia benar-benar tidak memiliki kesempatan untuk menang. Pukulan Bao Yu luar biasa keras dan menyakitkan, bahkan tulang rusuknya telah patah. Namun, dia tetap bertahan karena dia harus mendapatkannya kembali, tapi yang terjadi adalah dia benar-benar terpojok.


Seluruh anak buahnya telah dimusnahkan dan murid-murid pria tua itu melihatnya tengah terpuruk di lantai, memuntahkan seteguk darah, sangat menyedihkan.


"Siapa yang telah mengirimmu?" tanya Bao Yu.


Pria itu tidak menjawab, memegangi dadanya dia melihat ke bawah, pada semut yang sedang berbaris membawa telur. Dia terlihat sedang berpikir, tapi kemudian dia bangkit dengan sangat cepat dan hendak menyerang Mo Xian yang saat itu berdiri tidak jauh darinya. Namun, Bao Yu dengan sigap mencegahnya dengan menusukan jarum bunga racun di perutnya.


Pria itu menoleh untuk melihat wajah Bao Yu dengan tatapan tidak percaya, dia memegangi perutnya dan menemukan jarum besar dengan kepala bunga teratai yang menancap di perutnya. Dia terkekeh.


"Kau benar-benar tidak terduga," ucapnya.


Bao Yu menanggapi dengan anggukan. "Terima kasih."

__ADS_1


__ADS_2