Sang Penjaga : Pendekar Bulan

Sang Penjaga : Pendekar Bulan
Desa kaya desa miskin 3


__ADS_3

"Mereka telah dikendalikan oleh seseorang."


Bao Yu sedikit mengingatkan murid-muridnya tentang Roh jahat yang bisa membuat ilusi dan mengendalikan orang. Bao Yu juga menjelaskan kemungkinan tentang penduduk desa yang telah diganggu oleh Roh jahat, tapi tidak merasakan adanya energi gelap di desa itu bahkan setelah bermeditasi siang tadi.


Namun, Bao Yu tetap mengatakan kecurigaannya pada murid-muridnya dan menyuruh mereka untuk berjaga di empat mata angin.


Wu Jiao Xing pergi ke barat, Bai Ruo ke timur, Bai Yue ke utara dan Zhang Rouruan ke selatan, sementara Bao Yu menyuruh Mo Xian menjadi titik tengah.


Mereka menyelinap di malam hari saat semua lampu telah dimatikan, masing-masing dari mereka menempati pos mereka dan mulai membuat gambar mantra, memulai ritual.


Malam hari di desa itu terasa sangat sunyi, bahkan suara binatang tidak dapat didengar, semakin memperdalam kecurigaan Bao Yu tentang keadaan desa ini.


Bao Yu kemudian memberi intruksi pada Mo Xian untuk memulai bagiannya. Mo Xian mengangguk dan memfokuskan pikirannya, cahaya merah berpendar di unjung jarinya yang melukis sebuah pola di udara, saat pola itu digambar dengan sempurna, empat benang cahaya spiritual datang dari empat penjuru mata angin dan memperbesar mantra itu hingga melayang ke udara, membentuk sebuah penghalang yang memayungi desa itu.


Mantra yang sedang mereka gunakan adalah mantra pemanggil roh jahat dengan sekala besar, itu sangat jarang dilakukan karena tidak hanya membutuhkan banyak orang untuk berpertisipasi, itu juga membutuhkan banyak energi spiritual untuk membuat penghalang yang cukup besar, dan kasus seperti ini biasanya jarang terjadi. Namun, Bao Yu berhasil mengajari murid-muridnya dengan sangat baik. Tidak hanya, mengurangi jumlah orang yang biasanya membutuhkan sedikitnya sebelas orang menjadi lima orang, mantra yang murid-muridnya buat bahkan lebih stabil dan lebih baik dari yang biasa.


Mo Xian mempertahankan posisinya, dimana dia berdiri tepat di jantung desa, cahaya merah berpendar di telapak tangannya membentuk setangkai bunga teratai dengan warna merah cerah. Itu disebut inti pemanggil, dimana orang yang akan menjadi umpan memiliki sesuatu yang akan menarik perhatian roh jahat dan masuk ke dalam perangkap.


Bunga itu terlihat sangat indah, bahkan Mo Xian yang baru pertama kali membuatnya mengagumi keindahan bunga itu. Binatang penjaga yang sebelumnya dia panggil juga berjaga di sekitar bunga itu, kelinci kecil yang terbentuk dari asap putih itu terus saja mengelilingi bunga itu seolah sangat tertarik.


"Sekarang kita hanya harus menunggu," ucap Bao Yu yang juga menemani Mo Xian di posisinya. "Xiao Xian, perintahkan binatang penjagamu untuk mengirim pesan pada yang lain. Jangan tinggalkan posisi mereka dan abaikan setiap gerakan, pastikan mereka tetap fokus pada mantra yang mereka buat atau mantranya tidak akan berhasil jika salah satu dari kalian goyah."


Mo Xian mengangguk dan segera melaksanakan perintah gurunya. Kelinci kecil itu juga segera mengirim pesan dengan telepati miliknya pada binatang penjaga milik Wu Jiao Xing dan yang lainnya.


Wu Jiao Xing dan yang lain menerima pesan itu dan menganggukan kepala mereka. Mempertahankan mantra yang ada di depan mereka.


Sementara itu di rumah kepala desa, seorang anak kecil terbangun dari tidurnya dan melepaskan diri dari pelukan ibunya. Melihat ke luar jendela, pada bulan purnama sebelum berjalan keluar dari kamarnya, meninggalkan kedua orang tuanya yang terlelap.


Langkah kakinya yang kecil hampir tidak memiliki suara, dia berjalan mengelilingi setiap ruangan seolah sedang mencari sesuatu, tapi pergerakannya begitu mulus dan tanpa suara, sampai akhirnya anak itu memasuki ruangan yang digunakan Bao Yu dan murid-muridnya beristirahat.

__ADS_1


Disisi lain Bao Yu menganggukan kepalanya dan mengelus jenggotnya saat merasakan penghalang yang ditinggalkan telah dilewati.


"Roh Jahat itu telah masuk ke dalam perangkap, Xiao Xian bersiap-siaplah."


Mo Xian menatap gurunya dan menganggukan kepalanya.


Tidak lama setelah itu terdengar suara teriakan yang menggema dari rumah kepala desa. Mo Xian dan yang lainnya sempat terkejut, tapi mereka sebaik mungkin mempertahankan posisi mereka.


Bunga teratai merah di tangan Mo Xian mulai menyebarkan bau yang sangat harum dan manis, cahaya merahnya juga semakin terang dan suara teriakan itu terdengar berulang-ulang dan semakin jelas.


Mo Xian menatap gurunya yang terlihat sangat tenang. Dia ingin bertanya, tapi sepertinya dia tidak bisa bertanya sekarang karena gurunya pasti tidak akan menjawabnya. Dia sudah bertanya sebelum mereka memutuskan untuk membuat mantra, bahkan sebenarnya Mo Xian sendiri tidak mengerti kenapa gurunya menyuruh mereka untuk melakukan ritual pemanggilan roh dengan skala besar. Karena ritual itu biasa digunakan untuk menangkap roh dalam jumlah yang banyak, Mo Xian sempat mengira bahwa ada banyak roh jahat di desa ini. Namun, saat itu gurunya hanya menggelengkan kepalanya dan mengatakan bahwa ritualnya tidak bisa ditunda.


Sekarang suara teriakan itu semakin jelas dan jelas terdengar bahwa asal suara itu semakin dekat dengan posisi Mo Xian.


"Teguhkan hatimu dan fokuskan pikiranmu, pertahankan bunga inti pemanggil, jangan biarkan bunga itu layu dan hancur atau dia akan lepas kendali."


Mo Xian merasa tegang, jadi dia hanya menganggukan kepalanya. Setelah itu Bao Yu pergi meninggalkan Mo Xian sendirian di tempat itu.


Suara itu datang dari arah selatan, dan teriakan yang sebelumnya terdengar sangat mengerikan berangsur-angsur menjadi suara yang sangat menyedihkan. Seperti suara putus asa dari seseorang yang sudah tidak tahu harus berbuat apa lagi, sehingga hanya bisa berteriak histeris, tapi masih tidak biasa menenagkan perasaanya.


Suara itu semakin dekat dan semakin dekat. Mo Xian gugup, tapi mendengar suara itu mulai berubah menjadi suara tangis, Mo Xian tidak bisa membantu selain penasaran dengan siapa pemilik suara itu.


Seorang anak kecil perlahan muncul dari balik pohon, langkah kakinya yang mungil tanpa alas kali membawanya pada Mo Xian.


Mo Xian sangat terkejut saat melihat siapa yang mendekatinya, itu adalah anak kepala desa, tubuhnya yang kurus dengan pakaian tipis penuh dengan tambalan itu tersapu angin malam. Mo Xian khawatir tubuh kecilnya tidak bisa menerimanya dan kedinginan. Namun, Mo Xian sadar bahwa di dalam tubuh anak itu ada sosok lain. Karena gurunya mengatakan bahwa hanya roh jahat yang akan mendekati bunga inti pemanggil.


Sosok lain yang sedang menggunakan tubuh anak itu menangis tersedu-sedu hingga wajahnya basah oleh air mata dan ingus. Suaranya serak dan terlihat sangat putus asa. Dia terus berjalan hingga akhirnya berhenti tepat di depan Mo Xian yang memiliki bunga inti pemanggil.


Warna bunga inti pemanggil semakin terang dan baunya semakin manis. Mo Xian memperhatikan bagaimana anak itu terus menatap bunga itu dengan putus asa.

__ADS_1


Entah apa yang anak itu lihat di depannya saat ini, Mo Xian tidak bisa mengetahuinya. Dikatakan, bunga inti pemanggil akan menunjukan hal yang sangat diinginkan oleh roh jahat sebelum mereka mati. Entah itu hal yang dibenci, benda atau sesorang, bunga inti pemanggil akan memperlihatkan itu semua pada roh jahat agar roh itu kehilangan kesadarannya dan para Pembudidaya Abadi akan dengan mudah melakukan tugasnya, seperti penyucian ataupun pelenyapan.


Di mata anak itu, sepertinya anak itu melihat seseorang yang sangat perharga baginya. Dia menangis tersedu-sedu, menatap ke arah Mo Xian sebelum jatuh bersujud, berulang kali meminta maaf.


Namun, bukan suara anak kecil yang terdengar, melainkan suara seorang pria dewasa yang putus asa.


Anak itu berlutut, berulang kali memukul dahinya ke tanah sambil berteriak minta maaf, Mo Xian khawatir anak itu terluka jadi dia tanpa sengaja mengatakan agar anak itu berhenti.


Dan ajaibnya anak itu berhenti memukul dahinya ke tanah dan berlutut menatap Mo Xian.


"Maafkan aku, maafkan aku, aku benar-benar minta maaf."


Suara pria yang keluar dari mulut anak itu benar-benar sangat menyedihkan dan menyayat hati. Bahkan, Mo Xian yang tidak tahu kenapa hantu itu meminta maaf, tanpa terasa air mata jatuh melewati pelupuk matanya saat dia berkedip.


"Maafkan aku, aku mohon maafkan aku." Hantu itu mulai mengoceh, seolah di depannya benar-benar ada sosok yang ingin dia lihat dan mendengarkannya, tapi pada dasarnya itu adalah Mo Xian yang menatapnya iba.


"Bisakah kau memaafkan aku, hmm?"


"Maafkan aku ... ya, maafkan aku ...."


"Aku sudah mengumpulkan banyak uang, sebentar lagi ... sebentar lagi kau tidak akan perlu lagi mencemaskan soal uang, jadi aku mohon maafkan aku ...."


Hantu itu kembali menangis, tersenggal-senggal dia kembali memukul dahinya ke tanah sembari mengoceh tentang minta maaf dan harta yang telah dia kumpulkan, itu membuat Mo Xian semakin khawatir pada kondisi anak itu. Bahkan jika hantu itu tidak memukul dahinya ke tanah, Mo Xian masih akan bertindak untuk menghentikan hantu itu.


Bagaimanapun, hantu itu sekarang menggunakan tubuh anak kepala desa yang sangat kurus dan lemah, Mo Xian takut jika dia terus saja menagis seperti itu, anak itu akan kehabisan napas dan kehilangan nyawanya. Jadi Mo Xian segera memberi tanda pada keempat temannya dan memulai ritual penyegelan.


Dari empat arah mata angin muncul benang spiritual dengan warna yang berbeda, dikombinasikan dengan milik Mo Xian, benang itu menjadi semakin kuat dan membentuk sebuah jeruji yang mengurung anak itu. Saat itu, Bao Yu juga datang dan tanpa mengatakan apapun dia memambahkan mantra di jeruji itu.


Sekarang, setelah dikurung di dalam jeruji energi spiritual, anak itu terlihat tenang, hampir seperti dia tidak hidup ataupun mati, tatapannya kosong.

__ADS_1


"Guru ... apa yang harus kita lakukan sekarang?" Mo Xian bertanya.


"Perintahkan pada yang lain untuk membuat mantra pertahanan di posisi mereka sebelum kembali ke sini. Tidak ada yang boleh keluar masuk ke desa ini."


__ADS_2