Sang Penjaga : Pendekar Bulan

Sang Penjaga : Pendekar Bulan
Kembali Ke Rumah.


__ADS_3

Setelah tiga hari, Mo Xian dan keluarganya sampai di kota Empat Batu dan tidak ada hal spesial yang terjadi.


Mo Xian melihat Li Huan dan Li Zhou Ran beraktivitas seperti biasa. Banyak anggota Aliansi Merak yang datang ke rumahnya untuk bertemu Li Huan dan Mo Xian juga melihat beberapa orang kenalan Li Zhou Ran yang datang membawa ramuan ajaib.


Satu minggu berlalu, Mo Xian pikir keadaan sudah lebih baik walaupun dia masih melihat Li Huan dan Li Zhou Ran kadang-kadang melamun untuk suatu hal. Namun, sekarang keluarga Li sedang sibuk menyiapkan acara ulang tahun Mo Xian yang akan datang satu minggu lagi.


Untuk ulang tahunnya yang ke dua belas, Li Zhou Ran memaksa untuk membuatkan pesta yang meriah. Para pelayan sibuk membuat makanan dan menyiapkan tempat. Mo Xian bertanya kenapa Li Zhou Ran sangat ingin membuatkannya pesta ulang tahun sedangkan Mo Xian tidak suka hal-hal seperti itu.


Pada akhirnya, Li Zhou Ran dan Li Huan mengutarakan isi hati mereka tentang rencana menurunkan Mo Xian ke benua Xin Yue untuk belajar.


Mo Xian mengerti kenapa mereka berdua ingin mengirim Mo Xian ke benua Xin Yue yang jauh, itu mungkin berkaitan dengan serangan yang terjadi di Embun Salju Abadi.


Mo Xian dapat menebak apa yang ada di dalam pikiran orang tua angkatnya, mereka mencoba menempatkan Mo Xian di tempat yang aman selagi mereka mencari tahu siapa musuh mereka.


Namun, Mo Xian masih tidak mengerti kenapa mereka terlihat sangat sedih saat mengatakan hal itu, karena bagi Mo Xian belajar untuk menjadi kuat adalah hal yang ingin dia lakukan sekarang. Namun, Li Zhou Ran bilang benua Xin Yue adalah benua yang jauh dan mereka harus berpisah selama lima tahun sebelum bisa bertemu kembali.


Mo Xian tidak mengira bahwa ini adalah hal yang membuat mereka sedih. Tentu saja lima tahun jelas bukan waktu yang sebentar.


"Tidak apa, jangan bersedih, Bu," ucap Mo Xian saat menghapus air mata Li Zhou Ran. "A Xian akan berusaha keras, dalam lima tahun A Xian akan menjadi kuat dan dapat diandalkan."


Li Zhou Ran memeluk Mo Xian. "Jika saja ... Ayahmu tidak memaksa, ibu tidak akan mengizinkan Xian'er pergi. Putra kesayangan ibu seharusnya tidak pergi ke mana-mana. Ayahmu memang tidak berguna!"


Mo Xian menepuk-nepuk punggung Li Zhou Ran. "Jangan bilang seperti itu, Ibu. Jika ayah dengar, dia akan merasa sedih. Ibu adalah orang yang hebat, ayah juga orang hebat, A Xian sangat berterima kasih pada Dewa karena telah memberikan A Xian orang tua yang sangat mencintai A Xian."


Mo Xian melepaskan pelukan Li Zhou Ran, menatapnya dan kembali menghapus air mata untuknya.


"Jangan bersedih. A Xian tahu ini demi kebaikan A Xian, jika A Xian sudah dewasa dan menjadi sekuat ayah dan Ibu, A Xian juga tidak ingin meninggalkan kalian berdua. Tapi, sekarang A Xian hanya seorang anak tanpa kemampuan."


"Siapa yang berani bilang seperti itu! Putra ibu yang terbaik, saat anak-anak lain masih menangis Xian'er sudah bisa membaca dan menulis, Xian'er ...."


"A Xian adalah putra ibu yang terbaik," ucap Mo Xian sambil tersenyum, memegang kedua tangan Li Zhou Ran, menatapnya dengan sayang. "Ibu ... A Xian berjanji akan menjadi kebanggaan Ibu di masa depan."


Mendengarnya Li Zhou Ran terkesiap hingga berhenti menangis.


"Hanya lima tahun dan kita akan berkumpul bersama lagi. Sampai saat itu, A Xian akan berjuang dengan keras agar A Xian bisa menjadi seperti apa yang Ibu inginkan. Menjadi kuat dan menjadi kebanggaan keluarga Li."


Li Zhou Ran menghapus air matanya. "Anak bodoh, tidak perlu menunggu lima tahun, Xian'er sudah menjadi kebaggan keluarga Li."


Mo Xian tertawa mendengarnya dan memeluk Li Zhou Ran, bersimpuh di pangkuan Li Zhou Ran.


"Mm, A Xian anak yang bodoh. Tapi setelah sepuluh tahun, A Xian akan menjadi pintar sampai Ibu mungkin tidak ingat lagi siapa anak bodoh itu." Mo Xian berkata sambil tertawa.


Li Zhou Ran juga ikut tertawa sambil mengelus kepala Mo Xian. "Mana mungkin Ibu lupa dengan putra ibu sendiri."


Keduanya kemudian tertawa bersama dan mengobrol tentang masa lalu. Sementara itu di balik pintu, Li Huan menatap keduanya sambil tersenyum dengan mata berkaca-kaca sebelum pergi ke ruangan lain sambil menghela napas.


................


Mo Xian berjalan-jalan di sekitar kota dan pergi ke kedai teh untuk mendengarkan dongeng seperti biasa, tapi dia tidak bisa fokus dengan cerita yang sedang dibawakan jadi dia memilih pergi ke pinggiran sungai, melihat para pedagang dan pengemudi perahu.


Mo Xian merenung sejenak tentang hari keberangkatannya ke benua Xin Yue setelah hari ulang tahunnya. Li Huan bilang, dia akan mengantar Mo Xian dan Wu Jiao Xing turun, tapi setelah itu Mo Xian harus mulai menjalani hidup mandirinya. Entah kenapa Mo Xian menjadi sedikit khawatir.


Sikap Li Huan dan Li Zhou Ran yang memanjakannya bertahun-tahun belakangan ini ternyata cukup membuat dampak buruk untuknya. Mo Xian tidak menyangka bahwa dirinya pada akhirnya benar-benar akan menjadi anak yang bergantung pada orang tuanya dan takut jika jauh dari mereka. Namun, mengingat situasi di dunia ini dimana jika kamu tidak kuat, kamu tidak bisa bertahan hidup membuat Mo Xian menguatkan diri untuk tabah.


Seandainya Li Zhou Ran dan Li Huan hanya manusia biasa seperti halnya para pedagang itu, Mo Xian pikir itu akan bagus dan orang-orang jahat yang mengirimkan mayat hidup tidak akan mengejarnya, jadi Mo Xian bisa hidup dengan tenang di dunia yang ajaib ini sebagai manusia biasa seperti sebelumnya.

__ADS_1


Namun, tidak ada bagusnya mengeluh. Manusia diciptakan untuk beradaptasi, belajar dan berusaha. Jika di kehidupan kali ini dia memang ditakdirkan menjadi anggota keluarga Li yang memiliki musuh hebat, maka Mo Xian juga harus beradaptasi, belajar dan berusaha menjadi kuat untuk bisa melindungi keluarganya di dunia ini.


"Ah!" Mo Xian tersentak saat dia sedang melamun dan sebuah tangan menarik lengan bajunya.


Mo Xian menoleh dan melihat seorang anak pengemis. Itu anak yang dia temui saat manusia bertopeng pertama kali muncul. Sejak saat itu, setiap kali Mo Xian pergi ke pusat kota untuk mendengarkan dongeng, Mo Xian selalu menemuinya dan menemukan anak itu sebenarnya cukup menggemaskan. Jika anak itu tidak memiliki ibu, Mo Xian akan membawanya pulang dan meminta Li Huan untuk menjadikannya adik.


"Adik kecil, kau ada di sini?" tanya Mo Xian.


Anak itu mengangguk.


"Di mana ibumu?"


Anak itu menunjuk suatu arah dan Mo Xian mengikutinya sebelum melihat seorang wanita yang dia kenal sebagai ibu pengemis, duduk di bawah pohon sambil menyantap sesuatu, sepertinya tahu.


"Ibumu sedang makan, kenapa kau ke sini dan tidak makan bersamanya?"


Anak itu menggelengkan kepalanya.


"Kau sudah makan?"


Anak itu mengangguk.


Mo Xian menghela napas sebelum menepuk-nepuk kepalanya dan kembali menatap ke sungai.


Anak itu kembali menarik lengan baju Mo Xian dan mencoba mengerakan tangannya untuk bertanya apa yang sedang terjadi pada Mo Xian.


Mo Xian tersenyum, kembali mengelus kepala anak itu.


"Aku hanya sedang berpikir ...,"


Anak itu kembali menggerakan tangannya sebelum menyentuh wajahnya.


Anak itu mengangguk.


Mo Xian menghela napas. "Adik kecil, kau masih sangat kecil dan tidak akan mengerti," ucap Mo Xian pada anak itu sebelum tiba-tiba dia berhenti seolah menyadari sesuatu dan tersenyum memandang anak itu.


Anak itu menunjukan wajah bingung karena tiba-tiba melihat Mo Xian tersenyum.


"Karena kau tidak akan mengerti, sepertinya tidak masalah jika aku menceritakannya padamu,"—Mo Xian menghela napas—"selama ini aku ingin menceritakan ini pada seseorang tapi tidak bisa. Tapi sepertinya aku bisa menceritakannya padamu, bagaimana kalau kita pergi ke suatu tempat?"


Pada akhirnya Mo Xian membawa anak pengemis itu ke tempat yang cukup sepi. Itu, sebuah kedai teh kecil yang terletak di pinggiran kota dan tidak terlalu banyak orang yang datang. Setelah memesan minuman dan makanan ringan Mo Xian mulai bercerita.


"Aku tidak berasal dari dunia ini," katanya, membuat anak yang sedang memakan kue kering menjatuhkan kuenya dan menatapnya dengan wajah bodoh.


Mo Xian tertawa dan mengambil kue lain sebelum menyerahkannya pada anak itu.


"Apa kau terkejut? Apa kau tahu maksud dari perkataanku?" tanya Mo Xian.


Anak itu menggeleng, sebelum menggunakan tangannya untuk menggambarkan sesuatu dan menunjukan wajah seram.


Mo Xian tertawa. "Apa kau berpikir aku adalah hantu?"


Anak itu mengangguk takut-takut hingga lehernya menciut tidak berani melihat langsung pada Mo Xian.


Mo Xian kembali tertawa sebelum menepuk-nepuk kepala anak itu.

__ADS_1


"Tenang saja, aku bukan hantu. Mungkin."


Wajah anak itu menggelap.


"Maksudku, aku mungkin bukan hantu sekarang. Sebelumnya iya, atau bagaimana aku menjelaskannya. Ah, itu tidak penting kau hanya perlu mendengarkan ceritaku."


Mo Xian kemudian menceritakan bagaimana dia mati terbakar di kehidupan sebelumnya dan terlahir kembali sebagai bayi kecil yang hampir dibunuh orang, diselamatkan Mo Shan sebelum akhirnya diangkat sebagai anak keluarga Li. Mo Xian bahkan menceritakan tentang kondisinya yang menyamar sebagai anak laki-laki.


Mo Xian mendecakkan lidah dan meminum tehnya.


"Sampai saat ini aku tidak bisa mengerti kenapa aku masih menyembunyikan identitasku sebagai anak perempuan. Ini sedikit membuatku stress," ucap Mo Xian sambil menatap anak itu.


Anak itu tidak bereaksi, hanya menatap Mo Xian dengan wajah bingung.


"Aku tahu ini sedikit keluar dari akal, bukan? Kehidupan kembali, transmigrasi ke dunia lain, aku sudah berusia delapan belas tahun dan terjebak di tubuh seorang anak yang baru berusia dua belas tahun. Tapi, aku masih ingat kata-kata Mo Shan yang menyuruhku untuk berpura-pura sebagai anak laki-laki, dan aku masih tidak bisa mengerti apa alasannya, tapi aku masih melakukannya!"


Mo Xian menghela napas.


"Tapi sekarang semua sudah terjadi dan semua orang mengenalku sebagai putra keluarga Li. Aku harap bisa bertemu dengannya lagi dan bertanya kenapa aku harus menyamar sebagai anak laki-laki."


Mo Xian cemberut sebelum menatap sedih cangkirnya. "Aku ingin lihat bagaimana reaksi orang tua angkatku jika mereka mengetahui ini, apa menurutmu aku akan ditendang?"


Anak itu menggelengkan kepalnya.


"Mm, aku harap juga seperti itu. Tapi ...,"


Mo Xian kemudian mulai menceritakan masalahnya, pertemuannya dengan orang-orang bertopeng dan pertarungannya di Embun Salju Ajaib serta keinginan orang tua angkatnya untuk mengirimnya pergi belajar di benua Xin Yue.


Reaksi anak itu sedikit tidak biasa, wajahnya menghitam seperti pantat panci.


"Aku tahu, ini sangat mengerikan. Di kehidupanku sebelumnya, tidak ada yang seperti ini, semuanya hidup dengan damai, meski ada orang jahat, tapi tidak sampai seperti ini, membuat mayat hidup untuk menyerang orang itu benar-benar keterlaluan!"


"Aku pikir itu pekerjaan orang-orang jahat yang memusuhi pekerjaan ayahku, tapi sekarang aku juga menjadi targetnya karena menjadi anaknya." Mo Xian mengenggam erat sumpit di tangannya.


"Tapi mereka orang tuaku sekarang dan aku menyanyangi mereka, aku tidak ingin melihat mereka dalam bahaya dan kesusahan karena aku. Aku juga tidak ingin menjadi beban untuk orang lain. Sudah saatnya aku beradaptasi dengan dunia yang kejam dan aneh ini. Aku harus berusaha keras untuk menjadi kuat dan bisa melindungi keluargaku."


Anak itu tidak bereaksi untuk waktu yang lama sebelum menggerakan tangannya dan membuat beberapa ekspresi.


"Orang-orang jahat itu? Tentu saja ayahku akan mengurusnya selagi aku ditempat yang jauh. Ayah bilang, dia akan mencari tahu dan menangkap penjahatnya, dia hanya memintaku untuk tidak khawatir dan belajar dengan baik di benua Xin Yue."


"Tetap saja, aku merasa khawatir dan sedih karena aku tidak bisa membantu meringankan masalah mereka."


Mo Xian menghela napas dan pada akhirnya dia hampir memuntahkan seluruh keluh kesahnya termasuk keinginannya untuk bertemu Mo Shan kembali dan setelah mengatakan itu, perasaannya menjadi lebih baik walaupun dia tidak mendapatkan saran.


Mereka mengobrol, itu tidak bisa dikatakan mengobrol karena hanya Mo Xian yang berbicara hingga sore dan keberadaannya ditemukan oleh Wu Jiao Xing.


Wu Jiao Xing yang datang segera memarahinya karena pergi tanpa pamit dan membuatnya harus mencari Mo Xian, hampir mengelilingi Kota Empat Batu. Wu Jiao Xing bilang semuanya telah siap dan banyak orang telah datang ke rumahnya untuk acara pesta ulang tahunnya.


Mo Xian tersenyum pada anak pengemis itu dan berpamitan padanya sebelum pergi bersama Wu Jiao Xing kembali ke rumah.


Di rumahnya acara pesta benar-benar meriah, orang-orang datang memberi hadiah dan Li Zhou Ran mengundang seorang pendongeng khusus untuk Mo Xian. Setelah malam yang meriah itu, Li Huan membawanya bersama Wu Jiao Xing ke suatu tempat.


Setelah itu Mo Xian tidak bisa mengingatnya, tapi saat dia tersadar keesokan harinya dia sudah berada di sebuah penginapan bersama Wu Jiao Xing dengan sepucuk surat di meja.


1994 Kata.

__ADS_1


16 September 2020.


Terima kasih sudah membaca :)


__ADS_2