Sang Penjaga : Pendekar Bulan

Sang Penjaga : Pendekar Bulan
Persatuan.


__ADS_3

Dataran itu dipenuhi darah dan mayat yang berserakan, tapi tidak terlihat ada tanda-tanda pertempuran akan berakhir.


Di tengah pertempuran, Bai Yue gagal menyakinkan Bai Ruo untuk mundur dan mengobati lukanya, sekeras apapun Bai Yue mencoba maka semakin keras Bai Ruo menolak dan mengancam akan meledakkan inti energi spiritualnya sendiri jika Bai Yue masih mencoba untuk menghentikannya.


Bai Yue benar-benar putus asa, luka yang diterima oleh adik laki-lakinya sudah semakin banyak dan parah. Namun, anak itu dengan gila menyerang musuhnya tanpa ampun dan tanpa merasa takut meski musuhnya berada di level yang lebih tinggi darinya. Satu-satunya yang bisa dilakukan oleh Bai Yue adalah melindungi adiknya dari serangan lawan, memblokir semua serangan dan senjata yang akan melukai adiknya, dengan begitu dia merasa sedikit tenang.


Namun, di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Bai Yue ingin Bai Ruo berhenti bertarung, mengambil sedikit waktu untuk kembali ke desa Air Biru, mengobati lukanya dan melihat keadaan Mo Xian.


Bagaimapun juga, ini sudah tiga hari berturut-turut dan adiknya seperti tidak merasa lelah!


Dia benar-benar binatang buas!


Bahkan binatang buas bisa merasa lelah!


Namun, Bai Ruo itu adalah anak laki-laki yang telah kehilangan kewarasan karena rasa sakit dan kehilangan yang menimpa dirinya, membuat anak itu memaksa seluruh kekuatan yang dimilikinya ke ambang batas hingga mengabaikan rasa sakit fisik yang dia terima dan rasa lelah yang mendera tubuhnya.


Bai Ruo tidak peduli pada keadaannya sendiri, matanya yang merah menatap ganas, berteriak dan menyerang secara brutal, bahkan cara bertarungnya sama sekali tidak terkontrol, hampir seperti dia menyerang secara acak asalkan dia berhasil mengalahkan lawan itu tidak masalah bagaimana cara dia bertarung.


Para Pembudidaya Abadi yang ikut serta dalam pertempuran juga bisa merasakan tubuhnya merinding saat tidak sengaja melihat Bai Ruo bertarung, mereka bahkan akan berpikir dua kali untuk mencari masalah dengan anak itu jika bertemu di jalan.


Anak yang tidak mengenal takut lebih menakutkan dari anak terpelajar yang kuat, karena anak yang tidak mengenal takut akan melakukan segala cara untuk menang!


—————————


Perang telah terjadi selama berhari-hari, tapi tidak ada tanda-tanda musuh mereka mengalami kemunduran, jumlah musuh mereka justru kian bertambah seiring berjalannya waktu dan membuat orang-orang Pembudidaya Abadi dari aliran putih yang sebelumnya membanggakan kemampuannya mulai ketakutan dengan jumlah musuh mereka.

__ADS_1


Dunia ini memang tidak kekurangan orang yang berani, tapi dunia ini juga tidak kekurangan orang yang pengecut, beberapa dari mereka bahkan membohongi teman mereka dan meninggalkan teman mereka di medan pertempuran, berpura-pura mengobati luka dia berlari untuk keselamatan dirinya sendiri!


Sangat memalukan!


Namun, siapa yang tidak takut mati selain Bai Ruo di tempat mengerikan itu?


Di dunia ini sangat sedikit orang yang tidak takut dengan kematian, mereka menghargai hidup mereka dan ingin hidup selama ribuan tahun!


Untuk apa mereka bertarung, apa yang mereka perjuangkan dan apa yang mereka dapatkan jika mereka mati?


Tidak ada, hanya rasa penyelasan tentang masalah hidup dan keinginan yang belum terlaksana, mereka akan menjadi roh dan menunggu di roda reinkarnasi, mereka tidak mengingankan itu dan akhirnya memilih melarikan diri demi keselamatan jiwanya.


Jumlah Pembudidaya Abadi dari aliran putih semakin berkurang dan membuat mereka yang tersisa hanya bisa menggertakkan gigi mereka.


Mereka marah, sangat marah pada orang-orang pengecut yang mementingkan hidup mereka sendiri, lalu untuk apa mereka berlatih menjadi praktisi bela diri, berkultivasi setiap hari dan membanggakan latihan serta kemajuan mereka di depan orang lain?


Mereka adalah sampah masyarakat! Membangga-banggakan hal yang sama sekali tidak berguna!


Saat semakin sedikit Pembudidaya Abadi aliran putih yang tersisa dan keadaan semakin buruk dengan jumlah musuh yang kian bertambah, mereka sudah siap untuk mati, tapi tidak siap untuk kalah. Sekuat tenaga dengan sisa-sisa kemampuan mereka, mereka bertarung sampai akhir.


Namun, hal yang tidak biasa tiba-tiba terjadi. Dimana orang-orang Pembudidaya Abadi dari jalur hitam tiba-tiba ikut turun ke medan perang, mereka pikir mereka pasti sudah tamat, tapi mereka sangat terkejut bahwa ternyata orang-orang Pembudidaya Abadi dari jalur hitam berada di sisi mereka dan bertarung menghadapi musuh mereka.


Orang-orang Pembudidaya Abadi jalur putih merasa sangat heran, untuk pertama kalinya mereka bergandengan tangan menghadapi musuh yang sama setelah mengira bahwa masalah ini berasal dari Kultivator jalur hitam. Ini mengubah jalur pandangan mereka dan sedikit mendapat ketenangan karena bantuan yang mereka dapat.


Dengan bergabungnya Pembudidaya Abadi jalur hitam, musuh mereka bisa sedikit ditekan mundur, tapi itu hanya untuk sementara waktu.

__ADS_1


Gelombang musuh berikutnya berdatangan lebih banyak lagi.


"Ini benar-benar gila, bagaimana ini bisa terjadi, meraka seperti air di air terjun, tidak terbendung, tidak dapat dihentikan!" salah satu dari Pembudidaya Abadi jalur putih berteriak frustasi sambil menggenggam erat pedangnya yang berlumuran darah saat melihat gelombang musuh yang datang. Dia menatap dengan wajah pucat, ketakutan hingga tubuhnya bergetar. Namun, tiba-tiba punggungnya ditepuk.


Seorang pria berbaju hitam mengungkap senyum menghina di wajahnya yang berlumuran darah.


"Kenapa kau begitu ketakutan, ini adalah medan pertempuran sesungguhnya. Kau lihat, saat kau ketakutan aku telah berhasil memotong induk mereka," ucap pria itu sambil mengangkat potongan kepala seorang pria di tangannya dan membuangnya begitu saja, lalu mencengkram pedangnya dan melesat maju untuk menemukan induk yang lain sambil menebas musuhnya.


Ya, perlahan-lahan di dalam pertempuran mereka telah menemukan bahwa musuh mereka sebenarnya hanya tulang belulang yang dikendalikan oleh mantra, itu artinya seseorang telah mengendalikan tulang-belulang itu dan menyebut orang itu sebagai induk dan mencari keberadaan induk untuk dibunuh. Karena saat induk dibunuh, jumlah musuh mereka turun drastis, seolah mantra itu berhenti berfungsi dan mengakibatkan tulang-belulang berjatuhan ke tanah mengeluarkan bau busuk yang menguar di udara.


Namun, menemukan induk bukanlah hal yang mudah, bagaimanapun juga, tulang-belulang yang mereka hadapi sama sekali tidak lemah, kemampuan mereka beragam, level mereka juga berada di level bulan dan matahari, jelas mereka bukan musuh yang mudah untuk dihadapi dan jumlah mereka bahkan lebih banyak dari jumlah semut yang mengelilingi gula.


Mereka tidak ada habisnya!


Namun, bukan hal yang mustahil untuk mengalahkan mereka. Saat keadaan yang mereka pikir akan segera membaik, tapi sebenarnya semakin buruk karena gelombang demi gelombang musuh terus berdatangan membuat mereka kian tertekan dan terpojok.


Saat itulah harapan datang saat sekte-sekte yang mendengar adanya peperangan di selatan berbondong-bondong datang untuk membantu saudara-saudara mereka dan bahkan hal yang sama sekali tidak pernah mereka bayangkan adalah dua orang yang sangat terkenal di benua Yuan Xing ikut turun ke Xin Yue dan terjun ke dalam pertempuran.


Jurus seribu tobak es milik Bai Xue dan jurus seribu pedang milik Li Huan telah meringankan tugas banyak orang.


Dalam satu kali serangan, dua ribu musuh mereka tumbang, topeng yang mereka kenakan hancur berserakan di tanah bersama tulang belulang mereka.


Pemandangan itu membuat semua orang takjub, tidak hanya itu mereka bahkan lebih takut lagi saat melihat angin ****** beliung mengamuk di tempat itu dengan angin yang berputar setajam pisau menggiling musuh-musuh mereka menjadi bubuk hingga tidak berbekas di terbangkan angin.


Orang-orang yang melihat itu menjadi ketakutan saat melihat seorang wanita dengan dua kipas di tangannya, mengibaskan kipasnya secara brutal dan kejam, menatap tajam pada musuh-musuhnya dan memaki-maki.

__ADS_1


"Tidak berguna!"


"Kalian pantas mati!"


__ADS_2