Sang Penjaga : Pendekar Bulan

Sang Penjaga : Pendekar Bulan
Anak Nakal.


__ADS_3

Mo Xian tertawa saat dia berhasil melarikan diri menuju pusat kota. Ada sebuah tempat di kota Empat Batu yang sangat disukai Mo Xian.


Tempat itu adalah sebuah rumah makan dan penginapan, setiap satu minggu sekali, seorang pendongeng akan menceritakan sebuah kisah di sana. 


Saat Mo Xian tidak sengaja mendengarkan cerita pendongeng saat makan bersama keluarganya. Sejak saat itu, Mo Xian akan selalu datang ke rumah makan untuk mendengarkan cerita meski Li Zhou Ran sering kali tidak akan memberinya izin.


"Ah!" Mo Xian memegangi kepalanya yang baru saja dipukul dari belakang.


Wu Jiao Xing menatapnya dengan tatapan tajam sambil berpangku tangan setelah memukul tuan mudanya.


"Berapa kali ku katakan jangan berlarian seperti itu?" ucap Wu Jiao Xing dengan wajah tidak senang.


Mo Xian tertawa, pemuda yang dikatakan tidak pernah tersenyum dan selalu berwajah lurus sudah sering menunjukan berbagai raut wajah yang bengkok saat menghadapinya. Bahkan Wu Jiao Xing lebih sering marah-marah padanya dari pada Li Zhou Ran--ibu angkatnya.


"Maaf, maaf. Gege, sebentar lagi pendongeng akan memulai ceritanya. Aku tidak boleh terlambat," ucap Mo Xian sebelum berjalan masuk ke dalam rumah makan dan menuju tempat duduk yang selalu menjadi miliknya.


Wu Jiao Xing mengikutinya, seorang pelayan segera mendatangi mereka dan menyediakan teh serta camilan kering. Sang pemilik tempat sudah tahu kesukaan Mo Xian adalah tempat yang berada di tengah-tengah, jadi tempat itu dikhususkan untuk Mo Xian, meskipun Mo Xian tidak memesannya dan hanya tahu jika tempat itu selalu kosong saat dia datang. 


Mo Xian akan sangat merasa gembira dengan keberuntungannya. Sang pemilik juga akan merasa sangat gembira dengan kedatangan Mo Xian yang sudah pasti akan menarik pengunjung wanita yang ingin melihat Mo Xian, dengan begitu bisnisnya semakin baik setiap minggunya.


"Kau sudah berumur sepuluh tahun dan kau masih suka mendengarkan dongeng, kau bukan anak kecil lagi," ucap Wu Jiao Xing saat pendongeng mulai mendongeng.


Mo Xian memanyunkan bibirnya. "Gege tahu hanya ini satu-satunya yang bisa membuatku terhibur, mendengarkan cerita lebih baik dari pada membaca cerita," jawabnya. 


Kemudian Mo Xian melihat ke sekitar, seperti biasa banyak pengunjung wanita yang datang, bahkan hingga ke lantai dua.


"Lagi pula aku baru berusia sepuluh tahun." Mo Xian mencondongkan tubuhnya, berbisik, "Gege lihat gadis-gadis dan wanita-wanita itu juga datang untuk mendengarkan dongeng."


Bibir Wu Jiao Xing berkedut, urat di kepalanya menonjol keluar. Tangannya gatal untuk memukul anak tidak tahu malu di depannya yang sekarang benar-benar seperti orang bodoh saat mendengarkan cerita. Dari manapun kau melihat, para wanita itu jelas-jelas sedang memperhatikanmu bukan mendengarkan dongeng.


Wu Jiao Xing menghirup dan menghela napas panjang, mencoba untuk tenang, bersikap tidak peduli pada semua mata yang tertuju ke meja mereka.


Saat dongeng selesai, Mo Xian akan bertepuk tangan dengan keras dan para wanita akan segera mengikutinya. Setelah pertunjukan selesai, Wu Jiao Xing segera menyeret Mo Xian agar kembali ke rumah. Namun, Mo Xian menolak.


"Gege, kenapa buru-buru? Jam makan malam masih lama, kita bisa berjalan-jalan sebentar di kota dan melihat-lihat," ucap Mo Xian sambil menggigit kue osmanthus dari rumah makan.


Wu Jiao Xing menatap Mo Xian seolah dia ingin memukulnya hingga tidak sadarkan diri dan membawanya pulang seperti karung beras. Namun, saat dia melihat sekitar wajahnya menjadi gelap segelap pantat panci. Para gadis masih memperhatikan mereka sambil berbisik-bisik.


"Ah lihat itu, tuan muda Mo sangat menggemaskan seperti biasanya. Lesung pipinya benar-benar membuatku ingin mencubitnya. Andai dia adikku, aku akan sangat bahagia."

__ADS_1


"Ah, itu benar. Jika tuan muda Mo adalah adikku, aku akan memeluknya setiap hari."


"Aku ingin menggigit pipinya yang kenyal."


"Hush, kalian cari mati. Jaga mulut kalian, aku takut Nyonya Li ada disini mengawasi Tuan Muda Mo diam-diam."


Mendengar itu, semua wanita yang ada di sana langsung merasakan tubuhnya menggigil.


"Nyonya Li benar-benar menakutkan."


"Dari pada itu, apa kalian tidak memperhatikan pemuda yang selalu menemani tuan muda Mo. Bukankah menurut kalian dia sangat tampan?"


Wajah Wu Jiao Xiang semakin gelap, dengan latihan yang dia lakukan setiap hari, bisikan gadis-gadis tidak tahu malu itu bisa dengan jelas didengar telinganya.


Sementara itu Mo Xian yang tidak bersalah melihat sekitar sebelum menarik Wu Jiao Xing untuk berjalan-jalan.


 ....... 


Keduanya berjalan di jalanan utama. Mo Xian dengan antusias melihat semua toko-toko yang ada di pinggir jalan.


Sementara Wu Jiao Xing masih mencoba menahan diri untuk tidak memukul Mo Xian sampai pingsan dan membawanya pulang seperti karung beras karena para gadis masih mengikut mereka dari belakang.


Pelayan toko segera menyambutnya.


"Tuan Muda Mo, selamat datang ke toko kami. Tuan Muda Mo, barang seperti apa yang ingin Anda cari?"


Mo Xian melihat-lihat jepit rambut dan kalung perak.


"Nyonya Li tidak akan mau disogok dengan barang seperti ini lagi," ucap Wu Jiao Xing sambil berpangku tangan.


Mo Xian yang sedang bingung memilih sambil memegang dagu, menoleh. Sejenak berpikir, dia sudah membawakan gelang, kalung, jepit rambut dan pewarna bibir. Hampir semuanya sudah dia bawa untuk Li Zhou Ran agar dia tidak mengomelinya saat pulang.


"Lalu, apa yang harus kuberikan padanya kali ini?" tanya Mo Xian dengan wajah polos.


Wu Jiao Xing tidak peduli dan berjalan meninggalkan toko.


Mo Xian yang tiba-tiba ditinggal segera meminta maaf pada pelayan toko sebelum pergi menyusul Wu Jiao Xing.


"Ge!" panggil Mo Xian.

__ADS_1


Wu Jiao Xing tidak menghiraukannya dan terus berjalan ke arah rumah. Dia merasa yakin Mo Xian akan mengikutinya kali ini.


Namun, yang tidak Wu Jiao Xing sangka adalah Mo Xian benar-benar tidak mengikutinya dan sekarang menghilang di dalam kerumunan.


"Sial, anak nakal ini!"


Sementara itu anak nakal yang dimaksud, Mo Xian sebenarnya mengikuti Wu Jiao Xing, tapi tiba-tiba dia melihat seorang pengemis yang diikuti oleh anak pengemis.


Pengemis itu berpakaian lusuh dan kumal, compang-camping dengan tambalan di sana sini. Mo Xian melihat pengemis itu meminta-minta pada setiap orang yang lewat, tapi diabaikan oleh semua orang. Kakinya pincang sebelah dan berjalan dengan susah payah. Sementara anak pengemis hanya diam dan mengikuti ibunya yang tidak lebih baik keadaannya.


Pandangan mereka bertemu, anak pengemis itu memiliki wajah yang kotor, tapi tatapan matanya tajam dengan manik hitam miliknya. Mo Xian tersenyum, melambaikan tangannya pada anak itu dan menghampirinya sebelum menaruh beberapa keping emas di mangkuk ibu pengemis dan mengusap kepala sang anak sebelum pergi ke arah Wu Jiao Xing pergi.


Namun, Mo Xian tidak bisa menemukan Wu Jiao Xing. Jalanan terlalu ramai, tapi dia tidak terlalu khawatir karena Wu Jiao Xing bisa menjaganya sendiri, yang membuat Mo Xian khawatir adalah bagaimana jika ibunya dan ayahnya mengetahui tentang hal ini. Wu Jiao Xing mungkin akan dimarahi dan dihukum setelah ini, lalu yang terburuk Mo Xian mungkin tidak diperbolehkan keluar lagi.


Mo Xian mulai panik saat membayangkan dirinya harus tinggal di rumah seharian dan tidak bisa mendengarkan cerita lagi dari pendongeng kesukaannya. 


Mo Xian mulai mencari Wu Jiao Xing di antara kerumunan sambil memanggilnya.


"Gege!"


"Jiao-ge!"


Mo Xian mencari di sekitar jalan utama. Namun, tetap belum bisa menemukan Wu Jiao Xing dan hari mulai berubah menjadi senja.


Sudah waktunya mereka pulang sebelum ibunya angkat kaki dari rumah untuk menangkap mereka dengan tangannya sendiri.


Saat Mo Xian yang sudah tidak tahu harus melakukan apa untuk menemukan Wu Jiao Xing, tiba-tiba sebuah panah meluncur ke arahnya. Beruntung, seseorang menariknya ke samping sehingga anak panah itu hanya menusuk tanah.


Mo Xian menelan ludah. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya, itu sangat cepat hingga seolah-olah hampir keluar dari dadanya.


"Gege ...."


1240 Kata.


**25 Agustus 2020.


01 September 2020.


Terima Kasih sudah membaca. Jika kamu suka cerita ini, dukung Author dengan Vote, Like, Komen dan Rate bintang 5🌟(。’▽’。)♡ Sampai jumpa di part selanjutnya**.

__ADS_1


__ADS_2