Sang Penjaga : Pendekar Bulan

Sang Penjaga : Pendekar Bulan
Kejutan.


__ADS_3

Saat malam tiba, Nyonya Chen bersama kedua putrinya tidur setelah makan malam di sebuah kamar yang telah disiapkan oleh pelayannya.


Hujan yang turun sejak sore tidak kunjung berhenti dan membawa hawa dingin sehingga para pelayan harus mengeluarkan kain ekstra untuk menghangatkan badan. Takut mereka semua kedinginan, Mo Xian memeriksa sistem penghangat ruangan dan menemukan tungku penghangat yang terhubung dengan seluruh lantai di rumah. Bahkan Mo Xian juga menemukan setumpuk kayu, jadi dia mulai membuat api.


Sementara itu Bai Yue berjaga di teras, menatap hujan dalam gelapnya malam dengan cahaya minim dari sebatang lilin.


Mo Xian kembali memasukan beberapa batang kayu ke dalam tungku saat benang mantra pelindung bergerak dan itu bukan dari kelompok mereka. Pergerakannya halus dan terkesan sedang berjalan-jalan santai seolah tidak peduli bahkan saat melewati ruangan tempat para pelayan tidur, sosok hanya melewatinya dan bergerak mengelilingi ruang tengah.


Xiao Hei yang ada di samping Mo Xian masih tenang sampai saat benang mantra pelindung kembali bergerak, kucing hitam itu mendesis marah hingga bulunya berdiri.


Mo Xian merasa ada yang aneh dengan sikap Xiao Hei. Namun saat dia merasakan getaran mantra pelindung, Mo Xian dapat mengetahui bahwa orang yang sedang berjalan adalah salah satu dari kelompoknya.


Merasa khawatir, Mo Xian kemudian melemparkan satu balok kayu ke dalam tungku sebelum memeriksa sekitar.


Mo Xian berjalan menjelajahi setiap ruangan yang ada di dalam rumah itu. Memeriksa dua ruangan yang bersebelahan dimana Nyonya Chen dan dua putrinya tidur masih terlihat aman. Dia juga memeriksa ruangan dimana para pelayan beristirahat dan melihat para pelayan sudah tertidur lelap. Sampai kemudian bertemu dengan Bai Yue.


"Ada satu orang yang bukan dari kelompok kita."


Mo Xian mengangguk dan menyentuh benang mantra pelindung yang terbuat dari energi spiritual. Mo Xian kemudian menyalurkan lebih banyak pada benang tipis itu hingga terlihat menjadi tali berwarna merah.


"Tapi orang ini tidak melakukan apa-apa, apa menurutmu dia juga orang yang sedang berteduh?" Mo Xian bertanya.


Bai Yue menganggukan kepalanya. "Aku harap begitu, tapi pergerakan Tuan Kong sedikit mencurigakan."


Mo Xian mengangguk, satu orang lagi yang sedang berjalan dan melewati mantra pelindung di malam hari adalah Tuan Kong. Apa yang sedang dia lakukan tengah malam begini, bukannya tidur.


"Aku sudah memeriksa kamar Nyonya Chen dan kamar pelayan. Mereka semua sedang tidur, apa kau sudah memeriksa kamar tiga anak buah Tuan Kong?"


Bai Yue mengangguk. "Aku sudah memeriksanya, tapi aku tidak melihat mereka di sana."


Mo Xian terkejut. "Tapi, aku tidak merasakan kalau mereka keluar dari ruangan mereka."


Bai Yue mengangguk. "Mm, hanya Tuan Kong dan satu orang lain yang sejak tadi berjalan-jalan di rumah ini. Kita harus menemukan mereka segera."


Mo Xian menyetujui, dia kemudian memperkuat mantra pelindung untuk kamar Nyonya Chen dan kamar pelayan sebelum pergi memeriksa kamar tiga anak buah Tuan Kong dimana mantra pelindung memberi tahu keberadaan Tuan Kong.


Namun, saat mereka ada di sana, tidak ada Tuan Kong juga jejak kepergiannya, bahkan mantra pelindung juga tidak dapat merasakan keberadaannya.


Mo Xian dan Bai Yue kemudian memeriksa kamar itu. Namun, mereka tidak menemukan apapun.


"Bagaimana mereka bisa pergi tanpa melewati mantra pelindung?" Mo Xian beratanya-tanya sambil memegang dagu, sesekali melihat ke sekitar dan berhasil menemukan sesuatu yang aneh.


Mo Xian mendekati lemari yang berada di sudut ruangan, menggunakan energi spiritual, Mo Xian membuat api muncul di telapak tangannya.


Bai Yue yang memperhatikan gerak-gerik Mo Xian bertanya, "Apa kau menemukan sesuatu?"


Mo Xian mengangguk saat dia berjonkok dan memeriksa lantai kayu dengan tangannya.


"Lihat debu di lantai ini, sepertinya lemari ini baru saja digerer."


Mo Xian menjelaskan saat melihat sebagian tempat tidak memiliki debu setebal yang lain dan terlihat seperti lemari itu didorong dari tempat asalanya. Mo Xian dan Bai Yue kemudian menggeser lemari itu dan menemukan sebuah jalan rahasia di lantai yang berlubang.


Terdapat tangga di sana, Mo Xian memutuskan untuk turun dan meminta Bai Yue menunggu di atas.


Ruang bawah tanah itu tidak terlalu dalam dan tidak terlalu luas, Mo Xian melihat sekeliling dan tidak sengaja menginjak sesuatu yang keras, itu adalah tulang belulang!

__ADS_1


Mo Xian bahkan hampir melompat karena terkejut dan berteriak, tapi berhasil mencegahnya dengan tangannya.


Mengatasi keterkejutannya, Mo Xian memeriksa tulang belulang yang ada di ruangan itu dan menyadari bahwa selain menemukan tiga tengkorak manusia, Mo Xian juga menemukan tiga pakaian yang digunakan oleh anak buah Tuan Kong.


Penemuan itu membuat Mo Xian menduga-duga apa yang sedang terjadi di sini.


"Tidak mungkin tulang belulang ini milik tiga anak buah Tuan Kong. Tapi, jika pakaiannya di sini, dimana mereka berada sekarang?"


"Mo Xian, apa kau berhasil menemukan sesuatu!"


Mo Xian mendengar teriakan Bai Yue, dia segera melihat ke atas dan menjawab. "Mm, sebentar lagi aku akan naik!"


Mo Xian kemudian mengumpulkan tulang belulang dan pakaian itu dalam satu wadah. Namun, saat dia hendak membawa tulang belulang itu pergi, suara Xiao Hei menghentikannya.


"Meow."


Mo Xian memperhatikan kucing hitamnya tengah menggaruk sebuah tas yang tergeletak di sudut dinding.


Mo Xian pikir itu hanya tas lusuh yang ditinggalkan penduduk desa, jadi dia tidak memperhatikannya. Namun, saat Xiao Hei menggaruk tas itu hingga masuk ke dalam tas, Mo Xian mau tidak mau mengambil tas itu dan mengeluarkan Xiao Hei dari dalam tas.


"Apa yang kau lakukan, Xiao Hei?"


Kucing hitam itu berhasil ditarik keluar, tapi mulut Xiao Hei menggigit sesuatu.


Mo Xian mengambilnya, itu kertas lusuh yang dilipat menjadi empat lipatan dan saat Mo Xian melihatnya, dia tidak bisa untuk tidak terkejut hingga kedua matanya membola.


Jantungnya berdetak lebih kecang dari sebelumnya, menatap tidak percaya pada kertas itu. Di atas kertas itu tergambar pola mantra yang mirip dengan yang ada di balik topeng.


Terburu-buru Mo Xian segera menyimpan kertas itu di dalam sakunya dan membawa tas juga tulang belulang manusia yang dia temukan.


Keadaan terlihat tidak bagus, Nyonya Chen memeluk kedua putrinya, ketakutan. Di depannya, para pelayan memasang badan takut-takut. Di depannya lagi Bai Yue memasang posisi siaga pada pria yang yang ada di depannya.


Pria itu terlihat masih muda dengan tubuh yang bugar dan wajah yang lumayan tanpan. Namun, dari pakaiannya Mo Xian bisa mengenalinya bahwa pakaian itu adalah pakaian Tuan Kong.


"Tuan Pembudidaya Abadi." Pria itu berbicara dengan senyum lebar di wajahnya, tangannya yang memegang sebilah pedang mengayunkan pedangnya.


"Mari lupakan kejadian hari ini dan biarkan aku mendapatkan dua gadis itu."


Bai Yue tersenyum sinis. "Bermimpilah!"


Bai Yue kemudian melompat dan mulai menyerang, pedang biru miliknya berbenturan dengan pedang milik pria itu.


Mo Xian memperhatikan keduanya yang mulai bertarung, dia kemudian mendekati Nyonya Chen dan dua putrinya.


"Dari mana saja kau! Suamiku membayarmu untuk melindungi kami!" Nyonya Chen berteriak marah.


Chen Meiyin yang melihat Mo Xian langsung melemparkan diri ke dalam pelukan Mo Xian.


"Tuan Pembudidaya Abadi, aku ketakutan! Tolong aku!"


Mo Xian dipeluk dengan sangat erat sampai kesulitan bergerak, tapi dia kemudian mengusap punggung Chen Meiyin dan menatap Nyonya Chen.


"Maafkan aku, ada hal yang perlu aku urus, untuk saat ini diamlah di sini sebentar."


Mo Xian kemudian melepaskan pelukan Chen Meiyin dan mengetuk dahi Chen Meiyin ringan. "Nona Muda tenang saja, semua akan baik-baik saja."

__ADS_1


Setelah mengatakan itu, Mo Xian bergabung ke dalam pertarungan. Menyerang pria yang tidak dikenal hingga keluar dari jendela.


Hujan masih mengguyur di malam yang gelap. Suara pedang yang beradu mengisi kesunyian.


Kemampuan pria itu dalam bertarung sangat bagus, tapi tetap tidak mungkin untuknya menang melawan dua orang sekaligus.


"Dua Tuan Pembudidaya Abadi sangat keras kepala, kenapa kalian harus mengganggu rencanaku!" Pria itu berkata marah, dengan agresif melancarkan serangan pada Mo Xian dan Bai Yue.


Mo Xian dan Bai Yue menatap pria itu dengan tatapan waspada mengabaikan hujan yang sudah membasahi seluruh tubuh mereka.


"Apa yang sebenarnya terjadi, siapa pria itu?" Mo Xian akhirnya bertanya pada Bai Yue karena dia tidak bisa menahan rasa ingin tahunya lebih lama lagi.


Bai Yue menjawab tanpa menatap Mo Xian. "Percaya atau tidak dia adalah Tuan Kong."


Mo Xian tidak terlalu terkejut, sejak awal dia memiliki dugaan kalau pria itu adalah Tuan Kong dari apa yang pria itu pakai. Namun, perubahan Tuan Kong benar-benar tidak terduga, tidak hanya itu Tuan Kong ternyata dia juga sangat pandai bertarung.


"Jadi itu benar, aku pikir dia orang lain."


Di sisi lain Tuan Kong tersentum sinis. "Dua Tuan Pembudidaya Abadi sebaiknya tidak ikut campur dengan urusan ini."


Bai Yue balik tersenyum sinis. "Lalu apa yang harus kami lakukan, kenapa Tuan Kong tidak menyerah dan kami akan memberi kompensasi."


Tuan Kong meludah ke samping. "Pei! Kompensasi pantat kalian! yang aku inginkan adalah darah dua gadis kembar itu. Tidak ada yang bisa menggantikan itu!"


"Kenapa Tuan Kong menginginkan darah mereka?"


Tuan Kong kembali tertawa terbahak-bahak. "Apa kalian akan membiarkanku mengambil darah mereka jika aku memberitahu kalian."


Selesai mengatakan itu, Tuan Kong kembali menyerang. Harus diakui Mo Xian, kemampuan Tuan Kong sangat baik, bahkan bisa mengimbanginya dan Bai Yue benar-benar luar biasa. Namun, pada akhirnya Mo Xian memutuskan untuk memukul beberapa titik penting dalam tubuh Tuan Kong untuk melumpuhkannya termasuk titik mingmen Tuan Kong secara tidak sengaja.


Itu benar, Mo Xian tidak bermaksud untuk menyerang titik mingmen Tuan Kong karena tiba-tiba Tuan Kong bergerak ke arahnya saat dia hendak memukul bagian lain karena menghindari serangan Bai Yue.


•Mingmen / gerbang vitalitas adalah titik akupuntur yang dikatakan sebagai tempat esensi kehidupan asli individu tersebut berada. Kemampuan kita untuk menjadi hangat dikatakan berasal darinya, sehingga kita berhenti hidup jika kehangatan itu padam.


•Info lebih lengkap bisa dibaca di sini http://klinikalangalang.blogspot.com/2011/12/ming\-men\-fire\-of\-gate\-of\-life.html?m\=1)


Itu membuatnya terkejut hingga ketakutan kalau dia mungkin telah membunuh orang, tapi melihat Tuan Kong sebenarnya tidak terpengaruh sama sekali justru membuatnya lebih terkejut.


"Bagaimana ini bisa terjadi?" Mo Xian bertanya-tanya sebelum tersadar dan membentuk pola dengan aliran energi spiritualnya di udara, layaknya kertas mantra pola itu terbang dan berhasil mengenai punggung Tuan Kong yang sedang bertarung dengan Bai Yue, dan seketika berhenti bergerak setelah mantra itu berhasil menempel di punggungnya.


"Pembudidaya Abadi sialan! Terkutuk kalian berdua!" Tuan Kong memaki Mo Xian yang berjalan ke sisi Bai Yue dan memperhatikan Tuan Kong yang kini berhenti bergerak layaknya patung, menyisakan mulut untuk berbicara.


Bai Yue menatap heran, tapi tidak melepaskan posisi siaga.


"Apa yang telah kau lakukan padanya?" tanya Bai Yue.


Mo Xian menoleh, mengusap wajahnya yang basah karena air hujan. "Aku memberinya mantra."


"Mantra apa?"


"Sialan! Dari mana kau tau bahwa aku bukan manusia!"


Mo Xian tersenyum. "Aku tidak sengaja memukul mingmen milikmu dan kau masih bisa bergerak, jelas kau bukan manusia melainkan hantu yang memakai tubuh Tuan Kong."


04 Oktober 2020.

__ADS_1


__ADS_2