Sang Penjaga : Pendekar Bulan

Sang Penjaga : Pendekar Bulan
Salah dia.


__ADS_3

Hari-hari berlalu di desa Air Biru tanpa bisa melihat langit karena desa Air Biru memang terletak di dalam gua.


Zhang Rouran keluar dari kamar Mo Xian dan segera disambut oleh Bai Yue yang khawatir.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Bai Yue dengan wajah cemas.


Zhang Rouruan terlihat sangat kelelahan, bulu matanya turun saat menjawab. "Dia belum sadarkan diri, tapi baik-baik saja, setidaknya untuk saat ini, ibuku bilang luka yang dibuat oleh guru cukup serius walaupun pendarahannya telah berhenti, Mo Xian tetap kehilangan banyak darah dan butuh waktu untuk sembuh dan melewati masa kritis."


Zhang Rouran kemudian berjalan meninggalkan Bai Yue menuju Aula Kolam Air Biru. Bai Yue menatap pintu kamar Mo Xian yang tertutup dan dengan enggan berjalan pergi menyusul Zhang Rouruan.


Di Aula Kolam Air Biru, banyak orang berlalu lalang dengan sibuk menyediakan sumber daya. Bai Yue melihat Zhang Rouruan kini duduk di samping Bai Ruo di tepi kolam dan menghampiri mereka.


"Bagaimana keadaan di luar?" tanya Bai Yue.


Bai Ruo mengangkat kepalanya dengan wajah masam menjawab, "Di luar sangat kacau, mereka benar-benar membuat pasukan yang sangat mengerikan."


Bai Yue menghela napas mengerti dengan keadaan yang sedang terjadi, dia sendiri juga telah melihat dengan mata kepalanya sendiri, di luar perang sedang terjadi.


Orang-orang dengan mantra penyambung jiwa mungkin berpikir bahwa mereka telah menemukan apa yang mereka cari dan tidak ingin kehilangan targetnya lagi, darah Mo Xian yang ditumpahkan Bao Yu memicunya. Mereka secara terang-terangan mengungkap keberadaan mereka ke publik dan membawa kekacauan bagi para Pembudidaya Abadi, dan membawa ketakutan bagi manusia biasa.


Ini juga berhubungan dengan gurunya—Bao Yu dan Wu Jiao Xing yang meledakkan dirinya sendiri, bagaimanapun juga ledakkan itu sangat kuat dan tidak mungkin jika itu tidak menarik perhatian orang lain untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi.


Bagaimanapun juga, Pembudidaya Abadi dari golongan putih tidak akan pernah membiarkan Pembudidaya Abadi dari golongan hitam membuat kerusakan.


"Kenapa orang-orang itu mengenginginkan-"


"Kita sudah membicarakan ini Bai Ruo, kita tidak akan membicarakannya lagi." Bai Yue segera memotong ucapan Bai Ruo.


Bai Ruo menatap kesal pada kakak laki-lakinya. "Gege, apa kau membelanya sekarang. Ingat apa yang guru katakan sebelumnya, karena dia semua ini terjadi."


Bai Yue menatap tajam adik laki-lakinya. "Kita memiliki guru yang sama, kita adalah saudara bagaimana aku tidak membelanya? A Ruo, guru tidak pernah mengatakan dia adalah penyebab semua ini."


Bai Ruo terkekeh, sedikit menghina. "Ada apa dengan Gege, kau tidak seperti ini sebelumnya, sejak awal dia adalah musuh yang harus Gege kalahkan dan Gege lampaui! Apa Gege merasa kasihan padanya sekarang, saudara seperguruan, pantatku!"


"Bai Ruo!" Bai Yue menaikkan nada bicaranya, sangat marah mendengarkan adikknya telah melampaui batas.


"Apa!" Bai Ruo tidak ingin mengalah dengan berani menatap mata Bai Yue dan meninggikan suaranya.

__ADS_1


Zhang Rouran yang berada di tengah merasakan suasana di antara dua bersaudara itu mulai tidak baik dan mencoba menenangkan dengan menarik lengan Bai Ruo, berencana memisahkan kedua orang itu sebelum situasinya menjadi tidak terkendali. Namun, niat baiknya ditolak dengan kasar oleh Bai Ruo yang menepis tangannya.


"Dia telah menipu semua orang, apa dia pantas disebut sebagai saudara seperguruan kita?" Bai Ruo mengangkat kepalanya untuk menatap wajah Bai Yue yang lebih tinggi sambil menepuk dadanya.


"Guru ... guru telah mengikat kita dengan janji bahwa kita harus membagi segalanya, menjaga satu sama lain dan tidak menyembunyikan apapun!"


Mata Bai Ruo mulai berkaca-kaca membuat Bai Yue kehilangan akalnya, tidak bisa berkata-kata karena untuk pertama kalinya dia melihat adik laki-lakinya menangis di depannya.


Adik yang memiliki mulut besar dan tidak terjaga, selalu mengedepankan harga diri serta kesombongannya untuk tidak menunjukkan kelemahannya di depan orang lain meneteskan air mata di depannya. Hatinya sakit untuknya.


"Tapi dia menyembunyikan identitasnya selama ini, untuk apa dia berpura-pura sebagai anak laki-laki? Kenapa dia melakukan ini dan membawa semua bencana ini, guru dan Wu Jiao Xing mati untuknya!"


"Tidak, mereka mati karenanya!"


Bai Ruo berteriak hingga dadanya naik turun dan wajahnya memerah, menatap Bai Yue yang masih terdiam.


Bai Yue menghela napas, dia bisa mengerti perasaan adiknya dan mengetahui sifat anak itu lebih baik dari siapapun. Anak laki-laki yang keras kepala dan Bai Yue tidak yakin dia bisa mengubah pikiran Bai Ruo. Karena berdebat bukanlah cara untuk mengontrol anak itu. Jadi dia berkata,


"Semuanya sudah terjadi, A Ruo. Apapun hubungan ini dengan Mo Xian dan kenapa dia berpura-pura sebagai anak laki-laki, kita bisa bertanya padanya saat dia sudah sadar. Tidak ada gunanya kau marah, tidak akan ada jawaban yang bisa kau dapatkan. Beristirahatlah dan tenangkan pikiranmu."


Bai Ruo membuang wajah sebelum berkata, "Di luar sedang dalam kekacauan total dan Gege memintaku untuk beristirahat, dan menenangkan pikiranku? Aku lebih baik bertarung dan mati di dalam medan pertempuran!"


Bai Yue menghela napas panjang, dia kemudian menepuk punggung Zhang Rouruan dan berkata, "Tolong jaga dia," ucapnya sebelum menyusul Bai Ruo setelah mendapat persetujuan dari Zhang Rouruan yang menganggukkan kepalanya.


———————


Keadaan di luar desa Air Biru benar-benar sangat kacau, orang-orang bertopeng mantra penyambung jiwa berkeliaran dimana-mana, bertarung dengan para pembudidaya abadi dari sekte-sekte terdekat.


Banyak korban jiwa berjatuhan dan orang-orang terluka yang sudah tidak bisa lagi dihitung jumlahnya.


Ini adalah hari ketujuh sejak orang-orang dengan mantra penyambung jiwa melakukan serangan. Perguruan hutan bambu sudah rata dengan tanah, bahkan tidak akan ada yang tahu bahwa di sana pernah ada sebuah perguruan karena ledakkan yang terjadi sebelumnya telah memporak-porandakan tempat itu beserta hutan yang ada di sekitarnya menjadi gundul.


Bai Ruo bertarung seperti orang gila bersama para pembudidaya abadi lainnya, bahkan orang-orang dengan kagum melihat bagaimana anak yang masih begitu muda terlihat seperti tidak memiliki rasa takut.


Berteriak keras saat menyerang lawannya, tidak memedulikan dirinya sendiri saat pedang dan senjata lawan menggores tubuhnya. Dia seperti se-ekor singa kelaparan yang baru dilepas dari kandangnya, begitu haus dan lapar sehingga tidak memedulikan hal lain.


Bahkan jika musuhnya berada di level yang lebih tinggi darinya, Bai Ruo tetap tidak takut!

__ADS_1


Bunuh! Bunuh! Bunuh!


Bunuh lebih banyak lagi musuh!


Lenyapkan mereka!


Sikapnya benar-benar membuat Bai Yue ketakutan, adikknya mungkin akan mati jika dia tidak berperan sebagai orang yang memberi perlindungan padanya. Luka yang diterima Bai Ruo sangat banyak hingga darahnya mengalir seperti sungai mengotori baju dan kulitnya, tapi anak itu tidak ingin mundur.


"Mundur!" teriak Bai Yue.


Bai Ruo tidak peduli, mengabaikannya, pedang biru yang dia genggam dengan sangat kuat mengeluarkan cahaya biru yang membuat orang-orang yang ada di sekitarnya kedinginan.


Dengan garang, Bai Ruo berteriak dan mengayunkan pedangnya, cahaya biru muncul membelah udara dan melesat memotong lima musuhnya menjadi sepuluh bagian.


Orang-orang yang melihatnya ketakutan dan mengagumi keahlian Bai Ruo, tapi tidak ada yang memujinya, mereka sibuk dengan lawan mereka masing-masing!


"Aku bilang mundur!" Bai Yue tidak tahan lagi, jadi dia menarik tangan Bai Ruo yang menegang.


"Lepaskan aku!" Bai Ruo mencoba menarik tangannya.


Bai Yue tidak ingin mengalah, dia menggenggam erat tangan adiknya, tidak peduli seberapa kuat Bai Ruo mencoba menarik dan melepaskan diri, Bai Yue tidak akan melepaskannya!


"Lihat dirimu, kau terluka dan harus segera diobati!"


Bai Ruo menatap marah. "Orang-orang Embun Salju Abadi tidak takut pada luka dan kematian, Gege harus ingat yang mereka takuti adalah kekalahan! Lepaskan!"


Bai Ruo dengan berani melepaskan serangan pada Bai Yue dengan membuat beberapa senjata es dan melompat masuk ke dalam pertempuran, mencari musuh, dan merebut musuh dari orang lain seperti orang gila.


Bai Yue menatap dengan putus asa meski dia telah melihat bagaimana Bai Ruo telah tumbuh menjadi orang yang lebih kuat dan lebih kuat lagi setelah menjadi murid Bao Yu.


Bai Yue mengerti, Bao Yu telah memasuki ruang hati adik laki-lakinya dan menjadi orang yang sangat dihormati setelah Bai Xue dan dirinya.


Bai Yue mengerti, Bai Ruo merasakan kehilangan yang begitu besar dengan kepergian guru dan Wu Jiao Xing sebagai musuh utamanya.


Bai Ruo selalu mengatakan padanya bahwa dia akan mengalahkan Wu Jiao Xing dan menginjak kesombongan orang itu, karena itu dia berlatih begitu keras untuk melampaui Wu Jiao Xing. Namun, anak itu tidak pernah menyangka bahwa orang yang dia injak kesombongannya memilih bunuh diri demi menyelamatkan nyawanya, sudah pasti dia merasa terhina.


Namun, dari pada itu dia sebenarnya merasa lebih sedih, karena baginya Wu Jiao Xing adalah pemicu semangatnya untuk giat berlatih, tapi sekarang orang itu telah menghilang dari dunia.

__ADS_1


Karena itu, Bai Ruo sangat marah, seolah membunuh musuh-musuh yang ada di depan matanya tidak akan pernah cukup untuk menuntaskan rasa kesalnya.


__ADS_2