
Butuh waktu empat hari untuk menuruni gunung sebelum sampai di kota terdekat karena Mo Xian menolak untuk digendong Li Huan dan memilih berjalan kaki. Mo Xian tidak ingin membuat luka Li Huan bertambah parah karena terus menggendongnya di setiap perjalanan dan menggunakan tenaga dalamnya untuk meringankan tubuh.
Dari novel web yang pernah Mo Xian baca di kehidupan sebelumnya. Dikatakan para kultivator menggunakan tenaga dalam untuk semua aksinya, dan untuk mendapatkan tenaga dalam mereka harus berkultivasi untuk waktu yang lama sebelum mencapai apa yang disebut keabadian, dimana seorang kutivator bisa membuat dirinya tampak lebih muda meski aslinya sudah tua.
Bahkan Mo Xian pernah membaca bahwa para kultivator bisa berusia sampai ratusan tahun. Jika Mo Xian bisa mempelajari ilmu mereka, Mo Xian juga akan dengan senang hati terus tampil awet muda di sepanjang hidupnya. Sekarang, sepertinya Mo Xian mulai memiliki arah tujuan hidup, kultivator. Pembudidaya abadi.
Di sisi lain, Li Huan merasa sangat tersentuh dengan sikap Mo Xian, saat dirinya menawarkan diri untuk menggendongnya menuruni gunung. Mo Xian dengan lembut menolak tawarannya.
"Paman, perhatikan diri Paman lebih baik lagi. Bukankah Paman bilang 'yang hidup bertanggung jawab untuk dirinya sendiri'.
Aku berterima kasih karena Paman telah menggendongku sejauh ini, tapi Paman juga butuh waktu untuk beristirahat agar luka-luka Paman tidak menjadi lebih buruk.
Sekarang, bagaimana kalau kita berjalan santai menuruni gunung. Bukankah Paman bilang tidak lama lagi kita akan sampai di kota?
Jangan meremehkan kaki kecilku, Paman, saat bersama Mo Shan-Xiansheng aku sudah pernah mendaki dan menuruni gunung sebelumnya," ucap Mo Xian setengah berbohong.
Li Huan tersenyum melihat Mo Xian kecil sekarang sedang memijat kaki kecilnya setelah mereka sampai di sebuah rumah makan dan beristirahat di sana.
Li Huan memperhatikan dengan lega bahwa seiring berjalannya waktu, Mo Xian sepertinya telah berhasil menghadapi perasaan sedihnya. Li Huan lagi-lagi tidak bisa untuk tidak kagum pada anak yang katanya baru berusia lima tahun, tapi sikapnya benar-benar sudah sangat dewasa dan bijaksana. Siapapun itu laki-laki bernama Mo Shan, Li Huan berterima kasih karena telah mendidik seorang anak yang sangat baik dan menggemaskan.
"Apa kakimu sakit?" tanya Li Huan.
Mo Xian yang sedari tadi memijat kakinya sendiri menatap Li Huan yang duduk di seberang meja meletakan kembali cangkir tehnya dan bergeser mendekatinya.
Mo Xian dengan malu mengangguk, ini pertama kalinya dia menuruni gunung selama empat hari dengan kaki kecilnya. Kakinya terasa sangat pegal dan kaku.
Li Huan tersenyum, dengan perhatian dia mengulurkan tangannya dan meraih kaki kecil Mo Xian, mengurutnya perlahan-lahan.
"Xian'er anak yang baik. Karena khawatir luka paman menjadi buruk, Xian'er harus rela berjalan kaki selama empat hari. Paman merasa tidak enak hati."
"Tidak, aku baik-baik saja. A Xian dan Mo Shan-Xiansheng sering melakukan perjalanan sebelumnya, Paman jangan merasa tidak enak hati pada A Xian," ucap Mo Xian yang sedang dipijat merasa kakinya lebih baik.
Li Huan kembali tersenyum. Anak yang dia temukan benar-benar anak yang luar biasa. Dia sangat bersyukur karena dewa menulis takdir untuk mempertemukan mereka.
"Baiklah, paman akan memijatmu sampai kakimu menjadi lebih baik. Setelah itu, kita bisa menyewa penginapan untuk istirahat dan paman akan mencarikan obat untuk kakimu agar menjadi lebih baik lagi."
Mo Xian mengangguk setelah mengatakan terima kasih. Setelah itu, Li Huan benar-benar menyewa sebuah kamar dan meninggalkan Mo Xian sendirian sementara Li Huan pergi mencari obat.
Mungkin karena lelah setelah perjalanan panjang, Mo Xian tidur lebih awal sambil menahan rasa sakit. Namun, di tengah malam saat dia terbangun karena rasa sakit di kakinya, dia merasa sesuatu yang dingin tapi nyaman merawat kakinya hingga rasa sakit itu perlahan hilang. Mo Xian tidak tahu siapa yang melakukan itu karena dia tidak ingin membuka matanya setelah mendapatkan rasa nyaman.
Keesokan harinya Li Huan membawa Mo Xian untuk sarapan dan menyewa kereta kuda dan pergi ke suatu tempat yang Mo Xian tidak tahu.
Mo Xian menatap keluar jendela, kereta itu sudah berjalan cukup jauh, keluar dari pintu gerbang kota dan sekarang kereta mulai melewati jalan yang membelah hutan.
"Paman, kita akan kemana?" tanya Mo Xian pada akhirnya. Sejak mereka masuk kereta, Li Huan tidak mengatakan apa-apa, sepertinya laki-laki itu sedang ada hal dalam pikirannya.
__ADS_1
Li Huan yang sedari tadi memang berkutat dengan pikirannya sendiri segera tersadar dan menatap Mo Xian.
"Kita akan pergi ke kota empat batu. Di sana paman tinggal."
Mo Xian mengangguk. Dia kemudian teringat suatu hal bahwa mereka sebenarnya belum terlalu banyak bicara sebelumnya.
"Dengan siapa Paman tinggal?"
"Paman tinggal bersama istri paman, dia akan sangat senang saat melihatmu nanti."
Wajah Mo Xian menggelap, entah kenapa dia merasa bahwa dirinya sedang dijadikan oleh-oleh untuk seseorang.
"Lalu, adik Paman ...,"
"Adik-adik Paman semuanya sudah berkeluarga. Kami hidup terpisah sekarang."
Mo Xian mengangguk, dia mengelus Xiao Hei yang sejak tadi duduk diam di pangkuannya.
"Apa tempatnya masih jauh?"
Li Huan tersenyum.
"Tidak, sebentar lagi kita akan sampai. Apa Xian'er merasa tidak enak badan atau mabuk kereta?"
Mo Xian segera menggelengkan kepalanya.
Li Huan tersenyum sebagai balasan dan tidak lama setelah itu, mereka benar-benar sampai di tempat tujuan.
Kereta kuda berhenti di sebuah pintu gerbang dan seorang pelayan segera membukakan pintu kayu yang terlihat sudah sangat tua, tapi masih kokoh.
Li Huan membantu Mo Xian turun dan membawanya masuk melewati halaman rumah yang sangat luas yang ditumbuhi pohon buah persik yang sedang mekar.
Pelayan yang membukakan pintu tidak membantu membawakan barang karena baik Li Huan dan Mo Xian tidak ada satupun dari mereka yang membawa barang. Namun, dia segera berlari ke halaman dalam dan meneriakan kepulangan Li Huan.
"Tuan telah kembali! Tuan telah kembali!"
Seisi rumah yang sebelumnya sepi, berubah menjadi ramai. Para pelayan rumah sibuk pergi ke depan untuk memberikan sambutan sementara seorang wanita dengan dandanan yang lebih berjalan buru-buru hingga lupa dengan rambut yang belum sepenuhnya ditata.
Wanita itu dengan tergesa-gesa berjalan ke ruang depan, para pelayan nampak berkerumun di sana, dengan sedikit kesal wanita itu mencoba membubarkan kerumunan.
"Aiya, apa yang kalian lakukan di sini. Apa tidak ada yang bisa kalian kerjakan saat ini. Kalian selalu saja bermalas-malasan ...," Wanita itu berhenti mengomel saat dia berhasil maju ke depan setelah menyingkirkan beberapa pelayan dan melihat suaminya--Li Huan--tengah berlutut di samping seorang anak kecil yang sedang menggendong kucing hitam.
Melihat istrinya, Li Huan tersenyum dan berbicara pada Mo Xian.
"Xian'er ...,"
__ADS_1
"Aiya, apa ini?" Namun perkataannya segera dipotong oleh istrinya.
Wajah wanita itu menggelap, terhuyung ke belakang dan hampir jatuh. Beruntung gerakan Li Huan cepat dan berhasil menyokongnya.
"Laopo, ada apa denganmu? Apa kamu merasa tidak sehat?" tanya Li Huan khawatir.
Mendapat pertanyaan seperti itu, wanita itu segera berdiri tegak dan menepis Li Huan, menatapnya dengan dingin sebelum memegangi dahinya.
"Aiya, Laogong! Beraninya kau berselingkuh dariku dan membawa anakmu ke rumahku! Wanita yang hebat ini tidak bisa menerimanya!" keluhnya.
Li Huan yang mendengar ucapan istrinya segera mengerti dan tertawa sedikit lebih keras.
"Laopo, kamu telah salah paham," ucapnya.
Wanita itu mengibaskan lengan bajunya. "Bohong, empat bulan kau tidak pulang ke rumah dan kau pulang dengan seorang anak. Bagaimana kamu akan menjelaskan!"
Li Huan mencoba menahan tawa. "Lalu bagaimana aku menjelaskan seorang anak yang lahir dan tumbuh dewasa dalam empat bulan?"
Mendengarnya, pikiran wanita itu seolah disinari lentera yang masih baru. Dia kemudian menatap dengan bingung pada suaminya dan Mo Xian secara bergantian.
"Lalu siapa anak ini? Kenapa kamu membawanya pulang?"
Mo Xian tidak mengira akan dituduh sebagai anak hasil hubungan gelap. Suara lantang dari wanita yang diseret Li Huan ke dalam kamar masih terdengar bahkan setelah Li Huan menyuruh pelayan agar melayani Mo Xian di ruang tamu.
Setelah beberapa saat menunggu, Mo Xian yang saat itu sedang makan kue kering tiba-tiba dipeluk oleh seorang wanita yang sejak tadi marah-marah.
"Aiya, anakku yang malang. Mulai saat ini wanita yang hebat ini tidak akan membiarkanmu terluka lagi!"
Mo Xian merasa tidak nyaman dengan perlakuan yang tiba-tiba. Wanita itu memeluknya dan mengusapnya sambil mengatakan hal-hal yang kurang jelas seperti,
"Aku akan menyayangimu."
"Aku akan merawatmu dengan baik."
"Kamu akan mendapat seluruh cinta dari seluruh rumah dan kota ini."
Awalnya Mo Xian tidak mengerti apa maksud dari wanita itu, saat ia mencari jawaban dengan menatap Li Huan, laki-laki itu hanya tersenyum dengan mata berkaca-kaca.
Namun, setelah itu dia segera mengerti bahwa Li Huan dan istrinya--Li Zhou Ran-- ingin mengangkatnya sebagai anak karena mereka belum dikaruniai anak.
Mo Xian tidak tahu harus bagaimana menanggapi keinginan mereka, tapi setelah dia memikirkan kembali bahwa nasib baik sebenarnya telah mengikutinya sejak dia pindah ke dunia ini.
Di hari pertama dia hampir mati, Mo Shan menyelamatkannya. Saat Mo Shan menghilang, Li Huan muncul dan menyelamatkannya, dia juga masih berhutang budi pada kebaikan Li Huan, dengan begitu Mo Xian akhirnya menerima keinginan Li Huan dan Li Zhou Ran. Namun, dengan syarat bahwa dia tidak bisa menempatkan nama keluarga Li di dalam namanya karena Mo Xian ingin memiliki satu-satunya nama dari Mo Shan.
Li Huan dan istrinya tidak keberatan dengan itu. Lagi pula, seluruh kota sudah tahu bahwa tuan muda Mo Xian adalah kekasih surga putra keluarga Li.
__ADS_1
Dibuat 24, Agustus 2020.
Diedit 25, Agustus 2020.