Sang Penjaga : Pendekar Bulan

Sang Penjaga : Pendekar Bulan
Kembali ke rumah.


__ADS_3

Mo Xian berpisah dengan Nyonya Hu di berbatasan kota, dia bahkan memberikan sebuah peta untuk Mo Xian agar tidak tersesat di perjalanan, karena Tuan Kong dan ketiga anak buahnya telah mati.


Memasuki area pesawahan rombongan mereka terus berjalan dan melihat banyak hal. Memandang para petani yang sedang menanam padi dan anak-anak yang berlarian bermain sambil menunggu orang tua mereka bekerja, Mo Xian kembali memikirkan perkataan Nyonya Hu.


"Mantra itu milik hantu yang memakai tubuh Tuan Kong, aku pikir dia terburu-buru setelah mengambil kehidupan tiga anak buahnya. Bagaimanapun, hantu itu sepertinya membutuhkan dua darah gadis perawan agar bisa hidup lebih lama dalam tubuh manusia."


Mo Xian bisa mengerti, dia pernah membaca bahwa hantu akan membutuhkan darah gadis perawan dan darah perjaka untuk mempertahankan hidupnya dalam bentuk manusia. Saat mereka mengkonsumsi darah perawan, penyamaran hantu akan sangat sulit untuk diketahui. Bahkan kultivator hebatpun akan sulit untuk mengetahuinya.


Membiarkan pikirannya mengembara dan masih belum menemukan titik temu, Mo Xian melihat kembali mantra itu dan melipatnya kembali sebelum menyimpannya. Nyonya Hu berjanji bahwa dia akan membantu Mo Xian untuk menemukan dari mana hantu-hantu itu mendapakan mantra itu.


Walaupun Aliansi Merak juga sedang berusaha mencari siapa dalang di balik mantra darah itu, Nyonya Hu mengatakan akan sulit bagi manusia untuk mencari informasi di kalangan hantu. Itu akan lebih mudah jika binatang iblis yang melakukannya, karena mereka telah terbiasa berbaur.


"Mo Xian."


Mo Xian menoleh untuk melihat Bai Yue yang berjalan di sisinya.


"Hmm?"


"Ada pertigaan di depan."


Mo Xian melihat ada pertigaan jalan di depan sana dan segera memeriksa peta. "Kita jalan lurus."


Bai Yue mengangguk, mengendarai kudanya dengan tenang. Setelah kepergian Tuan Kong, perjalanan mereka terasa lebih mudah.


"Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Bai Yue.


"Huh?" Mo Xian menoleh.


"Sejak tadi kau terlihat tidak fokus, apa wanita rubah itu membuatmu seperti ini?"


Mo Xian menggelengkan kepalanya. "Tidak, hanya memikirkan tentang hal lain," jawabnya bohong.


Bai Yue menatap Mo Xian sejenak seperti mencoba mencari kebohongan darinya. Namun, dia hanya menghela napas dan melanjutkan perjalanan.


Perjalanan mereka berjalan lancar hingga sampai tempat tujuan setelah dua hari. Chen Meiyin dan Chen Xiaomei banyak bertanya pada Mo Xian saat Nyonya Chen tidur di dalam kereta. Kemudian dua gadis itu akan kembali diam dan duduk manis saat mendengar Nyonya Chen memanggil mereka.


Setalah mengantar Nyonya Chen sampai di kediamannya, Chen Meiyin dan Chen Xiaomei memaksa Bai Yue dan Mo Xian untuk menginap. Namun, mereka menolak dengan sopan.


"Ada hal yang harus kami lakukan di Bai Lian. Maafkan kami karena harus menolak kebaikan kalian."


Nyonya Chen masih terlihat tidak senang. Namun, Kakek Chen yang gembira melihat dua cucunya kembali dengan selamat mencoba memaksa Mo Xian dan Bai Yue tinggal sebagai ucapan terima kasih. Pria tua yang ceria itu bahkan berteriak pada seluruh pelayan untuk memasak makanan enak dan membeli daging paling mahal di pasar untuk menjamu dua tamunya.


Namun, Mo Xian dan Bai Yue tetap menolak.


"Maafkan kami, kami benar-benar tidak bisa memerima kebaikan Tuan. Kami harus segera kembali dan melapor pada guru kami."


Mendengarnya, Kakek Chen dan dua cucunya sangat kecewa. Terutama Chen Meiyin, dia sudah berencana untuk memaksa kakeknya agar menjadikan Mo Xian sebagai gurunya sebelum menjadi tunangannya di masa depan, tapi otaknya terlalu dangkal dan hanya bisa menelan rasa pahit.

__ADS_1


"Baiklah, baiklah, dua Tuan Pembudidaya Abadi begitu sibuk. Aku sangat berterima kasih karena kalian telah membawa keluargaku dengan selamat. Namun, sebagai ucapan terima kasih aku tidak ingin dua Tuan Pembudidaya Abadi menolak yang satu ini."


Nyonya Chen menjadi satu-satunya yang paling tidak bahagia saat melihat ayah mertuanya tidak hanya memenuhi kuda Mo Xian dan Bai Yue dengan oleh-oleh seperti bekal untuk diperjalanan, hasil tani, buah-buahan hingga daging asap dengan kualitas terbaik, ayah mertuanya bahkan memberi mereka kantung merah berisi koin emas.


Nyonya Chen mencoba menasehati ayah mertuanya dengan mengatakan kalau mereka telah dibayar oleh putranya. Namun, Nyonya Chen justru dimarahi oleh ayah mertuanya karena tidak tahu berterima kasih, orang jahat hampir mengambil cucunya dan dua orang ini telah menolongnya, keluarga mereka selalu mengajarkan untuk membalas budi, bahkan uang dalam kantung merah masih belum cukup jika dibandingkan dengan dua cucu yang mereka selamatkan.


Setelah berpamitan, keduanya memulai perjalanan kembali ke Bai Lian dengan banyak barang dan beberapa keping koin emas di dalam kantung merah.


Yang paling bahagia di sini adalah Xiao Hei yang dengan gembira memeluk daging asap yang bahkan lebih besar dari tubuhnya. Namun, Mo Xian tidak memberikan semua daging asap itu dan memberinya sedikit demi sedikit, kadang Xiao Hei akan mengeong sebagai bentuk protes dan mengulurkan cakarnya untuk memita lebih, tapi Mo Xian masih dalam pendiriannya.


"Makan secukupnya, Xiao Hei, atau kau akan menjadi kucing gemuk di masa depan."


Xiao Hei hanya mengeong sebagai jawaban dan bertindak dengan duduk di bagian belakang kuda, mengabaikan Mo Xian.


"Kucingmu seperti bukan kucing biasa, apa dia juga binatang ajaib?"


Mo Xian tertawa melihat tingkah Xiao Hei. "Ah, aku pikir juga begitu, tapi sepertinya dia hanya kucing biasa dengan insting yang kuat."


Keduanya melanjutkan perjalanan dan tidak memerlukan waktu yang lama untuk kembali karena tidak perlu menggunakan jalan memutar dan melewati desa mati. Mereka melewati jembatan yang baru direnovasi dan kembali ke kediaman Bao Yu.


Di kediaman Bao Yu, Wu Jiao Xing segera menarik telingan Mo Xian.


"Apa kau benar-benar tidak bisa diam sebentar di rumah dan tidak berkeliaran saat aku sedang tidak ada?"


Mo Xian menggosok telinganya yang merah dan panas, menggerutu pada Wu Jiao Xing yang tidak berperasaan.


"Kau pergi di hari yang sama saat aku menyelesaikan latihanku, apa kau tidak bisa menunggu!"


"Bagaimana aku bisa menunggu, guru bilang setelah keluar dari latihan tubuh kalian membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri beberapa hari ... Aiya! Gege!"


Mo Xian tidak bisa melanjutkan perkataannya, Wu Jiao Xing sudah lebih dulu mengunci kepalanya dengan kedua lengan.


"Aku tidak ingin mendengar alasan apapun!"


Mo Xian meronta, memukul Wu Jiao Xing minta dilepaskan.


"Aiya, Gege lepaskan aku! Lepaskan aku!"


"Berjanji lebih dulu!"


"Baik! Baik! Aku berjanji tidak akan pergi kemana-mana tanpa Gege. Lepaskan! Lepaskan aku!"


Bai Yue dan Bai Rue menatap dua bersaudara itu sambil menggelengkan kepala dengan tingkah mereka. Zhang Rouruan dia tidak bisa menahan senyum sama halnya dengan Bao Yu yang baru keluar dari dalam.


Melihat Bao Yu, Bai Yue mengabaikan Mo Xian yang masih diberi pelajaran oleh Wu Jiao Xing.


"Salam, Guru." Bao Yu memberi hormat pada Bao Yu.

__ADS_1


Bao Yu menganggukan kepalanya, tersenyum dia mengelus jenggotnya.


"Bagaimana dengan perjalanan kalian, kalian mengantarkan klien kalian dengan selamat sampai tujuan, bukan?"


Bai Yue mengangguk, mengikuti gurunya yang duduk di kursi meja batu di halaman.


"Kami melakukannya dengan baik, Guru" jawab Bai Yue. "Hanya saja kami mengalami sedikit kesulitan di perjalanan."


Bao Yu menatap Bai Yue lalu berpindah pada Mo Xian yang masih berjuang dari cengkraman Wu Jiao Xing.


"Kesulitan seperti apa, apa kau bertemu orang jahat di jalan?" Zhang Rouruan bertanya saat dia ikut duduk.


Bai Yue mengangguk. "Tuan Chen menyewa seorang penunjuk jalan, tapi orang yang dia sewa justru membawa kami ke desa mati dan mencoba menyerang kami."


"Desa mati?" Bao Yu bertanya heran.


Bai Yue mengangguk. "Itu desa yang berada di dalam hutan, saat itu jembatan sedang direnovasi, orang yang disewa untuk menunjukan jalan menunjukan jalan lain dan membawa kami ke sana."


Bao Yu mengangguk. "Mm, desa itu ... Aku tidak memberi peringatan karena aku pikir jembatan itu masih baik-baik saja. Sudah empat puluh tahun berlalu, desa itu secara misterius kehilangan penduduknya."


"Hilang?" Bai Ruo bertanya penasaran.


"Tidak ada yang tahu kemana semua orang pergi, bagaimana bisa?" Zhang Rouruan menimpali.


Bao Yu mengelus jenggotnya. "Bahkan para Pembudidaya Abadi sudah melakukan pemeriksaan di sana. Namun, mereka tidak bisa menemukan apa yang terjadi di desa itu atau kemana hilangnya penduduk desa itu."


"Guru juga melakukan pemeriksaan di sana?"


"Mm."


Bao Yu kemudian menatap Bai Yue. "Lalu apa yang terjadi di sana?"


"Orang yang disewa tuan Chen bernama tuan Kong, tapi dia ternyata bukan manusia."


"Bukan manusia?"


Bai Yue mengangguk.


"Tuan Kong sepertinya mengincar darah dua putri tuan Chen, saat kami bertarung Mo Xian tidak sengaja memukul mingmen milik tuan Kong, saat itu Mo Xian segera memberi mantra pada tubuh tuan Kong."


Bao Yu mengangguk, kembali menatap dua muridnya yang masih sibuk berkelahi. Wu Jiao Xing masih dengan telaten memberi ceramah pada Mo Xian, dan Mo Xian akan menutup telinganya, lalu Wu jiao Xing akan menarik telinganya atau memberinya kuncian maut di leher, dan Mo Xian akan berjuang untuk melepaskan diri. Siklus itu terus berulang beberapa kali, menjadi hiburan untu Xiao Hei yang sedari tadi menonton di atas kuda, mengunyah daging asap yang belum diturunkan.


Menggelengkan kepalanya, Bao Yu kemudian bertanya, "Lalu bagaimana selanjutnya?"


Bai Yue meneruskan. "Mo Xian menyegel hantu itu di dalam botol karena dia ingin menanyakan sesuatu pada Guru, tapi murid tidak tahu."


Menghela napas, Bao Yu kemudian menepuk bahu Bai Yue sebelum mengatakan kalau dia akan kembali ke ruang belajar dan meminta Mo Xian untuk menemuinya setelah dia menyelesaikan urusannya dengan Wu Jiao Xing.

__ADS_1


__ADS_2