
Mo Xian dan Wu Jiao Xing terpaku sejenak, melihat lima orang berpaiakan hitam dengan topeng yang sama persis seperti orang yang menyerang mereka satu tahun yang lalu.
Wu Jiao Xing menatap mereka dengan waspada dan menarik tangan Mo Xian, menyembunyikannya di balik tubuhnya mengambil posisi siaga.
Wu Jiao Xing tahu tidak ada gunanya mengajak mereka berbicara karena dari pakaian dan topeng yang mereka kenakan, Wu Jiao Xing dapat mengambil kesimpulan bahwa mereka adalah mayat hidup, atau mungkin sama seperti sebelumnya mereka hanyalah tulang belulang manusia yang diberi mantra.
Namun, Wu Jiao Xing tidak bisa memastikan apakah kemampuan mereka sama dengan mayat hidup sebelumnya, setidaknya sudah satu tahun lebih sejak serangan itu dan kali ini mereka menggunakan senjata pedang.
Terdengar suara gemeretak datang dari lima orang itu saat mereka mulai mendekat.
"Ge, siapa sebenarnya mereka? Itu topeng yang sama seperti satu tahun yang lalu, bukan?" tanya Mo Xian.
Wu Jiao Xing tidak bisa mengatakannya, sampai sekarang Mo Xian tidak tahu bahwa orang yang telah menyerangnya satu tahun lalu adalah tulang belulang yang dimantrai.
"Bisakah kau lari pulang sendiri?" tanya Wu Jiao Xing, matanya tidak lepas dari lima orang yang ada di depan mereka.
"Dan meninggalkan Gege di sini sendirian dengan mereka?" tanya Mo Xian tidak percaya. "Tidak, kita harus kembali bersama."
Wu Jiao Xing berdecak. "Ini lebih rumit dari yang kau bayangkan, aku akan mengalihkan perhatian mereka dan kau pergilah, beri tahu tuan Li Huan tentang ini," ucap Wu Jiao Xing semakin waspada saat melihat lima orang itu mulai bergerak dan melesat menyerang mereka.
Wu Jiao Xing menarik pedang hitam miliknya dan mencoba menghalau mereka. Sedikit kuawalahan, tapi dia tidak membiarkan Mo Xian menarik pedangnya, menolak bantuannya dan memberinya tatapan tajam.
"Pergilah!" teriaknya.
Mo Xian tidak mengerti kenapa Wu Jiao Xing begitu panik tentang orang-orang ini. Namun, Mo Xian menolak untuk meninggalkan Wu Jiao Xing.
Orang-orang itu, meski gerakan mereka terlihat kaku, tapi sebenarnya cara mereka bertarung cukup hebat, jika Mo Xian meninggalkan Wu Jiao Xing, sebelum Mo Xian berhasil membawa ayahnya mungkin Wu Jiao Xing sudah mati.
Dengan begitu, Mo Xian mundur beberapa langkah, menghindari Wu Jiao Xing dan menarik pedang hitam miliknya dan bergabung dalam pertarungan.
Wu Jiao Xing menatap marah pada Mo Xian. "Keras kepala! Kenapa kau tidak pernah mendengarkan kata-kataku. Berhenti membuat masalah dan kembalilah!"
Mo Xian yang menghadapi dua orang sekaligus merasakan kepalanya memanas. "Ge, tidak bisakah Gege sedikit lembut padaku, kapan aku membuat masalah?" tanyanya sambil mengayunkan pedang dan menendang lawannya.
Wu Jiao Xing yang menghadapi tiga orang ingin menambahkan satu orang lagi untuk dia pukuli, anak nakal keras kepala itu, dia berjanji jika ini selesai dia akan memukul kepalanya.
Keduanya bertarung sengit dengan orang-orang yang tidak dikenal. Bunyi pedang saling beradu menjadi musik senja di kaki gunung Embun Salju.
Salju berjatuhan dari pepohonan setiap kali salah satu dari mereka membentur pohon. Mo Xian mengalirkan energi spiritualnya ke pedang hitam miliknya dan menyerang dua orang bertopeng itu, tapi sepertinya itu tidak berpengaruh. Setiap Mo Xian berhasil memberikan serangan dan memukul jatuh mereka, mereka terlihat baik-baik saja dan sama sekali tidak terpengaruh dengan serangannya.
Di sisi lain, wajah Wu Jiao Xing semakin gelap. Dia sadar lawannya jelas seratus persen berbeda dengan yang ada di kota Empat Batu. Kemampuan mereka jauh lebih baik dan bahkan gerakan mereka lebih hebat dari yang dulu.
__ADS_1
Asap hitam muncul dari pedang orang-orang yang menyerang mereka. Mo Xian dan Wu Jiao Xing bergerak mundur secara bersamaan.
"Apa itu?" tanya Mo Xian, sedikit takut. Mo Xian belum pernah membaca kemampuan orang yang mengeluarkan asap hitam seperti itu di catatan Aliansi Merak.
Wu Jiao Xing tidak menjawab, kekhawatiran menggerogoti hatinya. Dia menggenggam erat pedang hitam miliknya, memandang mereka dengan matanya yang memerah. Kemampuan orang-orang itu, Wu Jiao Xing sama sekali belum pernah mengenalnya.
Setelah asap hitam muncul di pedang orang-orang itu, serangan mereka menjadi lebih kuat, benturan di antara pedang mereka menjadi semakin keras bahkan Mo Xian hampir tidak bisa menahannya lebih lama jika dia tidak bisa mundur mungkin pedang itu akan terlepas dari tangannya.
Wu Jiao Xing yang belum memiliki inti energi spiritual yang sempurna jelas tidak dalam keadaan yang baik, dengan tiga orang yang menyerangnya, dia sudah mendapatkan beberapa pukulan di tubuhnya. Menghadapi tiga orang sekaligus, Wu Jiao Xing sudah memperkirakan dirinya tidak bisa menang.
"Pergilah!" Wu Jiao Xing berteriak pada Mo Xian saat dia dengan agresif mengambil lawan Mo Xian dan bertarung seperti orang yang sedang mengamuk, tidak peduli beberapa pukulan dan serangan mendarat di tubuhnya.
Mo Xian yang melihat keganasan Wu Jiao Xing saat melawan lima orang sekaligus terpaku sejenak sebelum mengeratkan pegangan pada perangnya.
"Aku bilang aku tidak akan pergi maka aku tidak akan pergi!" ucap Mo Xian keras kepala.
Menggertakan gigi, Wu Jiao Xing sudah kehilangan kesabaran dan sangat ingin menendang anak nakal itu keluar dari tempat ini, tapi dia tidak bisa. Orang-orang itu terlalu kuat, dan cara bertarung mereka mulai berubah menjadi ganas.
Pedang dengan asap hitam yang menguar di udara seolah memberi tekanan di udara dan membuat udara yang dingin semakin dingin, tubuh Wu Jiao Xing mulai menggigil, jari-jari yang memegang pedang mulai membeku dan mati rasa, tapi dia tetap menjaga keseimbangan untuk bertarung.
Sementara itu Mo Xian menggunakan energi spiritualnya untuk menekan kekuatan mereka sambil menyerang. Cahaya merah muncul di sekitar tubunya dan menjalar ke pedangnya, sebaik mungkin Mo Xian berada dekat dengan Wu Jiao Xing untuk mengalirkan energi api ke tubuh Wu Jiao Xing. Mo Xian tahu keadaan Wu Jiao Xing mulai memburuk. Jika ini terus berlanjut, mereka akan dalam masalah besar.
Mo Xian berharap keajaiban datang. Lima orang ini terlalu berat untuk mereka hadapi berdua, beruntung doanya dikabulkan. Sebilah es meuluncur dan menancap tepat di dada dua orang yang menyerang mereka.
Wu Jiao Xing benar-benar tidak dalam keadaan baik, tangannya mulai membeku, dia mulai sulit untuk bernapas dan seteguk darah keluar dari mulutnya. Mo Xian sangat khawatir dengan itu.
"Ge! Bertahanlah!" Mo Xian mengalirkan energi spiritualnya ke tubuh Wu Jiao Xing, mencoba memberi kehangatan.
Napas Wu Jiao Xing mulai berat, energi spiritual Mo Xian sepertinya tidak berguna dan itu membuat Mo Xian menjadi semakin ketakutan, tapi tidak putus asa untuk menyalurkan energi spiritualnya pada Wu Jiao Xing.
"Dasar bodoh, saat aku bilang pergi, maka pergilah. Kenapa kamu begitu keras kepala," ucap Wu Jiao Xing dengan suara pelan dan serak karena tenggorokannya mulai mengering.
Mo Xian menggelengkan kepalanya, dia menatap waspada pada lima orang yang berdiri tidak jauh darinya, dua diantaranya dipasak ke tanah dengan tombak es. Namun, tiga orang itu masih bisa bergerak dengan baik, bahkan dengan mudah mematahkan tombak itu dan menariknya keluar dari tubuhnya.
Mo Xian menatap dengan tidak percaya hingga matanya membola. Mo Xian tidak bisa bertarung lagi karena dia harus menjaga Wu Jiao Xing yang kini semakin parah. Energi spiritual yang dialirkan sama sekali tidak berguna, tubuh Wu Jiao Xing semakin dingin, jari-jarinya membiru dan napasnya berat.
Mo Xian ketakutan, panik dan tidak tahu apa yang harus dilakukan selain menangis, tapi dia masih tidak putus asa untuk mengalirkan energi spiritualnya.
Lima orang itu mulai bergerak lagi dan hendak menyerang mereka, Mo Xian menutup mata dan memeluk Wu Jiao Xing yang kini tidak bisa apa-apa, keduanya terpuruk di tumpukan salju yang dingin. Putus asa.
Cahaya biru melesat, suara dentuman keras terdengar, Mo Xian membuka matanya dan melihat beberapa pohon telah patah dan berserakan sementara lima orang itu masih berdiri di tempatnya dengan kondisi yang baik.
__ADS_1
Dua orang pemuda berambut putih mendekati Mo Xian. Itu Bai Yue dan Bai Ruo sementara orang yang sekarang berdiri di hadapannya adalah Bai Xue.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" Bai Yue mencoba memeriksa Wu Jiao Xing yang kini menggigil kedinginan.
"Kenapa ini bisa terjadi?" tanyan Bai Ruo tidak percaya saat melihat kondisi Wu Jiao Xing. Tangannya telah membeku dan wajahnya membiru dengan beberapa es terbentuk di alis dan bulu matanya, bibirnya pucat.
Mo Xian yang menangis menarik kerah Bai Yue. "Tolong kami, lakukan sesuatu. Bisakah kamu menolongnya?" tanyanya panik.
Bai Yue menatap dengan tenang. "Aku tidak tahu kondisinya, tapi aku akan mencoba membantu."
Kemudian Bai Yue mulai menggunakan energi spiritualnya dan kondisi Wu Jiao Xing berangsur-angsur menjadi lebih baik. Jadi-jari yang membeku mulai kembali normal dan warna kulitnya berubah pucat.
"Bagaimana ini bisa terjadi, kenapa tubuh Gege tidak menerima energi spiritualku?" tanya Mo Xian.
Bai Yue menggeleng. "Aku tidak tahu, seharusnya elemen api bisa digunakan untuk saat-saat seperti ini. Tapi, ini lebih baik, setidaknya ada cara untuk menyelamatkannya."
Mo Xian mengangguk dan tidak hentinya mengucapkan terima kasih.
Di sisi lain Bai Xue memandang dingin lima orang bertopeng itu.
"Kemampuan kalian sangat luar biasa, mampu menangkis seranganku, siapa kalian sebenarnya?"
Tidak ada jawaban, lima orang itu bergerak cepat dan menyerang Bai Xue. Namun Bai Xue bukan orang biasa yang tingka kultivasinya jelas kebih tinggi dari Mo Xian dan Wu Jiao Xing.
Sinar biru menyelimuti tubuhnya, dengan gerakan tangan beberapa tombak es tercipta dan dengan lambaian tangan tombak es itu meluncur menyerang lima orang itu.
Tiga orang berhasil dipasak ke tanah oleh tombak salju, Bai Xue kemudian menggerakan tangannya lagi dan duri-duri panjang muncul di tombak yang memasak tubuh mereka ke tanah, mencabik-cabik tubuh mereka.
Dua orang bertopeng nampak tidak peduli dengan situasi yang terjadi pada teman-temannya dan kembali menyerang dengan pedang berasap hitam mereka. Bai Xue bahkan tidak menggunakan dua tangan untuk membuat dua tombak salju dan menyerang keduanya. Namun, keduanya nampaknya lebih gesit dari tiga orang itu dan selalu lolos dari serangan Bai Xue.
Bai Xue menatap marah pada dua orang bertopeng itu. Dia kemudian menggerakan kedua tangannya dan puluhan tombak es terbentuk, melayang di udara sebelum Bai Xue melambaikan tangan dan puluhan tombak es itu seperti hujan yang menghantam tubuh dua orang itu.
Kini semuanya telah dipasak ke bumi dengan beragam tusukan dari senjata es milik Bai Xue. Namun, Bai Xue tidak bisa untuk tidak heran dengan lima orang itu. Lima orang itu sebenarnya tidak mati dan masih bergerak, perlahan asap hitam muncul di sekitar tubuh mereka dan mencairkan es yang memaku tubuh mereka sebelum kembali bangkit.
Semua orang yang ada di sana terkejut saat melihat orang-orang itu sebenarnya baik-baik saja bahkan tidak ada darah yang keluar dari tubuh mereka. Tubuh mereka masih utuh seolah serangan Bai Xue hanyalah sebuah ilusi.
"Bagaimana itu bisa terjadi?"
1710 Kata.
11 september 2020.
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca ♥