
Mo Xian berjongkok di depan kompor tungku, dia sedang bertugas mengipasi kayu mencoba membuat api. Namun, bukannya api yang tercipta, itu justru asap hitam yang mengepul tinggi dan menakuti tetangga. Setidaknya sudah ada delapan orang yang berteriak bahwa rumah itu terbakar.
Seumur hidupnya, ini adalah kali pertama Mo Xian membuat api dengan kayu bakar tanpa menggunakan energi spiritual. Di kehidupannya yang dulu, dia hanya perlu menekan tombol jika ingin memasak, bahkan di rumah kakeknya yang ada di desa menggunakan kompor gas.
Tapi, di sini sejak tinggal bersama Bao Yu, mereka tidak lagi makan di kantin, mereka biasanya makan di luar atau membelinya. Namun, kali ini Mo Xian ingin memasak dan untuk Mo Xian, ini adalah kali pertama untuknya membuat api karena tidak ada orang di rumah.
Bao Yu, gurunya itu pergi ke sekte Bai Lian untuk membahas mantra yang Mo Xian temukan bersama master sekte Bai Lian karena hantu yang dia segel sama sekali tidak memberi jawaban, dan orang tua itu baru akan kembali saat makan malam.
Bai Yue dan Bai Ruo sedang menjalankan misi untuk menemani seorang tuan muda kecil yang manja menonton pertunjukan di kota, mereka juga akan kembali petang ini.
Wu Jiao Xing dan Zhang Rouruan diminta guru untuk mengirim surat ke sekte Bai Lian dan mengambil beberapa buku di kediaman Bao Yu di sekte Bai Lian sore tadi.
Seharusnya Mo Xian bisa ikut dengan Wu Jiao Xing dan Zhang Rouruan, tapi dia berpikir makan malam sebentar lagi akan datang dan dia berencana memamerkan keterampilan memasak sebagai manusia abad ke-21. Cukup percaya diri dengan kemampuan memasaknya dia bahkan sudah membayangkan serangkaian pujian yang akan diterima dari guru dan teman-temannya. Selama ini tugas memasak selalu dilakukan oleh Zhang Rouruan.
Sejak keluar dari kultivasi tertutupnya, Zhang Rouruan dengan senang hati memasak setiap hari karena dia bilang memasak adalah hobinya, terkadang yang lain akan membantu membuatkan api, mengambil air atau memotong sayuran dan daging. Namun, memasak di atas kompor adalah wilayah kekuasaan Zhang Rouruan.
Dia selalu mengatakan. "Anak perempuan lebih berbakat dalam memasak."
Tapi, Mo Xian juga anak perempuan, melihat gurunya memuji masakan Zhang Rouruan, Mo Xian merasa iri karena dia juga bisa memasak. Jadi hari ini dia akan menunjukan kemampuannya.
Namun, api belum muncul, asap hitam mengepul memenuhi ruangan hingga ke udara, setelah mendapatkan beberapa keluhan dari orang-orang yang membawa seember air, Mo Xian memutuskan menggunakan kekuatannya untuk menciptakan api.
Terbatuk beberapa kali, Mo Xian melihat Xiao Hei yang duduk di luar sedang menatapnya sambil mengoyangkan ekornya ke kanan dan ke kiri. Bahkan kucing hitam itu menyipitkan matanya!
"Apa yang kau lihat, Xiao Hei? Jangan meremehkanku, ini karena aku tidak terbiasa dengan kayu bakar."
Kucing hitam itu membuang muka ke tempat lain sebagai jawaban, tidak ingin melihat kekacauan yang dibuat oleh tuannya. Bahkan kucing memilih tempat yang cukup jauh agar tidak terkena asap.
Kayu bakar di dalam tungku telah dimakan api, Mo Xian menambahkan beberapa batang kayu, mulai memanaskan wajan dan panci untuk merebus air. Dia ingin membuat sup ayam gingseng.
Memasukan ayam utuh yang telah dibersihkan ke dalam panci, Mo Xian kemudian melemparkan biji teratai kering, goji berry, kurma merah kering dan gingseng, kemudian menutup panci itu dan direbus untuk waktu yang lama.
Mengesampingkan supnya, Mo Xian menuangkan sedikit minyak di atas wajan dan memasukan irisan jahe dan bawang putih, menumisnya hingga harum sebelum memasukan daging cincang yang telah direndam bumbu sebelumnya.
__ADS_1
Aroma harum menyeruak memenuhi seluruh ruangan, dengan senang Mo Xian menambahkan kembali kayu bakar, memasak adalah hal yang menjadi kesenangan Mo Xian sejak dia mengenal dapur di usia delapan tahun, saat itu neneknya memintanya membantu memotong tahu karena melihat Mo Xian bosan duduk sendirian di ruang tamu. Mo Xian kecil kemudian tidak hanya membantu memotong tahu, bahkan ikut menonton neneknya memasak sambil mengobrol. Masakan yang dia buat pertama kali dengan neneknya adalah Tahu Mapo.
Mo Xian akan merasa dirinya kembali ke masa lalu setiap kali memasak hidangan ini, bahkan dia masih ingat rasa pedas manis yang dia buat bersama neneknya dulu. Mengenang masa lalu membuat Mo Xian merasa sedih, tidak sadar air mata jatuh dari pelupuk matanya.
Mengusap air mata dengan punggung tangannya, Mo Xian mencoba untuk tabah. Dia di sini sekarang dan tidak akan mungkin bertemu lagi dengan neneknya, atau memasak bersama dengannya lagi.
Suara khas daging yang ditumis di atas wajan panas, Mo Xian menambahkan tahu putih yang sudah dipotong dadu ke dalam wajan dan menambahkan kaldu sapi ke dalamnya, uap mengepul saat air bertemu dengan wajan yang panas.
Menambahkan beberapa bumbu seperti lada dan bubuk cabai serta gula dan campuran air dengan tepung, Mo Xian mengaduknya dengan semangat hingga Tahu Maponya matang.
Memeriksa sup gingseng miliknya, Mo Xian membuka tutup panci dan segera merasa puas dengan masakannya, dia kemudian melempar beberapa bumbu lagi ke dalam panci sebelum menutupnya lagi.
Hari semakin gelap, satu persatu dari mereka kembali dan mereka semua buru-buru menuju dapur. Di perjalanan pulang, banyak orang yang mengatakan kalau rumah mereka kebakaran dan membuat mereka takut hingga setengah mati.
Wu Jiao Xing bahkan sudah pucat pasi saat melihat rumah dalam keadaan kosong, bahkan saat memanggil nama Mo Xian, dia tidak mendengar jawaban. Dia mengutuk dirinya, seharunya dia tidak mengizinkan Mo Xian tinggal sendirian di dalam rumah saat Mo Xian bilang akan menyiapkan makanan.
Wu Jiao Xing pikir, Mo Xian akan membeli makanan di restoran dekat rumah. Dia sama sekali tidak mengira Tuan Mudanya yang selalu dilayani akan menyalakan tungku dan menyebabkan masalah.
"Mo Xian!"
"Oh, kalian sudah pulang, selamat datang."
Mo Xian tersenyum dan membuat semua orang menatapnya heran untuk beberapa saat sebelum tertawa.
"Oh, ya ampun lihat wajah hitamnya yang seperti dibedaki dengan pantat panci." Bai Ruo berkata tanpa disaring. Tertawa sekeras yang dia bisa.
Bai Yue, dia menahan tawa dengan memalingkan wajah hingga tersedak. Wajahnya sampai merah.
Zhang Rouruan, tertawa layaknya gadis yang menawan sebelum mengeluarkan sapu tangan dan bergerak maju untuk mengelap wajah Mo Xian.
"Apa yang kau lakukan hingga bisa seperti ini?"
Mo Xian tertawa kering, dia kemudian mengambil sapu tangan Zhang Rouran dan melihat betapa kotornya sapu tangan merah muda itu setelah bertemu dengan wajahnya.
__ADS_1
"Oh, astaga. Apa aku sangat jelek sekarang?"
Bai Ruo tertawa dengan keras, memegangi perutnya. "Kau benar-benar jelek! Hahaha! Sangat jelek! Hahaha!"
Mo Xian menghela napas, tertawa ringan dia kembali menggosok wajahnya dengan sapu tangan sebelum merasakan sakit di telinganya hingga kepalanya miring.
"Aiya, Gege apa yang kau lakukan!" teriak Mo Xian memegangi telinganya.
Wu Jia Xing masih tidak melepaskan telinga Mo Xian. "Apa yang kau lakukan di rumah, orang-orang mengatakan kau telah membakar rumah!"
Mo Xian memegangi telinganya yang merah setelah Wu Jiao Xing melepaskannya.
"Aku memasak, apalagi yang aku lakukan?"
"Lalu bagaimana kau menjelaskan asap hitam yang membumbung tinggi ke udara, huh?"
"Itu karena aku membutuhkan usaha untuk membuat api, aku tidak membakar rumah!"
"Tetap saja, kau tidak pernah memasak sebelumnya. Kau tidak cocok berada di dapur."
"Kenapa Gege bisa mengatakan itu, aku memasak dengan sangat baik!"
Wu Jiao Xing memutar matanya dan menghela napas.
"Gege tidak percaya?"
"..."
Menatap kesal pada Wu Jiao Xing, bibir Mo Xian berkerut maju hingga bisa digunakan untuk menggantung ketel. Dia kemudian melihat uap dari pancinya dan segera mengingat sup ayam gingsengnya belum diangkat. Buru-buru, Mo Xian mengangkatnya dan menaruhnya di atas meja.
Teman-temannya segera mengelilingi meja untuk melihat apa yang dibuat Mo Xian dan mereka tidak bisa untuk tidak menjatuhkan rahang atau menahan air liur berlebih di dalam mulutnya, bahkan Bai Yue menelan ludah, Bai Ruo sudah mengulurkan jari untuk mencicipi tapi dipukul keras oleh Zhang Rouruan.
"Mandi dan cuci tanganmu dulu!"
__ADS_1
Bai Yue mendesis.