Sang Penjaga : Pendekar Bulan

Sang Penjaga : Pendekar Bulan
Namamu, Mo Xian.


__ADS_3

"Adik kecil, apa kau baik-baik saja?" tanya pria itu pada Li Yixin setelah dia merasa tempat itu sudah aman.


Li Yixin mengangguk. Dia melihat bagaimana pria yang sebelah matanya terluka begitu tenang, tidak terlihat kesakitan sama sekali.


"Mata Paman?" ucap Li Yixin pelan sambil mendekap Xiao Hei di pelukannya.


Pria itu tersenyum ramah dan mengusap pucuk kepala Li Yixin dengan lembut.


"Aku baik-baik saja. Siapa namamu? Kenapa anak kecil sepertimu bisa berada di dalam hutan ini?"


Saat Li Yixin ditanya siapa namanya, dia teringat nama yang telah diberikan Mo Shan padanya saat dia mencoba memanggilnya ayah.


"Aku tidak ingin punya anak, tapi aku akan menghadiahkan namaku padamu. Ingat baik-baik namamu sekarang adalah Mo Xian dan karena kau masih kecil, aku juga akan mengatakan ini sekali saja, kau adalah anak laki-laki. Kau beruntung, karena anak laki-laki selalu diuntungkan."


Saat itu Li Yixin ingin membantah karena dirinya jelas seorang wanita, baik di masa lalu atau di masa kini setelah dilahirkan kembali. Namun, dia hanya bisa mengangguk menerima itu karena Li Yixin sekarang hanya anak kecil, bagaimana dia bisa membantah. Karena itulah Li Yixin selalu berpenampilan seperti anak laki-laki.


"Namaku Mo Xian," jawab Li Yixin.


"Lalu bagaimana kau bisa berada di sini?"


"Aku tinggal di sekitar sini," jawab Li Yixin yang segera mendapatkan tatapan terkejut dari pria yang dia dengar bernama Li Huan.


"Kau tinggal di sini?" Li Huan bertanya seolah dia tidak bisa percaya bahwa ada manusia yang tinggal di tempat berbahaya ini.


Li YiXin segera mengangguk menaggapi pertanyaan Li Huan sambil mengelus Xiao Hei.


"Dengan siapa kamu tinggal?" tanya Li Huan lagi.


Li Yixin terlihat ragu-ragu saat menjawab karena dia tidak tahu harus bagaimana dia menggambarkan sosok Mo Shan baginya. Bagi Li Yixin, Mo Shan sudah seperti ayah tunggal, tapi Mo Shan dengan jelas menolak panggilan itu. Jadi, Li Yixin menjawab,


"Aku tinggal bersama pamanku."

__ADS_1


Li Huan mengangguk mengerti.


"Di mana pamanmu?"


Li Yixin melihat dan menunjuk ke arah utara.


"Di sana, dia sedang beristirahat di gubuk kami, dia pasti sedang mencariku sekarang. Paman, sebaiknya Paman ikut aku ke gubuk kami dan mengobati luka Paman. Mungkin pamanku punya beberapa obat di sana."


Li Yixin mencoba untuk ramah, bagaimanapun Li Huan telah menolongnya. Dia harus membalas kebaikan hatinya dan pada akhirnya Li Huan juga tidak menolak untuk pergi bersamanya karena ingin melihat sendiri seperti apa paman yang membiarkan keponakannya yang masih kecil berkeliaran di hutan terlarang.


Li Yixin memandu jalan sambil menggendong Xiao Hei. Di perjalanan, dia menawarkan buah-buahan yang dipetik sebelum kejadian itu. Namun, Li Huan menolak dengan ramah, bahkan saat Li Yixin bertanya apa lukanya sakit atau apakah Li Huan kelelahan, pria itu dengan ramah menjawab tidak.


Li Yixin tidak bisa untuk tidak mengagumi bahwa di dunia ini, selain binatang yang bisa berubah menjadi manusia, ternyata manusia di sini juga sangat kuat. Jika Li Huan manusia bumi dengan luka separah itu, jangankan untuk berjalan, dia sudah pasti sedang terbaring di ranjang rumah sakit sekarang.


"Apa tempatnya masih jauh?" tanya Li Huan saat menurutnya mereka sudah berjalan cukup jauh, namun langkah kaki kecil Li Yixin masih belum berhenti dan tidak menunjukan tanda-tanda kelelahan. Bahkan anak itu justru khawatir tentang dirinya.


Harus Li Huan akui, anak yang baru ditemui itu memang tidak biasa, selain dari namanya Li Huan bisa melihat emosi anak ini juga terlampau tenang untuk usianya yang masih muda. Bahkan setelah apa yang terjadi, anak itu hanya terkejut dan ketakutan untuk waktu yang singkat.


"Tidak, tidak jauh. Sebentar lagi kita ...." li Yixin berhenti berbicara saat dia melihat apa yang ada di depannya.


Dari jauh, terlihat perkebunan sayur yang telah rusak dan sebuah gubuk yang kini telah rata dengan tanah.


Li Yixin langsung berlari ke gubuknya yang telah hancur sambil memanggil nama Mo Shan.


"Mo Shan-Xiansheng!" teriak Li Yixin sambil berusaha mengangkat material-material gubuknya seperti kayu dan daun ilalang kering. 


"Mo Shan-Xiansheng!" 


Li Yixin terus berusaha untuk mencari di tempat di mana dipan yang dipakai Mo Shan untuk tidur berada sebelum dia pergi ke hutan.


Li Huan yang melihat anak itu bersusah payah memindahkan kayu reruntuhan gubuk segera membantunya. 

__ADS_1


Saat mereka berhasil memindahkan reruntuhan kayu dan atap, Li Yixin melihat ada banyak bercak darah berceceran di mana-mana, terutama di atas dipan tempat Mo Shan tidur.


Li Yixin segera menjadi sangat khawatir dengan kondisi Mo Shan. Dia segera melihat sekeliling dan berlarian tidak tentu arah sambil memanggil nama Mo Shan. Namun, tidak ada jawaban.


****


Cahaya bulan menerangi bumi dan Li Yixin tidak berhenti menangis hingga larut malam. Li Huan yang melihat anak kecil itu menangis kehilangan satu-satunya orang yang merawatnya tidak bisa berbuat banyak selain menemani anak itu di depan gubuk yang sudah ambruk.


Dengan perhatian Li Huan mengelus punggung Mo Xian agar anak itu tidak kesusahan bernapas karena terlalu banyak menangis.


Li Huan sudah berusaha menenangkan Mo Xian dan memberikan pengertian bahwa sesuatu yang datang suatu saat juga harus pergi dan yang ditinggal harus memiliki kebesaran hati untuk mengirim kepergiannya. Namun Mo Xian seolah tidak mendengar nasehat itu dan terus menangis. 


Bagaimana Mo Xian tidak sedih dengan kepergian Mo Shan. Mo Shan adalah satu-satunya orang yang pertama yang peduli selain perempuan yang telah mati saat dia masuk ke dunia kuno ini. Mo Shan adalah penyelamatnya yang telah merawatnya, dia sudah seperti ayah untuk Mo Xian, dan dia belum sempat membalas budi. Jadi bagaimana dia tidak sedih.


"Hidup terus berjalan selama kita masih bernapas. Xian'er, pamanmu pasti juga ingin kamu melanjutkan hidup dengan baik."


Li Huan mencoba untuk berbicara lagi.


"Paman juga kehilangan orang tua paman sejak paman masih kecil, sejak saat itu paman harus berjuang sendiri di jalanan untuk bertahan hidup."


Mendengar ucapan Li Huan, Mo Xian sejenak berhenti menangis meskipun masih sesegukan dia menoleh dan melihat Li Huan yang tersenyum padanya, mengusap kepalanya.


"Saat itu paman baru berusia lima tahun, ayah dan ibu paman pergi setelah mereka diserang perampok. Sejak saat itu paman harus berjuang sendiri untuk merawat dua adik paman yang masih kecil dan bertekad untuk menjadi orang yang kuat, agar tidak ada lagi orang yang paman sayangi pergi dengan cara yang tidak benar."


Mo Xian mendengarkan dengan seksama, dia mengusap matanya dan melihat Li Huan, dia ingin bertanya, tapi suaranya hilang karena dia terlalu banyak menangis.


"Lihat, suaramu hilang karena terlalu banyak menangis. Jangan khawatir, itu akan baik-baik saja setelah beberapa hari."


Mo Xian memegangi tenggorokannya yang serak, dia merasa sangat haus sekarang dan Li Huan dengan perhatian memberinya air minum yang disimpan di dalam kantong kulit.


"Kepergian seseorang bukan berarti kita telah kehilangan orang itu. Orang itu akan tetap hadir di sisi kita dalam ingatan kita. Xian'er harus belajar untuk menerima dan melepaskan."

__ADS_1


Mo Xian tahu kata-kata itu benar, tapi untuk kehilangan seseorang yang sangat dekat dengannya, ini adalah kali pertamanya. Di masa lalu, dia belum pernah kehilangan satupun anggota keluarganya. Nenek dan kakeknya masih sehat, ayah dan ibunya masih giat bekerja, kakak dan adiknya juga masih baik-baik saja.


Dari kepergian Mo Shan, Mo Xian merasakan  ditinggal pergi sendirian di dunia ini sangat menyakitkan. Dan kini, dia benar-benar sendirian di dunia yang asing, kuno dan penuh dengan hal-hal yang tidak masuk akal. Bagaimana dia akan bertahan hidup sebagai seorang anak yang baru berusia lima tahun.


__ADS_2