
Berbicara dengan Li Huan dan Li Zhou Ran membuat Mo Xian merasa sedikit lebih ringan.
"Xian'er, bagaimana kalian berdua bisa berada di kaki gunung? Apa yang kalian lakukan di sana?" tanya Li Zhou Ran setelah keduanya selesai sarapan.
Mo Xian yang sedang sibuk meledek Xiao Hei, menoleh.
"Mm, itu ... kami awalnya pergi ke kuil untuk melihat macan tutul salju ajaib, tapi kami tidak menemukannya."
"Tidak menemukannya?" tanya Li Zhou Ran heran.
"Tidak heran jika Xian'er tidak melihatnya," kata Li Huan setelah meletakan cangkir.
"Apa maksudmu, Laogong? Bukankah macan tutul salju itu benar-benar menghuni kuil seperti kucing jinak?" tanya Li Zhou Ran.
Mo Xian lalu menatap Li Huan.
"Mm, itu benar. Tapi sudah bertahun-tahun macan tutul itu tidak lagi berkunjung ke kuil sejak tetua kuil meninggal dunia."
"Meninggal? Kapan orang tua itu pergi?" tanya Li Zhou Ran nampak tidak percaya.
"Itu sekitar sepuluh tahun yang lalu, tidak ada yang tahu penyebab kematiannya. Dari informasi yang didapat, dia meninggal dengan tenang di aula tengah kuil dengan posisi padmasana, ditemani macan tutul salju yang duduk di sebelahnya. Sejak saat itu, macan tutul salju tidak pernah mengunjungi kuil lagi."
Li Zhou Ran menghela napas, sedikit menyesal karena dia bisa sampai tidak tahu tentang kematian orang tua itu. Mungkin karena itu Mo Xian datang di hidupnya dan membuatnya tidak peduli dengan urusan lain selain Mo Xian.
Sementara itu Mo Xian mengangguk.
"Mm, gadis kecil itu juga mengatakan hal yang sama, tentang macan tutul yang tidak lagi berkunjung."
Keduanya menoleh, sedikit heran.
"Gadis kecil?" tanya Li Zhou Ran.
Mo Xian mengangguk. "Mn, dia orang Embun Salju, A Xian pikir umurnya sekitar sembilan atau sepuluh, anak itu sangat ramah dan berbeda dari orang Embun Salju pada umumnya. Dia juga yang mengatakan kalau kami bisa melihat macan tutul di-"
Tiba-tiba Mo Xian berhenti berbicara karena teringat tentang sesuatu.
"Ada apa?" tanya Li Huan.
Mo Xian yang nampak berpikir sambil menundukan kepala, mengangkat kepalanya dan melihat Li Huan.
"Ayah, gadis itu mengatakan hal yang aneh sebelumnya," ucap Mo Xian.
"Hal aneh apa? Apa dia yang menunjukan kaki gunung itu agar bisa melihat macan tutul salju ajaib?" Li Huan menebak.
Mo Xian mengangguk. "Mn, gadis itu mengatakannya, tapi sebelum A Xian dan gege pergi, gadis itu juga memberi peringatan untuk A Xian."
"Peringatan?"
"Mn, gadis itu bilang A Xian akan beruntung hari itu, tapi juga tidak beruntung di hari itu dan menyuruhku untuk berhati-hati. Tapi bagaimana kata-katanya bisa benar, dia seperti seorang peramal!" Mo Xian berkata dengan antusias.
"Gadis itu bilang aku akan beruntung dan tidak beruntung. Aku beruntung karena bisa melihat tiga ekor macan tutul dan aku tidak beruntung karena bertemu lima mayat hidup itu," jelasnya pada Li Huan dan Li Zhou Ran.
Keduanya menatap Mo Xian. Lagi-lagi Mo Xian merasa tatapan mereka sedikit berbeda, wajah mereka terlihat cemas dan saling lempar pandang.
Li Zhou Ran mengatur napas. "Xian'er, seperti apa gadis itu?" tanyanya.
Mo Xian mencoba mengingat. "Dia cantik, berambut putih dengan wajah melon dan mata biru, rasanya dia seperti kebanyakan anak di kota Embun Salju, tidak ada yang membedakan mereka selain sikapnya yang lembut dan sopan."
__ADS_1
Li Zhou Ran menghela napas, sementara Li Huan terlihat tenang tidak memberi tanggapan dan hanya menyesap teh. Namun, Mo Xian bisa melihat kalau Li Huan hanya berpura-pura tenang dari tangan Li Huan yang bergetar saat memegang cangkir.
...........................................
Mo Xian menatap ke luar jendela, salju turun seperti biasa hari ini. Li Huan dan Li Zhou Ran pergi untuk suatu hal dan meninggalkannya di kamar bersama Xiao Hei setelah memasang penghalang.
Li Huan mengatakan dia akan tahu jika Mo Xian keluar dari kamar dan dia juga akan tahu siapa yang akan masuk ke kamarnya. Karena itu Li Zhou Ran sudah memperingatinya untuk tidak keluar ke mana-mana.
Mo Xian menghela napas, dia ingin mengunjungi Wu Jiao Xing dan Bai Yue. Berpikir apakah mereka berdua benar baik-baik saja. Namun, Mo Xian juga tidak ingin melanggar janjinya pada orang tua angkatnya untuk tetap diam di kamar.
Mo Xian tahu, situasinya sedang tidak baik dan orang jahat itu mungkin masih berkeliaran di luar mengincarnya. Akan lebih baik, jika Mo Xian tidak mencari masalah dan membuat masalah untuk orang lain, karena itu dia memilih ke tempat tidur dan mencoba mencari kesibukan dengan membaca beberapa buku yang disediakan di kamarnya.
Sementara itu Li Huan dan Li Zhou Ran pergi menemui Bai Xue di tempat khusus bersama Wang Xueshi.
"Kalian benar-benar datang," kata Bai Xue saat melihat Li Huan, Li Zhou Ran dan Wang Xueshi masuk ke dalam ruangan.
Li Huan melihat Bai Xue tidak sendiri di ruangan itu, ada Bai Yue dan Bai Ruo yang juga hadir di ruangan itu. Sesuai janji mereka saat mereka berada di kaki gunung kemarin. Li Huan ingin mengadakan pertemuan rahasia setelah membersihkan tempat kejadian kemarin dan menghapus jejak keberadaan tulang-belulang musuh mereka.
"Silahkan Tuan dan Nyonya duduk dan buat kalian senyaman mungkin," ucap Bai Xue mempersilahkan.
Suasananya sedikit tegang bagi Li Zhou Ran, tapi wanita itu tetap duduk di samping suaminya.
Li Huan menghela napas dan menatap Bai Xue. "Aku kira kita tidak perlu berbasa-basi dan langsung saja pada intinya. Apa kau benar-benar menaati perkataanmu atau tidak?"
Bai Xue tertawa. "Hahaha, aku mungkin dikenal sebagai orang yang kejam dan tidak berperasaan, tapi aku juga bukan orang yang tidak memiliki empati sama sekali. Kau bisa menanyakan langsung pada mereka berdua, apakah mereka telah menyebarkan cerita tentang kejadian kemarin atau tidak?"
Li Huan dan Li Zhou Ran menatap langsung pada Bai Yue dan Bai Ruo.
"Aku bersumpah atas namaku dan adikku bahwa kami tidak mengatakan apa-apa," jelas Bai Yue dengan tenang.
Li Huan menghela napas, merasa sedikit tenang. "Terima kasih untuk kerja sama kalian. Sekarang mari kita bahas tentang kesepakatan. Apa yang kau inginkan dari Aliansi Merak?"
"Apa hanya itu yang kalian inginkan? Jangan membuat lelucon dengan menghianati kami di kemudian hari." Li Zhou Ran berkata dengan nada sarkas.
Bai Xue tersenyum. "Nyonya Li tidak perlu khawatir tentang hal itu. Aku selalu menepati janjiku begitu juga murid-muridku. Namun, itu memang benar, ada syarat lain yang aku inginkan."
Li Zhou Ran menahan kesal dengan meremas roknya sambil menggigit bibirnya, menatap Bai Xue dengan marah.
"Kau!"
Li Huan menenangkan dengan memegang tangan istrinya sebelum memandang Bai Xue.
"Syarat apa?"
Bai Xue kembali tersenyum.
"Tentu saja, aku ingin tahu apa yang sedang terjadi. Siapa mereka, mantra apa yang mereka gunakan dan dari mana mereka berasal. Apa Aliansi Merak akhirnya bertemu dengan musuh yang berat? Jika Aliansi Merak mengalami kesulitan, kami dataran Embun Salju Abadi tidak keberatan membantu."
"Kalian meminta terlalu banyak!" Li Zhou Ran berkata dengan marah.
Li Huan meremas tangannya. Li Zhou Ran menatapnya dengan tidak percaya dan Li Huan menggelengkan kepalanya sebagai tanda untuk Li Zhou Ran agar dia berhenti.
"Jika kalian tidak ingin menceritakan apa yang terjadi, itu tidak masalah. Maka perjanjian kita tidak perlu dilanjutkan lagi, tanpa Aliansi Merak pun, kami Embun Salju Abadi juga bisa mengambil kembali Moshu Binghua kami dan kami tidak perlu menutup-nutupi kejadian kemarin."
Mendengarnya, Li Huan dan Li Zhou Ran menjadi khawatir. Sementara Wang Xueshi masih memperhatikan karena tidak tahu apa yang sedang terjadi, kadang dia akan memberi kode mata pada Bai Yue dan Bai Ruo, bertanya tentang apa yang sedang terjadi, tapi dua pemuda itu mengabaikannya.
Li Huan meremas tangan istrinya dan mengusap-usapnya sebagai bentuk kasih sayang untuk menenangkannya. Li Huan kemudian menatap Bai Xue. Walaupun Li Huan sedikit khawatir, tapi dia tahu sifat Bai Xue yang keras kepala dan tidak mudah menyerah. Ingin tahu tentang apa yang sedang terjadi pada keluarganya, Li Huan bisa memastikan ada sesuatu di kepala Bai Xue. Dia hanya berharap Bai Xue bukan orang yang akan mengambil kesempatan di dalam kesulitannya.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan menceritakannya. Aku juga berharap kau bisa memberikan uluran tangan untukku."
Li Huan kemudian menceritakan tentang bagaimana topeng mantra darah pertama kali muncul satu tahun yang lalu dan kembali muncul kemarin. Li Huan juga mengatakan tentang perbedaan kemampuan mereka.
"Jadi orang-orang ini mengincar Tuan Muda Mo karena dia adalah putramu?" tanya Bai Xue sedikit ragu.
Li Huan menganggukan kepala.
"Sayangnya, mantra ini ...." Li Huan menunjuk topeng yang ada di depan mereka. "Aliansi Merak belum bisa mendapatkan informasi apa-apa tentang itu."
Bai Xue mengetuk-ngetuk meja dengan jari telunjuknya, nampak berpikir sejenak.
"Kalau begitu, bukankah nyawa putramu dalam bahaya? Kemampuan mereka dalam mengendalikan mayat benar-benar merepotkan, jika anggotamu tidak mengatakan kalau sumber masalahnya ada di topengnya, mungkin kita akan bertarung sampai pagi," ucap Bai Xue pada akhirnya. "Ah, benar. Bagaimana anggotamu bisa tahu kalau sumber masalahnya ada di topengnya. Apa dia sudah sadar dan bisa ditanyai sekarang?"
"Sampai saat ini dia masih belum sadar, tingkat kultivasinya sedikit terganggu tapi dia baik-baik saja. Aku sudah memberinya Hongbaoshi dan Bai Xin, dia akan segera pulih."
Bai Xue terkekeh. "Kau benar-benar perhatian pada anggotamu."
Li Huan tersenyum, tapi tidak menanggapi.
"Lalu, bagaimana kau akan menghadapi ini?" tanya Bai Xue.
Li Huan menatap Bai Xue dengan serius. "Itu, aku masih memikirkannya. Tapi kurasa Tuan Bai Xue bisa membantuku," ucapnya kemudian.
Li Zhou Ran juga nampak serius, dia sudah menunggu suaminya mengatakan itu.
Bai Xue tertawa ringan. "Bagaimana aku bisa membantumu? Aku memang mengatakan akan membantumu, tapi setelah mendengar penjelasanmu, situasinya terlihat pelik dan aku pikir aku tidak bisa membantumu selain menyembunyikan masalah ini."
"Xian'er bilang dia bertemu orang Embun Salju yang bisa meramalnya." Li Zhou Ran berkata dengan tidak sabar.
Bai Xue, Bai Yue dan Bai Ruo terkejut mendengarnya.
"Apa maksud Nyonya Li?"
"Xian'er bilang dia bertemu seorang gadis yang mengatakan kalau Xian'er akan beruntung tapi juga tidak beruntung hari itu. Hari itu, Xian'er melihat tiga macan tutul dan bertemu dengan mayat hidup. Katakan padaku siapa gadis ini?"
Bai Xue yang dari tadi terlihat santai menjadi tegang, dia nampak berpikir sejenak.
"Dimana putramu bertemu dengan gadis itu? Seperti apa gadis itu?" tanya Bai Xue yang terlihat terburu-buru.
Melihat reaksinya, Li Huan menghela napas. "Apa kau tahu sesuatu tentang ini?"
"Jawab dulu pertanyaanku."
"Xian'er bilang gadis itu berusia sekitar sembilan hingga sepuluh tahun dengan wajah melon, terlihat sama dengan orang-orang embun salju pada umumnya, tapi perangainya berbeda. Xian'er bilang gadis itu bersikap lembut dan sopan. Gadis itu juga memperingati Xian'er untuk berhati-hati. Bukankah itu artinya gadis ini mengetahui sesuatu yang tidak benar akan terjadi pada putraku?"
Bai Xue diam sesaat, dia tidak bisa menanggapi, tapi dia memiliki sesuatu di dalam pikirannya.
"Tuan Bai Xue, apa kau tahu sesuatu tentang gadis ini. Jika kau tahu tentang gadis ini, aku ingin bertemu dengannya dan berbicara dengannya."
Bai Xue tidak menjawab untuk waktu yang lama, membuat semua orang menunggu dalam susana tegang.
"Sepertinya aku tahu tentangnya, tapi untuk bisa menemuinya, sepertinya tidak mudah."
1800 Kata.
13 September 2020.
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca ~♥~