
Setelah kehilangan Mo Shan, Mo Xian ikut bersama Li Huan yang berjanji akan merawatnya mulai dari sekarang.
Awalnya Mo Xian enggan untuk pergi, dia masih berharap Mo Shan masih hidup karena Mo Xian tidak melihat sendiri mayat Mo Shan. Mo Xian pikir suatu hari Mo Shan akan kembali ke gubuknya jika dia menunggunya.
Namun, Li Huan mengatakan kalau hutan itu sangat berbahaya dan banyak jenis binatang buas yang berkeliaran di hutan itu. Mo Xian hendak membantah itu karena selama lima bulan dia tinggal di hutan itu bersama Mo Shan, dia tidak pernah melihat binatang buas selain kelinci dan ayam hutan. Namun, saat mengingat kembali dia juga melihat binatang raksasa yang sangat mengerikan, Mo Xian tidak bisa membantah dan dengan berat hati meninggalkan hutan bersama Li Huan. Berharap jika Mo Shan masih hidup, Mo Shan akan datang mencarinya dimanapun dia berada.
Di perjalanan keluar dari hutan, Li Huan sesekali mengajak Mo Xian untuk beristirahat dan merawat luka-lukanya. Li Huan menatap anak kecil yang masih dilanda kesedihan itu masih menolak saat dia menawarkan makanan dan minuman.
Li Huan tidak memaksakan kehendaknya agar anak itu makan makanan yang dia berikan. Ia memahami bahwa segala sesuatu harus melewati proses yang tidak mudah. Seperti halnya untuk melupakan dan merelakan, ia ingat saat pertama kali orang tuanya meninggalkan dirinya bersama kedua adik kecilnya, Li Huan juga menolak untuk makan dan larut dalam kesedihan.
Li Huan menatap Mo Xian sedang mengelus kucing hitam miliknya sambil melihat ke depan. Sebuah lembah yang ditumbuhi bunga-bunga liar. Ada rubah dewasa liar yang sedang berburu hewan-hewan pengerat yang diberikan kepada tiga rubah kecil yang sedang bermain dan berguling-guling di rerumputan.
Li Huan yang melihat Mo Xian begitu fokus melihat interaksi keluarga rubah itu menjadi tersenyum.
"Sebentar lagi musim dingin," ucap Li Huan yang berhasil menarik perhatian Mo Xian yang langsung menatapnya.
Li Huan mengelus pucuk kepala anak yang masih merasa kehilangan itu.
"Ayah dan ibu rubah harus memenuhi kebutuhan anak-anaknya sebelum musim dingin tiba. Mereka harus menimbun lemak untuk anak-anaknya agar mereka bisa bertahan di musim dingin."
Mo Xian tiba-tiba menjadi tertarik. Awalnya, Mo Xian memperhatikan rubah-rubah yang sedang berburu hanya untuk menghabiskan waktu selagi menunggu Li Huan beristirahat dan mengurus luka-lukanya. Luka yang diderita Li Huan ternyata bukan hanya ada di matanya, tapi juga di bagian perutnya. Mo Xian sudah beberapa kali melihat Li Huan mengganti perban setiap kali darah kembali keluar dari perutnya. Mo Xian ingin membantu, tapi dia tidak tahu apa yang harus dilakukan, dan dia masih sedih karena kehilangan Mo Shan.
Namun, Mo Xian tidak menyangka bahwa Li Huan adalah jenis orang yang tidak mudah menyerah untuk menghibur Mo Xian dengan caranya sendiri. Seperti saat ini, saat dia menyampaikan bagaimana keluarga rubah harus bertahan hidup untuk melewati musim dingin.
Saat Li Huan menjelaskan bahwa orang tua rubah sedang berusaha membuat lemak untuk anak-anak rubah agar bisa melewati musim dingin, Mo Xian melihat satu rubah dewasa yang terus berlarian menangkap hewan pengerat untuk ketiga anak-anaknya tanpa kenal lelah.
"Ayah rubah atau ibu rubah?" tanya Mo Xian penasaran karena hanya ada satu rubah dewasa di sana.
Li Huan tersenyum. "Itu ayah rubah."
"Dimana ibu rubah?"
__ADS_1
Li Huan kembali tersenyum saat melihat rubah dewasa itu berhasil menangkap hewan pengerat lagi dan berlari mendekati anak-anaknya. Anak-anak rubah mulai berebut makanan sementara ayah rubah kembali mencari mangsa.
"Rubah, mereka binatang yang cerdik, Xian'er tahu? Saat rubah sudah memutuskan untuk berkeluarga dan memiliki anak, rubah adalah binatang yang sangat bertanggung jawab. Saat ayah rubah pergi berburu untuk menemukan mangsa yang lebih besar dan harus bepergian jauh, ibu rubah akan tinggal dan memastikan anak-anak mereka baik-baik saja dan tidak kelaparan," ucap Li Huan sambil menatap Mo Xian, dan Mo Xian balas menatapnya.
"Begitu juga sebaliknya, saat ibu pergi, ayah yang akan bertugas memastikan keselamatan dan kebutuhan anak-anak mereka sampai ibu kembali dengan tangkapan yang besar."
Mo Xian tiba-tiba sangat tertarik dengan pengetahuan yang disampaikan Li Huan.
"Apakah ibu mereka sedang pergi berburu sekarang?" tanya Mo Xian.
Li Huan mengangguk.
"Mm, jika beruntung ibu mereka akan kembali dengan makanan besar."
"Apa maksudnya?" tanya Mo Xian.
Li Huan tersenyum tipis, ada raut kesedihan di wajahnya. "Terkadang yang pergi tidak selalu bisa kembali," jawabnya.
Mo Xian langsung mengerti maksudnya dan tidak bisa untuk tidak menyembunyikan kesedihannya. Mo Shan muncul di dalam ingatannya dan Mo Xian kembali meneteskan air mata.
"Sementara yang ditinggalkan, semua yang diberi kehidupan punya tanggung jawab untuk dirinya sendiri. Untuk tubuhnya, jiwanya dan pikirannya."
Li Huan menatap Mo Xian yang kini menatapnya dengan wajah sembab.
"Semua memiliki kisah mereka masing-masing. Kita tidak akan tahu jalan apa yang akan kita temui di depan, tapi kita harus tetap berjalan. Berdiam diri tidak akan menghasilkan apa-apa, hanya akan ada keluhan, kesedihan dan kehampaan. Karena itu kita harus tetap bergerak dan maju ke depan."
Mo Xian nampak merenungi pikiran itu sambil mengelus bulu Xiao Hei, sementara Li Huan menatap Mo Xian dengan tatapan kagum. Bagaimanapun juga, bertemu dengan seorang anak yang begitu dewasa di usia muda sangat jarang.
Li Huan sudah memutuskan untuk merawat Mo Xian dan mengangkatnya menjadi anak. Namun, Li Huan belum bisa mengungkapkan niatnya pada Mo Xian. Dia ingin memberi waktu bagi anak itu untuk mengatasi kesedihannya.
***
__ADS_1
Sebelas hari berlalu sejak Mo Xian mengikuti Li Huan dan Mo Xian sama sekali tidak menyangka bahwa hutan yang dia tinggali bersama Mo Shan ternyata sangat jauh dari kehidupan manusia.
Mereka melakukan perjalanan dengan jalan kaki dan terkadang Li Huan juga menggunakan seni meringankan tubuh sehingga bisa bergerak lebih cepat untuk memangkas waktu perjalanan.
Mo Xian masih ingat saat pertama kali Mo Shan membawanya ke hutan dan menemukan gubuk mereka, itu tidak memakan waktu lebih dari setengah hari sejak mereka pergi meninggalkan penginapan dan masuk ke hutan yang tepat berada di seberang sungai.
Namun, sekarang Mo Xian tidak melihat sungai besar yang dilewati Mo Shan dan dia juga tidak melihat kota yang terakhir kali digunakan Mo Shan menginap.
Li Huan bilang, itu adalah hutan terlarang yang jarang diinjak manusia biasa, para kultivator biasanya datang ke hutan itu setahun sekali untuk mencari ramuan ajaib dan binatang ajaib. Namun, itu juga sangat jarang karena selain berbahaya, hutan itu juga terlalu jauh dari peradaban manusia.
Hutan itu dikelilingi lembah berumput yang ajaib, orang biasa yang masuk ke dalam biasanya akan tersesat. Selain dikelilingi lembah, itu juga dikelilingi gunung dan perbukitan yang menurut mitos bisa bergerak dan menghapus jejak kultivator yang masuk dan membuat mereka bingung, dari jalan mana mereka datang dan dari jalan mana mereka harus kembali.
Saat Mo Xian mendengar cerita itu, sulit bagi Mo Xian untuk percaya karena Mo Shan yang terlihat seperti tuan muda lemah dan malas itu sudah sering membawanya keluar masuk hutan untuk makan di rumah makan kota saat Mo Shan malas menyalakan api untuk merebus sayur dan ubi.
Mereka hanya perlu memakan waktu paling lama setengah jam untuk sampai di rumah makan dan setengah jam untuk kembali ke gubuk mereka. Namun, saat Mo Xian melihat sendiri dari puncak gunung bahwa hutan itu benar-benar dikelilingi lembah dan pegunungan, Mo Xian mau tidak mau percaya dengan perkataan Li Huan. Dan Mo Xian mulai bertanya-tanya siapa Mo Shan sebenarnya.
"Lalu, apa yang Paman lakukan di hutan? Apa paman sedang mencari sesuatu?" tanya Mo Xian pada Li Huan saat mereka beristirahat di puncak gunung sambil melihat hutan yang sebenarnya tidak terlalu luas itu.
Li Huan mengangguk. "Mm, aku mencari tanaman obat."
Mo Xian menatapnya. "Obat apa?"
Li Huan tersenyum kecut. "Itu obat yang langka," ucapnya sambil melihat hutan yang kini terlihat jauh berwarna hijau tua.
Mo Xian mengerti maksudnya, jadi dia tidak bertanya lebih. Sepertinya Li Huan juga tidak ingin mengatakannya.
Menyadari Mo Xian diam dan tidak bertanya setelah dia mengatakan itu. Li Huan menatap Mo Xian yang sekarang menyibukan diri dengan kucing hitam manisnya. Dugaan Li Huan dari hari ke hari tentang anak ini semakin meningkat.
Anak yang Li Huan temukan di hutan terlarang jelas bukan anak biasa dan orang yang dipanggil Mo Shan-Xiansheng itu juga jelas bukan orang biasa. Namun, sampai saat ini Li Huan masih tidak mengerti bagaimana anak ini memanggil pamannya dengan sebutan Xiansheng, dan bukan Shushu.
Sampai saat ini, Li Huan hanya bisa menyimpulkan bahwa anak ini dibawa oleh orang yang bernama Mo Shan untuk mencari sesuatu yang penting. Namun, bagaimanapun membawa seorang anak ke hutan terlarang jelas sangat tidak pantas, hutan itu terlalu berbahaya dan tidak semua orang bisa keluar hidup-hidup jika ilmu mereka tidak tinggi. Atau, kemungkinan lain orang yang bernama Mo Shan itu memang memiliki ilmu yang tinggi, tapi kenapa dia tiba-tiba menghilang dan meninggalkan seorang anak.
__ADS_1
Mungkin ini yang disebut takdir, karena Li Huan juga tidak akan menyangka dirinya akan menemukan seorang anak di hutan terlarang. Anak yang baik dan terlihat dewasa itu seolah dikirimkan dewa untuk semua doa-doanya.
Senin, 24 Agustus 2020.