Sang Penjaga : Pendekar Bulan

Sang Penjaga : Pendekar Bulan
Tekad.


__ADS_3

Saat semua pertarungan telah selesai, Li Huan mengatakan sesuatu pada Bai Xue. Setelah beberapa saat Bai Xue tersenyum dan mengangguk.


Li Huan mendekati Li Zhou Ran dan Mo Xian, memeriksa keadaan Wu Jiao Xing sejenak sebelum mengatakan kalau dia akan tinggal di tempat itu untuk sementara waktu bersama Bai Xue, Bai Yue dan Bai Ruo.


Kemudian Li Huan menyuruh Zhao Jin untuk membawa Wu Jiao Xing kembali bersama Li Zhou Ran dan Mo Xian.


Mo Xian tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan setelah Li Huan membuka penghalang agar mereka bisa keluar, penghalang itu kembali muncul memisahkan kelompok Mo Xian dan Li Huan.


Mo Xian menatap di mana penghalang itu berada benar-benar membuat ilusi seolah dataran salju itu baik-baik saja, menyembunyikan Li Huan dan kelompok Bai Xue.


"Ayahmu perlu melakukan sesuatu dengan pemimpin kota Embun Salju. Xian'er tidak perlu khawatir, semuanya akan baik-baik saja," ucap Li Zhou Ran mengelus pucuk kepala Mo Xian.


Mo Xian merasa ini adalah salahnya, dia menatap punggung Wu Jiao Xing yang kini tidak sadarkan diri di gendongan Zhao Jin.


"Kita harus kembali dan merawat Wu Jiao Xing," ucap Li Zhou Ran sambil mengusap air mata yang masih mengalir di pipi Mo Xian.


Dada Mo Xian benar-benar sesak, dia menyadari sesuatu. Namun, itu seakan telah terlambat dan hanya bisa menangis sejadinya.


Li Zhou Ran tidak mengerti kenapa Mo Xian tiba-tiba menangis sampai berlutut di salju. 


Li Zhou Ran segera memeluknya dan menepuk-nepuk punggungnya.


"Jangan menangis, jangan menangis, semua akan baik-baik saja." Li Zhou Ran mencoba menenangkan Mo Xian.


Mo Xian sendiri juga berusaha untuk mengolah emosinya, tapi dadanya terlalu sesak dan tidak bisa berhenti menangis. Li Zhou Ran yang tidak bisa menenangkan Mo Xian hanya bisa menekan titik kesadaran Mo Xian dan mengambilnya. Setelah Mo Xian tidak sadarkan diri, Li Zhou Ran menggendongnya.


"Ayo cepat kembali."


"Baik, Nyonya."


.........


Keesokan paginya, Mo Xian membuka matanya di kamarnya. Li Zhou Ran duduk di sebelahnya.


"Sudah bangun?" Li Zhou Ran tersenyum padanya. Mengusap pipinya.


Mo Xian segera bangun. "Dimana gege?" tanya Mo Xian.

__ADS_1


Li Zhou Ran mengusap kepala Mo Xian.


"Jangan khawatirkan Wu Jiao Xing, dia baik-baik saja. Wang Xueshi sudah mengurusnya untuk saat ini."


Mo Xian beranjak dari tempat tidurnya. "Aku ingin melihatnya."


Namun, Li Zhou Ran menarik tangannya. "Wu Jiao Xing tidak bisa dikunjungi sekarang, dia perlu istirahat. Xian'er juga butuh istirahat."


Mo Xian menatap dengan khawatir. "Apa itu artinya kondisi gege serius? Dia terluka parah?" Mo Xian mendesak.


Li Zhou Ran tersenyum, menggelengkan kepalanya dan menarik Mo Xian ke dalam pelukannya.


"Dia baik-baik saja, semuanya baik-baik saja. Tubuh Wu Jiao Xing baik-baik saja, tingkat kultivasinya sedikit terganggu tapi tidak terlalu berat. Wang Xueshi bisa mengatasinya, jika perlu kau bisa meminta ayah untuk memberikan jantung Hongbaoshi dan Bai Xin pada Wu Jiao Xing. Semuanya baik-baik saja, Xian'er tidak perlu khawatir."


Mo Xian sedikit tenang dan keluar dari pelukan Li Zhou Ran. "Tapi, aku ingin melihatnya."


Li Zhou Ran mencubit pipi Mo Xian. "Tapi dia butuh waktu untuk istirahat lebih. Wang Xueshi bilang dia tidak boleh diganggu untuk sementara waktu."


Mo Xian kecewa mendengarkan hal itu hingga matanya meredup. Dia kemudian memilih kembali ke tempat tidur dan menarik selimut. Lalu dia teringat sesuatu.


"Bagaimana ayah dan Ibu bisa tahu aku ada di sana?" tanya Mo Xian, menggenggam jari Li Zhou Ran.


Mo Xian mengangguk.


"Saat itu hari sudah gelap dan Xian'er tidak kunjung kembali. Ibu khawatir dan meminta Zhao Jin untuk mencarimu, tapi Zhao Jin tidak menemukanmu di mana-mana. Lalu, saat ibu ingin mencarimu sendiri, Xiao Hei datang."


"Xiao Hei?" Mo Xian bertanya dengan mata membola, kalau diingat kembali saat dia bertarung saat itu Mo Xian tidak sadar Xiao Hei ada di mana.


"Mm." Li Zhou Ran mengangguk. "Ibu melihat Xiao Hei, tapi tidak melihat Xian'er dan Wu Jiao Xing. Lalu tiba-tiba Xiao Hei mengeong dan berlari seolah ingin menunjukan jalan."


"Jadi karena Xiao Hei, ayah dan Ibu tahu keberadaan kami?"


Li Zhou Ran mengangguk. "Xiao Hei kucing yang pintar, dimana Xian'er mendapatkannya?"


Mo Xian menundukan wajahnya dan meremas selimut, Xiao Hei tiba-tiba datang dan menguap di depan wajahnya sebelum berbaring di depannya, menjilati bulu hitam manisnya.


Mo Xian mengelus Xiao Hei, kucing hitam manis ini ditemukan di hutan bersama Mo Shan, saat itu dia yang kesepian karena Mo Shan tidak pernah tinggal di satu tempat, Mo Xian bertanya apakah dia boleh memelihara kucing itu. 

__ADS_1


Mo Shan hanya mengangguk dan mengambil kucing kecil yang terlihat ketakutan bersembunyi di semak-semak. Tersenyum, Mo Shan mengatakan, "Dia akan berguna untukmu, panggil dia Xiao Hei karena bulunya yang hitam," ucapnya sebelum menyerahkan bola bulu hitam itu ke pelukan Mo Xian.


Sejak saat itu kucing itu tidak pernah membiarkannya sendiri, kemanapun Mo Xian pergi, Xiao Hei selalu mengikutinya.


"Xiao Hei pemberian dari Mo Shan-Xiansheng," jawab Mo Xian pada akhirnya dan membuat Li Zhou Ran kehilangan kata-kata.


Hening sesaat, Li Zhou Ran nampak memikirkan sesuatu sebelum bangkit dari duduknya.


"Xian'er pasti lapar, ibu akan mencari sesuatu untuk dimakan," ucap Li Zhou Ran sebelum pergi meninggalkan Mo Xian bersama Xiao Hei sendirian di kamar.


Mo Xian mengakat Xiao Hei dan kucing yang sibuk membersihkan bulunya itu masih memainkan lidahnya, menjilat sekitar mulut dan hidungnya, gigi taringnya terlihat, matanya yang keemasan dengan pupil berwarna hitam nampak sangat indah.


"Xiao Hei, katakan padaku. Jika kau bisa menunjukan arah untuk ayah dan ibu, bisakah kau menunjukan kemana Mo Shan-Xiansheng berada?"


Kucing hitam manis itu menatap dengan matanya. "Meow."


Mo Xian menghela napas sebelum meletakan Xiao Hei di atas perutnya. Lupakan tentang Mo Shan sejenak, ada hal penting yang harus dia pikirkan.


Mo Xian mulai menyadari sejak bertemu dengan orang-orang bertopeng itu. Orang itu menggunakan topeng yang sama dengan orang yang menyerang mereka satu tahun yang lalu, itu artinya mereka dikirim oleh orang yang sama atau dalam satu organisasi yang sama, terlebih lagi, mereka ternyata adalah mayat hidup. Tidak, itu tulang belulang yang entah bagaimana saat memakai topeng mereka menjadi seperti layaknya manusia yang utuh dan sehat.


Yang menjadi pertanyaan Mo Xian adalah kenapa mereka menyerang Mo Xian dan Wu Jiao Xing. Orang-orang itu, mungkinkah mereka adalah musuh Aliansi Merak dan menjadikannya sebagai target karena telah menjadi anak angkat pemimpin Aliansi Merak.


Sampai saat ini, hanya itu kesimpulan yang dapat diambil Mo Xian. 


Mo Xian menghela napas, jika itu benar, dia harus berlatih menjadi kuat. Melihat Wu Jiao Xing kemarin, membuat dirinya sadar bahwa membebani orang lain benar-benar membuatnya tersiksa. Saat dia tidak bisa melakukan apapun untuk Wu Jiao Xing, hatinya sakit. 


Orang yang sudah dianggap sebagai kakaknya sejak pertemuan mereka yang pertama, terluka dan Mo Xian tidak bisa melakukan apapun, dia merasa dirinya benar-benar tidak berguna.


Mo Xian berpikir bahwa dia perlu belajar lebih keras lagi untuk bertahan hidup di dunia yang sama sekali berbeda dengan Bumi. Di sini, jika Mo Xian tidak kuat, dia hanya akan menjadi beban untuk orang lain dan tidak bisa melindungi orang-orang yang dia sayangi.


Mo Xian bertekad bahwa dia harus berubah.


1177 Kata.


04 September 2020.


12 September 2020.

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca ~♥~


__ADS_2