
Namaku Hulya Maulida, aku adalah seorang istri dari lelaki bernama Ragil Saputra, anak dari sahabat Abiku.
Mas Ragil tampan, baik dan lembut, tapi entah kenapa dia tak bisa menarik hatiku, sebab di hati ini sudah terpatri nama Mas Azam yang sudah kusukai bahkan sejak kami menempuh pendidikan sekolah menengah atas bersama.
Waktu Abi mengatakan kalau aku akan menikah dengan lelaki pilihannya, aku memberontak, jelas saja aku menolak.
Aku tidak mencintai lelaki itu, mana mungkin aku menikah dengannya.
Lagi pula kenapa Abi begitu kolot dengan acara menjodoh-jodohkan anak-anaknya.
Dulu Mas Zhafran dan kali ini giliranku! Aku menolak dengan tegas, sudah pasti.
"Ngga bisa Bi! Aku ngga mau menikah dengan lelaki yang tidak kucintai!" tolakku yakin.
"Lalu kamu mau menikah dengan siapa?" tantang Abi.
Kugigit bibir dalamku sambil memejamkan mata. Usiaku yang saat itu baru berumur dua puluh dua tahun tentu saja keberatan jika harus menikah muda.
"Aku ngga mau menikah sekarang, aku mau lanjut S2," tolakku memberi alasan logis.
Lelaki itu pasti akan menyerah batinku kala itu.
Abi menghela napas, sebelum menjawab pertanyaanku. Lagi pula aku bingung dengan Abi, mengapa dia memaksa sekali menjodohkan aku dengan anak sahabatnya yang aku panggil 'keluarga parasit'
"Abi udah janji sama mereka, ya sudah nanti Abi bicarakan sama calon suamimu," jelasnya lalu bangkit, meninggalkanku.
Abi pasti akan menurutiku, karena dia memang selalu memberikan apa pun yang ku mau.
Kini tinggal bagaimana cara aku mendekati mas Azam, agar dia lah yang menjadi suamiku.
Mas Azam sangat susah untuk di dekati. Orangnya Friendly, tapi seakan buta oleh perhatian-perhatianku.
Apa dia tidak sadar ada wanita yang sudah menyukainya sejak dulu?
Atau jangan-jangan dia sudah punya kekasih? Tidak-tidak, itu tidak boleh di biarkan, mas Azam hanya milikku.
Lagi pula aku tak pernah melihat dia jalan dengan seseorang, menurut teman satu kosanya juga dia tidak pernah membicarakan masalah perempuan pada teman-temannya.
Aku sadar aku terlalu terobsesi padanya, hingga tanpa tau malu aku selalu mencari tahu tentang dirinya.
__ADS_1
Apa yang tidak bisa kulakukan, jika uang bisa memberikan segalanya.
Semua informasi itu bisa kudapatkan dengan segelintir uang untuk mereka dan namaku tetap bersih.
Khas perempuan alim pada umumnya, tak banyak yang tau jika aku memendam rasa pada lelaki itu.
Sayangnya, hingga lulus pendidikanku, Mas Azam justru semakin terlihat jauh dari jangkauanku.
Kala itu, kulihat dia tengah duduk seorang diri di kafe dekat dengan sekolah milik orang tuaku.
Aku yang di minta Abi memberikan beberapa dokumen untuk Mas Zhafran tak sengaja melihatnya.
"Mas, lagi apa?" tanyaku antusias, karena sudah beberapa bulan tidak bertemu dengannya. Jujur aku sangat merindukannya, meski kami sering berkirim kabar melalu ponsel, tapi tidak bisa menguapkan rasa rinduku padanya.
Dia menghela napas, "Aku baru melamar sebagai pengajar di sana!" tunjuknya pada sekolahan milik keluargaku.
"Tapi kayaknya susah untuk masuk di sana karena ternyata sainganku cukup berat, mereka kebanyakan lulusan dari universitas terbaik," jelasnya lemah.
Abi memang selalu mengutamakan kualitas para pendidik di sekolah miliknya. Mungkin itulah yang membuat Mas Azam minder.
Yang kutahu Mas Azam berasal dari keluarga kaya, tapi entah kenapa hidupnya cukup sederhana bagiku, itu pun kata teman-temannya.
Meski aku akui bayaran di sekolah milik Abi cukup besar di bandingkan dengan sekolah sekitarnya.
Jika dari segi nama besar memang banyak yang bilang mengajar di sekolah milik Abi bukan hanya enak dari segi finansial, tapi juga dari nama besarnya bisa membuat bangga. Begitulah kata sebagian pengajar di sana yang kukenal.
"Mas berminat sekali mengajar di sana?" ujarku.
Dia mengangguk lemah, dia tak sadar sedang berbicara dengan anak pemilik sekolah itu. Memang aku tak pernah memberitahu nama besar keluargaku saat berteman, karena saat itu aku pikir keluarga mas Azam dari keluarga sederhana karena lingkar per temanan kami memang rata-rata dari keluarga sederhana.
Aku tak ingin mereka minder berteman denganku, oleh sebab itu aku memilih menyembunyikan identitas asliku.
"Kenapa mas mau kerja di sana?" tanyaku penasaran.
"Banyak yang bilang kalau bisa masuk di sana akan sangat beruntung. Mereka ngga bohong dengan seleksinya yang cukup sulit. Aku rasa aku akan di tolak," jawabnya.
"Aku doakan semoga berhasil ya Mas," ujarku memberinya semangat.
Ini salah satu kesempatanku untuk bisa mendapatkan mas Azam, saat dia bisa masuk di tempat kerja yang dia inginkan berkat diriku, aku yakin dia akan menerimaku menjadi kekasihnya.
__ADS_1
Ah indah sekali, tanpa sadar aku tersenyum sendiri.
"Kamu kenapa Hulya?" tanya mas Azam mengagetkanku.
"Ah enggak mas, ya udah Hulya pamit dulu ya, di tunggu Abi dan Umi," ujarku cepat-cepat ingin bertemu abi dan meminta sesuatu padanya.
Sesampainya di rumah, aku bergegas mendatangi ruang kerja Abi, setelah mas Zhafran menggantikan posisi Abi, kini beliau lebih banyak kerja di balik layar.
"Abi!" panggilku antusias.
Mata Abi memicing melihatku yang datang dengan tersenyum lebar.
"Ada apa? Kamu udah ketemu sama Ragil?" tanyanya yang membuatku mendengus.
"Maaf Bi aku lupa, dari yayasan aku langsung pulang ke rumah!" jelasku.
Aku tak berbohong, saat melihat mas Azam, aku lupa tujuan utamaku yaitu bertemu dengan Mas Ragil calon suamiku.
Bodo amatlah, kalau pun dia marah itu malah bagus, mungkin dia akan menolak perjodohan ini, meski itu sepertinya tidak mungkin.
Biasanya keluarga wanitalah yang di paksa di jodohkan dengan lelaki dari keluarga kaya untuk membayar hutang atau agar hidupnya tak sengsara, sedangkan posisi kami justru Abilah yang kaya justru memaksa anaknya menikah dengan lelaki dari keluarga sederhana.
Mau seperti apa hidupku jika harus bersama dengan lelaki dari keluarga parasit seperti mereka.
"Kamu kenapa Kelihatan kesal?" tanya Abi.
"Bi, aku ngga mau menikah dengan dia. Mau jadi apa rumah tanggaku kalau suamiku aja dari keluarga kacau begitu!" sergahku tak habis pikir.
Kulihat Abi menghela napas, "jangan sama kan Ragil dengan keluarganya. Lagi pula apa yang kamu tau tentang keluarga Paman Ibnu dan Bibi Rukayah?" tanya Abi penasaran.
Selama ini aku memang tau kemelut keluarga itu dari Umi. Umi sering mengeluh karena Abi tak pernah perhitungan jika membantu keluarga Paman Ibnu, ayah dari Ragil.
Berapa pun yang mereka minta pasti Abi berikan, hal itu yang sering membuat Umi uring-uringan.
Sebenarnya Umi pun tak setuju dengan perjodohan ini, tapi Abi sudah pada keputusannya, dia ingin menunaikan janji pada sahabatnya dengan mengorbankan aku.
Menurut Umi, Abi selalu beralasan kalau hidupku akan enak ke depannya. Alasan yang tak masuk akal, enak bagaimana kalau aku ternyata harus hidup dengan lelaki dari keluarga pengemis!
__ADS_1