Secangkir Kopi Hitam

Secangkir Kopi Hitam
Bab 74


__ADS_3

Sarah semakin tambah menjadi. Di rumah dia selalu merasa tidak tenang karena menunggu kabar dari Farah.


Ponsel Farah yang di tinggal di rumah, tentu saja tak bisa dia hubungi.


Bahkan orang-orang kantor tak ada yang tahu ke mana atasan mereka pergi.


"Sil! Beneran kamu enggak tau ke mana perginya atasan kamu? Kok bisa sih? Kamu kan sekretarisnya!" keluh Sarah.


"Maaf Bu Sarah, enggak semua hal Bu Farah ceritakan sama saya apa lagi masalah pribadinya," jawab Sesil tenang.


Dia sebenarnya tau ke mana perginya sang atasan. Namun Farah sudah mewanti-wantinya agar tak mengatakan kepergiannya pada Sarah apa pun yang terjadi.


Jadilah Sarah sering merasa kesal sendiri. Seminggu setelah kepergian Farah dan Tania, mereka akhirnya kembali, tapi kali ini dengan ada yang berbeda. Ragil kini turut serta kembali ke kediaman mertuanya sebelum mereka pindah rumah.


Sebenarnya mereka sengaja menghabiskan acara bulan madu di sana. Farah merasa bahagia akhirnya bisa melepas masa lajangnya dengan lelaki yang tepat.


Sarah yang tiap sore selalu berada di kediaman Farah untuk menunggunya pulang, terbelalak saat melihat Farah turun bersama dengan Ragil dan juga Tania tentunya.


"Jad ... Gara-gara lelaki ini kamu berubah Far? Bukankah aku udah pernah bilang, kalau dia bukan laki-laki baik?!" serunya dengan kesal.


Farah dan Ragil tak memedulikan ucapan wanita yang selalu iri dengan kehidupan Farah.


Ragil dan Farah bahkan bersenda gurau sendiri membicarakan bulan madu mereka.


"FARAH!" maki Sarah kesal, lantas mendekati keduanya yang tengah sibuk mengeluarkan barang dari bagasi.


"Apaan sih Sar? Mending kamu pulang deh, aku mau istirahat, cape!" usirnya.


Sepertinya gelombang air mata Sarah kembali melanda. Dia menangis demi mencari simpati Farah. Biasanya sang sepupu akan melunak jika melihatnya menangis.


"Kamu kenapa Far? Salah aku apa sama kamu? Kenapa kamu berubah kaya gini hanya karena laki-laki?" ucapnya sambil menangis.


"Hentikan tangisanmu Sar, dan ingat Ragil adalah suamiku, aku harap kamu bisa menghargainya," balas Farah datar.


Tangisan Sarah berhenti seketika. Dia tak menyangka jika Farah akan berkata jujur padanya. Meski dia sempat curiga Farah akan menikah diam-diam. Namun dia tak menyangka kalau Farah benar-benar menikah dengan Ragil.

__ADS_1


"KAMU MENGAMBIL KEPUTSAN BESAR TANPA BICARA PADAKU FARAH? APA KAMU SUDAH ENGGA MENGANGGAPKU LAGI?!" pekiknya kesal.


Farah memandang sengit wanita di hadapannya itu. Sudah cukup selama ini dia bersikap baik. Wanita itu harus di ajarkan batasan.


"Memangnya kamu siapa? Ingat, kamu hanya sepupuku. Aku punya orang tua yang masih bisa aku mintai pendapat. Ingat batasanmu Sarah!" balasnya.


Ragil memegang pundak sang istri. Perdebatan ini sungguh tak akan ada habisnya. Dia merasa kasihan pada ibu mertuanya yang sedari duduk dengan raut wajah frustrasi.


"Biarkan Mamah istirahat dulu," selanya.


"Enggak usah sok baik kamu Ragil! Aku yakin Farah berubah karena kamu. Dasar lelaki pembawa sial, gara-gara kamu suamiku harus kehilangan keluarganya. Gara-gara kamu Farah berubah!" seru Sarah pada Ragil.


Ragil tersenyum miring, mengapa wanita yang dulu dia kasihani karena di selingkuhi oleh Azam dan Hulya justru malah jadi menyebalkan.


Dia jelas tau apa yang terjadi dengan mereka. Lalu sekarang dengan mudahnya wanita itu menyalahkannya tanpa sadar bahwa semua adalah salah dia sendiri.


"Cukup!" sela Farah yang geram mendengar Sarah menyerang suaminya.


"Mau kamu apa sebenarnya Sar? Tolong jujur padaku. Karena aku sungguh muak dengan segala dramamu. Jelaskan apa yang sebenarnya kamu inginkan dariku?" tanya Farah tajam.


"Kenapa kamu diam ayo jawab!" paksa Farah.


"Aku benar-benar bisa tertipu sama sikap kamu yang aku pikir peduli. Nyatanya aku menyimpan seekor ular yang sudah siap mematukku kala aku lengah."


"Sebaiknya mulai sekarang kita jaga batasan kita Sar. Kamu sudah berkeluarga begitu juga denganku. Jadi aku harap, hubungan kita hanya sebatas rekan kerja aja di kantor," putus Farah.


Saat ketiganya hendak meninggalkan Sarah. Wanita itu tiba-tiba tertawa sangat kencang, membuat langkah ketiganya kembali terhenti dan berbalik menatap Sarah heran.


Sarah lantas bertepuk tangan. Wajahnya berubah jadi merah karena menahan amarah.


"Baguslah. Kini sepertinya aku enggak harus berpura-pura lagi sama kamu," jawabnya.


"Aku memang membencimu sangat membencimu. Karena kamu dan mamahmu adalah orang yang sangat serakah!" balasnya.


Farah dan Tania saling melempar pandangan tak mengerti dengan perkataan Sarah.

__ADS_1


"Enggak usah pura-pura bingung!"


"Tante, katakan sama anak tante apa yang udah tante lakuin sama mamah aku!" pinta Farah.


"Apa maksud kamu Farah? Tante benar-benar enggak mengerti," jawab Tania bingung.


"Tante enggak usah pura-pura! Bukankah Tante dulu yang menghasut papa agar mau menceraikan mamah agar papah bisa sama sahabat tante, iya kan?"


Mata Tania membesar, tipuan apa lagi yang kakak iparnya lakukan. Jelas dia yang menjadi perusak rumah tangga kakaknya. Mengapa sekarang wanita itu yang seolah-olah menjadi korbannya.


Ini sungguh tak bisa di biarkan. Sepertinya luka lama itu harus segera di selesaikan saat ini juga.


Tania berpikir kalau itu hanya akan menjadi masa lalu mereka. Namun sayangnya, kakak iparnya yang licik justru mengirim anaknya untuk merusak kebahagiaan putrinya.


"Apa yang kamu tahu?" jawab Tania sambil kembali mendekati Sarah dan duduk di sofa.


"Kamu ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan keluarga papamu? Mengapa mereka harus pergi dari sini?" sinis Tania.


"Inilah kamu yang sebenarnya tante," cibir Sarah.


"Sudahlah ingin menghancurkan rumah tangga orang tuaku. Kamu juga merebut perusahaan papahku. Bukankah benar kalau kalian memang serakah?"


"Apa kamu punya bukti? Akan tante jelaskan semuanya. Jadi inilah yang membuat kamu bersikap aneh pada Farah? Mencegah dia menggapai kebahagiaannya? Sungguh licik kamu," balas Tania kecut.


"Kamu punya otak harusnya di pakai. Meskipun mereka orang tuamu, harusnya kamu bisa mencari tahu kebenarannya. Bukan balas dendam tak karuan seperti ini."


"Tante enggak usah mengelak. Jelas aku percaya sama mamaku. Enggak mungkin mamah berbohong!"


"Jawab pertanyaan tante. Lantas kenapa orang tuamu tak berani ada di kota ini lama? Bahkan kamu sakit pun mereka memilih menyewa perawat untuk menjagamu? Apa kamu enggak pernah curiga?"


.


.


.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2