Secangkir Kopi Hitam

Secangkir Kopi Hitam
Bab 24


__ADS_3

Hal yang tak kusangka akhirnya terjadi, saat aku dan rekan sesama guru juga mas Azam tengah makan siang bersama, tiba-tiba mas Ragil datang bersama dengan sahabatnya, Hendi.


Aku tak pernah berbicara dengan Hendi, bahkan lelaki itu hanya beberapa kali mendatangi kediamanku dengan mas Ragil karena suatu keperluan.


Mas Ragil menatap nanar ke arah kami, gugup tentu saja, kucoba setenang mungkin karena aku merasa tidak sedang melakukan kesalahan.


Mau tak mau kukenalkan suamiku pada rekan-rekanku.


Sampai pada kalimat Mas Azam saat itu yang membuatku hancur seketika.


Dia berkata akan segera menikah, senyumnya merekah sempurna, seakan dia tak sabar menunggu hari bahagianya tiba.


Wajahku mendadak kaku, bahkan untuk sekedar tersenyum pun aku tak sanggup.


Saat kami selesai makan siang, aku tetap memutuskan untuk kembali bersama rekan-rekanku.


Ingin mencecar siapa gerangan wanita yang selama ini berhasil dia sembunyikan.


Jika aku tau siapa wanita itu, sudah pasti sejak lama aku menyingkirkannya.


"Bu Hulya kenapa?" tanya Bu Indah yang duduk di bangku tengah bersama dengan Bu Asri.


Aku sendiri berada di sebelah Mas Azam, kami memang pergi menggunakan mobilku.


"Aku ngga nyangka loh, ternyata suami Bu Hulya beneran tampan seperti kata Bu Asri," sambung Bu Indah.


Harusnya aku bangga karena memiliki suami yang memiliki paras idaman para wanita. Meski sedikit kesal dengan ucapan kagum mereka, tapi aku berusaha untuk tak peduli.


"Iya nih, jadi penasaran kalau anaknya Bu Hulya sama suaminya nanti pasti cakep-cakep deh!" sambar Bu Asri menggodaku.


Sebenarnya ingin sekali saat ini aku berbicara dengan mas Azam, tapi tak mungkin karena ada Bu Indah dan Bu Asri, bisa-bisa mereka merasa heran dengan kelakuanku.


Herannya Mas Azam pun tampak diam, tak seperti saat kami pergi tadi. Mungkin dia sedang memikirkan sesuatu, atau bisa jadi memikirkan kekasihnya.


Saat sudah sampai di sekolah, aku berusaha mencegah Mas Azam agar tak segera masuk ke kantor.


"Tunggu Mas!" cegahku saat dia hendak mengembalikan kunci mobil.


Untungnya Bu Asri dan Bu Indah sudah meninggalkan kami, karena sibuk membicarakan sesuatu hingga mengabaikan keberadaan kami.


"Ada apa Hul?" tanyanya bingung.


"Benarkah mas akan menikah? Kenapa bahkan aku ngga tau siapa wanita beruntung itu," tanyaku sendu.


Harusnya dia mengerti gelagatku yang sedih, tapi yang kutangkap justru dia seakan bahagia dengan jawabannya.


"Kamu tau sendiri Ya, Mas memang ngga suka mengumbar masalah pribadi Mas. Lain kali Mas akan kenalkan kamu ya?" ucapnya semangat.


Dia menepuk bahuku sekilas lalu segera berlalu dari hadapanku.


Perasaanku kacau dan itu berimbas pada cara mengajarku. Akhirnya aku hanya bisa memberi tugas pada murid-murid lalu diam melamun di kelas.


Pulangnya, entah ada angin apa, tiba-tiba Mas Ragil mengajakku keluar. Ingin menolak tapi aku sedang membutuhkan sandaran. Sepertinya dia cukup bisa diandalkan. Nyatanya sekarang dia berusaha menyenangkan hatiku dengan mengajakku ke restoran favoritku.


Hatiku kembali terbuncah kala Mas Ragil menyebut nama Mas Azam. Seketika aku menoleh semangat.


Namun setelahnya hatiku kembali hancur kala dia datang tak sendiri. Dia bersama dengan wanita yang kuyakini adalah calon istrinya.

__ADS_1


Sialnya lagi, Mas Azam mengetahui keberadaan kami dan meminta bergabung.


Bukannya menolak justru Mas Ragil mempersilakannya. Jadilah kami duduk berpasang-pasangan.


Kulirik penampilan wanita yang mengenakan pakaian cukup modis, hijab yang ia kenakan dililitkan ke leher.


Aku pikir selera mas Azam wanita sepertiku, yang berpakaian serba lebar. Karena dulu aku mengamati, teman-teman wanitanya kebanyakan berpakaian seperti ini.


Tak kukira ternyata selera dia adalah wanita yang memiliki Fashion seperti itu.


Perdebatan kecil terjadi di antara kami, geramnya justru Mas Azam membela kekasihnya dengan balas menyudutkanku.


Mas Ragil pun aneh, dia yang biasanya lembut padaku, mendadak berubah kasar. Dia bahkan menarikku keluar.


Lalu, hal yang mengejutkan terjadi, dia ternyata tahu tentang perasaanku pada Mas Azam. Ternyata selama ini dia berpura-pura bodoh.


Antara malu dan kesal, malu karena mungkin dalam hatinya dia selalu mencibirku. Tak akan kubiarkan, sepertinya percuma juga berpura-pura lembut padanya.


Lebih baik aku tegaskan saja sikap penolakanku padanya. Dia bahkan terang-terangan menolak tidur bersamaku. Dia pikir aku akan merasa bersalah? Tidak akan.


.


.


Esoknya lagi-lagi aku di kejutkan dengan undangan yang di bagikan oleh Mas Azam. Raut wajahnya memancarkan kebahagiaan.


Aku benar-benar kecolongan, tak sadar jika Mas Azam berhasil menutupi hubungannya dariku.


Tanganku gemetar menerima undangan darinya. Undangan berwarna emas dan perak itu tampak mewah.


Berbanding terbalik dengan perasaanku saat ini yang menerima undangan darinya.


Di rumah, aku menangis lagi di ruang tamu, menangisi undangan itu. Biar saja Mas Ragil tahu, toh dia memang sudah tau bagaimana perasanku, jadi tak ada gunanya di tutupi lagi.


Dia mencibirku, nadanya sangat ketus seolah mengejekku. Tentu saja aku tak terima di rendahkan.


Sakit karena merasa di khianati, sekarang sakit karena suamiku sendiri mencemoohku.


Aku terduduk menangis, hingga Mas Ragil memberikan saran padaku.


Dia memintaku untuk mengungkapkan perasaanku pada Mas Azam. Sesuatu yang tak pernah aku lakukan.


Jujur aku masih berprinsip, laki-lakilah yang harusnya menyatakan cinta, bukan sebaliknya.


Namun sayangnya semua perhatianku tak membuka matanya kalau aku mencintainya.


Mungkin ini adalah jalan terakhir aku harus mengungkapkan isi hatiku.


Paginya aku segera menemui Mas Azam dan menumbalkan nama Mas Ragil yang berkata ingin bertemu dengannya.


Tentu saja dia menjawab dengan antusias, entah apa yang di pikirkannya, mengapa dia terlihat senang bertemu dengan suamiku.


Aku mengabari Mas Ragil tentang pertemuan kami dan ia hanya membalasnya dengan singkat.


Entah kenapa beberapa hari ini melihat dia semakin bersikap cuek dan dingin padaku membuatku rindu akan sosok hangatnya.


Kurasa dia sudah mulai menutup hatinya untukku. Biar saja, memang dia bisa apa tanpaku? Jangan sampai dia meminta cerai karena kesalahanku.

__ADS_1


Aku tak ingin di salahkan abi dan umi. Aku sendiri bingung kesalahan apa yang harus di lakukan Mas Ragil agar perpisahan kami bersumber darinya.


Pertemuan ini nyatanya membuatku semakin sakit hati. Ternyata Mas Azam tak pernah mencintaiku, hatiku sakit sekali.


Seumur-umur apa yang aku inginkan selalu aku dapatkan dan saat mendapati kenyataan tertolak, harga diriku terasa di injak-injak.


Aki bersumpah akan menaklukkanmu Mas Azam, bagaimana pun caranya! Kamu harus merasakan sakitnya hatiku karena penolakanmu yang memalukan.


Di saat seperti ini aku tetap menyalahkan Mas Ragil. Lelaki penyabar itu hanya diam, tak menjawab.


Tak ada reaksi berlebihan darinya, bahkan dia masih cukup perhatian padaku untuk menawariku makan.


Aku memang kelaparan karena lelah menangis. Dia membeli dua bungkus makanan dan ternyata seleranya cukup bagus.


Sepertinya dia mulai memberontak dan ingin menantangku. Bahkan sekarang dia tak pernah menatapku dan memanggilku Dek lagi.


Usai berurusan dengan Mas Azam, kini Sarahlah yang menjadi incaranku.


Aku menemuinya, tak susah mencarinya. Dari media sosialnya aku tau dia bekerja di mana. Aku menelepon ke nomor kantornya dan mengajaknya bertemu.


"Mau apa Bu Hulya menemuiku? Kalau mau mengucapkan selamat, lebih baik nanti saja saat di pelaminan," ujarnya pongah.


Kukepalkan kedua tanganku yang berada di bawah meja.


"Mundurlah Mbak Sarah!" ancamku langsung.


"Apa?!" suaranya memekik karena kaget.


"Apa maksud Anda Bu Hulya?" tanyanya tajam.


Aku tersenyum puas melihat amarahnya, akan kupastikan jika Mas Azam akan memilihku dari pada kamu, batinku.


"Aku dan Mas Azam saling mencintai. Meskipun aku sudah menikah, aku berjanji akan kembali padanya. Jadi ... Dari pada Mbak Sarah terluka nantinya lebih baik mundur saja!" Jelasku.


Dia tertawa sambil menggeleng, "Apa Anda ngga punya malu Bu Hulya? Meminta aku menyerah, memang siapa Anda? Ingat Anda seorang istri! Kelakuan Anda memalukan sekali!" cibirnya.


"Dan satu lagi yang harus Anda tau! Aku yakin hanya kamu yang mencintai calon suamiku. Kamu terobsesi padanya, sayangnya dia tidak pernah mencintaimu!" ejeknya.


Ucapannya benar-benar melukaiku. Meski mungkin seperti itu, tapi aku tetap tak terima.


"Aku sudah kenal lama dengan Mas Azam dari pada Mbak Sarah, apa kamu yakin Mas Azam ngga punya perasaan pada saya?" balasku tenang.


Kulihat matanya membesar, mungkin dia tak menyangka aku akan berani menantangnya.


"Ingat, intensitas kami bertemu lebih banyak dari pada Anda, jadi bisa saja aku membuatnya kembali padaku. Sebagai sesama perempuan, aku hanya berusaha memperingatkan Mbak agar tak sakit hati itu saja," pesanku lalu bangkit berdiri.


Ucapannya menghentikan langkahku, "sebagai seorang perempuan ya?" sarkasnya.


"Jika memang begitu, harusnya kamu membiarkan kami bahagia, toh kamu sendiri sudah bahagia dengan suamimu," jawabnya.


"Tidak, bahagiaku adalah Mas Azam, begitu juga dengannya," jelasku lalu melanjutkan langkahku meninggalkannya.


Sengaja kulakukan hal ini untuk membuatnya gusar, tentu saja dia akan merasa waswas karena ada wanita yang mencintai kekasihnya dan selalu berada di sekitarnya.


Aku akan menjadi bayanganmu, membuat mimpi buruk untukmu Sarah!


__ADS_1


__ADS_2