Secangkir Kopi Hitam

Secangkir Kopi Hitam
Bab 40


__ADS_3

Setelah perbincangan itu, aku lantas pulang, sepertinya urusanku akan semakin panjang di sini, oleh sebab itu aku harus mempercayakan toko kepada Hendi esok.


Aku tiba di rumah dengan keadaan rumah yang sepi. Namun ternyata saat aku masuk terlihat Ibu sedang mengetuk kamar Saeba.


"Ayo Sa, makan dulu, nanti kamu sakit, ibu janji akan minta Abangmu untuk menjemput Faisal," bujuk Ibu.


"Kenapa Bu?" tanyaku menghampirinya.


"Sejak siang Saeba belum makan Bang, ibu takut dia kenapa-kenapa," lirih ibu sambil mengusap air matanya.


Lalu aku mencoba mengetuk kamar Saeba, "Sa jangan kaya gini, kamu harus jaga kesehatan. Abang janji akan menemui Faisal, tapi kamu harus makan," bujukku.


"PERGI! Abang pembohong! Aku mau mas Faisal sekarang!" pinta Saeba.


Aku menghela napas dan beralih menatap ibu, "ibu udah makan?" tanyaku.


Ibu menggeleng, "belum, kamu mau makan Bang?" tanyanya lemah.


"Ayo Ragil temani ibu makan, nanti kita cari cara membujuk Saeba!" ajakku.


Ibu menurutiku menuju ke dapur. Kuhidangkan makanan yang sudah tersedia di meja. Kulayani ibu dengan mengambilkan makanan untuknya.


"Kamu enggak makan Bang?" tanyanya heran.


"Aku tadi udah makan sama Pak Heru Bu," kilahku ingin tau reaksi ibu mendengar nama itu.


Benar saja mata ibu membola, dia lalu segera meminum air putih setelah menelan makananya.


"Ka-kamu menemui lelaki ba*ji*ngan itu?!" sentaknya tak terima.


"Ibu makan dulu, baru setelah itu kita bicara," pintaku.


Ibu mendengus, lalu kembali menyendokkan makanannya ke mulut.


Setidaknya aku ingin ibu kenyang dulu jadi bisa mengerti apa yang akan kami bicarakan nanti.


"Ngapain kamu ketemu dia? Ibu kan udah bilang temui saja mertuamu, beres semua masalahnya," sungutnya lagi.


Namun aku mengabaikannya, karena jika aku jawab, maka tak akan ada habisnya. Jadi aku memilih diam mendengarkan omelan ibu.


"Kamu kenapa diam aja Gil! Jawab ibu," ketusnya.


"Ibu sudah selesai?" tanyaku.


Beliau lalu menggeser piringnya, aku membereskan bekas memakannya ke bak cuci piring dan berniat membuat minuman hangat untuk kami.


"Kamu mau ngapain sih! udah jawab aja pertanyaan ibu!" kesalnya.


"Tunggu Bu, Ragil buatkan teh dulu supaya kita bisa berbicara dengan tenang," jelasku.


"Buang-buang waktu," keluhnya.


Tak kuhiraukan ocehan ibu sejak tadi. Aku fokus membuat teh dan kopi untukku lalu kuhidangkan di meja makan kami.


Kami duduk berhadap-hadapan. "Ibu mau tanya apa?" ucapku tenang.

__ADS_1


"Kapan kamu akan menemui mertuamu? Hanya dia yang bisa membantu kita sekarang!" tuntut ibu.


"Maaf Bu, aku ngga bisa menuruti keinginan ibu menemui ayah mertuaku. Nuraniku menolak itu," tolak aku tegas.


"Kenapa kamu keras kepala sekali sih Gil! Ngga bisakah kamu menurut? setidaknya balas budilah sedikit!" ucapan ibu seperti sebuah belati yang menusuk jantungku.


Pikiran burukku langsung teringat akan kata-kata Faisal jika aku bukanlah anak mereka.


Mangkinkah hal itu kenyataannya?


"Apa menghidupi seorang anak adalah sebuah hutang budi Bu? Kenapa aku merasa seolah-olah aku ini hannyalah anak angkat?" tanyaku.


Mendadak ibu gugup mendengar ucapanku. Lalu dia berusaha mengelak menatap wajahku.


"Ada-ada aja kamu, bukan itu maksud ibu. Ibu hanya minta kamu membalas budi kepada keluarga mertuamu yang sudah banyak membantu kita."


"Tak perlulah menjunjung tinggi harga diri, toh mereka berjanji akan melepaskanmu setelah anak itu lahir," ucap ibu.


"Tidak Bu, aku ngga merasa punya hutang budi pada mereka," elakku.


"MEMANG BUKAN KAMU, TAPI KAMI! KAMI ORANG TUAMU, PAHAM NGGA SIH!" bentak Ibu dengan wajah merah padam.


"Andaikan bisa, kami ngga akan menuntut kamu Bang! Tapi mereka memintamu, kami bisa apa?" tiba-tiba tangisnya pecah.


"Sebaiknya ibu jujur sama Ragil, sebenarnya dulu ayah itu bisnis apa, kenapa bisa menipu uang nasabah hingga satu milyar?" tanyaku mengabaikan permintaannya.


Ibu terkejut, tiba-tiba dia terlihat gusar. "Kamu kata siapa? Si Heru breng*sek itu?" dengusnya.


"Iya, siapa lagi, aku kan harus menemui orang yang melaporkan Ayah, menurut beliau Ayah mungkin hanya di jadikan kambing hitam, ada orang yang lebih berkuasa di atas Ayah. Kira-kira ibu tau siapa? Orang itulah yang seharusnya bertanggung jawab bukan?" jelasku.


"Sudahlah Gil, cara yang paling mudah itu mengalah pada keluarga mertuamu, kali ini aja," bujuk ibu kembali.


Aku tak bisa sepenuhnya menyalahkan ibu, entah beliau berkata jujur atau tidak denganku, memang kenyataan jika Ayah tak pernah terbuka mengenai usahanya, membuatku mengalah.


"Ya sudah Bu, nanti Ragil cari jalan keluarnya lagi," jawabku menghentikan obrolan malam kami.


"Kamu benar-benar keras kepala Ragil!" sentaknya kesal.


Aku masuk ke dalam kamarku yang dulu. Kurebahkan sejenak diri sebelum membersihkan badan.


Terus terang aku merasa lelah, aku bahkan belum menuntaskan permasalahan Saeba.


Akhirnya aku memilih mengabari Faisal, mengajaknya untuk bertemu.


Pesanku telah di baca, tapi tak kunjung mendapat balasan. Hingga aku memutuskan untuk menghubunginya.


"Halo Bang," dia segera menjawabku.


"Sal? Kamu lagi sibuk ngga?" tanyaku basa-basi.


"Enggak Bang, ada apa?" tanyanya dengan nada malas.


"Bisa besok kita ketemu?" pintaku langsung.


Dia tak langsung menjawab, semoga saja dia tak menolak. Bahkan jika dia menolak pun aku bersiap mendatangi rumahnya.

__ADS_1


Meminta kejelasan tentang nasib pernikahan mereka.


"Baiklah Bang, mau ketemu di mana? Sebaiknya aku ke kota Abang saja," pintanya.


"Ngga perlu Sal, kita ketemu di kafe mentari aja, kebetulan Abang ada di rumah sekarang," jelasku.


Lagi-lagi kami terdiam cukup lama, dia tak beraksi apa pun dan hanya menjawab iya saja.


.


.


Saat akan memejamkan mata, ponselku kembali berdering keadaan tubuh yang sudah segar membuatku seketika mengantuk.


Hulya mengirim pesan gambar padaku. Ada apa lagi dia menerorku malam-malam seperti ini.


Saat aku membuka pesannya, aku terkejut karena dia berani mengirimkan gambar dirinya yang sedang mengenakan pakaian tidur menerawangnya.


Tak lama ponselku berdering lagi, dia ternyata melakukan panggilan video padaku.


Gila! Tentu saja aku menolaknya.


Setelah kutolak, pesan kembali masuk darinya.


"Apa kamu tidak merindukanku Mas?" tulisnya disertai dengan emot menangis.


Lebih baik aku matikan saja, dari pada harus terganggu dengan ulahnya. Dia benar-benar berubah, aku sampai tak mengenali dirinya lagi.


Apa dia tak malu melakukan hal seperti itu, meski status kami masih sah sebagai suami istri di catatan negara, tapi secara agama kami bukanlah suami istri lagi.


.


.


Paginya, Saeba sudah mau keluar, matanya membengkak, mungkin dari kemarin dia tak berhenti menangis.


"Jangan menyiksa diri Sa, hari ini abang akan menemui suamimu, berdoa saja semoga dia mau berubah pikiran," ucapku berusaha menenangkannya.


Dia mendongak menatapku dengan tatapan berbinar.


"Benarkah Bang? Aku harap Abang membawa mas Faisal pulang bagaimana pun caranya. Aku bisa mati Bang, kalau dia meninggalkanku," jawabnya sendu.


"Kamu jangan ngomong sembarangan Sa!" potongku kesal.


Kenapa pikirannya pendek sekali. Aku tau dia sangat mencintai Faisal, tapi tak perlu gegabah sampai bicara kematian juga.


"Pokoknya Abang harus membawa Mas Faisal pulang!" ucapnya ketus lalu pergi menuju dapur.


.


.


.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2